Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 58 Danesh Fathian


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Shafa tertidur pulas di kamar perawatan VIP, setelah perjuangannya melahirkan anak pertamanya.


Perawat juga telah membawa bayi Shafa ke ruang perawatan yang sama.


Ibu Shafa segera menghubungi suaminya di Jakarta, begitu juga dengan Daffa yang segera menghubungi ibunya melalui pesan WA.


Ia akan melakukan panggilan video, setelah Shafa bangun.


" Jadi gimana?? siapa namanya?? " tanya ibu Shafa.


" Danesh Fathian " jawab Daffa.


" Danesh artinya terpelajar, kebijaksanaan. Fathian artinya kemenangan. Semoga kelak ia akan menjadi seseorang yang terpelajar, bijak dan pemenang. Hmmm siswa teladan, langganan ranking 1 "


" Daf, Ibu ngira kamu beneran sudah jadi seorang ayah, ternyata tetap Daffa "


" Hahaha ibu, aku mau berubah jadi apa?? bolehlah Bu, punya keinginan anaknya pintar melebihi orang tuanya "


" Bukan boleh lagi, tapi harus. Di antara ketiga anak Ibu, yang paling pintar dan berprestasi yaa Shafa. Rangking selalu dari SD sampai kuliah, ga pernah lewat dari 10 besar, antara 2-8. Dia belum pernah ranking 1. Sebenarnya Shafa bisa ranking 1, tapi anaknya suka tiba-tiba malas, kalau sudah ketemu pelajaran yang ga dimengerti, yaa bukannya usaha biar paham, kalau Shafa malah memilih dilewati "


" Makanya dia tuh musuhan sama kimia, fisika, matematika, biologi "


" Tapi kalau sudah ketemu sama yang disukai, belajar sedikit sudah langsung paham, ini yang membuat kakaknya iri. Kalau Shafa rajin, pasti bisa rangking 1, tapi yaa anaknya santainya kebangetan, bikin ibu gemas. Coba aja kamu bayangin, apa ada orang tua yang ga kesal, anaknya mau ujian, bukannya belajar di kamar, ini malah belajar depan TV sambil nonton sepak bola atau balapan F1. Tapi yaa ga tahu, hasil ujiannya ga pernah kurang dari 8, kecuali yaa fisika, kimia tadi "


Daffa pun tertawa membayangkan Shafa ketika masih sekolah dahulu.


" Yaa tetapi diantara 3 anak ibu, yang bisa dibilang paling tidak membuat ibu khawatir ya Shafa. Walaupun bungsu tapi tidak manja, malah galaknya minta ampun. Dari kecil cenderung lebih mandiri dibandingkan dengan anak seusianya. Kemauannya keras, jadi waktu dia memilih masuk IPS, padahal di rapor ditulis naik ke kelas IPA, saat itu dia langsung ke wali kelasnya minta naik ke kelas IPS. Bapak marah, ga setuju. Yaa namanya juga orang jaman dulu, IPA itu kesuksesan, IPS itu anak yang gagal masuk IPA. Yaa Shafa berargumen, kalau dia memaksakan dirinya untuk masuk IPA, dia sangat yakin akan lulus dengan nilai yang memalukan. Tetapi jika masuk IPS, dia yakin dapat lulus dengan nilai terbaik yang ia mampu. Akhirnya Bapak nyerah, cuma yaa agak dingin ke Shafa. Sampai akhirnya Shafa lulus dan nilainya rata-rata 8 lebih, bapak yaa bangga juga. Apalagi setelah diterima di desain interior, di 3 semester awal IPKnya selalu diatas 3, IPK terendahnya 2,8 , dah akhirnya lulus dengan IPK 3,3. Yaa akhirnya Shafa membuktikan kalau ia bertanggungjawab atas keputusannya "


" Seperti waktu akhirnya dia menerima lamaran kamu. Orang tua mana yang tidak senang sekaligus khawatir melepaskan putrinya untuk menikah dengan pria yang ia cintai, kemudian harus mengikutinya tinggal di negara orang. Shafa anaknya sering kali spontan dalam mengambil keputusan, tetapi yaaa dia sangat paham konsekuensi atas setiap keputusan yang ia ambil. Sewaktu ibu dapat kabar, kalau ia mendapat proyek interior di sini, ibu luar biasa kaget, karena seingat ibu, ketika lulus S1 dia bilang, kalau dia ga mau berurusan dengan desain interior, capek dan lain sebagainya. Tiba-tiba dia dapat proyek dan sukses, terus kuliah lagi, interior lagi, IPKnya tinggi lagi. Kamu bayangkan saja jadi ibu, rasanya naik rollercoaster aja kalau dapat kabar dari Shafa. Selalu penuh kejutan "


Daffa pun tertawa mengingat awal pernikahannya.


