
Sesampainya di rumah, Shafa segera masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan AC suhu terendah, hatinya terasa panas, ia membutuhkan udara dingin untuk mendinginkan hatinya.
Ia pun mengingat adegan di film Mandarin, dimana setiap si ibu terpancing emosi ia akan berkata dengan senyuman " tarik nafas pikirkan yang indah-indah ", maka setelah menyegarkan badannya dan berwudhu ia pun melakukan "terapi", "tarik nafas pikirkan yang indah-indah" dengan diselingi istighfar disetiap jedanya.
Setelah melakukannya sebanyak 5 kali, akhirnya Shafa lebih tenang dan dapat berpikir jernih. Tak lama adzan berkumandang, Shafa pun bersegera untuk menunaikan ibadah sholat Ashar. Ia pun berdoa agar diberikan ketenangan hati dan kemudahan dalam setiap urusannya.
Ibu Shafa yang khawatir akan Shafa pun mengetuk pintu kamar Shafa.
" Masuk " jawab Shafa.
Ibu Shafa pun masuk.
" Kamu pulang naik apa ?? kok lama ?? "
" Aku tadi jalan kaki aja, malas naik angkot. "
" Ya Allah Shafa!!! itu kan jauh, hampir 4 km lho jaraknya!!"
" Ga pa-pa Bu, sekalian olah raga, tapi panas banget, jadi tadi aku beli minuman dingin di minimarket."
" Iya ga pa-pa, ya sudah kamu istirahat, kakinya dioles minyak kayu putih, biar besok ga pegal. Nanti ibu suruh Minah bawain makan sama madu, kamu ga usah turun."
" Makasih ibu sayang. "
Setelah ibu Shafa keluar, Shafa pun tertidur.
Selepas makan malam di kamar, Shafa mengecek pesan di FBnya. Terdapat 1 notifikasi dari Daffa.
" Shaf, kok tadi pulang ga kelihatan?? katanya ga di jemput?? lo naik apa?? tadi gw tunggu di gerbang tapi teman-teman bilang lo sudah pulang. Lo kenapa?? "
Shafa ingin membalasnya tetapi ia ragu. Setelah bergumul dalam hati, Shafa pun membalas pesan Daffa.
" Maaf, aku tadi pulang duluan. Ga ada apa-apa sih, cuma pingin pulang sendiri aja. Daf, sorry yaa, mulai besok kamu jangan terlalu baik ke aku yaa, lama-lama ga enak juga jadi omongan. Ya sudah, aku mau istirahat dulu. Makasih, Daf."
Shafa pun segera mematikan komputernya dan bersiap untuk tidur. Tak butuh waktu lama, Shafa pun terlelap karena kelelahan setelah berjalan kaki.
Di kamar Daffa, ia kembali membuka komputernya untuk melihat jawaban dari pesan yang ia kirim untuk Shafa.
Setelah membacanya, Daffa terdiam. Sudah lama Shafa tidak memanggilnya dengan nama. Lalu sejak kapan Shafa memperdulikan omongan orang lain tentang dirinya. Yang terakhir, "jangan terlalu baik" , apakah ini artinya Shafa akan menjauh???
Daffa ingin segera membalasnya, tetapi tanda di komputernya menunjukkan bahwa Shafa sudah tidak aktif. Rasa kesal dan bingung berkumpul menjadi satu. Ada apa dengan Shafa?? Daffa tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Shafa mengirimkan pesan seperti itu ??
Daffa pun memutuskan akan bertanya langsung kepada Shafa esok pagi di sekolah.
Keesokan harinya, seperti biasa Daffa berangkat lebih awal. Kelasnya masih terlihat kosong. Daffa duduk menunggu kedatangan Shafa. 5 menit berlalu, 10 menit hingga akhirnya 5 menit menjelang bel masuk, Shafa akhirnya terlihat memasuki kelas. Tanpa melihat dan menyapa Daffa, Shafa meletakkan tasnya dan kembali ke luar kelas. Daffa tidak mengerti, apa kesalahannya. Ketika ia mendekati Shafa, Shafa menghindar dan kembali masuk ke dalam kelas.
Cici yang memperhatikan keanehan ini pun bertanya.
" Shaf, lo kenapa?? "
" Ga pa-pa."
" Maksud gw, lo ada apa sama Daffa?? "
" Ga pa-pa, sudah mau bel masuk, " jawab Shafa sambil memberi kode diam dengan jari telunjuk menutup bibirnya.
