
"Aku marah dan kesal padamu!" Jujur Surya sambil menunjuk istrinya, "Bagaimana bisa aku ditinggal sendirian di rumah sakit ini! Kenapa kamu pergi lama sekali Nenek Sihir?" sambungnya dengan balik bertanya dengan sedikit kesal karena merasa diabaikan keberadaannya.
Sudah hampir setengah jam surya berada di taman, dia meminta izin pada suster untuk keluar ruangan agar bisa menghirup udara segar. Suster menyiapkan sebuah kursi roda. Dengan bantuan kursi rodalah Surya berkeliling taman dan dia meminta pada suster untuk meninggalkan dia. Meski tak mendapatkan izin karena hari sudah siang, dia tetap bersikukuh ingin sendirian dan alhasil suster itu meninggalkan dia di taman yang tidak begitu luas, hanya sepetak kolam ikan kecil di tengah taman bunga itu. Lama dia menikmati harumnya bunga mawar di taman itu. Sesekali dia melihat luka bekas jahitan di perutnya, meski sedikit sakit dia paksakan untuk bisa duduk biarpun itu di kursi roda. Dia tak ingin berlama-lama berada di rumah sakit ini. Pikirannya tertuju bagaimana dia harus membayar pada istrinya atas kesalahannya selama amnesia.
Saat sadar tadi, dia mengingat semuanya mulai dari awal kecelakaan mengendarai mobilnya hingga jatuh ke jurang. Terasa sakit kepalanya sewaktu mengingat kejadian waktu itu. Dia dapati sekelilingnya tak ada pihak satupun keluarganya yang menunggui dia, hanya suster yang sedang mengganti infusnya dengan yang penuh.
Lantas dia juga mencoba mengingat bagaimana bisa berada di rumah sakit ini. Dia bertanya pada suster dan suster bercerita kalau dia baru saja menjalani operasi transplantasi ginjal. Namun saat ditanya siapa pendonornya? Suster tersebut hanya mengangkat bahunya tanda tak mengerti. Tika memang meminta untuk merahasiakan siapa pendonornya. Surya sempat kaget dengan kondisinya yang rapuh itu, merasa sebagai lelaki yang telah gagal melindungi wanitanya.
Sontak Tika menganga sambil menutup mulutnya tak percaya, panggilan itu hanya diberikan padanya saat Surya belum amnesia dulu. Apakah dia sudah ingat kembali? Lalu bagaimana dengan Dewi yang terlanjur ia bebaskan dari penjara?
"Mas Surya, kamu memanggilku dengan sebutan itu Mas. Apakah kamu sudah mengingat kembali semuanya Mas?" tanyanya masih tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Dia menghamburkan tubuhnya ke Surya.
"Stop!" Surya menunjukkan telapak tangannya, "Aku masih sakit, jadi jangan peluk-peluk aku!" sambungnya sedikit cuek pada Tika.
Tika mengusap matanya yang sedikit berair karena tak sanggup lagi menahan air mata bahagia. Senyumnya yang kecil menghiasi wajah cantiknya. Sambil menahan malu dia tak menghiraukan larangan Surya untuk memeluknya. Dia merangkul Surya dari belakang.
"Aww," rintih Surya saat Tika terlalu kencang merangkul.
"Aku takkan membiarkan kamu sedih lagi Mas. Aku bawakan Dewi untukmu." bisiknya pada telinga sebelah kiri Surya seraya melonggarkan rangkulannya.
"Untuk apa?" sahutnya setengah bergidik karena geli, lalu menatap Dewi dengan pandangan tak suka.
Dewi yang mendengar pergerakan bibir Tika itu membulatkan matanya. Apakah Surya sudah ingat semuanya dan tak menginginkannya lagi?
"Surya," panggilnya seraya mendekat, dia juga ingin melakukan hal yang serupa dengan Tika. Namun Surya menepis tangannya.
"Apa kamu melupakan tentang kebersamaan kita saat kamu tinggal serumah denganku?" tanyanya penuh penekanan.
"Lupakan itu semua! Aku muak melihatmu!" ucap Surya kasar sambil memalingkan muka enggan melihat Dewi. Tika melepaskan rangkulannya, dia juga sedikit kaget. Padahal semalam Dewi lah wanita yang ia sebut namanya, tapi kondisinya sekarang malah suaminya itu membencinya. Perubahan yang tak disangka.
"Surya, kamu..." Dewi merasa sakit hati mendapatkan perkataan yang kasar dari idaman hatinya.
"Ya, aku sudah ingat semuanya. Kamu mengatakan padaku kalau aku hidup sebatang kara dan tak punya keluarga. Kamu jahat, kamu hanya ingin mendapatkan cintaku dengan cara kamu berniat membunuh Tika kan? Kamu sebaiknya ada di penjara sana!" umpat Surya emosi sambil mencoba berdiri.
