
"Tika ," panggil Surya seraya mengetuk pintu.
"Masuk, tidak di kunci." sahut Tika dari dalam kamar.
Surya membuka pintu didapati istrinya tengah berbaring membelakanginya.
"Ayo, makan siang." ajak Surya seraya duduk di tepi kasur.
"Aku tidak lapar." tolak Tika dengan tidak bergeming.
"Baik, kalau kamu tidak makan aku temani kamu di sini."
"Ngapain, tinggalkan aku sendiri!" dengan nada tinggi.
"Tidak mau." Surya bersikukuh seraya memainkan boneka yang ada di samping Tika."Kalau begitu, ayo pulang." ajak Surya, berdiri dan menghadap ke arah Tika. Dilihat wajah istrinya tampak muram dan matanya sembab.
"Kamu marah?" ucapnya lagi.
"Tidak, mood ku saja yang lagi suram."
"Benarkah, wajahmu jelek kalau cemberut. " Suara Surya lain dan jelek membuat siapa pun yang mendengarkannya pasti tertawa seraya menggerakkan boneka seakan - akan boneka itu yang mengajak Tika bicara.
"Biarin jelek," ucap Tika sedikit menahan tawanya.
"Ucapan adalah doa lo...berarti kamu mendoakan dirimu sendiri dong." ejek Surya dengan suara boneka itu.
"Ih, tidak lucu tau!"Menahan tawa.
"Tapi, kamu tertawa." ucap Surya masih dengan suara boneka .
"Tidak, aku tidak tertawa." Berbalik membelakangi Surya dengan posisi masih berbaring.
Surya ikut berbaring di sampingnya dengan posisi membelakangi Tika. Tika yang merasa risih dan kesal menggeser tubuh dengan gerakan mundur membuat Surya tergeser hingga ke tepi, saat itu juga tangan Surya meraih tubuh Tika hingga keduanya jatuh di bawah kasur.
"Akh...!"
__ADS_1
"Tika, awas!" Surya tertindih tubuh istrinya, wajah mereka saling bertemu.
Tika membelalakkan matanya, hidungnya berkerut, pipinya berubah merah muda, dia merapatkan bibirnya. Dengan nafas yang saling beradu dan detak jantung yang saling berpacu, mereka berdua bergelut dengan pikiran masing - masing. Sejenak terdiam tanpa kata.
"Nenek Sihir, matamu terlihat sejuk dan indah. Entah sejak kapan aku menyukai bola matamu, dan terasa sulit sekali untuk mengakui kalau sebenarnya aku ingin mengatakan cinta, namun aku tak bisa. Lidahku terasa kaku dan seolah kata yang aku ucapkan tidak sesuai dengan pikiranku. Bagaimana caranya agar dirimu bisa tahu kalau aku mulai ada rasa dengan hatimu. Mungkin suatu saat nanti, entah itu kapan." batin Surya, tangannya menjamah rambut istrinya yang terurai panjang menutupi sebagian wajahnya.
"Cowok kampungan ini, emang akui kamu terlihat tampan setelah aku amati dari dekat. Sebenarnya, sejak aku putus dengan Tedi ada sedikit rasa yang aneh saat bersamamu, entah itu apa. Rasa yang beda dengan yang aku rasakan saat berpacaran dengan dia. Kalaupun aku mulai menyukai cowok kampungan ini, aku tidak ingin rasa ini ketahuan. Biar dia dulu yang menyatakan rasa cinta padaku. Cinta yang bukan karena terpaksa, cinta yang lahir dari lubuk hatinya yang terdalam. Tapi, apa dia memilki rasa yang sama..." gumam Tika dalam hati.
"Maaf, tubuhmu terlalu berat membuat dadaku sesak dan aku kesulitan untuk bernafas ."ucap Surya lirih. Tika terperanjat lalu berdiri, diikuti Surya.
Tika sedikit malu, mereka berdua duduk berhadapan. Tika ingin menanyakan perasaan Surya selama menikah, tapi mulutnya terasa terpaku dan ada yang membebani sehingga sulit untuk berkata.
"Papaku telah mengalihkan hak waris padamu, saat membeli rumah dan mobil itu..." Tika menghentikan ucapannya, lalu berdiri menghadap luar jendela. Mata Surya mengikuti arah istrinya berjalan.
"Kamu senangkan sekarang, bisa mendadak kaya!" Tika menoleh ke arah Surya, dengan sorotan mata yang tajam.
"Tika, dari awal aku sudah menolak permintaan papa untuk menerima semua itu. Aku bukan cowok yang gila harta, walaupun aku menerima semuanya toh, kamu juga senang kan bisa menikmati hasilnya. Rumah mewah, mobil mewah, apalagi yang kamu minta tinggal sebut saja, aku bakal membelikan untukmu. Itukan yang selama ini kamu cari, cewek matre!" ucap Surya dengan nada tinggi dan mulai geram tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kamu pikir aku senang dengan pernikahan ini, tidak...!" Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mata Tika yang indah itu mulai dibanjiri air mata lagi. Surya yang selalu tak tega melihat setiap wanita menangis, hatinya merasa iba.
