
"Hmmm...begitu rupanya. Kapan Suamimu pulang kerja? Aku ingin berjumpa dengannya!" ucap Tiwi.
"Nanti kamu naksir sama dia," sahut Tika.
"Ih...gak bakal deh!" sahut Tesa dan Tiwi bersamaan.
"Ayo katakan! Jangan mentang -mentang udah nikah terus kamu jadi sombong nggak mau berbagi info pada kami." Tiwi mendesak.
"Biasanya sebelum magrib," sahut Tika setelah berfikir lama, dia sangat gusar jika ketahuan bohong. Entah sudah ke berapa kali dia berbohong.
"Lama banget, kita tidak bisa lama - lama di sini, Tika." ucap Tesa mulai bosan seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kenapa?" tanya Tika heran, padahal mereka berdua tadi ngebet banget ingin bertemu Surya sebagai sopir dan sekaligus suaminya.
"Aku dan Tiwi harus jaga rumah, masalahnya orang tuaku mau pergi ke acara kondangan." terang Tesa sambil menunjuk dirinya lalu Tiwi.
"Nggak bakal nyesel nih," goda Tika, sebenarnya berat untuk mengakui itu, namun mereka berdua serentak menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, ngomong -ngomong kalian berdua mau berencana kerja di mana nanti?" tanya Tika mengubah topik pembicaraan.
"Aku belum tahu, ijazah saja belum keluar. Mana ada kantor yang mau menerima kita." ucap Tiwi sambil mencibirkan mulutnya kesal. Dia sudah tak betah lagi nganggur. Rasanya tubuhnya semakin gemuk saja jika lama-lama tak diajak aktifitas.
"Kerja di tempat Surya saja, jadi kita bisa nempel terus sama dia." tukas Tesa asal bunyi. Dia belum sadar sedari tadi Tika menahan emosinya karena sejak tadi yang dibahas Surya melulu.
"Bagaimana,Tika? Kamu mau kan menanyakan ke dia ada lowongan pekerjaan atau tidak?" tanya Tiwi seraya menyenggol sikut Tika, Tika yang tadinya melongo sadar akan dirinya diajak bicara.
"Kenapa harus aku? Kalian berdua kan bisa tanya langsung ke orangnya." elak Tika lantaran rasa cemburu sudah mulai merasuki hatinya.
"Ayolah Tika, bantu kami. Aku sudah bosan di rumah terus." rengek Tiwi seraya menarik - narik lengan Tika. Sontak tubuh Tika berguncang.
"Bagaimana kalau di tempat Tedi saja ." Tika memberi usul agar mereka menyetujui sarannya ini. Dengan begitu dia bebas dari ocehan teman -temannya yang selalu menomor satukan Surya.
"Ogah...!" sahut Tiwi dan Tesa bersamaan. Mereka berdua memang tak menyukai perwatakan Tedi yang sok playboy itu.
"He... he... he...!" Tika cengar - cengir saja, dia tahu kalau kedua temannya tak akan pernah menyetujui usulannya.
"Aku maunya sekantor sama Surya." sahut Tesa sambil mendongakkan kepalanya mulai membayangkan kebersamaan dengan Surya.
"Aku juga!" sahut Tiwi tak mau kalah.
"Kamu, ngikutin aku segala!Huh," ucap Tesa sinis sambil melotot ke arah Tiwi seraya mendesah kesal.
"Siapa juga yang ngikutin kamu? " sahut Tiwi seraya menjulurkan lidahnya. Tesa hampir saja tersulut emosi. Dia hanya sekedar membalasnya sama dengan apa yang Tiwi lakukan padanya. Ya begitulah kedua sahabat Tika ini, memang tak pernah mau mengalah satu sama lain.
"Sudah - sudah kalian berdua ribut melulu. Sejak tadi ngomongin Surya. Aku akan mencoba tanya ke dia nanti." Tika menengahi perdebatan mereka dan asal saja bicara agar kedua temannya itu berhenti tak saling meledek.
"Jujur saja, entah sejak kapan rasa sukaku ini mulai muncul pada cowok kampungan itu. Terasa sesak hatiku bila mendengar dia menjadi rebutan kedua teman baikku. Apa aku katakan saja ya pada mereka kalau kami sudah menikah. Eits, tunggu! Aku nggak boleh kalah dan menyerah. Dia akan semena -mena nanti padaku kalau aku telah menyerah dan kalah dalam menyembunyikan pernikahan ini." batin Tika ngedumel.
