
Tibalah Kamis pagi, Daniel dan Syifa berpamitan untuk berangkat ke Bandung, dengan menjemput Daffa dan Shafa terlebih dahulu.
Tepat pukul 7 pagi mereka sudah dalam perjalanan menuju Bandung. Daniel mengendarai mobil ayahnya dengan kecepatan sedang.
" Bang, ntar lewat tol atau puncak?? " tanya Daffa.
" Lewat tol ajaaaa, puncak aku males. Jauuuhhh lamaa!! " protes Shafa.
" Baru tahu Bang Daniel berubah jadi Shafa " goda Daffa.
" Huu protes aja "
" Kalau hari kerja in syaa Allah ga macet. Gimana nih mau via puncak atau tol?? " tanya Daniel.
" Tol aja yaaa " pinta Shafa.
" Puncak aja, ntar mampir ke kebun teh, poto-poto dulu ya " pinta Daffa.
" Syifa, mau lewat mana?? " tanya Daniel.
" Lewat hatimu aja Mas !!! " jawab Syifa sambil memberikan tanda hati menggunakan jarinya.
Wajah Daniel memerah dan ia pun tertawa mendengar jawaban Syifa.
Daffa dan Shafa ikut tertawa mendengar jawaban Syifa.
" Ususnya ga geli kan Shaf?? " tanya Syifa.
" Aman, kan bukan buat aku kata-katanya "
Daffa pun mulai melancarkan aksinya.
" Shaf, tahu ga kenapa Abang cinta sama Sayang?? "
Shafa mulai menutup telinganya.
Syifa pun tertawa.
Daffa yang melihat Shafa dari cermin kaca depan pun ikut tertawa.
" Belum apa-apa sudah tutup telinga "
" Jawab dong, jangan ditutup telinganya " pinta Daffa.
" Ga tahu "
" Kira-kira aja "
Shafa terdiam sambil memikirkan alasan mengapa Daffa mencintainya.
" Hmmm, aku hmm apa yaa??? cuek?? galak??? ceplas-ceplos??? apa sih??? itu mah ga ada bagusnya!!! "
" Sayang tuh punya prinsip dan pendirian, ga mudah ikut pilihan mayoritas. Coba deh, komik Sayang beda sama teman-teman semua kan. Gaya berpakaian juga beda sama yang lain, bukan ingin terlihat berbeda, tapi karena memang itu bukan gaya Sayang. Trus, dari semua orang yang Abang kenal, pasti berusaha dekat sama Abang, tapi Sayang ga, malah jaga jarak. Waktu awal masuk PMR, banyak senior laki yang merhatiin Sayang, pasti ga tahu kan"
" Waaah Daf, kamu sudah ngamatin Shafa dari SMP sampai sedetail itu?? " tanya Syifa.
" Hihihi ga ada kerjaan kali yaa Mbak. Jujur sih Mbak, awalnya tuh penasaran karena judesnya minta ampun, tapi lucu. Sempat kesel juga, waktu awal kenalan di SD. Tapi setelah kenal, sekelas, sama-sama jadi pengurus kelas, akhirnya lebih akrab trus jadi suka"
" Blom yang dikunciin di laboratorium Biologi!" ucap Shafa sambil tertawa.
" Nah itu!!! epic banget tuh!!! "
" Bisa-bisanya Yudi ga lihat kita di dalam!!! " lanjut Daffa.
__ADS_1
" Eh baru denger... kenapa kok bisa dikunciin?? Yudi siapa?? " tanya Syifa.
Daffa menjawab sambil tertawa geli mengingat kejadian di pertengahan kelas 8 itu.
" Jadi waktu itu kita berdua selesai rapat panitia maulid di laboratorium biologi, semua teman sudah keluar. Kecuali aku sama Shafa. Aku sih nungguin Shafa di dalam, karena Shafa lagi nulis hasil rapat buat diserahkan ke guru agama. Sudah selesai nih, terus kita beresin labnya. Intinya kalau dari jendela lab yang tingginya diatas 150 cm itu, kita ga kelihatan. Nah Yudi itu satpam sekolah, ga pakai ngecek lab, hanya ngeliat dari jendela aja, langsung main kunci aja. Pas kita mo keluar ga bisa dong, terus aku buka jendela lab lebih lebar aja. Begitu ada yang lewat aku teriak minta tolong bukain. Ya ga lama, Yudi Satpam sekolah, ngebukain pintunya sambil minta maaf. Tapi yaaa semua anak jadi tahu kalau kita kekunci berdua"
" Besoknya pas masuk, jalan ngelewatin lapangan dong... fix aku disorakin... eh Abang juga baru datang, semakin rame deh yang nyorakin.... aku malu banget!! eh Abang malah angkat 2 tangan sambil bikin tanda V pakai jarinya!!! kessyyeeeeelll bangeeet aku tuuu!!! "
Daffa tertawa mengingat kekonyolan yang ia lakukan saat itu.
" Mana pas acara maulid Abang cuek banget motoin aku di panggung!!! "
" Ngapain kamu di panggung?? " tanya Syifa.
" Shafa juara 1 lomba kaligrafi, yaa aku fotoin aja pas dia terima hadiahnya "
" Aselik waktu itu aku sebel banget!!! Abang cuek banget, banyak yang nyorakin waktu Abang motoin aku, eh dia mah tetep santai aja!!! "
Daffa kembali tertawa.
