
"Papa!" panggil Tika saat pak Andik memasuki ruangan Tika, wajahnya yang tadi terlihat marah kini pucat pasi melihat putrinya terbaring. Kedatangannya memang mengejutkan seisi ruangan.
"Tika, Sayang, mengapa kamu tak memberitahu keadaanmu sebelumnya pada Papa? Papa sangat khawatir memikirkan kamu. Bagaimana keadaanmu, apa masih terasa sakit? Apa perlu papa bawa kamu untuk berobat ke luar negeri?" berbondong pertanyaan ia lontarkan sambil membelai rambut putrinya, seketika tadi akan marah berubah kasihan. Ia tak henti-hentinya mengusap dan mencium kening putrinya. Pak Andik juga melihat sendiri luka bekas operasi di perut putrinya. Tika yang merasakan belaian kasih sayang merasa seperti bayi baru lahir saja, rasa ini terlahir kembali setelah hilang dimakan usia. Kini Tika sudah 24 tahun.
"Papa tahu dari mana aku berada di rumah sakit?" bukannya menyahut, Tika balik bertanya, matanya mendelik. "Dari penampilannya terlihat baru pulang kerja, darimana papa tahu ? Siapa yang membocorkan rahasia ini?" batin Tika gelisah.
"Rudi yang memberikan kabar pada papa." lalu menoleh ke Surya sambil menjabat tangan Surya yang sedari tadi ia abaikan.
"Rudi!" Tika tak terbesit dalam ingatannya, bahwa satu nama cowok lajang itu sangat berjasa dan berpengaruh besar saat mencari Surya dulu.
"Rudi, seperti lalat saja dia yang terus menempel meski diusir. Hal sekecil ini saja dia tahu juga. Tak salah aku jika pernah menyewa dia untuk memata-matai mas Surya." batinnya lagi.
"Pa..." Surya menyodorkan tangannya dan mencium punggung tangan mertuanya.
"Pak Andik," sapa Tedi yang ikut juga berjabat tangan.
"Bagaimana kabarmu Surya? Kamu ternyata juga masuk rumah sakit lagi." mengamati Surya di kursi roda, beliau belum tahu kalau Surya sudah tak amnesia.
"Iya Pa, Surya baru saja menjalani transplantasi ginjal dari Tika." jelasnya sambil melihat ke arah Tika, pandangan penuh cinta.
"Papa juga sudah tahu itu." terangnya singkat, lalu berbalik menghadap Tedi.
"Aku dengar semua biaya rumah sakit mereka, kamu semua yang menanggung, benar begitu?" selidik pak Andik tak percaya. Tedi hanya mengangguk malu. Surya yang mendengar itu langsung menganga tak percaya. "Ternyata Tedi berhati baik juga, aku nggak menyangka itu." pikir Surya, dirinya merasa bersalah sempat bersikap dingin saat siang tadi.
Pak Andik mengucapkan terimakasih padanya karena telah menolong putri dan menantunya. Tak begitu lama mama dan bu Desi datang dengan wajah panik. Bu Tasya langsung memeluk Tika, sedang bu Desy memeluk putranya. Mereka berdua juga kaget mendengar anak-anak mereka masuk rumah sakit. Awalnya pak Andik saat selesai rapat siang tadi ditemui Rudi di ruang kerjanya, Rudi yang ternyata memata-matai pergerakan Tika memberikan semua informasi yang ia ketahui pada pak Andik. Pak Andik pun shock mendengar berita itu. Beliau tak langsung pulang ke rumah melainkan bergegas menuju rumah sakit dimana Surya dan Tika di rawat. Beliau mengabari istrinya lewat ponsel dan menyuruh Rudi untuk menjemput istri dan besannya.
"Papa nggak perlu bawa Tika keluar negeri, ada mas Surya yang bisa jadi penyembuhku. Dia sudah ingat kembali siapa dirinya sekarang. Toh, Tika sakit kan karena terjatuh tadi dan tak begitu beresiko. Jadi, Papa tak perlu khawatir lagi." terang Tika sambil menyambut tangan suaminya, mereka berdua saling berpegangan tangan mesra.