"Nah, begitu dong..." ucap Tesa, lalu mereka berdua saling tos. Tak saling ledek dan cepat sekali akur.
"Bagaimana akhirnya nanti, kalau mereka tahu suamiku adalah Surya. Hmmm...yang jelas aku harus mempersiapkan mental dan fisikku. " gumam Tika dalam hatinya lagi. Beban pikirannya semakin menumpuk.
"Eh, teman - teman ke dalam yuk!" ajak Tika seraya berdiri. Kakinya sudah mulai kedinginan karena terlalu lama berendam.
"Ayo, lihat kakiku sudah kisut begini!" ucap Tiwi seraya mengangkat kedua kakinya dari kolam lalu menunjukan kedua kakinya.
"Kaki atau apa itu, jempol semua?" ledek Tesa. Tiwi yang merasa di buly tidak terima lalu menginjak kaki Tesa dan berlari pergi mengikuti Tika.
"Aw, sakit!" rintih Tesa.
"Ha...ha...ha..." Tika tertawa sambil berlalu meninggalkan mereka menuju ruang tamu.
"Aduh, sakit tahu! Kakiku barusan diinjak sama gajah." meringis menahan sakit sambil mengelus kakinya. Padahal tak seberapa sakitnya namun dibuat-buat seolah sakitnya parah.
"Siapa yang kamu sebut dengan gajah, hah !" teriak Tiwi yang merasa disebut gajah.
"Tuh, gajahnya lagi ngomong!" Tesa menudingkan jarinya mengarah ke Tiwi, Tiwi tak terima sambil berkacak pinggang dari kejauhan.
"Sekali lagi kamu sebut aku gajah, aku nggak bakal barengan sama kamu kalau pulang nanti!" ucap Tiwi sewot. Dia berkacak pinggang sambil melengos pergi masuk menuju ruang tamu.
Tesa yang merasa akan ditelantarkan segera berdiri dan mengejar Tiwi.
Tiwi yang masih merasa jengkel dengan ulah saudarinya itu pura-pura tuli tak mendengar teriakan Tesa.
"Wi, Tiwi, tunggu aku ! " teriaknya, namun Tiwi tak menggubrisnya.
__ADS_1
"Jangan dong, Wi. Please maaf in aku." Tesa mengatupkan kedua telapak tangannya setelah sampai di ruang tamu.
"Nggak mau. Pokoknya kamu jalan kaki nanti. Titik nggak pakai koma!" sahutnya bersungut-sungut.
"Please dong...maaf in aku, kamu cantik deh," goda Tesa memohon masih dengan posisi mengatupkan tangan.
Tiwi tetap tak goyah pada pendiriannya dan bersikukuh untuk tidak bareng lagi kalau mau pulang nanti.
"Aku bercanda Wi, baik aku janji nggak bakal ngulang lagi dan aku akan belikan kamu keripik singkong langgananmu, gratis 3 kg." Ucap Tesa membujuknya sambil menunjukkan ketiga jarinya. Tesa bersungguh -sungguh mengatakannya untuk mendapatkan ampun dari ucapannya yang telah mengatai Tiwi gajah tadi.
"Hmmm, gimana ya?" Tiwi sedikit berfikir, namun terngiang di otaknya dengan keripik singkong favoritnya, dia jadi berubah pikiran.
"Baik, aku maaf in kamu. Tapi, entar aku denger kamu lagi panggil aku gajah. Tak segan -segan aku mencampakkanmu." tegas Tiwi.
"Iya deh, aku janji kok, tenang, sepulang dari sini aku langsung belikan kamu keripik singkongnya." ujar Tesa seraya merentangkan tangannya. Tiwi tersenyum akhirnya sambil menerima pelukan dari Tesa.
Mereka berdua telah berdamai, kini mereka duduk di sofa menyandarkan punggungnya masing -masing.
"Sore - sore begini enaknya ngapain ya?" tanya Tika pada kedua sahabatnya yang sudah duduk di sofa yang empuk.