Cici pun tidak bertanya lebih lanjut.
Ketika istirahat pertama, Shafa segera keluar kelas, sendiri tanpa Cici.
" Ci, Shafa kenapa?? " tanya Daffa.
" Baru gw mo tanya ke elu!! Napa tuh Shafa?? ada apa sih?? " Cici balik bertanya.
" Laaa malah nanya balik!! kagak tahu gw!! napa tuh bocah!! "
" Meneketehe!! tetiba begitu nih pagi!!! apa jangan-jangan salah makan tuh bocah?? " jawab Cici yang juga tidak mengetahui ada apa sebenarnya dengan Shafa.
Cici kemudian mencari Shafa, tetapi ia tak menemukannya. Hingga istirahat berakhir, Shafa adalah yang terakhir masuk ke dalam kelas.
" Shaf, nape lu?? " tanya Cici.
" Ga pa-pa " jawab Shafa singkat.
" Tadi lu dimana?? gw cariin !! tanggung jawab, gara-gara gw nyari elu, istirahat gw kepotong, jadi kagak sempet makan lontong sayur!! " ucap Cici kesal.
" Hehehe peace Ci... " jawab Shafa sambil memberi salam 2 jarinya.
Guru bidang studi pun masuk ke dalam kelas, mereka berdua pun menyudahi percakapannya.
Pada jam istirahat kedua, dimana waktunya bersamaan dengan shalat dzuhur dan makan siang, membuat para siswa-siswi bergegas menuju kantin dan musholla.
Di saat itu, Cici pun berjalan keluar kelas terlebih dahulu, agar Shafa tidak dapat menggunakan jurus menghilangnya.
Selesai shalat dzuhur berjamaah di mushala, mereka berdua menuju kantin untuk makan siang. Keduanya pun memesan makan siang kegemaran mereka, yaitu lontong sayur.
Tak lama kemudian Daffa pun terlihat di kantin, setelah memesan mie goreng ia pun duduk di depan Shafa, setelah mengusir orang yang telah duduk di tempat itu tentunya.
Shafa pun bersikap tak perduli, ia hanya melirik kemudian segera melanjutkan makan siangnya.
" Shaf nape lo??!! " tanya Daffa.
" Kenapa apanya?? "
" Ah ribet!!! "
" Laaa... ya sudah, " jawab Shafa sambil melanjutkan makan siangnya kembali.
" Aku sudah selesai, duluan yaa!! " ucap Shafa sambil berjalan menuju ke kelasnya.
" Nah kan!! gw ditinggalin!! " ucap Cici kesal.
" Ci, nape temen lo!!!??? " tanya Daffa.
" Wandaaaaaa' tahuuuu!! " jawab Cici yang kemudian segera menyusul Shafa.
__ADS_1
Perubahan sikap Shafa mengundang pertanyaan bagi Daffa. Shafa yang ramah walau terkadang aneh, tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Hingga waktu pulang sekolah, Shafa masih menghindar dari Daffa. Untuk itu, Daffa memutuskan untuk menghampiri Shafa di rumahnya sore nanti.
Setelah Ashar, dengan menaiki sepedanya, Daffa pergi ke rumah Shafa. Sesampainya di rumah Shafa, ia pun memencet bel rumahnya. Tak lama kemudian, Eni, salah satu ARTnya pun keluar menemui Daffa.
" Assalamu'alaikum Mbak, saya Daffa teman sekolahnya Shafa, Shafanya ada?? "
" Wa'alaikumsalam, ooo mbak Shafa ada, mari Mas masuk, " jawab Eni sambil membuka pintu pagar.
Eni kemudian mempersilahkan Daffa untuk duduk di ruang tamu, setelah itu ia memanggil Shafa yang sedang berada di kamar.
" Mbak Shafa, ada temannya di bawah, " panggil Eni dari luar pintu kamar Shafa.
Shafa segera membuka pintu kamarnya.
" Siapa Bi?? "
" Katanya namanya, Mas Daffa. "
Shafa pun terdiam, ia berfikir sejenak, " ada apa Daffa ke rumah??" tanyanya dalam hati.
" Hmmm bilang tunggu sebentar, oiya Bi, tolong buatin es sirup yaa. "
Shafa pun mengambil gamis dan jilbab instannya yang panjang hingga menutupi pahanya.
Setelah berganti pakaian, Shafa segera menemui Daffa di ruang tamu.
Daffa bangkit dari duduknya begitu mendengar langkah kaki turun dari tangga.
