
Mereka berdua berada di kamar Surya. Tika dan Surya duduk berhadapan di atas ranjang.
"Mas, kapan - kapan aku mau dibuatkan lagi."
"Iya, mau puding rasa apa lagi?"
"Apa saja yang penting ikhlas. Puding buatanmu enak!"
"Tentulah...siapa yang bikin. Mas Surya gitu loh...." Memuji diri sendiri sambil mengusap bibir Tika yang belepotan.
Tika matanya mengerjap seketika, bibirnya yang kecil merekah dan memerah pipinya.
"Masih sakitkah?" Menempelkan telapak tangan ke dahi istrinya. Memastikan demamnya turun.
"Kurasa aku sudah sembuh. Terima kasih, Mas, semalam kamu telah menjagaku."
"Iya, sayang." berjalan mengangkat piring dan hendak membawanya ke dapur.
"Bukan berarti kamu tetep masuk kerja kan?" berhenti lalu menoleh. Tatapannya tajam.
"Hari ini aku sudah izin untuk tidak masuk." ucap Tika sambil memainkan handphonenya, menghindari tatapan Surya.
"Bagus, alangkah baiknya jika kamu tidak usah bekerja lagi." ucap Surya serius.
"Kenapa?" Tika mengernyitkan dahinya, dan menatap suaminya.
"Aku tidak ingin kamu terlalu capek."
"Aku baik-baik saja, aku menyukai pekerjaanku."
"Tapi, ada mantanmu di sana."
"Aku sudah tidak menyukainya."
"Itu menurutmu, lalu bagaimana dengan dia. Apa dia bisa menerima keputusan yang sepihak. Melihatku saja, dia merasa aku ancaman baginya."
"Aku sungguh tidak ada rasa lagi dengannya."
"Rasa? Mungkin saat ini belum. " ucapnya dingin seraya meninggalkan Tika sendirian di kamarnya. Tika tidak begitu peka dengan ucapan dingin Surya.
"Tedi adalah cinta pertamanya apa secepat itu nenek sihir bisa berpaling dari laki - laki yang sangat mencintainya." batin Surya sambil mencuci piring lalu menaruhnya di rak.
"Aku ragu kalau nenek sihir tidak menyukai Tedi, tapi aku akan berusaha menjauhkan dia dari cowok sok play boy itu."
Tika merebahkan tubuhnya di atas kasur dan membuka grup whatshap kampus.
"Apakah dia cemburu? " gumam Tika lirih seraya merapikan bantalnya.
Acara wisuda kampus akan digelar satu minggu lagi. Dan gladi bersih dua hari sebelum wisuda.
"Asyik...sebentar lagi wisuda!" bangun dan berdiri. Melompat kegirangan di atas kasur.
Mengepalkan tangan dan berjingkrak ria membuat rambutnya acak - acakan.
"Yes...yes!!!" Teriaknya.
Surya kembali dan mendapati kelakuan istrinya aneh.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Lihat rambutmu!" Menunjuk dengan jari.
"Aku senang sekali! Kenapa dengan rambutku?" merapikan dengan kedua tangannya.
"Kayak rambut singa!"ledek Surya.
__ADS_1
"Masa istri sendiri dikatakan singa!" memanyunkan bibirnya.
"Singa betina." goda Surya sambil tersenyum.
"Tapi, tetep cantik kan..." tampak sudut bibirnya muncul, lalu kembali duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.
Surya menuju ke meja kerjanya. Dibukanya satu persatu tumpukan map lalu memulai kesibukannya.
"Mas Surya," panggil Tika manja.
"Hm," sahutnya sekilas, pendengarannya siap menerima namun bola mata dan tangannya tetap bekerja.
"Sebenarnya aku masih binggung dengan sikapnya itu, sebentar ramah dan romantis. Sebentar cuek dan menyebalkan." batin Tika.
"Kalau ku panggil, lihat dong ke sini!" pinta Tika.
Surya menoleh, " Iya?" lalu matanya kembali mengarah ke berkas yang sejak tadi dia pegang.
"Iya apa, Mas..." Tika semakin geram.
"Iya, sayang..."
"Kamu lagi sibuk ?"
"Sedikit, ini ada berkas yang harus aku pelajari untuk mempersiapkan kegiatan awal bulan Desember nanti."
"Kegiatan apa?"
"Akan ada acara amal bulan Desember, dan rencananya perusahaan papa akan memberikan sumbangan ke panti asuhan."
"Sepertinya menarik!"
"Tentu saja, akan ada 100 anak yatim piatu yang akan menerima sumbangan."
Surya hanya melemparkan senyum tipisnya.
"Tadi ada pemberitahuan di grup kampus." ucapnya lirih.
"Hmmm, tentang apa?" sahut Surya datar.
"Wisuda!" ucap Tika agak meninggi.
