Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Kini Tesa dan Tiwi berada di rumah Tika yang baru, mereka duduk bersantai di ruang tamu sembari ngemil keripik singkong dan segelas es kelapa, tampak


heran dicampur bingung menghiasi benak mereka.


"Tik, kenapa kamu pindah rumah. Enakan rumah lama kamu. Di sini rada serem ya, udah jauh dari tetangga dan jauh dari keramaian." jelas Tiwi matanya celingukan melihat pondasi dan dekorasi ruang tamu


"Iya, Tik. Kamu gak dicurigai warga sekitar, dikiranya kalian kumpul kebo nanti jika tinggal serumah, gede banget lagi nih rumah." bahu Tesa menyenggol bahu Tika.


"Ngapain khawatir, kan udah sah." ucap Tika keceplosan dengan reflek menutup mulutnya.


"Sah..." ucap Tiwi dan Tesa serempak dan saling pandang.


" Aduh, ini mulut tidak bisa di kunci ya...nyerocos melulu. Bagaimana ini..." batin Tika seraya celingukan mencari Surya siapa tahu dapat membantunya.


"Meong - meong..."


"Mr. Black...kamu lapar ya, kasihan sini aku peluk dulu." Memangku dan mengelus dengan lembut.


"Kucing kamu lucu banget." ujar Tesa.


"Idih, geli aku. Sana jauh - jauh


dariku. Hus ...hus ...!"Tiwi tampak merinding.


"Tadi kamu bilang sah, apanya yang sah?" tanya Tiwi.


"Maksudku, warga sekitar sudah tau kok kalau dia pembantu di rumah ini. Jadi ya sah sah saja." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bukankah kalian sedang dalam permusuhan karena kejadian di kampus waktu itu..." sela Tesa sambil mengingat masa lalu mereka.


"Ya...itulah, makanya Surya bekerja di sini sebagai ucapan permintaan maaf atas perbuatannya padaku." Tika mulai menyusun sandiwara palsu agar tidak ketahuan, bila ketahuan mereka sudah pasti menjadikan Tika rempeyek.


"Apa tidak ada tawaran lain ya, selain jadi pesuruhmu?" Tiwi mengambil wadah keripik dan menaruh di pangkuannya.


"Belum ada." Tika menjawab asal bicara .


"Aneh menurutku, mana mungkin kalian tinggal hanya berstatus sebagai majikan dan pembantu saja. Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari kita kan..." Tiwi mendesak Tika seraya mengamati wajahnya, mencari celah kebohongan.


"Sungguh! He...he...he...bila kalian tidak percaya, tanya saja pada tetanggaku." Berbohong untuk yang sekian kali.


"O...aku kira kalian..." Tesa menghentikan ucapannya saat Surya lewat dengan berpakaian rapi hendak pergi, matanya hampir tidak berkedip memandangnya.


"Surya!" Tiwi berlari menghadang langkah Surya dengan cepat menebar pesona tidak mau didahului Tesa.


"Ih, Tiwi. Nyebelin banget, seharusnya aku yang duluan menghampirinya." Tesa bergegas berdiri dan menghampiri mereka berdua.


Tika terheran - heran melihat ulah 2 sahabatnya yang mulai menggoda suaminya.

__ADS_1


"Andai mereka tahu, kami sudah menikah bisa - bisa mati berdiri mereka sangking kagetnya. " Tika terkekeh lalu bangkit menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Sepertinya Surya sudah makan duluan." Tika menghembuskan nafas panjang dan menuangkan makanan kucing, kucing melahap dengan cepat.


"Kalian masih lama di sini..." Tiwi dan Tesa mengangguk bersamaan.


"Kalian berdua jaga non Tika dulu ya, soalnya saya sedang ada pekerjaan lain di kantor." jelas Surya yang mulai risih dengan Tiwi dan Tesa.


"Kamu selain bekerja di tempat Tika juga bekerja di kantor?" tanya Tesa tidak mau kalah cepat dengan Tiwi. Surya mengangguk.


"Kok kamu mau jadi pesuruh Tika..." tanya Tesa masih ragu dengan jawaban Tika.


"Itu urusan pribadi, apa kalian tidak percaya dengan apa yang dikatakan Tika." Surya mencoba membantu menutupi kebohongan yang Tika ciptakan.


" Kami percaya kalau kamu yang mengatakan."


"Baiklah, saya permisi dulu."


"Surya, hati - hati di jalan ya...jangan sampai ngebut. Aku bakal jaga majikanmu kok." ucap Tiwi seraya tebar senyum . Surya pura - pura tidak mendengarnya.


