Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Donor Ginjal


__ADS_3

"Pasien mengalami gagal ginjal akibat tusukan di perutnya. Ginjalnya yang sebelah sudah tidak dapat berfungsi lagi karena tusukan benda tajam jadi, segera carikan pendonor ginjal secepatnya." terang suster lalu kembali lagi ke dalam ruang operasi.


Tika semakin terpukul mendengar kabar ini.


"Apa , ginjalnya yang sebelah rusak?" Tika mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ke mana aku harus mencari pendonor ginjal? Aku tidak dapat berfikir lagi. Pikiranku sedang kalut sekarang. Mas Surya, mengapa semua ini terjadi begitu saja. Mengapa semua penderitaan yang kamu alami selalu membuat aku semakin takut untuk kehilanganmu." ucap Tika, kini dia duduk bersandar tembok dengan menekuk lututnya, air matanya tak berhenti mengalir. Tedi yang baru pertama kali melihat kesedihan Tika secara langsung ikut iba juga, dia mendekati Tika dan menyandarkan tubuhnya di tembok juga.


"Tenang, Tika, aku yakin pasti ada jalan keluarnya." imbuh Tedi mencoba menghibur.


"Andai aku tadi tidak pergi dari rumah, pasti tidak akan begini jadinya. Dan aku tidak menghiraukan panggilannya tadi, aku menyesal." keluhnya lagi. Tedi tidak bisa apa-apa sekarang dia hanya memandang wajah wanita yang terus saja menangis.


"Sudahlah, kamu jangan menangis lagi, aku jadi ikut prihatin apa yang menimpamu kini. Untuk apa penjahat tadi ingin membunuhmu?" pertanyaan Tedi sejenak menghentikan tangisan Tika, dia mendongakkan kepalanya sambil berfikir.


"Aku dengar dari percakapan mereka, disuruh oleh seorang bos, aku tidak tahu siapa yang dimaksud bos mereka itu. Sempat aku berfikir, mereka adalah suruhanmu. Ternyata mereka juga yang dulu telah membuat mobil mas Surya kecelakaan." jelas Tika membuat Tedi membulatkan matanya lebar, dia teringat dengan ayahnya. Ini semua ternyata suruhan dari ayahnya.


"Apa, aku tidak menyangka ayah senekat ini. Sudah aku peringatkan pada ayah agar tak ikut campur lagi urusan pribadiku. Memang ayah keras kepala. Tunggu sampai aku pulang nanti, aku akan membuat perhitungan dengan ayah karena ayah telah berniat ingin membunuh Tika." batin Tedi.


Tedi mengusap lembut bahu Tika, sepintas teringat ancamannya tentang meminta Tika untuk menceraikan Surya.


"Apa kamu senang sekarang?" pertanyaan Tika membuat Tedi tersadar dari lamunannya.


"Tika, semua sumber masalah ini awalnya dariku, namun aku akui, aku bukan penyebab kecelakaan Surya. Percayalah, dan untuk kondisi saat ini aku menyerah untuk mendapatkan cintamu kembali. Maafkan aku. Aku akan membantumu untuk mencari pendonor ginjal.


"Kamu serius?" tanyanya seolah tidak yakin dengan pengakuan Tedi.


"Percayalah!" Tedi menganggukkan kepalanya.


Hampir 30 menit mereka terdiam, akhirnya Tika memutuskan dirinya sendiri yang akan menjadi pendonor untuk suaminya.


Salah satu dokter yang menangani Surya dulu kini kembali menangani dia lagi. Dokter muda yang terkenal dari London itu menetap di Bandung sampai akhir tahun nanti, dan kebetulan ini masih bulan Juli jadi beliau masih lama berada di sini. Dokter itu bernama Richard.


Dokter Richard baru saja ke luar dari ruang operasi, dia berjalan melewati Tika dan Tedi.


"Dokter," panggil Tika seketika itu dokter menghentikan langkahnya dan berbalik.

__ADS_1


"Iya?" sahutnya singkat.


"Saya saja Dok, yang akan menjadi pendonor ginjal untuk suami saya. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengannya, tolong saya Dokter. Izinkan saya menjadi pendonornya." ucap Tika bersungguh -sungguh.


Tedi beranjak dari duduknya dan menghampirinya, dia merasa terharu dengan sikap Tika. Yang ia tahu Tika sangat takut dengan jarum.


"Untuk bisa menjadi pendonor ginjal, ada syarat yang harus dipenuhi, baik secara medis maupun administratif."


"Iya Dokter, apapun syaratnya akan saya lakukan." imbuh Tika.


"Baik, mari ikut ke ruangan saya." lalu dokter muda itu pergi menuju ruangannya. Tika mengikuti dokter itu, sebelum pergi dia menoleh ke arah Tedi seperti meminta persetujuan. Tedi memahami maksud tatapan Tika, dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya setuju.


"Beberapa kriteria medis yang perlu Anda penuhi sebagai calon pendonor ginjal adalah pertama bersedia mengikuti seluruh pemeriksaan dan evaluasi medis sebelum operasi donor dilakukan dan menerima resiko operasi." jelas dokter Richard saat di ruangannya. Tika hanya manggut-manggut saja.


"Yang kedua, sehat secara fisik dan mental." jelasnya lagi.


"Ini, saya hanya ada luka goresan kaca, Dok. Apa tidak masalah?" Tika memperlihatkan luka pada sikutnya , dokter tersenyum lalu melanjutkan penjelasannya.


"Yang ketiga, memiliki kecocokan darah dengan penerimaan donor."


"Itu bisa kita ketahui setelah tes darah."


"Em, saya takut jarum, Dok." sahut Tika malu-malu.


"Terserah Anda, bila Anda takut bisa kita tunggu operasinya sampai ada pendonor ginjal lagi." sahut dokter Richard tegas.


