Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Kangen Kamu


__ADS_3

"What...!!" Tika membulatkan matanya tak percaya.


"Apa kamu gila Mas, sudah jelas dia cewek nggak bener kamu tetap ingin menikahinya. Aku nggak setuju! Sudah lama aku merindukanmu, kamu malah membalas kerinduan ini dengan tetap memikirkan wanita lain di hatimu." Tika terisak.


"Aku...aku telanjur janji padanya." sahut Surya lirih, hatinya juga binggung untuk memberi keputusan. Sementara ingatannya masih selalu terngiang pada Dewi.


" Apa pun alasannya aku tidak ridho dunia akhirat, jika kamu menikah lagi." bentak Tika kesal dengan sikap suaminya itu.


"Tapi, bagaimana dengan perasaan dia?" ucap Surya sedikit ragu untuk mengatakan.


"Kamu tidak memikirkan perasaanku, Mas. Apa istimewanya dia dibandingkan aku, istrimu? Oke, aku akui selama tiga bulan ini memang Dewi yang banyak berjasa padamu, meski dia telah menolong nyawamu tapi tidak dengan menikahi dia sebagai balas budi nya . Masih ada cara lain." jelas Tika membuat Surya terdiam.


"Mas, kamu setelah kecelakaan itu sampai sekarang tetap suamiku, meski kamu amnesia sampai kapanpun aku akan tetap istri sah mu dan tidak ada orang kedua yang akan memisahkan cinta kita, ataupun menghancurkan mahligai rumah tangga kita, sampai mati pun aku akan tetap cinta kamu, Mas ." jelas Tika lagi membuat Surya tak berani menatap matanya.


Setelah agak lama Surya bangun, waktu subuh pun tiba, Tika meninggalkan Surya yang masih terdiam dan nampaknya dia masih ngantuk. Tika perlahan berjalan meninggalkan ruangan dan melihat Surya mulai tertidur. Tika pergi ke masjid yang sebelumnya dia membersihkan diri dulu.


Pukul 06.30 Tika menuju ruangan Surya berharap dia sudah bangun karena waktunya untuk sarapan. Seorang suster masuk ke ruangan Surya sambil mendorong meja berisi sarapan Surya pagi ini. Dia meletakkan bubur dan obat serta wash lap beserta air hangat, ketika suster itu akan membangunkan Surya untuk menyeka badannya, Tika menghentikan pergerakan suster, segera suster itu pergi mendorong meja menuju ruangan pasien lain. Tika segera membangunkan Surya dengan cara mencium dahinya.


Cup


"Bangun Mas! Waktunya membersihkan badanmu." ucap Tika sambil berbisik pada telinga kanan Surya. Namun Surya belum juga membuka matanya. Tika mengulangi perkataannya sambil membangunkan Surya dengan cara menggoncangkan lengannya. Perlahan Surya membuka matanya.


"Sudah pagi kah?" tanyanya seraya menguap.


"Aku bersihkan badanmu dulu ya," tanpa mendapat sahutan dari suaminya, Tika lekas mengambil wash lap yang sudah direndam dengan air hangat. Perlahan ia lakukan mulai dari wajah, ketiak, badan dan ************.


"Aku malu," ucap Surya menahan pergerakan Tika saat mulai menyentuh celananya.


Tika terkekeh sambil menggelengkan kepala, "Mas, Mas, kamu tuh sudah jadi bagian dari hidupku, sudah sewajarnya jika aku bertindak demikian. Kamu tenang saja, jika Mas malu aku nggak bakal lihat kok punyamu. Ya, meski aku juga kangen sih." ucap Tika membuat Surya meringis karena malu.


"Atau Mas lebih suka kalau suster tadi yang melakukan ini?"


"Nggak kok, kamu saja yang melakukannya!" perintah Surya sambil memejamkan mata.


"Ngapain merem, Mas. Aku belum ngapa-ngapain kamu." Tika tertawa lepas dan Surya tertawa kecil.


Perlahan Tika mulai memegang celana suaminya dan mulai menyeka area sensitif dan sekitarnya. Sambil menahan malu dan geli Surya tetap memejamkan matanya menutupi kegugupannya disentuh Tika. Meski Tika istrinya, tetap masih terasa orang lain bagi Surya karena belum terbiasa saja. Selesai acara menyeka badan Surya, Tika,menawarkan sarapan.


"Mas Surya, ayo sarapan! Suster membawakan bubur nasi untukmu. Mumpung masih hangat, makanlah!" Tika mengambil mangkuk di atas baki dan membuka plastik yang membungkus mangkuk itu.


"Apa kau akan menyuapiku?" tanya Surya ragu.

__ADS_1


"Tentu saja. Apa kamu juga malu jika aku menyuapimu?" Tika sedikit emosi dengan pertanyaan Surya yang terdengar lucu itu.


"Tidak, bukan begitu maksudku. Selama tinggal di rumah Dewi, aku selalu makan sendiri dan apa-apa juga sendiri. Jadi, aku belum terbiasa denganmu."


"Huh, Dewi lagi. Bak bidadari saja dia. Kan aku istrimu, Mas. Wajar dong aku begini. Lihat sampai kamu pulih, kamu lama -lama juga akan terbiasa denganku." keluh Tika sambil membuka tutup botol air mineral dengan kasar.


"Klek ," dia meneguk air itu hingga sisa separuh, Surya bergidik melihat ulah Tika itu.


"Aa...ak, Mas!!" Tika menyuruh Surya membuka mulutnya, dengan sedikit takut dia pun menurut dan mulai memakannya.


"Enak, Mas?"


"Sedikit asin," sahut Surya lirih sambil mengernyitkan dahinya.


