
"Aku masih tidak percaya kalau sopir itu seorang CEO juga!" ucap Tedi geram sambil memukul meja.
"Ada apa denganmu?" tanya Ayahnya yang sedang sibuk mengetik.
"Aku sangat membenci CEO perusahaan ANDIKA yang baru, Yah!"
"Lalu, apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin sekali membuatnya hancur! Aku sangat membencinya sejak kuliah."
"Dia temanmu, kenapa kamu sangat membencinya?"
"Dia juga dekat dengan Tika, aku merasa dia menyukai Tika, ini ancaman bagiku, Yah."
"Kendalikan amarahmu, mungkin Ayah bisa membantumu." ucap pak Tedi menenangkan hati anaknya.
"Bagaimana Ayah?" ucapnya terasa beban pikirannya sedikit terkurangi.
"Ambillah hati para investor yang akan bekerjasama di perusahaan ANDIKA."
"Investor, kenapa tidak terpikirkan olehku. Itu ide yang bagus Ayah."
"Tentu saja, aku juga pernah mengalami hal sepele seperti itu, Di."
"Aku bangga padamu, Ayah."
"Ini daftar investor ternama, kamu cari tahu investor mana yang akan bergabung dengan perusahaan ANDIKA." mencari file di laptop kemudian mengeprintnya.
"Ayah hebat!" menerima selembar kertas yang baru saja keluar dari mesin print. Kemudian memeluk ayahnya, lalu Tedi segera bergegas keluar ruangan ayahnya. Dia mengendarai mobilnya dan satu jam kemudian dia kembali dengan suasana hati gembira.
"Tika, antar aku ke perusahaan A!" ucap Tedi saat dia menemui Tika di ruang kerjanya.
"Iya, Pak! Sekarang?"
"Iya, persiapan berkas - berkas mengenai keunggulan perusahaan kita, bawalah produk sebagai sampelnya !"
"Siap bos!" Tika segera mengemasi beberapa dokumen penting dan membawa beberapa produk perusahaan.
"Segera susul aku di parkiran!" Tedi segera mempercepat langkahnya, Tika mengangguk dan bergegas menyusul Tedi.
Dilain sisi.
"Rudi, hari ini saya ada jadwal 4 tempat yang akan saya tuju. Persiapkan mobil."
"Iya, Pak! Tujuan pertama kemana?"
"Perusahaan A, jalan xx."
"Iya, Pak. Saya segera siapkan mobil." sahut Rudi dan bergegas keluar ruangan.
Sesampainya di perusahaan A.
"Di sini kami dari perusahaan TEDIRO HUSODO ingin bergabung dengan Anda, kami telah membuat tampilan video dan gambar dari produk kami semenarik mungkin." ucap Tedi seraya menyerahkan file dan dokumen.
"Prototype produk yang menarik." sahut CEO perusahaan A setelah mengamati file dan dokumen.
"Perusahaan kami juga telah mengadakan test produk kepada 300 konsumen." menyerahkan beberapa foto.
"Dan ini produk - produk kami. Tika!" memandang ke arah Tika.
"Iya," mengeluarkan beberapa peralatan make up dari tas ransel.
CEO perusahaan A memperhatikan dengan seksama saat Tika mempresentasikan produk.
"Perusahaan kami juga telah membuat pendukung bisnis berupa toko online, toko online ini berbentuk website."
"Berapa lama usaha toko online ini berkembang?"
"Hampir 3 tahun." sahut Tedi.
"Kami juga memaksimalkan berbagai media online gratis untuk pembuatan iklan dari produk kami." tambahnya.
"Bagus, saya menyukainya."
"Nah, di sini kami memiliki kendala yang tentunya tanpa bantuan dari Anda produk kami tidak akan berjalan mulus."
"Katakan!"
"Masalah pengembangan, pengembangan disini mulai dari jumlah produk, peralatan, sampai dengan jumlah toko."
"Jangan khawatir! Saya akan memberikan investasi pada perusahaan Anda, setelah saya mengamati dari data - data ini. Saya tidak akan rugi jika bekerja sama dengan perusahaan Anda." jelas CEO perusahaan A.
"Kalau begitu terima kasih, atas kerjasamanya. Semoga hari ini Anda bahagia." ucap Tedi lalu menjabat tangan.
