
Tika kini kembali ceria hanya dengan cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia masih mengamati seraya berdiri di depan cermin. Saat akan membuang bungkusan, tampak secarik kertas tertera sebuah tulisan yang singkat namun bermakna.
Kupinang hatimu dengan ketulusan, kutandai dan kuhiasi jemarimu dengan sebuah cincin, menepikan hati dan jiwa pada keabadian.
"Surya, apakah makna dari kalimat ini pertanda kamu mulai menyukaiku? Tapi, kenapa tidak kamu ucapkan dengan langsung saja, sehingga tampak jelas siapa yang sekarang jatuh cinta terlebih dahulu."
Tika menyimpan secarik kertas pada laci meja riasnya, merapikan rambut dan mulai memoles wajahnya. Tanpa make up pun wajah aslinya sudah cantik, apalagi ditambah dengan polesan bedak, semakin cantik wajah imutnya. Dia meraih tas kecilnya dan bergegas keluar menuruni tangga.
"Surya, aku sudah siap. Ayo berangkat!" ajak Tika.
"Apakah harus ku tanyakan langsung ya...tapi, sebaiknya jangan, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya pernyataan dia suka dengan ku." gumam Tika.
Surya keluar dari kamarnya dengan penampilan masih sama.
"Kamu tidak ganti baju..."
"Ini belum terlalu kotor, dan bauku masih harum." Mencium ketiaknya. " Meskipun aku berpenampilan sama tapi aku tetep keren kan..."
Tika tanpa komentar, hanya mencibirkan mulut saja.
"Ku akui kamu memang keren. Tapi, menyebalkan."
"Sekarang kamu mengakui ya... kalau aku itu sebenarnya tampan." ujar Surya sambil merapikan rambut dan mengenakan topi.
"Tampan dari Hongkong..." Sahut Tika, dia menjulurkan lidahnya seraya berjalan dan menghampiri kucing kesayangannya. Surya tersenyum dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun.
"Kamu di rumah dulu ya manis..." Mengelus kepala kucing.
Mereka berdua menuju halaman depan.
"Kalian tampak rapi sekali, mau ke mana?" tanya salah satu tetangga yang kebetulan lewat depan rumah mereka.
"Apa urusannya dengan mu!" sahut Tika dengan nada tinggi.
"Hus, Tika, yang sopan sama orang yang lebih tua!" Bentak Surya membuat Tika menundukkan kepalanya.
"Kalian pasangan pengantin baru ya..."
"Iya, kami baru beberapa hari tinggal di sini." sahut Surya seraya membuka pintu mobil.
"Perkenalkan nama saya Bibi Sumi." sapanya dengan ramah.
"Saya Surya dan ini istri saya Tika." Memperkenalkan diri seraya menjabat tangan bi Sumi.
__ADS_1
"Rumah Bibi ada di ujung jalan sana, mampirlah kalau kalian ada waktu senggang." pinta tetangga baru seraya menunjuk arah lalu pergi membawa belanjaan dari toko sebelah.
"Iya, kalau ada apa - apa saya akan mampir ke rumah Bibi." sahut Surya dengan sopan.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju ke rumah pak Andik. Di tengah perjalanan Tika tetap terdiam semenjak dari rumah.
"Kenapa kamu diam saja?"
"Lagi gak mood!"
"Kita sebagai orang baru dan di lingkungan yang baru harusnya bersikap ramah dan sopan, agar disuatu saat nanti saat kita mengalami musibah, orang tidak enggan untuk membantu kita." jelas Surya dengan nada rendah dan sedikit memberikan nasihat istrinya.
"Iya, aku tahu." sahutnya masih kesal.
"Kita mampir dulu ke Indomart." Surya menghentikan mobilnya dan mereka berbelanja untuk membeli oleh - oleh.
Sesampainya di rumah pak Andik, Tika dan Surya menyalami kedua orang tuanya .
Keluarga pak Andik berkumpul di ruang keluarga.
"Tika, Surya, kalian berencana pergi honeymoon ke mana?" tanya pak Andik membuat mereka berdua tercengang dengan pertanyaan papanya.
"Saya terserah Tika saja, Pa...dia mintanya ke mana." sahut Surya.
"Tika belum ingin pergi honeymoon dulu,Pa." sahut Tika.
"Sebentar lagi kampus akan menggelar acara wisuda, Tika tidak ingin melewatkan acara penting itu."
"Honeymoon juga penting lo..." imbuh mamanya.
"Tapi, Tika tidak ingin pergi Ma..." elak Tika manja.
"Honeymoon juga penting untuk kalian, karena memiliki efek positif yang signifikan terhadap pernikahan kalian, terutama di masa mendatang. Harus kalian ketahui bahwa memulai kehidupan rumah tangga bukanlah sesuatu yang mudah ." jelas pak Andik.
" Momen honeymoon akan menjadi hal yang paling diingat pada tahun - tahun mendatang.
Saat honeymoon, inilah kali pertama kalian menjalani petualangan sebagai pasangan suami istri. Kalian perlu bersenang - senang terlebih dahulu sebelum memasuki babak baru pada episode - episode yang mungkin sulit ditebak dalam rumah tangga kalian." jelas bu Tasya.
"Iya, tapi saat ini Tika belum siap. Menikah juga karena terpaksa kan..." Melirik ke arah Surya.
