Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 18 Mendadak Lamaran


__ADS_3

Masa Kerja Praktek Shafa di semester 6 ini telah berakhir, dengan banyak cerita tentang Daffa di dalamnya. Saat ini ia mulai mempersiapkan bekal menuju tugas akhirnya, di semester 8 nanti. Ia ingin lulus dengan nilai terbaik yang ia mampu, sehingga ia benar-benar mempersiapkannya dengan matang dan jauh-jauh hari.


Hari-hari di FBnya dipenuhi oleh status Ayah Daffa yang secara tidak langsung memproklamirkan posisi Shafa dalam keluarganya. Haters Shafa akhirnya menghilang dengan pembelaan tak langsung dari calon mertuanya.


Hampir tiap 4 bulan sekali Daffa mengirim barang untuk Shafa, jilbab, bros, buku, hingga sepatu dan pakaian yang tentu saja untuk mendapatkan ukurannya meminta bantuan sang ibu tercinta.


Di akhir semester 7, Shafa telah mengumpulkan data- data untuk Tugas Akhirnya, yaitu Perpustakaan Perguruan Tinggi, sebetulnya dapat dikatakan ini adalah cita-cita Shafa untuk memiliki perpustakaan sendiri di dalam rumahnya.


Hingga saatnya dimulailah perjuangan final Shafa di semester akhirnya, semester 8. Setelah 5 bulan berjibaku dengan gambar kerja yang berlembar-lembar, ditambah maket dan skripsinya, akhirnya Shafa pun menjalani sidang Tugas Akhirnya.


Sekitar 45 menit menegangkan di dalam ruang sidang, ia harus menjawab semua pertanyaan seputar karya TAnya itu dari 5 orang Dosen senior, termasuk salah satunya adalah Dekan Fakultas, membuat ritme jantungnya tidak dapat dikendalikan.


Setelah selesai, Shafa keluar ruangan, dengan wajah yang masih tegang.


" Shaf!! gimana??!!! " tanya teman-temannya yang menunggu di luar ruangan Sidang.


" Ga tauuuu!! huuuaaaa gw gemeteran iniiii!!!"


" Tapi lo bisa jawab semua kan?? "


" Bisa sih, tapi ga yakiiiiin."


" Ya sudah, lo tinggal tunggu hasilnya pekan depan. "


" Berharap.... "


Setelah menyelesaikan administrasi pasca ujian TA, Shafa pulang ke rumahnya.


Sepekan menunggu hasil ujian membuat rasa deg-degannya tak kunjung hilang.


Akhirnya hasil ujian pun telah keluar. Shafa segera ke kampusnya dan mengecek hasilnya di komputer nilai kampus.


" Shafa Marwah, Perencanaan Interior Perpustakaan Perguruan Tinggi dengan Studi Kasus Perpustakaan Universitas Pelita Harapan, Tangerang, B+. Lulus "


Shafa tak berhenti mengucapkan Hamdallah, kemudian dengan tangan gemetar, Shafa menghubungi ibunya di rumah,


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam, ibuuuu aku luluuuusss!!! dapat B+ !!! "


" Alhamdulillah, barakallahu fiik , kamu segera telfon Bapak di kantor, Bapak sudah nungguin hasilnya dari tadi "


" Ibu aja, aku masih gemetaran ini, Bu. Oiya, aku sekarang mau tanda tangan untuk Yudisium sama daftar wisuda sekalian, nanti kalau sudah selesai aku langsung pulang. "


" Oo yowes, selamat yaa, jangan kesorean pulangnya !! "


" Inggih Bu. "


Shafa kemudian menyelesaikan administrasi yudisium yang akan diselenggarakan pekan depan dan keperluan wisudanya 2 bulan yang akan datang.


Ayah Daffa yang mengetahui hari itu adalah hari pengumuman kelulusan Shafa, siang itu pun menghubungi calon menantunya.


" Assalamu'alaikum, Shafa."


" Wa'alaikumsalam, Yah. Yah, aku lulus!! nilai ku B+ !!! "


" Alhamdulillah, Barakallahu Fiik!! "


" Kita harus rayain nih!! Nanti malam kita makan malam di Grand Melia lagi ya, Ayah tunggu jam 19.30, ajak bapak, ibu dan kakak-kakakmu yaa. Ayah tunggu!! "


" In sya Allah Yah, jazakallah khair "


" Waiyaki"


Shafa segera mengirim pesan WA ke ayahnya untuk menginformasikan undangan ayah Daffa.


Sementara itu, dalam beberapa pekan terakhir, Daffa tidak lagi memuat statusnya di FB, sekali lagi, ia bagaikan hilang ditelan bumi. Tetapi beberapa hari sebelum pengumuman kelulusannya, Shafa mendapatkan kiriman berupa gamis bewarna marun satu set dengan jilbabnya.


