
"Tika, kamu tidak lelah apa menunggu begitu? Ayo, ku antar kamu pulang!" ucap Tedi, masih berusaha menyakinkan Tika agar mau di antar.
"Bagaimana ini? Sudah setengah jam, taksi yang aku pesan belum muncul juga, apa aku ikuti kemauan Tedi saja. Ah, bagaimana nanti jika Surya mengetahui kalau aku di antar dia. Bisa - bisa dia marah padaku. Secara, aku sudah mencoba menerima dia dalam hidupku." batin Tika, tangannya bersendekap.
"Tidak usah, Di!" Tika tetap tidak bergeming dari posisinya. "Kalau kamu pulang, kamu duluan saja!" perintah Tika.
"Bagaimana aku tega, meninggalkan kamu sendirian di sini. Ya sudah, kita tunggu di kursi sana yuk!" Menunjuk ke arah belakang pagar, tampak kursi panjang yang memang digunakan sebagai tempat duduk santai satpam.
"Baiklah..." Tika menurut, mereka berjalan menuju kursi panjang, Tedi menggelengkan kepala, merasa sudah lelah membujuk Tika.
"Apa aku tanyakan saja ya... ke dia tentang rumah mewah kemarin. Saat aku mengikuti mobilnya. Tapi, nanti Tika marah dan tidak percaya lagi padaku." batin Tedi, pikirannya masih gusar perihal Surya mengantar Tika ke rumah mewah dan asing baginya.
"Biarlah, akan aku selidiki saja sendiri." batinnya lagi.
Setengah jam kemudian.
Sebuah mobil merah yang tidak asing bagi Tika berhenti di depan pagar. Seorang pria bertubuh tinggi, rambut hitam dan berbadan tegap. Pria itu mengenakan pakaian kasual, celana jeans dengan atasan kemeja sederhana lalu dilengkapi dengan sweater. Membuat penampilannya semakin keren. Pria itu keluar dari mobil.
"Surya!" panggil Tika, seraya berdiri dan menghampirinya. Perasaannya senang lantaran kekasih hati datang menjemput.
"Sopir itu, minta dikasih pelajaran dia, biar tahu rasa!" Tedi mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju, dia bangkit dari duduknya dan mengikuti Tika.
"Surya, aku kan tidak memintamu untuk menjemputku." ucap Tika saat pandangan mereka bersua.
"Bagaimana mungkin aku tega membiarkan bidadari hatiku naik taksi." Terpampang senyum di wajahnya, begitu pula dengan Tika.
"Bruak!"
Rasa panas di pipi, dan hangatnya cairan merah mengalir pelan di sudut bibir.
"Tedi, hentikan! Apa yang kamu lakukan ini sungguh keterlaluan!" Tika histeris lantaran Surya jatuh tersungkur.
"Aw!" Surya mengaduh kesakitan, sambil mengusap bibir dengan jempolnya. Rasanya ingin sekali dia membalas pukulan Tedi. Namun, dia mengurungkan niatnya.
"Dasar sopir tidak tahu diri kamu! Bisa - bisanya kamu membiarkan majikanmu menunggu hampir satu jam di sini. Aku tidak suka dengan ulahmu kali ini." maki Tedi sambil menudingkan telunjuknya. Matanya bak elang menyambar mangsa. Darahnya mendidih.
Surya masih terdiam, menahan sejuta emosi yang hampir meletup.
"Kamu tidak berhak memakinya!" Bentak Tika, matanya melirik , menaruh kebencian yang mendalam. Lalu dia menyusur ke bawah, membantu Surya berdiri.
Sementara Tedi kembang kempis dadanya, rasanya belum puas dia menghajar Surya.
"Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Tika lirih seraya mengusap lembut bibir yang lecet itu.
"Iya, aku baik - baik saja." sahut Surya.
"Ayo, kita pulang!" ajak Tika. Surya mengangguk dan berjalan membuka pintu mobil. Tika memegang handel mobil dan hendak masuk.
" Kamu masih membela dia, Tik. Jelas - jelas sudah keterlaluan sopir bodoh ini, tetap saja kamu bersikap baik padanya. Kalau aku jadi kamu, sudah aku pecat dia!" umpat Tedi, amarahnya belum reda.
"Hentikan ucapanmu yang tidak bernilai itu! Seharusnya kamu malu, bersikap dewasalah! Masalah sekecil ini tidak perlu dibesar - besarkan. " Menoleh sebentar lalu memalingkan pandangannya dan segera masuk ke dalam mobil.