Tak lama kemudian, Surya datang.
__ADS_1
"Maaf saya terlambat." ucapnya.
"Silahkan duduk!" ucap CEO perusahaan A. Surya menarik kursi dan duduk di sebelah Tika.
"Tedi, Tika, kalian berada di sini juga?"
"Kamu kalah cepat!" sahut Tedi.
"Mas Surya," ucap Tika lirih.
"Apa, aku tidak salah dengar. Kamu sebut dia dengan panggilan mas." Tedi melirik ke arah Tika, dia menundukkan wajahnya.
"Maaf saudara Surya, perusahaan TEDIRO HUSODO lebih dulu datang, dan saya sudah memberikan investasi kepadanya." Menunjuk Tedi.
"Tapi, bukankah dari awal kita telah sepakat, Anda akan bergabung dengan perusahaan saya." jelas Surya mulai emosi.
Tedi menyeringai.
"Sekali lagi, maaf. Produk yang diperlihatkan sangat menarik bagi saya. Dan saya ada acara meeting sebentar lagi."
"Tapi, Pak!"
"Andai Pak Surya datang lebih awal ke sini, tentu ini semua tidak akan terjadi."
"Saya hanya terlambat 5 menit." ucap Surya sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." pamit Tedi, Tika sejak tadi tak bergeming wajahnya menunduk malu untuk menatap suaminya.
"Surya, lihat saja nanti. Aku akan menghancurkanmu!" ucap Tedi sambil melemparkan senyum sinis dan keluar ruangan.
Surya tidak curiga dengan kehadiran Tedi.
"Baiklah, saya permisi." ucap Surya.
"Silahkan!" sahut CEO perusahaan A.
Lalu Surya meninggalkan ruangannya dengan hati yang kecewa lantaran kedatangannya gagal untuk menarik investor.
Saat di luar kantor.
"Mas Surya, aku tidak tahu kalau kamu juga akan ke sini." ucap Tika menghalangi langkah Surya saat akan masuk ke dalam mobil.
"Iya, tidak apa - apa. Mungkin ini belum rezekinya Mas."
"Aku hanya mengikuti perintah Tedi saja."
"Mas mau pulang dulu?"
"Belum, masih ada investor lain yang ingin aku cari."
"Tika, ayo!" teriak Tedi dari kejauhan.
"Ya sudah Mas, Tika pergi dulu!" pamitnya. Surya mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
"Rudi, ayo jalan. Kali ini aku gagal." ucapnya pada Rudi, yang tidak lain juga berprofesi sebagai sopir.
"Baik, Pak!" sahutnya lalu bergegas tancap gas.
Untuk kedua kalinya Tedi dan Tika pergi mendahului Surya untuk bergabung dengan investor lain, sebut saja perusahaan B.
Sama halnya dengan perusahaan A tadi, Tedi berhasil merebut hati investor perusahaan B. Dan lagi, Surya kalah cepat.
Sampai ke perusahaan C, Surya gagal lagi untuk yang ketiga kalinya.
"Ini aneh, sudah tiga kali Tedi berhasil mendahuluiku." gumam Surya seraya memandang ke arah luar kaca mobil.
"Sepertinya ada orang yang membocorkan kedatanganku. "
"Rudi, ini terakhir saya akan menarik investor. Saya akan pergi sendiri."
"Kemana Pak? Mengapa tidak saya antar saja."
"Tidak apa - apa, sekalian saya ingin mempir ke toko ayunan."
"Toko ayunan, Pak!"
"Iya, saya akan membelikan untuk istri saya."
"Wah, gawat! Pak Surya tidak memberi tahu alamat perusahaan yang akan dia tuju."
batin Rudi, dia tampak gelisah.
"Kira - kira Pak Surya mau ke perusahaan mana? Siapa tahu Pak Surya butuh bantuan saya." Rudi memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya akan ke perusahaan D." sahutnya tanpa curiga.
__ADS_1
Rudi manggut - manggut.
Surya mengendarai mobil pribadinya menuju toko ayunan.
"Saya mencari sebuah ayunan untuk istri saya, tolong nanti di ukir di atasnya sebuah kalimat i love u, my wife." katanya pada pelayan toko.
"Silahkan Mas pilih - pilih dulu! Kalau ada yang cocok saya segera mengukirnya." sahut pelayan toko.