"Hmmm, yang masak bubur kebelet kawin nih," gurau Tika sedikit terkekeh, Surya pun sedikit senyum lantaran Tika sudah tak kesal lagi dengan perkataannya tadi.


Tika menyuapi sampai bubur itu benar- benar habis tanpa sisa.


"Nah, sekarang waktunya minum obat." Tika membuka bungkus obat dan meletakkan obat itu di ujung lidah saat Surya menjulurkan lidahnya. Tika mengangkat kepala Surya sedikit lebih tinggi untuk membantunya meneguk air.


"Terimakasih, Tika." Surya menyebut nama istrinya untuk yang pertama kali, dengan seluas senyum dia mulai terbiasa dengan keberadaan Tika.


"Sudah kewajibanku Mas, untuk meladenimu. Maafkan aku. Jika seandainya aku lebih dulu menemukanmu dari pada Dewi, aku pasti akan memperhatikan kesehatanmu dan merawatmu dengan baik. Aku memang istri yang buruk." ucap Tika sambil berkaca - kaca kedua matanya.


"Tentu, Mas." Tika mengusap lembut pipi suaminya, meraih tangan kanannya yang masih terpasang selang infus lalu mengecupnya.


"Apa aku dulu seorang pria yang jahat pada istri secantik dirimu?"


"Tidak Mas! Kamu suami terbaik yang pernah ada di muka bumi ini." Tika mengusap pipinya yang sedari tadi basah oleh air mata.


"Lalu mengapa kamu menangis ?"


"Aku kangen kamu , Mas. Dan aku bahagia. Sungguh, air mata ini begitu saja jatuh karena aku tak kuat lagi membendungnya."


"Tika, ternyata itu namamu. Lalu panggilan apa yang sering aku ucapkan padamu?" tanya Surya.


"Kamu selalu memanggilku nenek sihir." Tika sedikit malu untuk mengakuinya.


"Nenek Sihir, betapa bodohnya aku dulu. Bagaimana bisa istri yang baik begini dipanggil begitu." Surya mengutuk dirinya.


"Enggak buruk kok, aku sudah terbiasa kamu panggil begitu. Saat kita belum menikah dulu, kamu sering memanggilku nenek sihir."

__ADS_1


"Sampai sekarang?"


Tika menggeleng.


"Lalu...?"


"Kamu mulai memanggilku dengan kata sayang, Mas." ucap Tika tertunduk malu, melihat tingkah Tika, Surya terkekeh.


"Sungguh menggemaskan kita dulu ternyata ya? Andai semua ingatanku pulih, tentu aku takkan menyakitimu. Maafkan aku, karena terlalu gegabah memberi keputusan untuk menikahi Dewi. "


"Aku tahu, Mas. Kalau saja aku tak datang tepat waktu, kamu pasti sudah menjadi milik orang lain. Tentu hal itu akan menyakiti hatiku. Sungguh, hanya kamu cinta matiku, tak kan ada orang lain yang sanggup menggantikan posisimu di hatiku."


"Kemari, sayang! Peluk aku!" ucap Surya sambil memberi syarat untuk Tika agar mendekat padanya. Tika yang sejak tadi tertunduk malu memberanikan mengangkat wajahnya dan dengan tubuhnya yang ramping itu dia memeluk suaminya erat.


"Uhuk.... Uhuk , pelan-pelan sayang, aku tak bisa bernafas." Surya terasa sesak dadanya lantaran Tika memeluknya terlalu kuat.


"Maaf, Mas." sontak Tika bangun dan mulai mengkondisikan dirinya lantaran terlalu senang dia lupa kalau Surya masih terluka.


Pukul 10.00


Keluarga besar Tika datang untuk menjenguk Surya. Kebetulan hari ini hari Minggu jadi pak Andik dan Anis libur. Sesampainya di ruangan Surya.


"Siapa mereka?" tanya Surya sambil menatap satu persatu wajah orang yang mengunjunginya. Mereka terasa asing dan bahkan tak ingat nama satu pun.


"Beliau, Ibumu, Bu Desi namanya." ucap Tika memperkenalkan bu Desi, beliau menyeka air matanya sambil berjalan mendekati Surya dan membelainya.


"Surya, anakku. Setelah mendengar kamu masih hidup, ibu selalu berdoa setiap malam agar bisa bertemu kembali denganmu, Nak." ucap bu Desi.


Surya diam saja dan sambil mengarahkan senyum menerima belaian ibunya.


"Sedangkan yang cantik dan imut itu, Anis, adik perempuanmu," Tika menunjuk gadis mungil yang mengenakan setelan kaos dan celana jeans, lalu Anis menghampiri kakaknya dan memeluknya bergantian dengan bu Desi.


"Aku punya adik cewek yang cantik ternyata," ucap Surya tak percaya. Anis menangis dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Lalu mereka?" tanya Surya setelah Anis melepaskan pelukan.


"Mereka papa dan mamaku," ucap Tika sambil memperkenalkan orang tuanya.


"Surya, papa senang kamu sudah sadar dan semoga kamu lekas keluar dari rumah sakit. Kami semua sangat merindukanmu." ucap pak Andik.


"Iya, Surya, kami bersyukur kamu masih hidup. Betapa bahagianya kami mendengar kabar itu, terlebih lagi Tika. Kini, dia tak menjadi janda lagi." ucap mama Tasya membuat Tika malu dan mengerucutkan mulutnya.

__ADS_1


Mereka saling bercerita satu sama lain mengingat saat mereka menjadi pengantin baru. Menceritakan kisah-kisah lucu saat tinggal bersama, seperti menceritakan kejadian saat Surya tertidur di meja makan. Mereka tertawa bersama, melepas kangen.


__ADS_2