"Nonton film yuk!" ajak Tesa menawarkan. Tangannya menggapai remot yang berada di atas meja. Dan segera menekan tombol on untuk menyalakan televisi.
"Film apaan? Aku tidak punya kaset dan CD nya." ucap Tika menolak lantaran dia belum sempat membeli itu. "Kalian bisa nonton acara televisi yang ada," sambungnya.
"Masa televisi bagus dan segede gini nggak punya CD, pasang indovision dong?" tukas Tesa yang sudah langganan.
"Hehehe...iya maaf, aku akan segera memasangnya." Tika menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tika berdiri menuju dapur dan kembali sambil membawa jus alpukat kesukaannya.
"Teman -teman kita ngobrolnya sambil minum jus yuk!" ajak Tika seraya meletakkan nampan berisi tiga gelas jus alpukat.
"Tumben kamu bikin jus," Tiwi melirik Tika tak percaya kalau sahabat manjanya ini bisa ngejus.
"Ya iya lah, kan sekarang aku udah nikah. Jadi ya harus bisa dong!" sahut Tika bohong padahal ini buatan Surya siang tadi sebelum pergi. Dia mengirim pesan lewat whatshap dengan mengatakan kalau ada minuman di dalam kulkas.
"Eh, Tika mana foto pernikahanmu?" tanya Tiwi mengalihkan pembicaraan, Tika seketika itu juga rahangnya tegang. Bingung mau jawab apa.
"Aku tidak punya fotonya. Kan cuma ijab kabul saja." sahut Tika sambil memalsukan senyumnya. Alasan yang masuk akal juga.
"Emang ganteng mana sama Surya?" Tesa menepis tangan gajah yang usil itu.
"He...he...he...sebelas dua belas lah!" sahut Tika seraya matanya berkedip - kedip.
"Siapa namanya?" tanya Tiwi penasaran juga.
"Nama!" Tika binggung untuk mencari alasan. "Haruskah aku jujur pada mereka." batinnya tetap menolak.
"Tinggal sebut nama saja, apa susahnya Tik!" Tiwi mulai kesal sambil mengambil minumannya.
"Seger...enak banget jus buatanmu, Tika." puji Tiwi seraya menghabiskan isinya.
"Kamu minum apa doyan?" Tika terkekeh melihat temannya belepotan bekas minum jus.
"Habisnya enak banget," seru Tiwi, "Siapa nama suamimu?" tanyanya lagi.
"Namanya adalah...Setiawan." sahut Tika reflek,"Itu nama belakang Surya." ucap Tika dalam hati.
"Setia, hmmm...mirip dengan nama panjangnya Surya." gumam Tesa sambil memencet remot, sedari tadi dia tak menemukan tayangan televisi yang bagus menurutnya. Lalu ikut mengambil minumannya.
"Ah, sudahlah! Kita ngomongin yang lain saja." ucap Tika ingin mengalihkan perhatian. "Aku dengar acara wisuda awal bulan Desember ya!" sambungnya lagi, dia teringat dengan perkataan Tedi tempo hari.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Tesa.
"Dari Tedi," sahut Tika singkat.
"Tedi lagi, kan kamu sudah putus sama dia. Masih saja berhubungan." ucap Tiwi.
"Iya, aku sudah bekerja di kantor ayahnya Tedi." sahut Tika.
"Kamu kerja!" sahut Tiwi dan Tesa kompak. Mereka saling pandang tak percaya mendengar pernyataan Tika.
"Seorang Tika, kerja! Apa aku tidak salah dengar?" ucap Tiwi seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Tika.
"Ngapain kamu kerja, kamu kan anak orang kaya, tinggal tunjuk ini, itu sudah pasti jadi milikmu." ucap Tesa tak percaya.
__ADS_1
"Aku bosen di rumah terus. Lagian buat apa kuliah, kalau ilmunya tidak digunakan?" sahut Tika sambil mengibaskan rambutnya yang sedikit basah.
"Benar juga kamu."
"Ayo, Sa . Kita pulang. Sudah sore nih!"
"Kalian gak jadi nungguin suamiku pulang? Atau mungkin nungguin Surya ?" tanya Tika.
"Pinginnya begitu Tik, tapi lain kali saja aku main ke sini."
"Titip salam buat sopir pribadimu ya!" ucap Tesa seraya berdiri dari sofa.