Terdapat pesan dalam paketnya itu ' di pakai ya, kalau ayah ajak makan bersama '.


Untuk itu, malam nanti ia akan mengenakan gamis kiriman Daffa.


Ba'da shalat Isya, keluarga Shafa menuju ke Hotel Grand Melia.


Sesampainya di lobby hotel, yang Daniel telah menunggu kedatangan keluarga Shafa, segera menyambut kedatangan ayah Shafa.


" Assalamu'alaikum, mari Pak, sudah di tunggu Ayah di atas. "


" Wa'alaikumsalam. "


Mereka pun mengikuti Daniel ke restoran yang telah di reservasi oleh Ayah Daffa.

__ADS_1


Begitu melihat kedatangan calon besannya, Pak Dylan dan Ibu Dewi segera berdiri dan menyambut kedatangan keluarga Shafa.


Setelah itu mereka pun duduk dan mulai bercakap-cakap.


" Selamat ya Shaf, ini ada hadiah kecil buat kamu " Ayah Daffa memberikan sebuah kotak seukuran dompet kepada Shafa.


" Jazakallah khair, pakai kado segala sih Yah, ditraktir makan juga sudah cukup " jawab Shafa.


" Ayah senang ngasih hadiah kok, buka aja, kalau ga cocok bisa ditukar "


Shafa kemudian membuka kotak tersebut, setelah ia buka, ia menutupnya kembali.


" Lho kenapa?? kok langsung di tutup lagi?? " tanya Ibu Daffa.


" Hmmm ga pa-pa, tapi... "


Ibu Shafa pun akhirnya berbicara.


" Kenapa sih kamu?? sini Ibu aja yang buka kalau kamu ga mau"


" Eh bukan gitu, tapi.... "


Ibu Shafa pun terkejut ketika mengambil kotak dari tangan Shafa dan membukanya, karena terdapat sebuah gelang dan cincin berlian dari emas putih yang dapat dipastikan harganya tidak murah.


" Bukan kami sebetulnya yang menyiapkan hadiah ini, tapi Daffa yang telah memesan perhiasan ini untuk Shafa, " jelas ibu Daffa.


" Tapi anak itu senengnya main petak umpet kayak gini!!! Daff!! keluar kamu!! " panggil ayahnya.


Seluruh keluarga Shafa terkejut dengan kemunculan Daffa dari belakang meja mereka.


" Assalamu'alaikum, maaf hihihi. "


" Wa'alaikumsalam " jawab keluarga Shafa. Dan inilah kali pertama mereka bertemu dengan Daffa secara langsung.


Daffa ternyata lebih tinggi dan besar dari ayah dan abangnya.


Shafa pun membeku, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Daffa malam itu.


" Maaf, jika kedatangan saya membuat terkejut, sebetulnya ini mendadak bisa pulang, 2 pekan lalu saya sudah ujian semester akhir. Selesai ujian saya memutuskan untuk segera pulang, sambil menunggu jadwal wisuda, sekalian magang di kantor Ayah, " jelas Daffa.


" Dan tujuan utama adalah untuk meminang Shafa malam ini, " tambah Daffa.


Shafa akhirnya mengerti, kenapa tiba-tiba Daffa menghilang lagi.


Kedua kakak Shafa pun bereaksi yang tidak jauh berbeda dengan kedua orang tua mereka.


" Shaf, bagaimana ?? apakah kamu menerima lamaran Daffa?? " tanya Ayah Daffa.


Shafa masih terdiam, ia masih berusaha mencerna apa yang terjadi malam itu.


Ayah Shafa kemudian berbicara mewakili Shafa.


" Sepertinya Shafa cukup terkejut sehingga belum dapat menjawab lamaran Daffa. "


" Kami sebagai orang tuanya Daffa juga terkejut dengan kepulangannya ini!! Tiba-tiba dia muncul di depan rumah, padahal sehari sebelumnya tidak bisa dihubungi sama sekali, ibunya sudah panik, eee ga taunya dia pulang!! "


" Kan surprise Yah!! " jawab Daffa.


" Tetap aja, bikin panik orang tua!! eh kok jadi ngebahas Daffa, kita mulai makan saja yuk, ayo silahkan di makan " ayah Daffa akhirnya mengakhiri percakapan untuk memulai makan malam bersama.


Shafa tampak diam, ia hampir tidak dapat mengangkat sendoknya karena lamaran kejutan dari Daffa.


Ia akhirnya mengajak Syifa menemaninya ke toilet.


" Maaf, permisi sebentar " pamit Syifa.


Di dalam toilet,


" Piye Shaf??!! " tanya Syifa.


" Aku ga siap, Mbak!! aku yo ora ngerti!! laa mendadak koyo ngene!! " jawab Shafa.