"Wah, tidak terasa sudah semakin dekat. Kapan?"
"Satu minggu lagi."
"Kita berangkat bersama atau kamu ingin kita sendiri - sendiri berangkatnya." tanya Surya khawatir kalau keberadaannya membuatnya canggung.
"Kita berangkat bersama saja." Tika membaringkan tubuhnya.
Melihat istrinya berbaring Surya menyudahi kegiatannya dan berjalan menuju ranjang. Naik dan berbaring di samping Tika.
"Kapan kita memulainya?" tanya Surya seraya memainkan rambut legam Tika, sesekali mencium dan membelainya.
"Memulai apa?" Tika bengong, mengedipkan kelopak matanya.
Cup
Surya mengecup rambut belakang Tika.
Tika melongo, bibir sensual Surya seakan - akan menghipnotisnya.
"Aku menyukai bibirmu, Mas." bisik Tika lirih, membuat Surya bergetar hebat tubuhnya.
__ADS_1
"Mas Surya..."
"Iya, sayang..."
Pergumulan panas baru dimulai, selaras dengan naiknya suhu tubuh mereka berdua.
"Mas, aku malu."
"Kenapa harus malu, sayang. Kamu malu kalau aku melakukannya saat di kamar mandi kampus waktu itu."
Gleg...Tika menelan ludahnya. Mengingatkan peristiwa memalukan di kampus, yang membuat Surya kehilangan kesempatan untuk melanjutkan S-2 nya ke luar negeri.
"A...aku...aku tidak bermaksud untuk membuatmu malu, waktu itu aku sangat membencimu."
"Sudahlah, sekarang kan kamu sudah sah jadi istriku. Sudah waktunya kita suka sama suka untuk melakukan ini."
"Kamu tidak marah, Mas?"
"Tidak," Menggelengkan kepalanya.
"Maaf kan aku, Mas.... Terlambatkah bila aku memintanya?"
"Tidak sayang, justru karena ulahmu lah kini kita berpasangan." Ucap Surya sambil melepas kaosnya.
"Hmmm...itu karena kita dijodohkan!" Tika terbelalak mendapati pemandangan gratis, dada yang bidang menggairahkan.
"Kamu sudah siap sayang?" bisik Surya pelan. Tika mengangguk.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami." batin masing - masing suami istri ini.
Wajah Tika bersembunyi di bahu kirinya. Semua terasa dunia hanya milik mereka berdua. Isi pikirannya membumbung tinggi ke angkasa.
"Aku bukan perawan lagi." ucap Tika lirih seraya memandang suaminya dengan tatapan lembut.
"Terima kasih, sayang..." sahut Surya sedikit berbisik.
"Bajuku mana Mas, dingin..." ucap Tika sambil meraba mencoba mencari bajunya.
"Sini, aku peluk." Meraih tangan istrinya dan mendekapnya erat. Tika mengikuti ajakan Surya. Sampai akhirnya mereka terlelap.
Pukul 13.00
"Mas, aku kembali ke kamarku dulu." pamit Tika saat membuka mata lalu meraih baju dan segera mengenakannya.
"Kenapa kita tidak mandi berdua saja!" ajak Surya seraya bangkit dari tidurnya.
"Ih, geli...nanti bukannya kita mandi malah mas minta nambah lagi!" Tika mengerjapkan matanya menahan malu. Surya terkekeh.
"Kan baru sekali kita melakukannya." Surya berdiri mengambil handuk di lemari dan melilitkan hingga menutupi pinggangnya.
"Aku mandi dulu." Tika dengan sedikit tertatih dan menahan perih di organ intimnya keluar kamar Surya dan menaiki tangga menuju kamarnya.
***
"Tika sakit, baru sehari saja dia masuk kerja. Sakit apa dia? Nanti sepulang dari kantor aku akan menjenguknya." batin Tedi saat berada di ruangannya.
"Tapi, bagaimana kalau dia bertanya dari mana aku mengetahui alamatnya yang baru? Bisa ketahuan kalau aku pernah membuntutinya." ucapnya lalu berdiri mondar - mandir dan akhirnya dia mempunyai ide untuk menemui Tika.
Tedi membuka grup whatshap kampus.
"Akhirnya, wisuda datang juga. Ini kesempatan bagus. Selesai prosesi wisuda nanti aku akan melamar dia di depan teman - teman, terlebih lagi di depan sopir kampungan itu."
"Tika dan sopir kampungan itu tinggal serumah, apa dia tidak takut kalau dikatakan kumpul kebo oleh tetangga sekitar? Apa mereka melakukan.... Akh...sudahlah jangan berpikiran negatif dengan pujaan hati, yang jelas sopir itu bukan tipenya. Dia miskin." Tedi tertawa sendiri di ruangannya, jam istirahat kantor dia menuju ke kafetaria perusahaan untuk menemui temannya. Dewi.
__ADS_1