"Aku juga titip salam kangen ya!" ucap Tiwi tidak mau kalah seraya ikut berdiri.
"Iya ya, nanti aku sampaikan salam kalian buat Surya." sahut Tika yang juga ikut berdiri.
Mereka berdua pulang. Kini tinggallah Tika seorang diri di rumah. Hari menjelang magrib.
"Surya belum pulang juga, aku telfon ah.... Eh, jangan, nanti dia ke geeran lagi." Tika bicara sendiri seraya memungut sampah di lantai yang berceceran. Adzan magrib pun tiba, dia segera sholat dan setelah itu dia menuju meja makan.
Drtttt...drttt...drttt...!
Handphonenya berdering. Dengan segera dia mengangkat dan menjawab salam yang ternyata dari Surya. Selesai menerima panggilan dia kembali menuju kamar dan tidak jadi makan.
"Sok Sibuk banget dia, karyawan baru saja lagaknya kayak bos besar." gerutu Tika.
"Pakai acara pulang larutlah, tidak perlu ditunggulah. Dasar cowok kampung. Aku benci kamu!" gerutu Tika lagi seraya meremas - remas gulingnya. Teringat waktu itu melempar Surya dengan guling yang kini berada dalam dekapannya.
Pukul 22.00 Tika tidak bisa memejamkan matanya lantaran perutnya melilit kelaparan. Dia menuju dapur.
"Surya, aku lapar. Aku ingin mie instan!" berkata pada diri sendiri.
"Iya, nenek sihir aku buatkan, tidak pakai sambal kan...." ucap Tika menirukan gaya Surya.
"Andai kamu di sini sudah pasti aku kenyang dari tadi." Lalu dia mengambil mie instan dari laci lemari. Mencoba membuatnya sendiri.
"Ini mudah, Tika. Tinggal nyalakan kompor, panaskan air di panci, tunggu sampai mendidih baru masukkan mie. Terakhir bumbunya, lalu matikan kompor. Tara...selesai." ucap Tika girang, tampak semburat senyum di wajahnya.
Selesai menyantap mienya, dia menuju ruang tamu bermaksud menunggu Surya pulang. Sesuai dengan perintah Surya untuk mengunci semua pintu dan jendela. Dia menyalakan semua lampu di rumah dan menyalakan tv sambil rebahan di atas sofa, tentu bersama kucing kesayangannya.
Akhirnya, karena terlalu kenyang diapun tertidur sampai tak mendengar suara pintu terbuka.
Pukul 03.00 dini hari.
"Masya Allah!" Surya terbelalak matanya. Mendapati istrinya tidur lelap di atas sofa bersama Mr. Black. Surya mematikan tv yang sudah buram warnanya.
"Kamu pasti tertidur lantaran menungguku, dasar nenek sihir, ada saja tingkahmu yang terkadang membuatku haru." gumam Surya lalu menurunkan Mr. Black dari tubuh Tika.
Membopong Tika menuju lantai atas.
Tika lantaran merasa sesuatu yang aneh menjamahnya dia membuka matanya.
"Akh....! teriaknya histeris, membuat Surya kaget.
"Jangan teriak - teriak, suaramu bisa membangunkan seluruh komplek!" ucap Surya.
"Surya, kamu..."
"Maafkan aku, kamu tertidur di sofa lantaran menungguku kan..."
"Ih, siapa juga yang menunggumu. Aku sedang nonton tv."
"Apa nya yang nonton, justru tv yang nonton kamu." ucap Surya seraya menurunkan Tika tepat di depan pintu kamarnya.
"Kamu baru pulang."
"Iya, aku ngantuk banget."
"Sebentar lagi subuh, selesai sholat kamu bisa pergi tidur." ucap Tika datar seraya membuka pintu kamarnya.
"Tumben otak kamu encer." gurau Surya.
"Tika gitu loh..." Tika tersenyum tipis. Keduanya masih saling bertatap muka, sampai adzan subuh berkumandang.
"Kita sholat berjamaah yuk!" pinta Tika seraya memberi syarat Surya untuk masuk ke kamarnya. Surya tanpa berkata apa - apa langsung masuk menurut saja.
__ADS_1
"Aku mandi dulu." ucap Surya seraya berjalan mendahului Tika.