"Tiwi , Tesa, ayo makan! Keburu dingin nanti." pinta Tika seraya menyiapkan bungkusan di meja makan.


"Dah Surya!" ucap Tesa genit seraya menyenggol Tiwi.


"Apaan sih, hati - hati Surya..." Tiwi melambaikan tangan tidak mau kalah tebar pesona, kakinya usil menginjak kaki Tesa, Tesa mengaduh kesakitan. Surya segera masuk mobil dan berlalu.


"Enak saja, aku duluan yang suka sama dia." ucap Tesa lalu melangkah menuju meja makan diikuti Tiwi. Tiwi mematung dicueji


"Kalian berdua tidak capek ya, berebut Surya. Memang kalian merasa Surya peduli sama kalian. Tidak kan..." Tika mengomel lantaran kesal sejak tadi tidak ada topik lain selain Surya.


"Kamu cemburu ya..." Tesa meledek seraya menarik kursi.


"Jangan sampai kamu menyukai Surya, awas kamu ya...dia incaranku!" Imbuh Tiwi sambil terkekeh membuat Tika mencibirkan mulutnya.


"Siapa yang cemburu, dia bukan tipeku." sahut Tika.


Selesai makan dan bercanda ria hingga menjelang sore, Tesa dan Tiwi pamit pulang.


"Jangan lupa , sampaikan salam hangatku pada Surya." ucap Tiwi sambil membuka pintu mobil.


"Jangan, salam dariku saja!" ucap Tesa seraya menyusul Tiwi masuk mobil.


.


Hampir magrib Surya sampai di rumah.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..."


Surya menyodorkan tangannya.


"Apaan...?"


"Salim dong, biasakan ketika aku pulang dan pergi." ucap Surya datar, Tika menyalami dan mencium tangannya, lalu Surya merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kamu terlihat capek sekali." Duduk di sebelah Surya dan menekan tombol on pada remote tv.


"Hmmm..." Surya hanya bergumam lalu matanya terpejam.


Melihat begitu besar rasa tanggung jawab Surya sebagai seorang suami membuat Tika sedikit iba.


"Kasihan kamu, andai kita belum menikah sudah pasti kamu berada di luar negeri sekarang. Kuliah di sana, hidup enak tidak perlu kerja, uang bisa datang sendiri." batin Tika memperhatikan wajah Surya dari dekat.


Beberapa menit kemudian suara azan magrib berkumandang.


"Surya...Surya!"


"Hmmm..."


"Waktu magrib hampir habis lo..."


"Astaghfirullah...!" Surya terperanjat .


"Mengapa kamu tidak membangunkan aku lebih awal tadi!" ucap Surya dengan nada tinggi lalu beranjak hendak menuju kamarnya.


Tika meraih tangannya, membuat Surya terhenti dan menoleh.


"Denger tuh...suara azan baru separuh, asal loncat saja." Tika berdiri untuk meyakinkan Surya sejenak mendengar lantunan azan.


"Kamu ngerjain aku ..." Surya menggelitik tubuh Tika, Tika tertawa lepas hingga keduanya terjatuh di atas sofa.


"Jantung ini, berdetak tidak karuan, penyakit jantungku kambuh lagi. Apa ini...mungkinkah aku mulai menyukaimu. Tidak, ini hanya aku terlalu lelah saja. Jikapun aku mulai menyukai dia, aku hanya ingin ketulusan cinta darinya. Dua kata itu sudah lebih dari cukup." batin Tika dengan menatap lembut wajah suaminya.


"Kamu mulai menggodaku tapi , tidak semudah itu kamu bisa menaklukkan aku." batin Surya dengan nafasnya yang mulai tersengal dan juniornya terasa bangun.


"Ayo sholat!" ajak Tika, membuat Surya salah tingkah.


"Baik, kita sholat berjamaah saja." Surya bangkit dari atas tubuh Tika, Tika yang masih berbaring mengangguk lalu bangkit menyusul Surya.


.


Selesai sholat, Tika naik ke atas. Dia meraih ponselnya dan mulai browsing tentang menu sarapan .


"Aku akan mencoba mempraktekkan ini besok." Matanya tertuju pada sederet menu makan pagi. Sedangkan yang ingin dia praktekkan besok adalah membuat telur dadar.

__ADS_1


" Itu contoh yang sangat mudah, anak kecil saja bisa pasti aku juga bisa. " Gumam Tika sembari mengelus Mr. Black.


__ADS_2