"Argg...!!" erang Surya menahan sakit.
Tika sebisa mungkin menahan tubuh pria yang jauh lebih berat darinya itu.
"Tahan Mas, kamu baru saja operasi. Simpan tenagamu! Ayo aku bantu kamu duduk kembali." Tika membantu suaminya duduk di kursi roda. Surya menurut entah mengapa kaki dan tubuhnya terasa sedikit lemas dibandingkan dengan awal sadar tadi. Mungkin karena dia lapar.
"Lalu, bagaimana dengan janjimu waktu itu? Kamu sudah berjanji padaku untuk menikahiku! Jangan bilang kalau kamu mau membatalkan pernikahan kita! Aku tidak mau, Surya, kamu harus menepati janjimu!" berbondong tagihan Dewi lontarkan seraya menunjuk Surya.
"Aku bukan sepenuhnya diriku. Aku amnesia waktu itu. Dan kamu juga menyadarinya kan? Kamu memanfaatkan ketidakberdayaanku." ucapnya tegas membuat Tika takjub dengan kepulihan ingatan suaminya.
"Tapi Surya, aku sangat mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Ayo, setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita lanjutkan pernikahan kita yang sempat tertunda waktu itu!" ajak Dewi antusias, berharap Surya mengiyakan ajakannya.
__ADS_1
"Dewi, kamu tuli atau apa? Sudah jelas mas Surya menolakmu tapi kamu tak tahu malu dan tetap ngeyel ingin mengajak dia menikah. Dia sudah beristri. Camkan itu!" Tika penuh penekanan sambil mengarahkan jarinya ke wajah Dewi. Membuat dia murka.
Dewi menarik lengan Tika hingga jatuh tersungkur tepat di bawah Surya.
"Aw, sakit!" rintih Tika seraya memegang perutnya. Dewi tak mengetahui kalau Tika baru saja melakukan transplantasi ginjal.
Surya sontak marah tapi dia tak berdaya ingin menolongnya. Dia merasa iba dan miris melihat rintihan istrinya. "Ada apa denganmu Tika? Mengapa kamu merasakan sakit di perutmu?" batinnya seraya mengulurkan tangannya meski tak sampai.
"Dewi, kamu keterlaluan! Bisa-bisanya kamu bersikap kasar pada Tika di depanku. Dasar tidak tahu diuntung, kamu sudah dikeluarkan dari penjara dan ini balasannya?" Surya sungguh menggebu-gebu memarahi Dewi, ya hanya itu yang sementara dapat ia lakukan.
Dewi mencibirkan mulutnya sambil berkacak pinggang.
"Tika, kamu nggak papa kan?" tanya Surya lembut dan merasa bersalah karena tak bisa melindunginya.
Tika masih meringis menahan sakitnya, untung Tedi datang dengan tergopoh -gopoh.
"Tika, kamu harus ekstra hati -hati." omel Tedi seraya membantu Tika berdiri.
"Aku nggak papa kok," sahut Tika seraya melepas pegangan Tedi saat dia sudah bisa berdiri seimbang, dia tak mau membuat Surya menjadi cemas atau cemburu.
"Benar kamu nggak papa? " tanya Tedi menatap Tika cemas, "Wi, kamu keterlaluan dia kan baru..." sambungnya sambil menatap Dewi , belum selesai melanjutkan bicaranya, Tika menyenggol sikut Tedi memberikan kode untuk merahasiakan. Tedi pun paham maksud Tika apa.
Surya merasa risih dengan kehadiran Tedi.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Surya sedikit cemburu dengan keberadaannya.
"Kamu selingkuh?" tukas Surya sambil menatap tajam Tika, tak suka mereka berdua berdekatan.
"Bukan Mas, dia hanya menolongku saja. Di antara kami tidak ada apa-apa, sungguh!" ucap Tika penuh penekanan sambil menggelengkan kepalanya.
"Suster! Suster!" teriak Surya memanggil sosok suster yang baru saja lewat. Suster itu diminta mendorong kursi rodanya menuju kamarnya.
"Tunggu aku, Mas!" panggil Tika, Tedi memapah Tika mengikuti Surya, tapi dia bersikeras ingin berjalan sendiri. Karena tarikan Dewi tadi membuat luka jahitan di perutnya berdarah, Tika tak menyadari kalau pakaian yang dia kenakan telah berdarah. Dia tertatih -tatih mengikuti suster yang mendorong kursi roda.
Sementara Dewi merasa diacuhkan dia pun pergi meninggalkan rumah sakit.
"Mungkin mas Surya bersikap dingin lantaran ada kamu, Di. Dia belum tahu kalau kamu sudah berubah. Nanti kalau dia sudah tenang, aku akan menceritakan semuanya." ucap Tika mencoba menghibur Tedi, terlihat gurat kesedihan di wajahnya.