"Saya pilih yang ini!" ucap Surya setelah selesai melihat - lihat.
"Baik, Mas!" sahut pelayan toko, dan bergegas mengukir kalimat yang dipesan Surya. Dan ayunan siap diantar.
***
"Halo, Mas Tedi. Saya mendapatkan bocoran kalau pak Surya akan menuju ke perusahaan D." ucap Rudi saat sambungan telepon terhubung.
"Kerja bagus, tidak salah aku membayar mahal kamu. Terima kasih."
"Iya, Mas."
Tut. sambungan telepon dimatikan.
"Rudi, kamu..." panggil Surya saat sedang berjalan menuju mobil dinasnya.
"Pak Surya!" membalikkan badannya, matanya melotot sangking takutnya.
"Ternyata, seharian ini kamu yang telah membocorkan semua investor yang akan bekerjasama denganku!" ucap Surya dengan nada tinggi, Surya melayangkan tangannya dan hampir mengenai wajah Rudi, namun dia urungkan.
"Maaf Pak Surya, saya...saya terpaksa, Pak!" Rudi menelungkupkan kedua telapak tangannya.
"Kamu pengkhianat !"
"Ampun, Pak! Maafkan saya!" Rudi memelas dan kedua lututnya menyusur lantai.
"Tiada maaf untuk pengkhianat sepertimu! Dibayar berapa kamu sama Tedi? Apa kurang cukup aku menggajimu, hah!" bentak Surya, emosinya sudah sampai di ubun - ubun.
"Iya, Pak. Saya khilaf. Maafkan saya..." Rudi menangis menyesali perbuatannya.
"Mulai sekarang, tinggalkan pekerjaan ini! Serahkan kunci mobil ini!"
"Saya dipecat Pak. Tapi, Pak. Saya mau mencari kerja ke mana?" menyerahkan kunci mobil.
"Terserah kamu, ikut dengan bos barumu sana!"
Surya mengendarai mobil dinasnya dan menuju ke perusahaan D.
Sesampainya di sana.
"Tunggu!" ucap Surya pada Bos perusahaan D.
"Saya belum terlambat bukan...dari jadwal perjanjian kita," ucapnya sambil melihat jam tangannya.
"Benar, kamu menepati janjimu. Tapi, Pak Tedi datang lebih dulu ke sini. Siapa yang cepat dia yang dapat."
"Kamu kalah cepat lagi, Surya." ucap Tedi menyeringai.
"Lagi - lagi Mas Surya juga menuju tempat yang sama. Ini aneh, sepertinya ada unsur kelicikan di sini." Gumam Tika.
"Ini aneh, kenapa kamu selalu datang mendahuluiku?"
"Kamu fikir aku lemah apa, sudah jelaskan siapa cepat dia dapat. Aku yang lebih dulu datang, jadi aku berhak untuk bergabung." jelas Tedi.
"Sudah hentikan perdebatan kalian. Ini kantor bukan pasar." bentak bos perusahaan D.
"Maaf, Pak, saya mengganggu, ada seseorang yang ingin menemui Anda." ucap sekretaris pada bosnya.
"Siapa?"
"Namanya Rudi,"
Deg, Tedi rahangnya menegang dan terkatup.
"Rudi, mengapa dia datang ke sini? Jangan sampai dia membeberkan ulahku." batin Tedi.
"Silahkan dia masuk!" Sekretaris keluar dan tak butuh waktu lama Rudi masuk.
"Rudi, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Surya.
"Begini Pak, saya datang kesini untuk membuat pengakuan." ucap Rudi.
"Pengakuan, tentang apa?" tanya bos perusahaan D.
"Sebenarnya, saya telah di bayar oleh Mas Tedi untuk membocorkan nama investor yang akan ditemui Pak Surya."
"Kamu..." Tedi melotot matanya.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Rudi, akhirnya perusahaan D gagal bergabung dengan perusahaan Tedi, dan menghargai kejujuran Rudi perusahaan D memilih bergabung dengan perusahaan milik Surya. Mendengar kecurangan Tedi, akhirnya Tika memutuskan untuk keluar dari perusahaan TEDIRO H.
Rudi mendapatkan kepercayaan lagi dari Surya, dan kini dia bekerja dari bawah lagi. Menjadi cleaning service.