"Alhamdulillah, kamu sudah ingat semuanya, Nak?" bu Desy terlihat sumringah dia memeluk lagi putranya, saat itu juga pegangan Surya pada tangan Tika terlepas. Surya hanya diam menerima pelukan ibunya yang hangat itu. Sudah sekian lama dia tak merasakan pelukan hangat itu.
"Maafkan Surya, Bu, jika selama amnesia Surya menyakiti hati Ibu." Surya mengusap punggung ibunya.
Rudi yang sejak tadi diam merasa bahagia juga melihat bosnya sudah sembuh dari amnesia.
"Kamu nggak pernah salah, Nak. Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat anak ibu. Mulai dari kesembuhan kamu dan kebahagian kamu." bu Desy melepaskan pelukannya.
Pak Andik dan bu Tasya ikut merasa senang dengan kembalinya Surya.
"Saya ikut senang Pak Surya, Anda sudah tak amnesia lagi." imbuh Rudi yang akhirnya ikut bicara juga.
"Iya Rudi, aku masih ingat kamu sangat panik dulu saat aku tertembak." Surya mengingat kenangan pahit saat di rumah Dewi.
"Rudi, terimakasih kamu sudah membantuku tanpa aku minta." ucap Tika dengan semburat senyum manis.
"Ah Mbak Tika, ndak ada apa-apa nya saya. Saya hanya melakukan sebisa kemampuan saya Mbak. " sahut Rudi merendah.
Tedi melihat pemandangan sore dicampur rasa haru juga merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. Dia merasa iri. Dia hendak meninggalkan ruangan dan semua orang yang ada di ruangan itu. Saat melangkahkan kaki menuju pintu.
"Tedi, kamu mau ke mana?" panggil Tika menghentikan langkahnya, dia membalikkan badannya.
__ADS_1
"Papa, Mama dan semuanya saja yang ada di sini. Tika ingin memberikan kabar pada kalian semua." seketika itu semua orang hening mendengarnya keterangan Tika, Tedi mengernyitkan dahinya tak paham maksud dan arah pembicaraan Tika, "Ayahnya Tedi, pak Tomi, baru saja dipanggil oleh sang pencipta. Beliau meninggal karena insiden kecelakaan." terang Tika sebelum Tedi berhasil menyahut panggilan Tika.
Semua orang yang mendengar kabar itu mengucapkan duka pada Tedi, termasuk Surya. Dia orang pertama yang mengucapkan rasa belasungkawa.
"Tedi, maafkan sikapku siang tadi. Dan aku turut berduka cita atas meninggalnya orang tuamu. Kamu ternyata tak seburuk yang aku pikirkan. Sekali lagi maaf dan terimakasih telah menjaga Tika saat aku belum sadarkan diri tempo hari." ucap Surya tulus, dia menjalankan kursi rodanya sendiri berjalan mendekati Tedi. Dia mengarahkan kedua tangannya.
"I..iya, Surya, aku menyadari semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu dulu. Maafkan aku juga." sahut Tedi kikuk, seraya menerima pelukan dari Surya, Tedi sedikit berjongkok untuk meraih tubuh Surya. Kedua laki -laki itu saling berpelukan seperti dua saudara yang tak pernah bertemu. Pemandangan yang langka. Mengingat dulu dia pernah meninju perut Surya saat menjemput pulang Tika ke kantornya.
"Kami juga ikut berbelasungkawa atas meninggalnya ayah kamu." pak Andik memeluk Tedi setelah Surya melepaskan pelukannya. Sesekali beliau mengusap kacamatanya yang sedikit berair. Ternyata pak Andik juga mudah sekali terenyuh.
"Terimakasih Pak!" ucap Tedi mengangguk hormat, merasa ada yang mengusik matanya, tanpa ia sadari air matanya menetes jatuh di pipinya.
"Jangan bersedih! Kami bisa menjadi bagian keluarga kamu, jika kamu tidak keberatan? " sambung bu Tasya, dia memeluk dan mengusap punggung pria yang usianya sebaya dengan Tika itu, dirasa pelukannya sudah cukup dia melepaskannya.