"Benar yang diucapkan Tika, diantara kami masih belum ada ikatan cinta. Jadi, biarkan kami untuk saling mengenal lebih dekat dulu." ucap Surya seraya memandang wajah Tika.
"Kalian bisa menggunakan waktu bulan madu sebagai kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati." ucap bu Desy mencoba meluluhkan hati menantunya yang masih belum terima dengan pernikahan ini.
__ADS_1
"Kalian bisa membicarakan hal apapun bersama pasangan dan lebih mengenal satu sama lain. Saling membuka diri sangatlah penting dalam suatu hubungan. " jelasnya lagi.
"Jadi pastikan kalian segera memilih tempat untuk pergi honeymoon. " ucap pak Andik tegas.
"Kenapa Papa selalu memaksa kehendak tanpa memperdulikan perasaan Tika."
"Ini sudah menjadi kesepakatan kita bukan... kamu mau menikah dengan syarat yang kamu minta. Papa sudah melimpahkan harta waris kepadamu, tapi atas nama suamimu." jelas pak Andik."Mobil mewah dan rumah baru memang atas namamu, karena Surya yang meminta."
"Apa, ini tidak adil . Aku anak kandung Papa, dia hanya sebatas menantu Papa dan hanya pembantu dalam hidupku." ucap Tika membuat semua yang ada di ruang tamu tercengang dengan apa yang Tika lontarkan terlebih hati bu Desy, dia menitikkan air mata tidak terima anak lelakinya diperlakukan seperti apa yang barusan Tika ucapkan.
Tika berlari menuju kamar lamanya. Bu Tasya mengajak bu Desy pergi ke kamar untuk menenangkan hatinya. Tinggallah pak Andik dan Surya .
"Kenapa denganmu Surya, kamu kepala keluarga sekaligus imam untuk Tika sekarang. Kenapa kamu biarkan harga dirimu diinjak - injak Tika, mau dijadikan pembantu. Tika sudah keterlaluan padamu, aku terlalu memanjakannya sejak kecil karena ibu kandungnya telah tiada." pak Andik berdiri melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang mulai keluar. Surya melihatnya menjadi serba salah .
" Maaf Pa, di rumah baru dia memang tidak memperlakukan ku sebagai layaknya suami, tapi tak pernah dia menyuruhku melakukan pekerjaan selayaknya pembantu, aku melakukan kewajibanku sebagai seorang suami." jelas Surya.
"Lalu apa kau bertahan dengan pernikahan ini?"
"Jika saya sebagai suami ingin membuatnya patuh terhadap permintaan, dan bila ingin memperkuat pernikahan ini, Surya akan membuat Tika mencintai dan setia kepada saya sebagai suaminya hanya dengan menunjukkan kasih sayang padanya dan ungkapan cinta. Namun, satu hal yang masih berat untuk mengatakan ungkapan cinta padanya. Karena sebelum saya menikah dengan Tika, saat SMA dulu saya pernah menyatakan cinta kepada adik kelas dan mendapat penolakan dari dia dan hadirlah Tika pengganti dia sekarang. Tapi, rasa itu belum muncul kembali."
"Ku hargai keputusanmu, Surya. Tika sekarang sudah menjadi istrimu yang sah, lupakan cinta monyetmu yang dulu dan mulailah merajut cinta dengan Tika."
"Saya mengerti Pa, saya juga sudah mulai belajar untuk melupakan masa lalu saya dengan hadirnya Tika."
"Kamu memang pria yang baik Surya, saya yakin sifat buruk Tika akan hilang dengan seiringnya waktu dengan kamu bisa memperlakukan dia dengan baik."
"Memperlakukan istri dengan baik ini mempunyai banyak dimensi, Pa."
"Benar, salah satunya dengan memberikan ketulusan cintamu padanya."
"Surya juga sudah melakukan beberapa trik untuk mendapatkan hatinya, namun entah dia peka atau tidak."
"Saya percaya padamu, Nak. Tidak salah almarhum ayahmu menjodohkan kalian. Oh ya, trik apa yang kamu gunakan untuk menaklukkan hatinya." Pak Andik mulai tersenyum.
"Menampakkan wajah manis dan ceria di hadapan Tika."Surya menekan salah satu pipinya sehingga terbentuk senyuman.
"Bagus, saya bangga padamu." Menepuk bahu Surya.
"Terima kasih sudah percaya dengan Surya, Pa." Mereka saling berpelukan.
Sementara di kamar bu Desy.
"Jeng, yang sabar ya...jangan dimasukkan ke hati ucapan Tika tadi. Saya yakin dia tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan." kata bu Tasya dengan mengusap lembut pundak bu Desy.
__ADS_1
"Tapi, Bu...Surya salah apa sampai dia diperlakukan seperti itu. Andai saya tahu terlebih dahulu, tidak saya izin kan dia menikahinya."
"Jeng jangan berkata demikian, pernikahan ini suci dan mulia, kita harus yakin bahwa mereka berdua akan saling mencintai satu sama lain. Jeng harus mendukung mereka, dan tidak perlu khawatir. Surya seorang imam yang baik, dia tahu yang semestinya dilakukan untuk menyikapi perbuatan Tika." setelah mendengar nasehat besannya, hati bi Desy menjadi adem. Kini mereka berdua saling berpelukan.