
Tika dengan pakaian yang anggun dan rapi, tampak beberapa karyawan pria menatap tanpa berkedip sedikitpun. Tika mengenakan hem biru dongker dan celana panjang, rambutnya dia ikat dengan rapi, make up nya tidak pernah pudar dari wajahnya yang ayu.
Tika berjalan menuju ruangan pemimpin perusahaan bernama Tomi Husodo yang tidak lain adalah ayah dari Tedi.
"Ini adalah pertama kalinya aku melamar kerja, dan ini adalah saat - saat yang mendebarkan bagiku. Aku khawatir apakah kualifikasiku sesuai atau tidak. Kira - kira pertanyaan apa saja yang akan ditanyakan saat interview nanti. Aku berharap dapat lolos sesi interview dengan mudah. " gumam Tika, jantungnya terasa berdebar begitu kencang. Tika duduk di deretan kursi yang penuh dengan para pelamar kerja.
Satu jam kemudian giliran dia memasuki ruangan. Tampak pria usianya hampir sama dengan papanya, duduk dengan tegap dan berwibawa. Setelah dipersilakan duduk, Tika menarik kursi dan duduk berhadapan dengan pak Tomi.
"Perkenalkan dirimu!" ucap laki - laki berkumis itu.
"Shafira Artika Sari, panggilannya Tika." sahut Tika sedikit gugup, tangannya meremas - remas kain celana.
"Sudah menikah?"
"Deg, pertanyaan ini membuat aku bimbang untuk menjawabnya. Haruskah aku berkata jujur, bila aku tidak mengatakan yang sebenarnya aku termasuk pembohong besar. Tapi, pekerjaan ini sangat aku impikan dan sesuai dengan bidangku dari pada aku harus bekerja di perusahaan papa yang belum tentu ada." Gumam Tika seraya menjawab mantab. " Belum." Tika bohong.
"Apa yang membuat kamu tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan ini ?" Pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang menyakinkan.
"Karena posisi ini sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, dan karena saya ingin berkontribusi lebih dalam menyalurkan bakat saya." sahut Tika tegas.
Pertanyaan satu persatu selesai sudah, dia menjawab dengan cepat. Tika dipersilakan untuk menunggu di luar ruangan, hasil keputusan dari tes interview akan diumumkan setengah jam kemudian.
Tika berjalan menuju kamar mandi .
Tedi yang sudah berada di kantor sejak pagi tadi dan dia tampak sedang sibuk memahami dokumen penting mendadak teringat dengan Tika, dia segera keluar dari ruangannya berjalan menuju ruangan ayahnya.
"Bagaimana Ayah, wanita yang aku maksudkan semalam sudah melamar kerja di sini belum?" Duduk di sofa dan memainkan handphonenya.
"Hmmm, wanita bernama Tika yang kamu
maksudkan?" tanya pak Tomi, Tedi mengangguk.
"Dia cantik, tapi aku tidak setuju kalau dia bekerja di posisi ini, pengalaman kerjanya kurang."
"Ayolah Ayah, aku sangat menyukai wanita itu. Biarkan dia bekerja di sini sehingga aku bisa nempel terus dengan dia."Rengek Tedi, wajahnya memelas agar ayahnya mengabulkan permintaan anak semata wayangnya.
"Perusahaan ini membutuhkan wanita yang memiliki bakat dan pekerja yang proporsional, bukan model." tolak ayahnya. "Kenapa kamu tidak pacaran saja dengan dia, kalau ingin nempel terus."
"Aku baru saja putus dengannya, gara - gara dia dijodohkan. Aku tidak mau kehilangan dia Ayah. Kumohon...terimalah dia bekerja di sini." ucap Tedi.
"Statusnya masih lajang, saat interview tadi. Jadi, sebelum janur kuning melengkung siapa saja bisa mendekatinya termasuk kamu."
"Jadi..." Tedi tampak semburat di wajah sambil memandang ayahnya.
"Baiklah, Ayah akan menerima dia bekerja di sini tapi, pantau dia dalam bekerja. Ayah tidak ingin reputasi perusahaan menurun karena wanita berparas model seperti dia." jelas pak Tomi seraya mengetik di laptopnya.
__ADS_1
"Baik Ayah, terima kasih." Tedi menghampiri ayahnya lalu mereka saling berpelukan.
Tedi keluar dari ruangannya dan berpapasan dengan Tika.
"Hai Tika, bagaimana interview mu tadi, lancarkah?" ucap Tedi basa - basi .
"Sedikit grogi tadi tapi, semoga saja berhasil." Tampak wajahnya berseri - seri.
"Aku yakin kamu pasti bisa!" Tedi memberikan semangat.
