Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 72


__ADS_3

" Umur berapa Shaf?? "


" 2,5 tahun "


" Gede yaa, seperti anak usia 4 tahun "


" Lihat aja Bapaknya, gimana anaknya ga gede" jawab Shafa.


" Eh gaji lo berapa disana?? "


" Yaa mayan lah "


" Hmmm, lo berdua S2 lulusan Inggris, jujur!!berapa ratus juta tabungan lo, apa mungkin dah milyaran?? "


" Milyar?? ga sampe deh?? Abang sebulan 3.100, aku 2.500 "


" Tapi belum termasuk fee proyek kan?? " tanya Astri.


" Ya memang belum, feenya 200 per meter persegi "


" Trus berapa total meter persegi yang sudah lo kerjain?? "


" Eh dikalikan 19ribu dulu!!! " teriak Cici.


Shafa hanya tersenyum malu dan salah tingkah.


" Berapa yaa?? banyak deh. Kantor pusat London, trus cabang Manchester, Milan, Madrid, Jakarta, KL, Bangkok "


" What??!!!! segitu banyak kantornya???!!! "


" Tunjukin m-banking lo!! "


" Keluarga Daffa itu milyuner?? "


Shafa lalu menunjukkan foto dirinya dan Daffa di depan dan halaman belakang rumah Granny.


" Ini rumah kakeknya di London "


Seketika itu juga mereka membelalakkan matanya.


" Daff!!!! sini Lo!!!! " panggil Desi.


Daffa yang sedang berbincang di meja lain pun menghampiri.


" Napa sih, galak amat manggilnya?? "

__ADS_1


" Daff!!! lo tuh bule tapi betawi amat sih !! "


" Whatever dah!! napa manggil, salah apa gw??"


" Itu beneran rumah kakek Lo??? " tanya Desi.


Daffa memicingkan matanya melihat foto yang di maksud Desi.


" Ooo iya, itu rumah kakek gw di London. Kenapa?? "


" Keluarga Lo milyuner?? "


" Hmmm kayaknya sih?? ga tahu juga, ga pernah lihat rekening keluarga " jawab Daffa santai.


" Yeee elu Daff!!! "


" Anyways, memangnya kenapa?? itu kan kekayaan keluarga gw, bukan gw "


" Gw masih jauh. Tempat tinggal masih nyewa apartemen, ga pakai pembantu, mahal banget "


" Gw dididik dari kecil untuk ga pernah melihat harta kekayaan keluarga. Yang dilihat yaa apa yang gw dapatkan dari usaha sendiri. Walaupun ada privilege yang gw dapatkan, salah satunya yaa ga perlu cari pekerjaan, sudah bisa langsung kerja. Tapi tetap harus mulai dari karyawan biasa dan ga bisa asal-asalan kerjanya, karena gw bawa nama keluarga, otomatis banyak mata ke gw "


" Sama seperti Shafa, dia istri gw, menantu keluarga gw, dia harus kerja lebih keras dibandingkan karyawan lain. Karena dia harus membuktikan bahwa dia memang berhak diposisi itu, bukan karena statusnya sebagai menantu "


" Gw sama Shafa bekerja membawa nama keluarga, orang lain melihatnya dari luar tuh enak banget. Hidupnya mudah, ga pernah susah, ga takut ga punya uang dan masih banyak lagi "


" Yup, betul!! Abang kalau sudah kumpul di rumah granny, pasti ujung-ujungnya ngomongin bisnis " tambah Shafa.


" Dan Shafa pasti menghilangkan dirinya kalau sudah ngomongin bisnis " ucap Daffa sambil tertawa.


" Bukan bagianku, ga ngerti dan ga tertarik "


" Tertariknya kalau transferan sudah masuk ya, Yang??!! "


" Iya dong!! " jawab Shafa sambil tertawa.


" Eh, kalau lo tajir melintir begitu, kenapa rumah orang tua lo ga di Bukit Gading Villa?? Terus kenapa lo sekolahnya di SD, SMP negeri. Bukan di Al Azhar?? atau Tugasku di Pulomas?? "


" Ayah ga mau anak-anaknya hanya bergaul sama orang-orang dari kalangan atas aja. Tapi harus bisa berteman dari semua kalangan, itu dapat membentuk pola pikir kita juga "


" Waaah, ga nyangka ternyata Daffa yang sekarang, jauh berbeda dari yang gw kenal waktu SD dan SMP!! "


" Well, people change and grow up " jawab Daffa bijak.


Perbincangan mereka pun berlanjut hingga sore hari. Bertukar cerita, pengalaman dan tidak lupa, berfoto bersama menjadi agenda wajib reuni.

__ADS_1


Danesh telah tertidur di pangkuan Daffa, membuat Shafa mengakhiri pertemuannya.


" Sorry yaa, gw balik duluan. Sudah sore, lagian Danesh sudah tidur nih "


" Iya Shaf, ga papa. Makasih sudah nyempetin ketemuan sama kita "


" Eh, sebelum Lo balik ke London, kita ketemuan lagi yaa "


" Sure, ntar berkabar aja yaa "


Daffa dan Shafa berjalan menuju area parkir, tetapi sebelum itu, seperti biasanya, Shafa membeli cemilan untuk di rumah terlebih dahulu.


Ia membeli beberapa potong roti, kemudian beberapa cemilan khas Jepang seperti mochi, takoyaki dan taiyaki. Sedangkan Daffa memilih untuk membeli es krim dan gelato favoritnya.


" Beli berapa cup, Bang?? "


" Cappucino 1, buble gum 1, cookies n cream 1, choco mint 1. Semuanya yang 1 liter "


Sedangkan Syifa membeli cemilan khas Taiwan, Shihlin dan Kuldak, khas Korea.


Tepat menjelang maghrib, mereka telah sampai di rumah. Daffa segera bersiap untuk shalat berjamaah di masjid.


Malam hari sebelum istirahat, Shafa berbaring di dada Daffa.


" Bang, teman-teman kita ternyata banyak yang ga berubah yaa "


" Hm "


" Jujur Bang, tadi kok aku ngerasa ga nyaman yaa?? "


" Mungkin karena mereka ngebahas harta "


" Iya Bang, kenapa yaa harus ngebahas itu. Tapi tadi aku juga agak kesal, pingin buat mereka diam aja, jadi seperti pamer. Padahal maksudnya bukan itu "


" Iya, Abang ngerti kok "


" Yang, sudah malam, kita tidur yuk. Masalah itu dibawa santai aja, mereka ga akan berfikir macam-macam kok '


" Sayang kan, hanya menjawab pertanyaan sesuai kenyataan, ga dibumbuin "


" Ga enak dong Bang, hambar "


" Memang ga enak kalau ga dibumbuin dan ini menunjukkan bahwa sudah butuh istirahat "


" Kelonin "

__ADS_1


" Iya "


Daffa mengecup kening Shafa, lalu mematikan lampu di sebelah tempat tidurnya.


__ADS_2