
Surya setelah selesai makan malam belum keluar dari kamarnya. Dia mengeluarkan pakaian dari dalam tas ransel dan menata semua baju - bajunya lalu memasukkan ke dalam lemari. Kamar dia cukup luas, lengkap dengan peralatan kerjanya berupa laptop, mesin printer dan setumpuk kertas HVS. Ada kamar mandi dan jendela yang mengarah ke teras.
Jam menunjukkan pukul 20. 00, langit mendadak tampak mendung menandakan akan turun hujan.
"Duar...!" suara petir menggelegar membuat siapa saja yang mendengarnya kaget.
"Astaghfirullah..." ucap Surya sontak seraya mengelus dadanya yang bidang.
Sementara Tika di dalam kamarnya. Menutup kedua telinganya, dan sontak duduk telungkup di pojok kamar.
Hujan pun turun dengan sangat deras, kilatan menyambar di langit malam menambah suasana mencekam.
"Aku paling benci saat hujan. Apalagi ada suara petir. Surya, apakah kau memikirkan aku. Aku merasa ketakutan di sini, datanglah..." batin Tika, tak terasa bulir air matanya yang bening menetes membasahi pipinya yang manis. Sudah sejak kecil dia trauma dengan suara petir. Petir membuatnya takut dan gemetar. Lampu pun padam menambah seram suasana malam.
"Aku takut..." mendekap kedua kakinya.
Kucing hitam menggeliat di kaki Tika lalu keluar pintu yang sedikit terbuka menuruni tangga.
Surya mengambil handphone yang ada di saku celananya dan menyalakan senter.
Tampak kedua mata kucing bercahaya dan berjalan mengarah ke kamar Surya yang terbuka sedikit.
"Meong ...meong..."mengitari kaki Surya.
"Eh, Mr. Black kamu kok keluar, mana majikanmu?" duduk sambil jongkok meraih kucing.
"Meong...meong... "
Surya menggendong dan mengelus dengan lembut. Dia bergegas mencari senter LED yang ada di dalam tas ransel.
"Apakah nenek sihir baik - baik saja di atas?" katanya pada seekor kucing.
"Nanti kalau aku ke atas, dia berpikir aku yang sok perhatian. Kalau aku tidak ke sana... di kiranya aku sok cuek." Surya menurunkan Mr. Black ke kasurnya. Dia tampak mondar-mandir sendiri.
"Ke sana...tidak kesana...kesana. Ah, aku lihat dulu saja ke atas." Surya mengacak rambutnya yang tebal lalu dia memutuskan untuk melihat Tika, dia berjalan perlahan menaiki tangga. Sesampainya di kamar Tika.
"Krekkk..." suara pintu terbuka lebar.
"Pintunya tidak dikunci," batin Surya lalu dia berjalan mengendap memasuki kamar Tika.
Cahaya senter LED dia arahkan setiap sisi kamar Tika, tampak seorang gadis duduk ketakutan di pojok kamar.
"Tika..." panggil Surya lirih.
"Surya!" ucap Tika sontak seraya berlari mendekati suara Surya.
"Aku takut! Hik...hik...hik..." isak tangis Tika seraya memeluk Surya dengan erat sangking takutnya.
"Tenang...ada aku di sini." bujuk Surya dengan mengeratkan dekapannya.
"Hik...hik...hik..." Tika masih terisak.
__ADS_1
"Sudah, cup...cup! Jangan nangis lagi!" Surya mengusap kepala Tika dan membelai rambutnya yang panjang.
"Aku sejak kecil sangat takut dengan suara petir...apalagi mati lampu sekarang. Aku tidak berani tidur sendiri." ucap Tika lirih seraya menatap wajah Surya yang remang - remang.
"Aku temani kamu ya...." sahut Surya seraya menatap wajah istrinya yang menggemaskan dan mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
"Tapi, kamu jangan macam - macam ya..." ucap Tika seraya mengusap sisa air matanya, "Janji?" Tika menegaskan, membuat Surya pasrah saja dengan kemauan istrinya itu.
"Hedeh...punya istri cantik tapi gak bisa di apa-apain , nasib - nasib..." gerutu Surya di dalam hati.
"Iya, aku tidak bakal ngapa - ngapain kamu..." ucap Surya rada kesal.
"Janji..."
"Hedeh...dasar nenek sihir, sudah takut, masih saja bawel." Gumam Surya dalam hati.
"Iya, aku janji! Di mana kita tidur? Di kamarku atau di kamarmu?" tanya Surya seraya melonggarkan pelukannya.
"Baiklah...kita tidur di kamarku saja." sahut Tika seraya melepaskan pelukannya.
"Awas kalau kamu macam - macam!" dengan mengepalkan tangan ke arah Surya yang siap hendak meninju.
"Ya, kalau khilaf..." seraya merebahkan tubuhnya ke atas kasur, disusul Tika. Surya meletakkan senter LED di atas meja sebagai satu - satunya penerangan di rumah baru itu.
"Jangan lupa baca do'a sebelum tidur!" perintah Surya seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya.
"Iya," sahutnya lekas.
Tika komat - kamit mulutnya dan segera memejamkan matanya tanpa berkata lagi.
"Meski tidur pun, dia tetap terlihat ganteng. Tika...apa yang kamu pikirkan! Jangan sampai aku menyukai cowok kampungan ini." batin Tika memberontak.
Beberapa menit kemudian.
"Surya...!" panggil Tika sedikit berbisik.
"Hmmm...!" sahut Surya setengah sadar lantaran dia hari ini sangat ngantuk berat.