"Jangan Dok! Apapun akan saya lakukan agar suami saya sembuh dan sehat kembali." sahut Tika lekas karena tidak ingin mengecewakan.


Dokter pun meminta suster untuk melakukan tes darah pada Tika. Tika mengikuti prosedur yang diarahkan suster. Hampir 30 menit dia mendapatkan pemeriksaaan dan menunggu bersama Tedi di tempat semula.


"Aku takut hasilnya tidak cocok." Gerutu Tika.


"Jangan begitu, kamu berpikirlah positif! Ini semua kan demi suamimu juga." tukas Tedi, meski berat mengakui musuhnya sebagai suami Tika.


Tak begitu lama suster keluar dengan membawa selembar kertas hasil tes yang batu saja Tika lakukan.

__ADS_1


"Golongan darah Anda sama dengan pasien. Segera siapkan diri Anda karena operasi transplantasi ginjal segera dilakukan." ucap suster lalu kembali masuk ke dalam ruang operasi. Tika yang mendengar kabar itu, merasa lega dan segera dia mempersiapkan dirinya.


"Di, aku nggak punya banyak biaya lagi. Bantu aku. Jika dikemudian hari aku punya banyak uang aku akan mengembalikannya padamu. Aku janji. Ini, cincin kawinku sebagai jaminannya." ucap Tika seraya melepas cincinnya dan meletakkan dengan paksa di tangan Tedi.


"Tika, aku kau anggap apa? Sudahlah, lupakan ini. Dan pakai kembali cincinmu, aku bukan tempat penggadaian. Berapapun biayanya aku yang akan tanggung. Sebentar kamu di sini biar aku yang pergi ke tempat administrasi." ucap Tedi sebelum pergi dia mengembalikan cincin kawin yang dia terima dengan paksa tadi.


Tika masih sedikit ragu dengan ketulusan Tedi yang berniat ingin menolongnya ini. Sebisa mungkin dia menghilangkan pikiran negatifnya tentang Tedi dan lebih fokus dengan operasi yang akan dia jalani.


Tika bergegas menuju ruang operasi dimana Surya berbaring. Dia menatap sosok yang memejamkan mata yang terbaring tak sadarkan itu.


"Cepat sembuh pahlawanku, jujur aku tidak bisa memaafkan diriku yang telah membuatmu seperti ini. Aku akan memberikan ginjalku yang sebelah untukmu sebagai permintaan maafku mas, dan sebagai rasa cintaku padamu. Semoga setelah kamu sadar nanti kita bisa memperbaiki rumah tangga kita dengan lembaran baru, meski kamu amnesia, meski kamu masih ada rasa dengan Dewi aku tak perduli mas, yang terpenting aku tetap bersamamu." ucap Tika lalu dia merebahkan dirinya setelah memakai pakaian serba hijau.


Tedi yang sejak tadi menunggu mereka berdua melakukan transplantasi ginjal tengah sibuk dengan ponselnya. Sudah hampir 50 kali dia memanggil nomor ponsel ayahnya tak kunjung juga diangkat.


"Kemana ayah perginya ya, sudah magrib ini. Tidak biasanya beliau pergi di jam segini." batin Tedi lalu dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Tedi dan keluarganya sudah lama tidak memiliki pembantu tetap karena pembantu yang dulu sudah pulang kampung. Jadi yang membersihkan rumah dan urusan dapur adalah pembantu yang bekerja paruh waktu saja.


Tedi sesekali melintasi ruang dimana Surya dan Tika dioperasi, bibirnya tak berhenti berdoa agar operasinya berjalan lancar.


Pukul 22.00 Tika terbangun dari tidurnya dan dengan bantuan suster memapah dia untuk pindah kamar. Sesaat dia melirik Surya yang masih terpejam.


"Segeralah sadar mas, aku akan selalu menunggu. Aku pergi dulu." ucap Tika lalu meninggalkan ruang operasi menuju ruang inap di sana dengan ditunggu Tedi, Tika membaringkan tubuhnya yang masih lemah.


"Apa kamu merasa lelah? Pulanglah!" pinta Tika karena merasa jengah dengan keberadaan Tedi.


"Tidak, aku akan menunggu kalian berdua di sini." sahut Tedi yang duduk di kursi lalu mulai memejamkan matanya karena tak kuat menahan kantuk.


"Kasihan juga si Tedi, harus tidur di sini. Ah, apa boleh buat, dia sendiri yang minta." Gumam Tika sambil melirik Tedi yang sudah tertidur pulas, Tika pun mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tak tertahankan.


Surya masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Dan selama 6 jam Surya berada di ruang operasi. Operasi berjalan lancar. Namun hingga kini, ia belum sadar total.


Usai menjalani operasi, Surya pun sampai saat ini masih mendapatkan perawatan intensif dari dokter rumah sakit. Dirinya terbaring di dalam ruang ICU. Sejumlah alat bantu pernafasan dan beberapa selang masih terpasang di beberapa bagian tubuhnya.


Keesokan paginya


Tedi sebelum subuh sudah dibangunkan oleh sambungan telepon dari rumah. Dia terperanjat kaget bukan main. Ayahnya dikabarkan meninggal dengan luka tusuk di punggung. Tedi tanpa membangunkan Tika segera ke luar dari rumah sakit dan bergegas pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Sesampai di rumahnya, dia segera menghubungi pihak polisi. Tedi terpukul dengan kematian ayahnya yang terbunuh itu. Dia mengumpat akan membalas dendam dengan pelaku pembunuhan ini. Dia berkeliling, didapatinya semua harta dan benda yang berharga telah raib. Seperti kalung emas, jam tangan serta alat elektronik lainnya.


__ADS_2