" Tapi de'e wis ngethoke cincin karo gelang nggo kowe !! " tegas Syifa.


( Tapi dia sudah mengeluarkan cincin dan gelang untuk kamu)


" Mboh lah mbak!! "


" Mengko ta' takoni wae, Daffa saiki arep bali ning London opo wis ning Jakarta wae, ne' arep bali ning London, kapan?? berapa lama?? iya tho?? nah terus saiki ngelamar, rencanane arep akad kapan?? iki musti ditakokke. "


( Nanti aku tanyakan saja, Daffa saat ini akan kembali ke London atau sudah di Jakarta saja?? kalau akan kembali ke London, kapan dan berapa lama?? sekarang melamar, rencananya kapan mau akad ?? ini harus ditanyakan)

__ADS_1


" Kok Mbak Syifa iso ngerti isi hatiku!! aku yo arep takon iku!! "


( kok mbak Syifa bisa tahu isi hatiku!! aku juga mau menanyakan itu )


" Yowis, yuk !! " ajak Syifa kembali ke area dining.


Setelah keduanya kembali, makan malam telah tersedia. Dua keluarga ini pun segera menyantap makan malam mereka, sambil diselingi dengan percakapan.


" Oiya, Shaf, kapan jadwal wisuda?? " tanya Ayah Daffa.


" In syaa Allah April, Yah, " jawab Shafa.


" Tapi tanggalnya aku lupa, " lanjutnya lagi.


" Nanti WA Ayah tanggal dan jamnya ya. "


" Baik, Yah. "


" Maaf, boleh bertanya ke Daffa?? " tanya Syifa.


" Silahkan, Mbak, " jawab Daffa.


" Kamu kembali ke London lagi kapan?? " tanya Syifa.


" Untuk wisuda, awal bulan Juni " jawab Daffa.


" Trus lanjut disana lagi?? " tanya Syifa.


" Iya Mbak, lanjut S2 baru boleh pulang lagi. Kasian deh Mbak, aku disana sendiri, kangen ngobrol ala Betawi gini!! makanya kalau ga keberatan, buat S2 nanti, Shafa sudah bisa nemenin aku, Mbak."


" Rencananya memang gimana?? " tanya Ayah Shafa.


" In syaa Allah nanti kembali ke London untuk wisuda, lalu mendaftar S2, di kampus yang sama. Ada kosong sekitar 4 bulan sebelum mulai perkuliahan lagi. Rencananya magang di kantor Ayah dulu. Setelah itu kembali ke London untuk kuliah lagi, cuma 4 semester aja, trus pulang deh.... for good!!! finally!! "


" Trus akad sama Shafa kapan ?? " tanya Syifa.


" Eh!! aku diterima nih??!!" tanya Daffa.


" Blom, baru nanya dulu, " jawab Syifa.


" Yaaa kok, hmmm maunya sih sebelum kembali ke London. Nanti akadnya Mei ya Shaf, " jelas Daffa.


" Eh tandem yuk nikahnya!! " celutuk Daniel.


" Emang Abang mau nikah juga?? " tanya Daffa.


" Iya lah."


" Sudah ada calonnya?? " tanya Pak Dylan.


" Belum, yang penting tanggalnya dulu. Perempuan kan suka yang jelas, nanti nembak langsung kasih tanggal akad, " jawab Daniel.


" Cariin deh, nanti ku pilih!! " lanjut Daniel.


" Syifa masih single juga tuh!! " celutuk Syafiq.


" Eee kok bawa-bawa aku!!! emoh aku!! " tolak Syifa mentah-mentah.


" Eee Daniel itu high quality jomblo lhoo, " Ayah Daffa pun angkat bicara.


Daffa dan Shafa mulai memikirkan sesuatu dan keduanya pun bersuara bersamaan.


" Bang Daniel sama Mbak Syifa???!!! "


" Nah iya, sekalian!! " ibu Daniel menyetujui.


Ayah dan ibu Shafa pun tersenyum, tanda setuju.


" Piye Syif, sisan gawe, bapak ibu ora keberatan. "


( Bagaimana Syif, sekalian, bapak ibu tidak keberatan)


" Leherku iso pegel, sak keluorgo podho tiang listrik kabeh!! "


( Leherku bisa pegel, sekeluarga pada tiang listrik semua!!)


" Biarkan aku menyetrum hati muuu!!! " goda Daniel.


" Iiii uuuuu Abaaaang!!!!! " teriak Daffa dan Shafa.


Wajah Syifa pun bersemu merah.

__ADS_1


Keempat orang tua pun tidak keberatan.


" Bagaimana Syif, Bapak Ibu setuju kalau kamu setuju, kenalan bisa dilanjutkan nanti. Ini paket hemat eksklusif!! " ibu Syifa menyetujui.


__ADS_2