"Aku kebelet pipis nih..." Tika bangkit dari tidurnya sambil menahan pipis.
"Ya...bawa senternya!" sahut Surya masih dalam keadaan mata terpejam.
"Antar aku dong...please...!" rengek Tika seraya menggoyangkan tubuh Surya beberapa kali.
"Hedeh, aku ngantuk banget nih." Surya terpaksa membuka matanya, meski berat akhirnya matanya terbuka juga.
"Ayo, cepat! Keburu keluar nih...!" masih menggoyangkan tubuh Surya.
"Iya...ya...bawel." dengan rasa ngantuk yang tak tertahan Surya bangkit dari kasur dan berjalan mengikuti Tika.
"Awas jangan ngintip!" ancam Tika lagi.
__ADS_1
"Iya, bawel...cepat masuk.!" perintah Surya dan menunggu di luar pintu.
Tika memasuki kamar mandi dan pintunya dia biarkan terbuka sedikit. Showernya mati, terdengar gemericik air dari suara gayung yang dia gunakan. Selesai pipis,Tika keluar mengarahkan cahaya senter melewati pintu. Senter ia arahkan ke setiap sisi.
"Surya..." panggilnya namun tidak ada sahutan.
"Surya !Kamu di mana? Nggak lucu deh!" Tika meneriakinya, namun Surya tak terlihat batang hidungnya.
"Dar...!" suara Surya dari belakang mengagetkan Tika. Sontak Tika kaget bukan main.
"Ih...kamu bikin jantungku mau copot saja. Tidak lucu tahu!" maki Tika seraya memukul kecil dada Surya berulang kali.
"Ha...ha...ha...maaf, maaf, kamu sih, lama banget pipisnya . Sampai - sampai darahku mau habis dihisap nyamuk." Surya tertawa lepas menyaksikan ekspresi wajah istrinya yang imut. Dia menggaruk pipinya yang gatal dan sesekali menepuk nyamuk meski tak terlihat. Tika dibuatnya cemberut.
"Duar...! " suara petir menggelegar lagi dengan keras.
"Kyaaa...!" dia menjerit histeris, senter yang dia bawa terjatuh dan sontak merangkul Surya dengan erat. Reflek, Surya mendekap dengan lembut, merasakan kehangatan tubuh istrinya yang mungil. Tubuh mereka menempel. Surya merasakan dua gunung kembar Tika mengganjal di dadanya. Junior Surya bersembunyi di balik kain segitiganya terasa tegang dan meronta - ronta ingin keluar.
"Aku mampu merasakan detak jantungnya selaras dengan detak jantungku sambil kucium wangi rambutnya. Perasaan ini tak bisa kujelaskan. Ini salah satu perasaan paling damai di dunia. Dan ditambah dengan cuaca saat ini, tidak ada lagi yang ingin aku lakukan selain berpelukan dengannya. ” batin Surya seraya menelan ludahnya menahan kenikmatan ini.
"Berpelukan dengan seseorang yang tidak ku cintai, mengapa rasa ini begitu dekat dan sangat menenangkan hati dan pikiranku. Jika aku merasa nyaman dengan cowok kampungan ini, aku benar-benar ingin dilindunginya. Menjadi bagian yang paling aku sukai disaat dia tidak ingin berbicara, tidak ingin melakukan apa pun kecuali hanya ingin dipeluknya." batin Tika sambil sedikit senyum.
Lampu pun menyala.
"Alhamdulillah...sudah menyala." ucap Surya seraya melepaskan pelukannya. Sontak
Tika pun melepaskan tangannya yang sedari tadi mendekap tubuh Surya.
"Bagaimana, masih ditemani tidur nggak ?" goda Surya. Tika mendengarnya jadi malu dan merona pipinya.
"Iya, nanti kalau mati lampu lagi gimana...aku takut." sahut Tika lirih seraya menyelipkan rambut ke telinganya.
"Ayo, aku sudah ngantuk berat ni..."ajak Surya, dia mendahului Tika menuju kasur dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar lantaran sudah tak tahan ingin tidur. Tika menyusu naik di atas kasur.
"Besok aku mau ke kampus." ucap Tika membuat Surya membuka matanya dan melihat ke arah Tika.
"Ngapain...kan belum jadwalnya wisuda!" tanya Surya penasaran.
"Aku mau menemui pak rektor, mau menjelaskan tentang kejadian waktu itu."
"Hmmm...baiklah, sebelum ke kantor aku akan mengantarmu."
"Tepati janjimu, jangan bilang kalau kamu suamiku ."
"Hmmm..." desahan Surya yang masih kesal dengan permintaan itu.
Tika dan Surya berbaring di atas kasur dan terdapat guling sebagai pemisah keduanya.
"Cepat merem!" perintah Surya.
Tika segera memejamkan matanya.
__ADS_1
"Cantik juga nenek sihir kalau lagi merem, tak jemu aku memandang wajahmu yang imut itu." batin Surya dan segera memejamkan matanya.
Hujan pun reda. Dua insan pengantin baru yang belum ada ikatan cinta itu terlelap dalam mimpi masing - masing. Surya sebenarnya punya hak untuk menjamah setiap sisi tubuh istrinya tapi, dia urungkan niatnya sampai benar - benar ada rasa cinta diantara keduanya. Begitu pula dengan Tika, dia belum siap untuk menyerahkan setiap inci dari bagian tubuhnya untuk Suaminya. Meskipun dia tahu akan kewajibannya, sebelum ada rasa cinta diantara keduanya.