"Nak Tedi, ibu juga ikut prihatin atas kesedihan yang menimpa kamu. Semoga ayah kamu diterima semua amal ibadahnya di sisi Sang Kholik." imbuh bu Desy yang juga ikut memeluk Tedi. Tedi sebelumnya menengadahkan tangan mengamini perkataan ibunya Surya.
"Terimakasih atas ucapan belasungkawa dari kalian semua. " Tedi mulai menitikkan air matanya lagi. Bukannya cengeng, jujur rasa ini jarang sekali ia rasakan dan hal ini adalah pelukan terhangat yang pernah ia rasakan selama hidup. Sejak kecil ia tak pernah mendapatkan pelukan dari ibunya yang telah tiada. Apalagi ayahnya yang selalu sibuk bekerja.
"Aku akan sangat bahagia jika memiliki keluarga seperti kalian." sambungnya sambil mengusap kedua matanya yang berkaca -kaca.
"Tedi, kamu jadi saudara ku saja. Aku kan nggak punya saudara laki-laki..." tukas Tika, dia mencoba untuk bangkit. Pak Andik yang jaraknya paling dekat dengan ranjang Tika, membantunya untuk bangkit.
"Benar apa yang dikatakan Tika, kami semua bisa menjadi orang tua pengganti untukmu." imbuh pak Andik yang diikuti dengan anggukan bu Tasya dan bu Desy.
"Mungkin ucapan terimakasih saja tidak akan cukup untuk membalas kehangatan yang kalian berikan. Keluarga adalah satu-satunya kebahagian yang aku inginkan sejak aku masih kecil." Tedi tak berani menampilkan wajah basahnya, dia membalikkan badan dan bergegas pergi keluar meski semua orang meneriaki namanya.
Seminggu kemudian.
"Selamat datang..." sambut dua wanita paruh baya bersamaan, wajah yang tak dikenal itu tersenyum ramah sambil membantu mengeluarkan barang milik tuannya dari dalam mobil.
"Kalian siapa?" tanya Tika heran saat turun dari mobil dulu, dia tengah membantu Surya turun dari mobil, lalu menatap dan memperhatikan satu per satu wajah dan penampilan mereka. Belum sempat menyahut pak Andik memberitahu Tika siapa mereka berdua itu.
"Dia adalah pembantu baru di rumah ini." sahut pak Andik, beliau telah memberikan dua pembantu yang bekerja paruh waktu di rumah Tika dan Surya. Jadi setelah pekerjaan rumah selesai mereka diperbolehkan pulang. Dan kebetulan tempat tinggal mereka tidak jauh dari kediaman Surya.
"Iya, Non Tika dan Mas Surya, perkenalkan nama saya Bik Romlah dan teman saya..." sahut yang bertubuh kurus seraya menyikut teman di sebelahnya agar menyebut namanya sendiri.
"Kalau saya, Non, Mas," sahut wanita yang bertubuh gemuk, "Bik Atika, bisa dipanggil Atik."
Pak Andik menjelaskan tugas masing -masing dari kedua wanita itu. Bik Atik mendapatkan tugas memasak dan mencuci pakaian, sedangkan Bik Romlah tugasnya membersihkan isi rumah dan sekitarnya.
Kedua pembantu itu masuk terlebih dahulu sambil membawa barang-barang milik majikannya. Mereka sudah hampir satu minggu bekerja di rumah itu. Membersihkan rumah dan merawat pekarangan yang ternyata sudah banyak rumput liar yang tumbuh semenjak ditinggal penghuninya.
"Papa akan langsung pulang saja." pamit pak Andik.
"Papa nggak masuk dulu? Ini masih terlalu pagi untuk ke kantor." tukas Tika berharap papanya singgah sebentar di rumahnya.
"Lain kali saja, Sayang." pak Andik mengusap pucuk kepala Tika. " Surya, Tika jaga diri kalian, ingat kalian hanya memiliki satu ginjal, jadi terapkan pola hidup sehat untuk menghindari penyakit yang berkaitan dengan ginjal." terang pak Andik penuh penegasan sambil menunjukkan jari telunjuknya.
"Iya Pa, Surya paham. Surya akan menjaga barang berharga ini karena ini adalah pemberian dari wanita yang paling berharga dari benda apapun di dunia ini." Surya melirik istrinya yang tersipu malu, dia menyikut lengan Surya sambil mengerucutkan mulutnya.