"Terima kasih, Tedi." ucap Tika seraya berjalan menuju ruangan interview tadi, karena pak Tomi akan mengumumkan hasilnya. Tedi mengekor di belakang.
Pak Tomi mengumumkan hasil keputusannya dengan membawa selembar kertas lalu menyuruh sekertaris untuk memajang hasilnya pada sebuah papan pengumuman. Dalam daftar dari 15 pelamar tertera 5 pelamar yang lolos interview, termasuk Tika.
"Selamat bagi pelamar yang lulus tes interview siang ini. Semoga dengan bergabungnya kalian dapat memajukan citra perusahaan TEDIRO HUSODO. Kalian sudah bisa bekerja mulai besok." jelas pak Tomi.
"Syukurlah, aku lolos interview." Mata Tika berbinar dan tampak semburat di wajahnya.
"Selamat Tika, akhirnya kamu bisa bergabung di perusahaan ini." ucap Tedi seraya senyum tipis karena rencana untuk mendekati Tika berhasil.
"Iya, aku senang sekali. Aku sudah bisa bekerja mulai besok. Hari ini terasa mimpi disiang bolong. "
"Iya, dengan begitu kita bisa nempel lagi." ucap Tedi spontan membuat Tika memandangnya dengan tatapan yang tajam.
"Maksudku, kita akan menjadi rekan kerja. Iya, maksudku itu." modus Tedi.
"Ingat , kita sudah putus."
"Iya, aku tahu. Tapi, kamu kan belum menikah jadi masih ada kesempatan kedua kan..." goda Tedi membuat Tika menaikkan alisnya.
"Kalau sudah...emang kenapa?"
"Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu. Hehehe..." ucap Tedi, sontak membuat Tika menelan ludahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau sampai kamu tahu kalau Surya yang menjadi suamiku sekarang. Apakah Surya akan melepaskanku jika dia tahu aku telah berbohong mengenai statusku saat bekerja di sini. Apakah aku tampak begitu kejam terhadap dirinya. Aku rasa tidak, ini wajar kan, ini urusan pribadiku jadi, tidak mengapa kalau aku berbohong sekali ini saja." batin Tika.
"Begitukah....Hmmm, tentu saja cowok yang dijodohkan papaku akan berbuat sama persis dengan apa yang kamu katakan." Tika berjalan pergi meninggal Tedi, dia tampak bengong dengan ucapan Tika barusan.
"Aku akan berusaha mendapatkan kamu kembali Tika. Cintaku. Benar apa kata ayahku, sebelum janur kuning melengkung, kamu masih bisa aku miliki." Gumam Tedi lalu masuk ke ruangan kerjanya untuk mengambil berkas yang akan dia pelajari di rumah.
Tika duduk disebuah taman di halaman depan kantor. Dia mengeluarkan handphonenya.
Tika
[Aku sudah selesai interview.]
__ADS_1
Cowok kampungan
[Bagaimana hasilnya?]
Tika
[Aku diterima.😊]
Cowok kampungan
[Wah, selamat ya!]
Tika
[Kapan aku dijemput?]
Cowok kampungan
[Ok, sebentar lagi aku akan menjemputmu. Kamu masih di kantor kamu kan...]
Tika
[Iya, aku masih di kantor.]
Tika memasukkan lagi handphone ke dalam tasnya.
" Tika, kamu belum dijemput sama sopirmu.... Ayo, aku antar kamu pulang!" Tedi datang menghampiri Tika, bermaksud ingin berduaan lebih lama lagi.
"Tidak perlu, sebentar lagi juga akan datang." tolak Tika seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ayolah, aku tidak akan kurang ajar sama kamu. Kita kan sekarang rekan kerja. Kamu, aku perhatikan agak kurusan ya, kamu diet? Cewek sepertimu emang pantesnya memiliki body seperti ini tapi, kalau kamu gendut juga tetep cantik kok." Tedi mencoba membujuk Tika dengan beberapa gaya gombalnya.
"Kamu jangan seperti itu Di, malu dilihat karyawan yang lain. Dikiranya aku cewek apaan. Baru masuk kerja saja sudah genit sama atasannya." Tika tidak menjawab pertanyaannya dan mengalihkan pembicaraan serta mencoba bertahan menunggu Surya datang.
"Tika, ada sesuatu di belakang telingamu?" tangan Tedi mengambil sesuatu yang sebenarnya tidak ada apa - apa.
"Apa?"
"Nih," Menunjukkan setangkai mawar yang sudah berada di tangannya.
"Bagaimana kamu melakukan itu, seperti magic saja."
"Kamu suka, ambillah !" Tika mengangguk, Tedi menyerahkan bunga dan Tika menerimanya.
Tika mencium bau bunga seraya memejamkan matanya, menikmati harumnya mawar merah.
__ADS_1