
Akhirnya setelah bekerja keras selama 2 tahun, Daffa dan Shafa berhasil menyelesaikan program masternya dengan hasil yang memuaskan.
2 bulan sebelum wisuda, Shafa telah 'positif' , untuk itu keduanya mendapatkan 2 kebahagiaan bersamaan.
4 bulan setelah lulus, perut Shafa terlihat semakin membuncit dan dirinya pun terlihat mudah lelah.
Senin, pagi sebelum memulai aktivitasnya, Shafa menimbang berat badannya.
" Ok, beratku naik lagih !! debay!! sehat yaa!! emak sudah membulatkan diri ini untuk kesehatan kita berdua!!! "
Daffa memandangi Shafa dari belakang hanya tersenyum melihat istrinya berbicara sendiri.
" Jadi total sudah naik berapa kilo?? "
" Hmmm awalnya 50 kg, sekarang 60 kg, baru 6 bulan!!! masih 3 bulan lagi!!! dan diriku sudah bisa digelindingin!! "
Daffa pun menghampiri Shafa, kemudian memeluknya dari belakang.
" Tapi tetep sexy kok "
" Hah??!! sexy dari mana Bang??!! tampak depan?? samping?? belakang?? atau atas?? atau kalau dilihat dari big ben?? "
" Hahaha, Sayang...., Sayang sekarang malah semakin sexy, jujur ga pakai bohong. Semuanya membesar dengan sexy, yang ini dan ini juga " tunjuk Daffa ke arah dada dan bokong Shafa.
" Aku tahu maksud arah pembicaraan ini Rudolfo!!! "
" Tenang Marimar, sampai kapan pun, dengan bentuk apapun, dirimu tetap sexy dimata Rudolfo "
" Bang, geli deh "
" Hiburan di pagi hari, Yang "
" Dah yuk, siap-siap, Sayang mandi duluan, Abang siapin sarapan. Mau sandwich atau nasi goreng?? "
" Sandwich aja Bang, minta sekalian buat di kantor yaa "
" Siap Nyah, dah sana mandi " ucap Daffa sambil mengecup kening Shafa.
" Makasih Bang!! aku mandi yaa "
Daffa selalu berusaha untuk menjadi suami siaga bagi Shafa, menyiapkan susu, vitamin dan suplemen tidak pernah dilupakannya. Bahkan ia membelikan Shafa krim untuk mengurangi stretch mark setelah melahirkan nanti. Skuter matic Daffa untuk sementara tidak dipakainya untuk aktifitas bepergian, sebagai gantinya ia membeli sebuah SUV buatan Jerman.
Hari itu, seperti biasa mereka berangkat ke kantor bersama. Proyek renovasi ruang rapat seluruh cabang kantor McDermott, telah rampung setengah tahun yang lalu.
Sesaat setelah tiba di kantor,
" Bu, di panggil Mr. McDermott.... senior "
__ADS_1
" Ok, terima kasih "
Shafa pun bergegas menuju ruang kerja pamannya.
" Assalamu'alaikum " sapa Shafa sambil mengetuk pintu.
" Wa'alaikumalam, come in "
" Sit down, please "
" Syukron "
" How's your feeling today?? "
" I'm okay, is there anything wrong?? "
" No, nothing's wrong, everything is good. Shaf, kapan perkiraan melahirkan?? "
" 3 bulan lagi, perkiraan awal atau pertengahan Desember "
" Jangan lupa untuk mengajukan cuti melahirkan, kebijakan pemerintah untuk cuti melahirkan adalah 365 hari atau sama dengan setahun. Gunakan sebaik mungkin waktu cuti itu untuk mengasuh bayimu nanti. Daffa juga, akan saya beri cuti 14 hari "
" Setahun Om?? cuti setahun??? "
" Iya, setahun dan setiap bulannya kamu masih mendapatkan gaji "
" Nanti bisa kamu atur kapan mulai cutinya, bicarakanlah dengan Daffa "
" Iya, Shafa... kamu akan tetap digaji, 3 bulan pertama akan mendapatkan gaji penuh, selanjutnya 50% "
" Untuk itu, rencanakan waktu cutimu. Gunakan sebaik-baiknya untuk merawat bayimu nanti "
" Jazakumullah khair "
" Waiyakki "
Lalu Shafa kembali ke ruangannya dengan hati gembira. Ia pun mulai merencanakan waktu cuti melahirkannya.
Sepulang dari kantor, ia pun membicarakan hal itu dengan Daffa.
" Bang, aku kan dapat cuti setahun nih, uncle David nanyain kapan mau ambil cutinya?? "
" Trus?? " tanya Daffa.
" Yaa, enaknya kapan ya Bang?? "
" Yaaa senyamannya Sayang aja, kalau dirasa sudah berat banget untuk ke kantor yaa cuti aja "
__ADS_1
" Ntar deh masuk bulan ke-8, 1,5 bulan lagi. Gimana Bang?? "
" OK, tapi kalau bulan depan juga sudah ga enak buat kerja, bulan depan juga boleh "
" Ga ah, biar lama di pasca melahirkan aja, biar ga ketinggalan moment with my baby "
" As long as you happy "
" Trus nanti setelah cuti, aku mau belanja kebutuhan bayi, nyicil "
" Nah, mau beli warna apa?? "
" Warnanya tergantung gender ga sih Bang??"
" Terserah Sayang aja, oiya, ikut senam hamil ga?? di RS tempat biasa periksa kan ada "
" Hmm nanti setelah cuti aja "
" Atau ga bulan depan, gimana?? sepulang dari kantor sama weekend, kan sepekan 3x "
usul Daffa.
" Boleh deh, siapa tahu pegal-pegalnya agak berkurang "
" Nah, sekalian bersosialisasi sesama ibu hamil kan "
" Waaah, Abang memang cerdas bin pintar!! "
Shafa tetap bekerja seperti biasa di hari-hari berikutnya, dengan segala kesulitannya yang ia nikmati. Sesuai dengan usul Daffa, sepekan 3x Shafa mengikuti senam hamil di Rumah Sakit tempatnya di periksa.
Dengan latihan pernafasan dan peregangan, tubuh Shafa tampak lebih segar dan efek bersosialisasi dengan sesama ibu hamil, membuatnya lebih bersemangat.
Di bulan ke delapan kehamilannya, Shafa akhirnya mengambil cuti melahirkannya. Persiapan menyambut kelahiran bayinya pun telah mencapai 95%.
Daffa dan Shafa memutuskan untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka,
" Biar jadi surprise aja ya Bang "
" Deal "
Untuk itu, pakaian berwarna netral yang menjadi pilihan mereka untuk bayinya nanti.
Ibu Shafa pun datang untuk menemaninya hingga ia sanggup mengurus bayinya sendiri kelak.
" Shaf, kenapa ga pindah ke tempat yang lebih besar?? kalian kan mampu untuk pindah "
" Sementara ini, disini dulu Bu. Lebih praktis, ga repot bersih-bersihnya, karena ga luas tempatnya. Nanti kalau 'debay'nya sudah semakin besar, baru deh mikirin untuk pindah. Tapi sementara disini dulu"
__ADS_1
" Ibu, sudah siapkan tas bersalin, semuanya sudah lengkap, jadi nanti begitu kamu kontraksi, ga perlu nyiapin lagi "
" Maturnuwun Bu "