__ADS_1
"Mas Surya, bisa saja," Tika mengulum senyum.
"Terimakasih Bang Soleh..." teriak Tika sambil melambaikan tangan pada sopir pribadinya dulu. Bang Soleh mengangguk hormat.
Setelah berpamitan, pak Andik segera masuk mobil. Rencananya pagi ini dia tak menuju ke kantor dulu dia ingin memberikan kejutan atas kepulangan Surya dan Tika dari rumah sakit. Yakni, perayaan resepsi pernikahan yang akan diselenggarakan di rumah Tika. Pak Andik segera menemui istrinya yang telah lama menunggu di rumah, mereka berdua menuju ke percetakan undangan.
"Tika, aku mau tanya satu hal padamu?" Desak Surya sambil menggandeng Tika menuju ayunan rotan.
"Apa Mas?" sahut Tika penasaran.
"Kamu nggak KB kan selama aku amnesia?" seloroh pertanyaan yang tak terpikirkan di benak Tika.
"Enggak Mas, emang kenapa?" Tika menggelengkan kepala tak mengerti maksud suaminya bertanya demikian.
"Ayo, kita bikin anak!" ajak Surya sambil tangannya bergerilya menyentuh pipi, dagu, dan mendekatkan bibirnya.
"Apaan sih, pagi-pagi begini sudah begituan!" gerutu Tika, batinnya sih senang mendapatkan perlakuan romantis.
"Boleh ya, aku nyicip sedikit...saja!" pinta Surya yang hendak melahap bibir ranum itu.
"Jangan di sini! Malu dili..." Tak kunjung selesai kalimatnya sudah dirundung ciuman mesra dari Surya. Tangan Surya menahan tengkuk Tika dan tangan yang satunya menahan pinggang.
Tika membelalakkan matanya tak percaya. Dia tak mempu menolak yang selama ini dia dambakan. Ciuman dari Surya.
"Non Tika dan mas Surya seperti pengantin baru saja ya," bik Atik mengintip dari koridor ruang tamu yang mengarah ke pekarangan sambil membungkukkan badan.
"Mereka berdua baru saja 6 bulan menikah. Ya pantas kalau kamu bilang seperti pengantin baru." imbuh bik Romlah yang juga mengamati saat membersihkan ruang tamu.
"Kok kamu ikut -ikutan ke sini sih!" keluh bik Atik.
"Lah kan tugas saya membersihkan rumah, kamu sendiri ngapain di sini? Sana cepat ke dapur! Kalau ketahuan nguping, bisa dipecat kamu!" Bik Romlah menggertak temannya agar tak mengusik kehidupan majikan barunya. Mendapatkan peringatan dari temannya, bik Atik segera menutup koridor dan bergegas melanjutkan aktifitasnya di dapur.
"Mas malu ah, du rumah ini kita nggak berdua lagi loh..." Tika melepaskan ciuman dan mengingatkan suaminya.
"Oh iya, aku sampai lupa kalau papa sudah memberikan pembantu di rumah ini." Surya menepuk jidatnya, "Kalau begitu kita lanjut ke kamar yuk!" ajak Surya antusias.
"Masih pagi Mas.... Mendingan kita joging yuk!" saran Tika sambil berdiri.
"Tapi entar malam boleh dong..." Surya menggoda yang ikut berdiri juga.
"Beres...aku ke kamar dulu buat ganti baju." pamit Tika, belum sempat dia beranjak, lengannya tertahan oleh Surya. Tika menatapnya penuh tanya.
"Kan kita sekamar sekarang, so nggak perlu pamit-pamitan segala kalau mau ganti baju. Kenapa nggak ganti baju berdua sekalian." terang Surya sambil menggerakkan kedua alisnya.
"He he, benar juga ya. Tika lupa, maklum sudah terbiasa di kamar sendirian." Tika ngeles.
Tika berjalan beriringan dengan suaminya memasuki rumah.
Ceklek...
__ADS_1
"Aw...!!" pekik Tika, sontak tubuhnya terasa melayang, dengan sigap Surya menahan tubuh mungil itu agar tak tersungkur ke lantai.
"Bik Romlah...!" teriak Tika emosi.