"Ingat posisiku, Tika. Aku akan membuat kamu kembali padaku!" ucapnya dengan nada tinggi. Namun, Tika sudah tidak menghiraukannya.
"Sialan! Ingin sekali aku merobek mukanya. Kenapa Tika peduli pada sopir bodoh itu? Ini ada yang tidak beres." Gerutu Tedi lalu menuju ke parkiran mobil.
Mobil Surya melaju meninggalkan kantor Tika.
"Surya, maafkan aku!"ucap Tika lantaran merasa bersalah karena dia Surya terkena pukulan Tedi.
"Kenapa minta maaf, seharusnya aku yang berkata demikian. Kenapa kamu tidak membangunkanku pagi tadi, sehingga aku tidak bisa mengantarkanmu ke kantor."
"Tidak, aku tadi... cuman... tidak ingin mengganggu tidurmu." Tika tertunduk malu.
"Masa..." Surya melirik Tika sesaat, mendapati merona pipi mungilnya.
"Kamu habis dari kios ibu ya..." tanya Tika memergoki lirikan Surya.
__ADS_1
"Iya. Tadi bi Sumi yang menunjukkan alamatnya, dia memberikan secarik kertas, katanya darimu. Mengapa kamu tidak menelponku saja?"
"Sudah ku bilang kan, aku tidak mau mengganggumu!" elak Tika.
"Dulu saat di kampus, kamu tidak segan menggangguku, mengapa kini tidak lagi?"
"Karena...karena...kamu suamiku!" Jantungnya berdetak tidak karuan saat mengucapkannya.
"Apa?" Padahal dia mendengar dengan jelas apa yang barusan Tika ucapkan. Sengaja saja dia menggoda Tika yang sudah mulai merona pipinya.
"Bagaimana? Apa ibu menyukai kios tadi?" Tika mengalihkan pembicaraan, karena ketahuan malu.
"Tentu, beliau sangat senang, rencananya lusa sudah mulai ditempati untuk berjualan."
"Lusa, hmmm ... aku mau ke sana."
"Iya, nanti aku akan antar kamu. Kamu sudah makan?"
"Belum." sahut Tika cepat.
"Kebetulan, aku juga belum. Mau ku ajak ke suatu tempat?"
"Kemana?"
"Kamu pasti suka!" Surya membelokkan mobil ke sebuah taman.
Mereka berdua turun dari mobil, berjalan menyusuri taman.
"Indah sekali!" Bola matanya bersinar, dia menarik nafas panjang sambil menikmati paparan sinar yang terasa hangat menembus kemejanya.
"Kamu menyukainya?" tanya Surya seraya merangkul pundak istrinya, Tika merasakan tangan yang berat menapak di pundaknya , dia mengangguk.
"Kursinya kayak di film - film, di taman ini sepertinya asyik buat pacaran. Kan di film - film dewasa biasanya di taman duduknya. Ditambah lagi kalau kita minum es krim, hmmm... enak banget rasanya!" celoteh Tika.
Letak bangku taman itu memang tepat sebab berada persis di depan taman bunga kecil dan diterangi temaram lampu jalan berwarna kekuningan.
"Mau kemana?" tanyanya seraya mengambil handphonenya.
"Aku ingin membeli sesuatu." Surya berjalan menuju pedagang kaki lima yang tidak terlalu anteri pembelinya. Dia kembali dengan sepiring batagor porsi jumbo dan menenteng sebuah keresek berisi kotak putih.
"Makanlah!" Surya duduk di depan Tika seraya menyodorkan piring.
"Wah, batagor! Tapi..."
"Tenang saja, nggak pedas kok!" Mengambil batagor dengan sendok garpu.
"Mana sendok punyaku?"
"Aaak...! Aku suapi kamu."
"Ih, malu kan dilihat banyak orang ."
"Ngapain mesti malu, ayo, buka mulutmu!"
Tika patuh, dilahapnya sampai mulutnya belepotan.
"Hedeh, kamu makannya lahap banget! Kamu doyan apa lapar?" Surya menggelengkan kepalanya, seraya mengelap sudut bibir Tika yang terkena bumbu batagor dengan jari jempolnya.
Tika sedikit terpukau dengan aksi Surya, gelagat cinta mulai tumbuh diantara dua pasangan suami istri ini.