" Saya juga, kaget Bu, waktu Shafa tiba-tiba menyanggupi tawaran proyek dari uncle David. Padahal sebelumnya juga bilang, tidak mau berurusan dengan interior. Tapi lebih semangat lagi, sewaktu Shafa menerima fee desain pertamanya, yang angkanya memang cukup fantastis. Dengan semangat '45 dia daftar kuliah, karena bayarannya bikin dia lupa stress selama kuliah " cerita Daffa sambil tertawa.


Tak lama Shafa terbangun,


" Bang.... " panggil Shafa.


Daffa segera menghampiri Shafa dan mengecup keningnya.


" Mau duduk?? "


Shafa mengangguk. Lalu Daffa membantu Shafa untuk duduk.


" Makan ya?? ini ada 2 kloter sarapan. Ada sandwich sama ada ayam panggang, omelet, sayur ga tahu dimasak apa, pakai nasi dikasih kismis "


" Sandwich aja "


" Bang, namanya siapa jadinya?? "

__ADS_1


" Danesh Fathian "


" Ooo nama D untuk anak laki ternyata dipertahankan ditambah F untuk nama tengahnya, benar-benar Ayah yang maunya kembar sama anaknya "


" Hahaha Sayang tahu aja, DFM "


" Dari tadi masih tidur yaa?? " tanya Shafa.


" Iya, belum kebangun minta susu "


" Daf, ibu pulang dulu yaa. Nanti sore ibu datang lagi, tadi Aliyah bilang mau antar jemput ibu. Sekarang dia ada di parkiran "


" Iya Bu, maturnuwun " jawab Daffa dan Shafa.


" Kamu, makannya dihabiskan yaa " pamit ibu Shafa sambil mencium kening dan pipi putri bungsunya itu.


" Iya Bu "


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam "


" Yang, Abang nganter ibu ke lobby yaa "


" Iya Bang "


" Sudah habis sandwichnya?? "


" Sudah, aku minum jusnya dulu deh Bang "


Daffa mengambilkan jus untuk Shafa dan duduk di sampingnya.


Setelah meletakkan gelas di meja. Daffa memeluk Shafa dengan erat.


" Sayang hebat, Sayang kuat. Abang yang nemenin aja hampir ga kuat ngelihatnya "


" Alhamdulillah ya Bang "


" Masih sakit?? " tanya Daffa.


" Apanya?? perutnya?? "


" Yaa, semua yang dirasa sakit "


" Perutnya masih sakit sedikit, tapi bawahnya perih rasanya "


" Yaa iyalah, habis ngeluarin bayi segede itu!! "


" Eh berapa kilo, Bang "

__ADS_1


" Nih lihat, laki-laki berat 3950 gram panjang 58 cm!!! "


" MasyaAllah gede banget!!! pantesan aku membulat seperti ini!!! "


" MasyaAllah, bisa yaa, bayi sebesar ini tumbuh di perut Sayang??? "


" Bang, ntar kalau Danesh bangun gimana?? ibu kok udah pulang aja?? "


" Biar ibu istirahat dulu, nungguin kan juga capek, apalagi tadi dari tengah malam "


" Oiya, Abang ga tidur dulu?? Abang istirahat aja, mumpung Danesh belum kebangun "


" Kalau gitu, Abang tidur yaa. Nanti kalau butuh apa-apa, bangunin aja "


" Iya, Abang istirahat yaa "


Daffa dengan cepat terlelap di sofa bed.


Tak lama, pintu kamarnya diketuk, perawat dan dokter Fatimah pun masuk.


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam, Dok "


" Saya periksa sebentar yaa. Tadi sudah sarapan?? "


" Sudah Dok "


" Suaminya sudah KO yaa, semalaman jadi suami siaga " canda dr. Fatimah.


" Iya Dok, tumbang juga akhirnya "


Dokter Fatimah pun memeriksa kondisi Shafa pasca melahirkan.


" Alhamdulillah, kontraksi rahim normal. Kalau ada keluhan hubungi perawat ya. Oiya, nanti setelah 6 jam, siang atau sore ini, sudah bisa latihan jalan "


" Untuk mandi, tunggu nanti sore saja ya. Karena terkadang begitu terkena air, ada yang menggigil "


" Dokter anaknya sudah visite?? "


" Belum Dok "


" Oo mungkin masih praktek, ditunggu saja yaa. Ada keluhan?? "


" Ga ada Dok, terima kasih "


" Baik, kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam "

__ADS_1


__ADS_2