
Tedi dengan penampilan hitam putihnya tidak kalah keren dengan Surya, sejak selesai berfoto dengan teman dan keluarga dia sudah melepas baju toganya. Ayahnya mendukung Tedi untuk melamar pujaan hati, yang tidak lain adalah Tika.
"Di, kamu salah! Aku bukan wanita yang pantas untukmu." Tika bergidik, melihat Tedi dengan keseriusannya melamar di depan teman- temannya, ditambah dia sudah merasa gerah dengan pakaian toganya.
"Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, mana mungkin aku salah pilih." semburat senyum di wajahnya, menaruh harapan besar pada Tika untuk dijadikan istrinya.
"Apa, apa yang kamu katakan? Kamu akan menyesal melakukan ini semua."
"Menikahlah denganku," Tedi mengulangi perkataannya, dia duduk berlutut dengan salah satu lutut menempel lantai.
Tedi meraih tangan kiri Tika, dan hampir menyematkan cincin di jari manisnya.
"Terima! Terima!..." sorak mahasiswa yang masih bergerombol.
Tika dengan cepat menepis tangannya.
"Tika!" Tedi membelalakkan matanya lantaran terkejut dengan reaksi Tika.
"Kamu menolakku?"tanyanya.
Surya yang memperhatikan mereka dari kejauhan, masih terdiam.
"Aku sudah menjadi milik orang lain." ucap Tika, Surya yang mendengar itu tersenyum tipis, merasa istrinya sudah melakukan hal yang seharusnya diungkapkan sejak awal menikah.
"Menjadi milik siapa?" gumamnya lirih seraya bergetar bibirnya, Tedi merasakan seluruh tulangnya rontok lalu dia menggenggam erat cincinnya.
"Aku sudah menikah!" Tika mantap mengucapkannya di depan teman - temannya. Bahkan, mereka tidak percaya dengan ucapan Tika.
"Menikah!" Tedi melotot matanya, tidak percaya sepenuhnya ucapkan Tika, tubuhnya terasa tersayat - sayat. Lalu dia berdiri dengan berat.
"Kamu sudah menikah? Sejak kapan? Kamu jangan bercanda!" Tedi meninggi.
"Sebelum aku bekerja di tempatmu."
"Berarti kamu bohong dengan statusmu waktu melamar kerja?"
"Maaf...aku tidak bermaksud menipumu."
"Siapa? Siapa dia?" Tedi mendekat.
Tika terdiam, rasanya ingin dia berlari dari keadaan ini.
"Katakan! Siapa laki - laki itu?"
Tika masih terdiam dan seolah dia tuli , lalu melangkahkan kakinya pergi. Tedi meraih tangannya cepat.
"Lepaskan!" Tika meronta.
"Katakan padaku, siapa dia?" tanya Tedi dengan tatapan elang.
"Sopir pribadiku." jawab Tika sontak.
Tika menangis. Tika berlari menjauh dari kerumunan. Tedi masih mematung, menyelami setiap ucapan Tika. Dia masih tidak terima dengan kenyataan bahwa Tika sudah menikah.
Mahasiswa yang masih bergerombol lambat laun menghilang satu persatu, tinggallah Tedi seorang.
"Siapa yang dimaksud sopir itu?" bisik Tiwi.
"Mungkinkah itu..." sahut Tesa dengan saling pandang.
"Surya..." ucap mereka berdua serentak.
"Tidak mungkin, Tika bilang suaminya Setiawan namanya." Tiwi mendongak sambil mengingat.
"Kenapa aku seperti idiot saja. Tidak terpikir olehku. Surya Setiawan." Tesa mengusap dahinya dengan tisu, entah sejak kapan keringatnya mulai bercucuran.
"Bukankah itu nama lengkapnya. Kenapa kita begitu bodoh, sampai hal sepele saja tidak paham." Tiwi melihat Tesa yang mulai gelisah.
"Ini tidak bisa dimaafkan, Tika menipu kita. Bisa - bisanya dia menikahi pujaan hatiku." Tesa mengerutkan bibirnya.
"Kita harus meminta penjelasan padanya!" Tiwi menarik Tesa berjalan mengejar Tika yang tengah berlari entah kemana.
__ADS_1
"Eh, tunggu! Itu Surya." Tiwi menahan Tesa.
"Ayo, kita tanya dulu ke dia. Ini benar atau hanya lelucon saja." mereka menemui Surya.
"Surya, ada yang ingin kami bicarakan dengan mu!" ucap Tiwi saat mendekati Surya yang sejak tadi berdiri mengamati Tika.
"Apa?" jawab Surya dengan santainya.
"Apa benar suaminya Tika adalah kamu!" tanya Tesa, tatapannya berharap mendapat jawaban yang sebaliknya.
"Menurutmu?" sahut Surya singkat seolah tak perduli dengan tatapannya.
"Bukankah kalian saling bermusuhan! Bagaimana kalian bisa menikah?" Tiwi mulai emosi.
"Kami dijodohkan." Surya masih santai dengan jawabannya, dia tidak menyadari betapa sakit hati mereka berdua mendengar kabar itu.
"Dijodohkan! Aku baru ingat sekarang, Tika pernah curhat padaku, tapi dia tak bilang kalau jodohnya itu kamu." jelas Tiwi, Tesa terdiam, air matanya mulai mengalir.
"Tika begitu licik, aku benci dia!" nada Tesa mulai meninggi.
"Kalian sudah mendengar dan jelas sudah. Aku berharap kalian tetap menjaga persahabatan kalian dengan Tika. Hanya karena aku suaminya, tidak membuat kalian membenci dia kan?"
Tiwi dan Tesa terdiam, mencerna kalimat Surya.