Shafa pun member salam.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumsalam. "
" Kenapa Bang?? "
" Akhirnya Lo manggil gw Abang lagi!! kemaren di messenger lo manggil gw Daf, kaget gw!! salah apa tiba-tiba lo manggil gw, Daf??!!! "
Shafa tertawa geli mendengar ucapan Daffa.
" Gedubrak deee.... Ya Allah Bang !! begitu doang!! "
" Eh katanya yaa, kalau cewek tiba-tiba berubah, trus manggilnya beda, nah katanya cowok kudu hati-hati!! laaa gw takut lah !! salah gw apaaa??!! jangan bikin misteri dong!!! "
Shafa tak dapat menahan tawanya lagi, ia tertawa sampai meneteskan air mata, karena geli mendengar Daffa.
" Shaf, serius niii, jawab dong!!! ih elu malah ketawa!!! "
" Aduuuh maaf, maaf, ga maksud begitu, tapi Abang lucu!! "
" Nah kan, gw ngelawak juga kagak, dibilang lucu ?? haadeeee cewek aneh!!! "
" Maaf Bang, tapi aku tuh, hmmm gimana yaa??eh sebentar mau nanya dulu. "
" Apaan?? " tanya Daffa.
" Bang, Abang orang mana?? kok seperti ada campurannya yaaa ?? "
" Iye campuran tepung ketan sama beras!!! " jawab Daffa kesal yang membuat Shafa kembali tertawa.
" Hahaha laaa dia sewot!!! serius Bang!!! beneran nanya nih!! "
" Bokap Inggris Nyokap Sunda... Ingda, " jawab Daffa.
" Huuuuiiiii blasteran Inggereessss!! jago Inggris dooong!! "
" Mayan lah, ga mungkin gw ketemu nenek gw yang bule ngomong pakai bahasa Sunda kan?? !! kagak nyambung!! "
" Ooo pantesan....!! "
" Pantesan apa?? "
" Pantes putih, tinggi. Eh, tingginya berapa, Bang?? " tanya Shafa.
" 170, eh ada yang kurang tuh tadi. "
" Kurang apa?? " tanya Shafa yang tidak mengerti maksud Daffa.
" Tadi kan bilang, putih, tinggi. Tapi ada yang kurang!! "
" Emang kurang apa?? " tanya Shafa bingung.
" Gantengnya belum. "
" Oooo tidak !! Ooo noooo !!! aku tidak kuat!! aku tak sanggup!!! tidaaak!!! "
" Hmmm dia kumat lagi!!! nape looo!! "
" Aku tak sanggup mendengar kenarsisan yang melandaaaa!! tidaaaak!! " jawab Shafa yang diiringi dengan tawanya.
" Puas lo yaaa!!! puaasss!! "
" Banget, Bang!! "
Melihat Shafa yang tertawa lepas, membuat Daffa tersenyum lega.
" Shaf, besok-besok jangan ngilang lagi yaa, eh bukan, hmmm gimana yaaa ?? hmmm ... "
" DOOORRR!! " suara Shafa pun mengejutkan Daffa.
" Astaghfirullah!!! Shaaaaaffff.....!!! " protes Daffa yang terkejut sambil memegang dadanya.
Shafa pun tertawa tak henti, yang akhirnya membuat Daffa pun ikut tertawa.
__ADS_1
Ibu Shafa pun menemui keduanya di ruang tamu sambil membawa cemilan dan minuman.
Shafa segera berdiri mengambil nampan dari tangan ibunya.
" Seru banget sampai ketawanya Shafa ga berhenti, " ucap ibu Shafa.
" Maaf Bu, eh makasih eh, aduh kan bingung?? lo tanggung jawab Shaf!! " ucap Daffa yang tiba-tiba salah tingkah.
Shafa tertawa kembali tanpa berkata-kata.
" Aduh Shaf, sssttt ketawa terus... " tegur ibunya.
" Hadu haduu... ssttt ssttt, diam, diam, oke!! tarik nafas, diam!! " akhirnya Shafa berhenti tertawa.
" Maaf Bu, saya teman sekelas Shafa, Daffa. "
" Kok minta maaf ?? wah ini kali pertama Shafa dikunjungi teman sekolah selama di Jakarta lho. "
" Iyap betul, ini perdana!! " ucap Shafa menambahkan.
" Hah ?? masa' belum pernah ada yang ke rumah?? termasuk Cici?? "
" Iya, aku yang ke rumah Cici, tapi Cici belum pernah kesini. "
" Kok bisa?? " tanya Daffa bingung.
