Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 81 Pulang ke London


__ADS_3

Setelah menyelesaikan prosesi ibadah hajinya, mereka masih mempunyai waktu 5 hari sebelum kembali ke London.


5 hari tersisa mereka gunakan untuk istirahat sesaat sebelum berbelanja oleh-oleh. Aneka Abaya dan sajadah menjadi sasaran belanja mereka.


" Gedubrak gelundungan dulu ah " ucap Shafa ketika memilih abaya.


" Kenapa?? " tanya Shifa.


" Made in Turkey semua!! " tunjuk Shafa pada label pakaian.


" Sajadahnya juga " sahut Daffa.


" Hooo, ternyata. Kapan yuk kita meNurkikan diri??!! " ucap Shafa.


Daffa, Syifa dan Daniel dengan serentak memandang ke arah Shafa dengan tatapan yang penuh tanya.


" Kenapa?? ada yang salah?? kalau ada yang salah, aku minta maaf ?? "


Ketiganya menarik nafas dan menggelengkan kepala mereka bersamaan.


" Iii kompak!! "


Syifa meletakkan telapak tangannya di dahi Shafa dan...


" Adekku kambuh!! "


" Alhamdulillah aku sehaaaat!!! " sorak Shafa.


Daffa hanya menggelengkan kepalanya, melihat Shafa yang semakin hari semakin aneh.


" Dah sana kalau mau beli, beli aja, ga usah nunggu ke Turki, sekalian aja disini ngeborongnya "


" Ciyus Bang, aku boleh ngeborong?? beneran?? nanti aku ga akan dituntut, kan ?? "


" Yaaaannngg!! beli ajaaaa!! "


" Sihaaap laksanakan!!! "


Shafa pun segera membeli semua yang ia inginkan, abaya, pashmina, baju koko, sajadah, tas, berbagai jenis kurma, kismis, kacang dan belum termasuk manisan kering khas timur tengah yang dibelinya untuk oleh-oleh.


" Akhirnya bisa kalap belanja juga " gumam Daffa melihat isi tas belanja Shafa.


Malam terakhir sebelum kembali ke London, mereka menikmati makan malam bersama rombongan travel di hotel.


Saling bertukar cerita tentang keluarga hingga bisnis menjadi tema perbincangan mereka.

__ADS_1


" Jadi, Shafa itu desainer interior?? "


" Yes, I am "


" Terima job untuk commercial place ga?? " tanya Amr Smith, seorang pria keturunan Arab dan Inggris.


" Hmmm, bisa?? " jawab Shafa ragu.


" Bisa, tetapi karena Shafa masih terikat kontrak, jadi dia hanya bisa terima proyek di luar jam kerjanya, yaitu hanya di akhir pekan " jelas Daffa.


" Ooo, kalau sekiranya ada waktu, nanti kita ketemu lagi di London. Saya ada rencana untuk membuka rumah makan di Notting Hill. Mungkin perpaduan antara cafe dan rumah makan. Saya sedikit kesulitan untuk menemukan desainer interior yang sesuai "


Shafa melihat ke arah Daffa,


" Bang?? "


" Kalau Sayang mau, terima aja. Kalau tidak, yaa tolak saja. Buat refresing menggantikan kerjaan yang monoton di kantor. Terserah Sayang saja, in syaa Allah uncle David ga keberatan, asal bukan di weekdays " jelas Daffa.


Shafa berfikir sesaat sebelum menjawab permintaan calon kliennya.


" Hmm, saya tidak bisa menjanjikan bisa atau tidaknya, saya harus melihat konsepnya yaa keseluruhannya sih. Bagaimana nanti setelah pulang, kita rencanakan pertemuan kembali untuk membahas proyek cafe ini " jawab Shafa diplomatis.


" Alhamdulillah, ok!! deal!! "


" Bang, serius nih, aku boleh terima proyek lain?? "


" In syaa Allah bisa, kan beda wilayah juga. Satunya kantor, satunya lagi kafe, bisa lah. Buat refreshing desain Sayang juga, katanya jenuh "


" Iya sih Bang, tertarik sih, cuma takut kena masalah sama kantor aja "


" In syaa Allah aman lah, nanti Abang ngobrol sama uncle David dan ayah "


Keesokan paginya, mereka dijadwalkan untuk kembali ke London.


Setelah melakukan penerbangan selama 6 jam, akhirnya mereka tiba di London.


Menjelang sore hari, setelah menyelesaikan urusan di bandara, mereka berempat segera pulang menuju ke rumah Granny.


Danesh pun sudah tak sabar menunggu kedatangan orang tuanya di ruang tamu.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, Danesh segera berlari menuju teras.


"'Danesh, hati-hati, tidak usah berlari " ucap Granny mengingatkan cicitnya itu.


" MOM!!! " teriaknya sambil meloncat kegirangan begitu pintu mobil dibuka.

__ADS_1


Shafa segera turun dan memeluk putranya itu.


" Assalamu'alaikum, Danesh!! Ibu kangeeeen!! " ucapnya sambil tetap memeluk dan menciumi Danesh.


" Wa'alaikumsalam " jawab Granny dan Grandpa.


Daffa, Daniel dan Syifa bergantian memeluk dan mencium kakek dan neneknya.


ART Granny membantu mengeluarkan koper-koper dari dalam mobil.


" Koper saya jangan diturunkan " ucap Daniel.


" Nanti malam kami langsung kembali ke Jakarta " lanjutnya.


" Jadi nanti malam langsung ke Jakarta?? " tanya Grandpa.


" Iya, ada yang ga sabar ketemu putrinya " jawab Daniel sambil melirik ke arah Syifa.


" Wajarlah, namanya juga ibu "


" Penerbangan jam berapa?? " tanya Grandpa.


" Jam 22.30 " jawab Daniel.


" Masih ada waktu 5 jam lagi. Kalian istirahat di kamar saja, nanti makanannya biar dibawakan ke atas " ucap Granny.


" Daf, kamu juga istirahat di sini dulu. Pasti kalian capek. Cuti kalian sampai kapan?? "


" Masih ada 5 hari sebelum masuk " jawab Daffa.


" Gunakan 5 hari ini untuk kalian istirahat disini. Nanti sebelum kalian kembali ke apartemen, Granny akan minta cleaning servis membersihkan apartemen kalian "


Daffa lalu membongkar tas berisi oleh-oleh makanan. Ia meminta salah satu ART untuk membantu menghidangkannya.


Danesh masih memeluk dalam gendongan Shafa.


" Danesh, turun dulu yaa. Kasian, ibu capek. Nanti peluknya dilanjut di sofa yaa " bujuk Daffa perlahan.


Danesh pun mengikuti permintaan ayahnya.


Shafa mengambil biskuit dan coklat khas Arab dari dalam tasnya untuk Danesh.


" Nah ini untuk Danesh "


" Syukron, Mom "

__ADS_1


__ADS_2