"Maafkan ucapanku Tika," memegang pundak lalu mengangkat dagu kecilnya, tampak wajah putih nan cantik yang sedang ia pandang. Tika mendongak ke atas menatap wajah Surya.
"Aku akan belajar untuk mencintaimu, dengan keadaan ini, keterpaksaanmu yang membuatmu harus menikah denganku. Terkadang saat aku bersamamu hatiku merasa adem. Apakah aku sedang jatuh cinta? Aku , bukan cowok yang tidak bisa mengatakan hal yang manis- manis yang bisa membuat para wanita menyukainya. Jujur, inilah aku." ucap Surya membuat sekujur tubuh Tika lemas lunglai, tak disangka Surya mengutarakan isi hatinya lebih dulu.
"Apakah pernikahan yang kini tengah kita jalin adalah bentuk dari mencintai karena terpaksa? Kalau kamu menganggap pernikahan ini sebagai suatu keharusan yang perlu dilakukan, maka kamu mungkin tidak sedang jatuh cinta." ucap Tika memalingkan wajahnya, bola matanya berputar.
"Mungkin, dalam pernikahan ini kamu hanya menuntaskan kewajibanmu untuk sekedar menemaniku. Mungkin juga kamu merasa risih dan ingin mengakhiri pernikahan ini segera. Atau bahkan kamu akan mencari berbagai alasan untuk mengakhiri hubungan ini." ujar Tika air matanya semakin deras dan mengucur.
"Tika, kalau sejak awal kamu memiliki intuisi yang mengatakan aku bukanlah orang yang tepat, maka firasatmu itu mungkin benar adanya. Entah kamu tidak benar - benar ingin aku menjadi bagian dari hidupmu atau mungkin karena alasan tertentu yang membuat kamu belum sepenuhnya menerimaku. Tidak ada satu pun pasangan yang mengakhiri hubungan begitu saja. Meskipun ada masalah menghadang, sebisa mungkin pasangan tersebut menyelesaikan dengan kepala dingin. "
"Apa kamu benar - benar mencintaiku karena terpaksa oleh keadaan?" tanya Tika.
"Aku tidak yakin, kita lihat saja nanti. Namun, cobalah untuk bertahan dengan pernikahan ini. Karena aku hanya bisa menikah satu kali saja dengan wanita yang telah Allah ridhoi. Yakni kamu, Tika. Sekarang kita jalani saja hubungan ini tanpa harus ditutup - tutupi. Mengapa kamu harus malu, biarkan orang lain tahu pernikahan ini."
"Aku benar - benar belum siap, Surya." Menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjamin, Tika. Sampai kapan kamu akan bersembunyi dari kenyataan ini. "
"Sampai kita benar - benar saling mencintai." ucapan Tika membuat Surya hampir berhenti detak jantungnya.
"Baiklah, aku hargai pendapatmu." ucap Surya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ayo pulang, kasihan Mr. Black sendirian di rumah." pinta Tika, Surya mengangguk.
"Sebelumnya, bersediakah kamu meminta maaf pada ibuku, beliau merasa terpukul atas ucapanmu tadi."
"Iya, aku akan turun ke bawah. Aku ke kamar mandi dulu." Mengusap pipinya yang lembab karena air mata. Surya keluar menunggu di bawah.
Selesai Tika merapikan diri, mandi dan bersolek dia turun ke bawah menyusul Surya.
Tika meminta maaf kepada mertuanya, bu Desy. Mereka berdua saling berpelukan. Setelah itu Tika dan Surya berpamitan untuk pulang kerumah baru.
Sementara Anis baru pulang dari rumah temannya mendapati kakak dan kakak iparnya sedang bersiap pulang.
"Mas Surya, bolehkah Anis suatu hari bermain ke rumah baru?" tanya nya manja.
"Boleh..." sahut Surya.
"Mainlah sesukamu, di rumah baru kakak punya seekor kucing yang manis ." sahut Tika dengan semburat senyum di bibir.
"Hore...! Baiklah, Anis masuk ke dalam dulu. Dah...hati - hati di jalan." Melambaikan tangan dengan senyum yang lebar.
"Dah...sayang!" ucap bu Tasya seraya melambaikan tangan.
Tika dan Surya masuk ke dalam mobil.
"Semoga mereka berdua segera memberikan cucu untuk kita, Ma." ucap pak Andik.
"Aamiin...semoga saja , Pa." sahut bu Tasya.
"Aamiin..." sahut bu Desi.
__ADS_1