"Siapa suruh beli batagor, kamu tahu? Aku suka banget dengan batagor, sejak kecil setiap bawa bekal ke sekolah mama selalu membuatkannya untuk ku." ucapnya hampir tidak jelas karena mulutnya terisi penuh.
"Ditelan dulu baru ngomong..." sindir Surya,
Tika memukul kecil lengan Surya seraya menelan makanannya.
"Oh, ya...aku baru tahu sekarang, orang kaya sepertimu ternyata doyan jajan di pinggir jalan." mendengar ledekan Surya, Tika terkekeh, begitu pula dengan Surya.
__ADS_1
"Baru tahu atau emang nggak mau tahu..." Tika mengerutkan hidungnya.
"Dua - duanya." Jarinya menyentuh ujung hidung Tika. Lalu Surya menyiapkan suapan lagi.
"Sudah, cukup!" tolak Tika saat Surya mau menyuapinya lagi.
"Belum habis, nih! Kamu harus banyak makan." ucapnya memaksa.
"Dari tadi aku melulu yang makan, nah, sekarang gantian kamu!" Mengambil alih sendok dan dengan sigap menyuapi Surya, tanpa penolakan dia melahapnya.
"Enak!" ucap Surya sambil mengunyah makanannya.
"Bener kan... enak! Batagor ini jajanan yang paling nikmat untuk disantap saat seperti suasana ini."
"Suasana seperti apa maksudmu?" Surya mencoba menggali informasi lebih dalam tentang perasaan Tika terhadapnya.
"Suasana...sore hari." ujarnya membuat Surya geram, dia memalingkan wajahnya dan menyembunyikan kekecewaannya.
"Kenapa kamu? Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Tika seraya mengamati wajah suaminya.
"Tidak ada, cepat habiskan makananmu! Kasihan bi Sumi jika menunggu kita terlalu lama." ucap Surya seraya mengambil handphone yang sedang berbunyi.
"Baik." sahut Tika tanpa protes.
Surya menerima telepon dari Rudi, menyampaikan pesan bahwa dia harus ada di kantor setelah magrib nanti. Dalam acara penyambutan patner bisnis.
"Siapa?" tanya Tika sedikit gugup, takut membuat Surya marah.
"Rekan kerja, aku harus ke kantor setelah magrib nanti."
"Ada apa? Apa sebenarnya pekerjaanmu? Kalau karyawan biasa tidak mungkin sesibuk ini." Surya tercengang dengan pertanyaan Tika seolah - olah menampar batinnya untuk mengatakan sejujurnya.
"Apa aku harus mengatakan kalau aku adalah pemimpin perusahaan papanya? Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tahunya." batin Surya.
"Tadi pagi aku kan tidak masuk kerja. Jadi, aku masuk sore." ucap Surya bohong.
"Oh..." Tika percaya dengan begitu saja tanpa menaruh curiga.
"Ayo pulang!" ajak Tika.
"Ayo! Ini ku belikan burger untuk oleh - oleh bi Dumi."
"Hmmm, katanya bi Sumi dia punya anak perempuan lo, yang baru saja memulai bekerja di sebuah perusahaan." ujar Tika.
"Oh ya, jadi bi Sumi hidup tidak sendiri donk...dia seorang janda."
"Dia tidak pernah cerita. Kasihan..."
"Sejak kapan kamu punya rasa sosial yang tinggi ?"
"Sejak aku menikah. Sudahlah, jangan menggodaku terus!"
"Sikapmu, hari ini membuatku sedikit terpana, Tika." ucap Surya seraya memegang kedua tangan yang mungil itu. Perlahan namun pasti, Surya mendekatkan tubuhnya.
"Terpana!" Tika mulai bergidik, ucapan Surya mulai menyelami perasaannya.
"Aku tahu, terpana membuat kita menyadari datangnya cinta dari hati. Terkadang, cinta tidak sesederhana yang kita bayangkan. Cinta bukan melulu siapa menyatakan perasaan pada siapa, hasilnya apa, dan akankah bahagia atau putus di tengah jalan." jelas Surya, kedua tangannya mendekap Tika dengan erat, Tika membenamkan wajahnya pada dada Surya.
"Hangat! Aku pun menyadarinya sekarang, kalau karma itu nyata. Mereka bilang, jangan kamu terlalu membenci seseorang, karena pada akhirnya kamu akan sangat mencintainya. Itulah yang aku rasakan sekarang." ujar Tika semakin erat memeluk Surya.
"Jadi, akulah karma itu."
"Hmmm..."
"I love you !"
"I love you too..."
__ADS_1