"Iya, Tika. Aku paham kok, bagaimana perasaan Surya saat ini." ucapnya sambil merasa miris melihat Tika berjalan.
Brug!
"Tika!" teriak Tedi histeris, Tika jatuh tersungkur karena Tedi telat menahan tubuhnya. Surya pun menoleh dan ikut merasakan kepanikan yang sangat.
"Tika! Tika! " Teriak Surya, "Apa yang terjadi padamu? Sus, tolong istri saya. Ku mohon, cepat tolong dia! Dia lebih penting dari hidupku!" ucapnya khawatir sambil menunjuk ke arah Tika pingsan.
__ADS_1
Segera suster itu berlari diikuti beberapa perawat lainnya sambil membawa bed. Tedi mengangkat tubuh Tika ke atas bed, lalu perawat dan suster membawanya ke ruang pemeriksaan.
Tedi berjalan menghampiri Surya dan mendorong kursi rodanya, mereka berdua tak banyak bicara sampai di depan ruangan dimana Tika diperiksa.
Dokter Richard keluar dari ruangan Tika sambil tersenyum.
"Kondisi pasien tidak apa-apa, dia hanya butuh waktu untuk istirahat dan jangan biarkan dia melakukan gerakan yang berbahaya, karena jahitannya masih basah." jelas dokter Richard.
"Maafkan saya, Dok. Saya juga sudah melarangnya untuk tidak banyak bergerak. Tapi, dia keras kepala sekali." imbuh Tedi. Seketika kalimat Tedi membuat Surya bingung. Ada apa dengan istrinya?
"Bolehkah saya masuk ke dalam melihat keadaan istri saya, Dok?" tanya Surya cemas sambil melirik ke arah Tedi. Dokter mengangguk.
Lagi, tanpa diminta pun Tedi langsung mendorong kursi roda Surya memasuki ruangan Tika. Kini dia tengah terbaring lemas dan sedang tidur.
"Kamu beruntung memiliki Tika sepenuhnya. Dia wanitamu yang baik. Semenjak kamu tak sadarkan diri selama dua hari di rumah sakit ini, dia tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Makan dan tidur pun jarang. Hanya memikirkan kamu yang tak kunjung sadar. Sekarang, setelah ingatan kamu pulih, kamu juga masih menyakiti dia. Jangan kau sangka aku akan merebut dia darimu. Kamu salah besar jika kamu berpikir demikian." terang Tedi lalu menyibak selimut yang menutupi badan Tika.
Surya binggung dibuatnya.
"Mau apa dia," geram Surya melihat ulah Tedi.
"Lihatlah!" perintah Tedi sambil menunjuk baju Tika bagian perut. Surya mengikuti perkataannya.
"Darah," ucapnya lirih. Surya membuka perlahan kain yang bernoda darah itu. Betapa kagetnya dia, mendapati luka bekas jahitan di perut istrinya.
"Katakan padaku, Tedi. Apa yang sebenarnya terjadi? Luka apa ini? Mengapa dia bisa terluka? " beruntun pertanyaan Surya yang dilontarkan, sambil menahan miris.
"Dialah pendonor ginjal untukmu." sahut Tedi seraya menutup dan merapikan kembali pakaian Tika. Menyelimuti seperti semula.
"Pendonor ginjal! Untukku?" Surya mulai menitikkan air mata, rasa cinta Tika begitu besar.
"Tika, maafkan kesalahanku. Aku baru menyadarinya kalau kamu memang sangat mencintaiku. Apa yang telah aku lakukan dulu padamu tidak bisa dimaafkan." keluhnya sambil menghapus air matanya.
"Hapus air mata penyesalanmu! Itu tidak berarti untuk dia. Setelah kamu tahu bahwa Tika sangat berjasa padamu, apakah kamu pantas untuk tetap cemburu padanya. Kamu egois!"
Surya sejenak menyelami ucapan Tedi barusan. Memang dia merasa egois karena kecemburuan yang tak beralasan.
Menjelang sore.
"Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji akan membahagiakan kamu. Dan lupakan apa yang pernah kamu dengar tentang cerita ku dengan Dewi. Aku menyesal pernah ingin menikahinya. Itu semua karena aku amnesia." pinta Surya saat Tika membuka matanya. Tangannya menggenggam erat tangan Tika. Betapa bahagianya dia.
Tak hanya Surya, Tedi pun merasa lega sekarang Tika sudah mendingan daripada kondisinya di siang tadi.
"Mas Surya, aku..." Tika mulai membuka matanya.
"Kamu jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah, aku akan menemanimu di sini." sahut Surya.
__ADS_1
Mereka bertiga dikejutkan dengan kehadiran sosok pria yang dengan penuh amarah masuk ruangan itu.