" Masa SMP kamu berdua seru banget sih!!! aku mah ga ada cerita-cerita ajaib kayak gitu " ucap Syifa.
" Sama aku juga " Daniel pun begitu.
" Abang kan di Inggris SMP-nya sama kayak aku sampai lulus S2"
" Ooo jadi sekolah di Inggris itu memang rencana Ayah ?? " tanya Shafa.
" Iya, di kelas 9 kita langsung dikirim ke London, tapi yang pas aku sih agak dadakan, alias ayah sempat lupa, mikirnya nanti lulus SMP, tapi langsung diingetin sama uncle David kalau masuk highschool itu di kelas 9. Yaaa dadakan urus pendaftaran, Alhamdulillah bisa masuk"
" Seru mana sekolah di sana sama di sini?? " tanya Syifa.
" Hmmm serunya beda, kalau di sana kan masuk di sekolah laki-laki semua, jadi rusuhnya laki banget, main bola, mainan laki semua ga ada yang protes. Kalau disini hmm apa yaa, serunya waktu main sama Shafa .... "
" Iya, Abang ga pernah dengar tentang teman-teman kamu selain cerita tentang Shafa " ucap Daniel.
" Hmmm ada lah teman laki, kadang aku juga main bola sama mereka, tapi serunya kalau sama Shafa, judes sama cueknya itu ngegemesin. Ngomongnya seadanya, diajak ngomong apa aja bisa nyambung, pinter, pengetahuannya luas, makanya serunya kalau ngobrol sama Shafa "
Syifa dan Daniel tersenyum mendengar jawaban Daffa. Mereka pun memahami betapa Daffa mencintai Shafa tanpa syarat.
Daniel memutuskan untuk melewati rute Puncak, setelah hampir 2 jam mereka telah sampai di Puncak Pass. Daniel menghentikan kendaraannya.
" Yuk, turun dulu" ajak Daniel.
Shafa yang tertidur pun terbangun,
" Kok berhenti?? " tanya Shafa.
" Turun sebentar yuk " ajak Daffa sambil membukakan pintu untuk Shafa.
" Jagung bakar !! " tunjuk Shafa.
" Mau?? ayok!! "
Daffa menghampiri warung yang menjual jagung bakar dan memesan 4 jagung bakar. Sedangkan Daniel dan Syifa menuju kebun teh untuk berfoto.
Sambil menunggu jagung bakarnya, Daffa dan Shafa mengikuti Daniel, berfoto di kebun teh.
Setelah hampir setengah jam berjalan-jalan dan berfoto, mereka kembali ke parkiran. Daffa mengambil jagung bakar yang ia pesan tadi.
" Makan jagung bakar dulu, mumpung masih hangat "
" Kapan kamu belinya?? " tanya Daniel.
__ADS_1
" Sebelum naik ke kebun teh tadi, aku pesan dulu "
" Syukron, eh mau minum apa nih?? " tanya Daniel lagi.
" Aku ga " jawab Syifa.
" Aku juga ga " jawab Shafa.
" Minum yang tadi dibawa aja, kan sudah sedia ada kopi, susu, jus buah " jelas Syifa.
" Oiya, eh naronya dimana?? kok ga lihat?? " tanya Daniel.
" Aku masukin ke ice box di belakang " jawab Daffa.
Setelah selesai, mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya menuju Bandung.
" Daf, kamu yang nyetir, gantian yaa "
" Tumben minta gantiin?? "
" Ga tahu nih, habis makan jagung kok ngantuk "
" Ok!! google map mode on!! " seru Daffa.
" Bang, emang Abang ga tahu jalan ke Bandung?? " tanya Shafa.
" Kalau lewat puncak ga hafal "
" Soalnya seringnya dia tidur " jelas Daniel.
" Shaf, kamu duduk depan yaa. Aku mau tidur manja " pinta Daniel sambil melirik ke arah Syifa.
" Ih apaan tuh!! jangan aneh-aneh di mobil lho!! awas yaa!! " protes Syifa.
" Aneh apaan, cuma pingin tidur di samping istri tercintah aja kok " jawab Daniel yang membuat Shafa bersembunyi di balik punggung Daffa.
" Bang, ada yang ngumpet geli nih kayaknya " canda Daffa.
" Shaf, gitu doang kok ngumpet!! " Syifa tak habis pikir dengan adiknya ini.
" Dah yuk, biar ga kesiangan. Daf, hati-hati yaa "
" Iya, Bang "
Mereka berempat segera melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Tak lama berjalan, Daniel dan Syifa tertidur di belakang.
" Yang, tolong permen dong, yang kopi "
" Abang ngantuk juga?? "
" Ga, cuma pingin permen aja "
Shafa mengambil permen kopi dan membukanya untuk Daffa.
" Ga tidur?? "
" Tadi kan sudah, nemenin Abang nyetir aja "
Daffa meraih tangan Shafa dan mencium punggung tangannya, kemudian menggenggamnya.
" Bang, hati-hati, nyetirnya cuma pakai 1 tangan lho "
__ADS_1
" Iya, Abang pelan-pelan aja kok "