"Seharusnya sebagai sahabat, kalian mendukungnya. Bukan malah membencinya."
"Tapi, aku sangat mengagumimu Surya!" Tesa memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
"Inilah namanya jodoh!"ucap Surya sambil menepuk pundak Tesa.
"Aku sangat berharap sejak dulu kamu itu jodohku." ucap Tesa seraya mengusap air matanya.
"Kita tidak bisa menolak perjodohan waktu itu." jelas Surya.
"Kalian boleh mengagumi seseorang, tapi juga harus mau menerima konsekuensinya." jelasnya lagi.
"Kamu benar Surya, aku kira ini tidak sepenuhnya salah Tika, Sa...kamu bisa merelakan ini kan?" menepuk pundak Tesa.
"Iya, Wi...aku juga tidak mau persahabatan kita hancur hanya gara - gara satu cowok." memeluk Tiwi dengan masih sesenggukan. Tesa dengan cepat merelakan pujaannya menjadi milik sahabatnya.
"Nah, gitu dong...itu namanya ikhlas!" Surya tersenyum dengan pemandangan kedua penggemarnya.
"Tesa, Tiwi, kalian..." Tika datang dengan sedikit ketakutan melihat kedua sahabatnya berada di dekat Surya.
"Tika kamu jahat!" ucap Tesa.
"Tesa, bukankah tadi kamu..." Tiwi menyela.
"Sa, aku bisa jelaskan, ini bukan sepenuhnya keinginanku. Aku..." sahut Tika.
"Kamu benar - benar..." Tesa mengarahkan telapak tangan hendak menampar Tika.
"Akh..." Jerit Tika sambil memejamkan mata dan menyilangkan kedua tangannya.
Surya dan Tiwi terkejut melihat perubahan sikap Tesa yang mendadak berubah.
"Kamu sahabatku, dan selamanya tidak akan pernah berubah meski kamu bersanding dengan Surya." Tesa bukannya melayangkan tangannya melainkan memeluk Tika erat.
"Tesa, kamu mengagetkan aku saja. Aku fikir tadi kamu akan menamparnya." Tiwi mengelus dada.
"Aku berfikir sama juga." sahut Surya.
"Tesa..." Tika merasakan pelukan hangat sahabatnya.
"Jadi, kalian sudah tahu?" tanya Tika saat Tesa melepaskan pelukan.
"Kami tidak marah kok!"
"Maafkan aku teman - teman. Kami menerima perjodohan dengan terpaksa. Aku menerimanya karena teriming - iming dengan harta papaku." jelas Tika.
"Apa kini kamu masih matre?" goda Surya.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas...aku kan sudah banyak berubah. Harta bukanlah segalanya. Memilikimu adalah hal yang paling berharga."
"So sweet..." ucap Tesa dan Tiwi bersamaan.
"Tadi kamu panggil apa ke Surya?" Tiwi menyenggol Tika.
"Kalau tidak salah, dia panggil Mas!" Tesa mengerutkan hidungnya.
"Kalian kalau iri, juga bisa memanggilku dengan gelar mas." imbuh Surya.
Mereka bertiga tertawa bersama dan saling berpelukan.
Sementara itu...
"Aku tidak bisa membiarkan ini." Air matanya menetes.
"Kamu tidak bisa menjadi milik siapapun kecuali aku seorang." memasukkan kembali cincin yang sejak tadi di genggamannya ke dalam kotak.
"Surya, sopir kampungan. Aku akan membuatmu hancur!" hardik Tedi.
"Di, kamu belum pulang ?" Dewi menghampiri Tedi. Dengan segera Tedi mengusap air matanya.
"Kenapa kamu, Di? Kamu habis nangis..." Dewi mengusap lembut punggungnya.
"Aku tidak apa- apa, Wi..." mencoba menutupi sakit hatinya.
"Ayo kita foto!" ajak Dewi dengan mengeluarkan ponselnya.
"Yah...mati!" Dewi kesal dengan ponselnya yang mendadak mati.
"Aku lagi tidak mood, Wi!"
"Kenapa?"
"Kamu tidak lihat peristiwa tadi?" Tedi memandang Dewi.
"Aku baru saja datang ke sini, tadi aku mencari ibuku, memangnya ada apa?"
"Dewi belum tahu kalau Surya menikah dengan Tika." batin Tedi.
"Tidak ada apa-apa, ayo pulang!" ajak Tedi.
"Bantu aku menemukan ibuku, ya!" Tedi mengangguk.
"Jangan sampai Dewi tahu dulu pernikahan mereka, cukup aku saja yang sakit hati. Meskipun lambat laun, dia akan mengetahui kebenarannya nanti." batin Tedi lalu mengajak Dewi pergi untuk mencari ibunya.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu?"
"Tentang apa?"
"Tentang perasaanmu ke Surya."
"Mengapa mendadak kamu menanyakan itu?"
"Ya...sebagai teman aku ingin tahu saja."
"Kamu ini...aku sudah sejak lama menyukai dia, bahkan sebelum kita kuliah."
"Teman SMA?"
"Bukan, dia lebih tua dari kita. Dia dulu bekerja di toko parfum langgananku."
"Ooo...begitu ceritanya."
"Ternyata Dewi lebih dulu mengenal Surya, pantas saja dia tergila - gila dengannya."
"Kamu tidak akan sakit hati kan jika dia tidak menyukaimu?"
"Apa yang kamu katakan, Di? Tentu saja dia menyukaiku."
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
__ADS_1
"Karena dia begitu baik dan perhatian padaku."
"Kasihan kamu Wi, Surya telah menyakiti hatimu secara tidak langsung." batin Tedi.