" Yaa mungkin kejauhan dari sekolah ?? selain itu yaa ga ada tetangga yang sekolahnya disitu, " jawab Shafa.
" Gw juga jauh dari sekolah, tapi ada aja yang ke rumah. "
" Yaaa itu artinya Abang punya banyak teman, banyak yang suka. "
" Hmm ga gitu juga kali..."
" Eh kalau gitu gw bakalan rajin main ke rumah deh, ntar kapan ajak Cici juga!! "
" Kasian Bang, kalau Cici kesini, jauh banget. Waktu kita janjian ketemu di taman jogging aja, dia sudah kecapean. "
" Hmm jadi maunya gw aja nih yang ke rumah?? " goda Daffa.
" Bu, kita masuk aja deh, kayaknya ada yang sudah mulai ga jelas deh, yuk Bu. "
Ibu Shafa hanya menggelengkan kepalanya melihat putri bungsunya.
" Ya sudah, Ibu masuk dulu yaaa. Itu cemilannya, dimakan yaa. "
" Siap Buuuu !! " jawab Shafa.
Setelah ibu Shafa masuk, mereka berdua pun melanjutkan obrolannya.
" Shaf, lo belum jawab, lo kenapa ngejauhin gw sama Cici?? "
" Hmmm ga ngejauhin Cici sih sebenarnya, tapi aku males kalau Cici nanya-nanya, 'ada apa', gitu. "
" Berarti lo ngejauhin gw?? "
" Hmm iya tapi ga juga sih. "
" Duuh jangan kasih jawaban yang bikin gw bingung dong?!! "
" Hmmm gini Bang, beberapa hari ini aku kan dengar mereka ngomongin aku, terus kemarin aku kan pulang jalan kaki... "
" Haaah lo jalan kaki???!!! sendiri???!! lo ga dijemput??!!! kok ga bilang??? kan bisa gw anterin pulang!! kan searah!! "
" Nah itu masalahnya Bang!! "
" Maksud lo?? "
" Fans Abang banyak, bukan cuma di sekolah tapi dari sekolah lain juga ada. "
" Gw ga ngerti?? "
" Yaaa namanya cewek, Bang, kalau tahu ada cowok idolanya akrab sama cewek lain, mereka ga terima, cemburu gitu. Nah, daripada nanti tiba-tiba ada orang yang kesel ke aku gara-gara Abang baik ke aku, yaa mendingan aku cari aman aja. "
" Ya Allaaaah Shafaaaaa!!!! emang cewek pada aneh ya!!!??? Jadi gara-gara itu??? "
" Eh Bang, dengerin dulu!! jadi waktu aku pulang sekolah yang jalan itu, aku sengaja lewat jalan lain, aku lewat sport club. Nah, aku mampir ke minimarket untuk beli minum, eh ada cewek-cewek ntah dari SMP mana, tapi intinya mereka ngomongin aku yang deket sama Abang dan mereka ga suka!! sampai mau cari tahu tentang aku segala!! " jelas Shafa.
" Hmmm gw ga tahu kalau ternyata gw terkenal juga yaa !! waaa bisa bikin fans club!! "
" Sekarang dia yang kumat!! "
Daffa pun tertawa.
" Aaa gw ga peduli sama mereka!! " ucap Daffa kemudian.
" Masalahnya, Abang peduli atau tidak, itu ga masalah buat mereka. Tapi mereka ga suka kalau ada yang dekat sama idola mereka, cemburu gitu Bang. Aku kan takut juga kalau nanti tiba-tiba ada yang narik-narik jilbab, trus nyiram air, trus... "
" Trus kebanyakan nonton sinetron!!! " potong Daffa.
" Yeee Abang, beneran ini!! jadi jauhin aku selama di sekolah atau di luar yaaa. Kan aku takut juga??!! "
" Haaduuu!!! ya sudah deh... buat keselamatan lo, gw bakal jauhin lo kalau di luar, tapi kalau ada apa-apa lo harus bilang!! jangan diem!! apalagi kabur!! "
" Iya Bang, aku bold sama underline. "
" Hah apaan?? "
" Ya itu, jangan diam, jangan kabur, aku bold and underline. "
" Hah ajaib!! "
" Hihihi peace, Bang!! "
Semenjak hari itu, Daffa dan Shafa sepakat untuk menjaga jarak selama di sekolah ataupun di tempat umum lainnya.
__ADS_1