Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 57 Melahirkan


__ADS_3

" Yang?? kenapa Yang??!! " tanya Daffa dengan nada sedikit panik.


Shafa tidak menjawab sama sekali karena menahan sakitnya kontraksi.


Daffa melihat jam di HPnya, menunjukkan pukul 02.00 pagi.


Shafa semalaman tidak dapat tidur, karena merasakan kontraksi yang berulang dan semakin lama semakin sakit.


Daffa pun segera membangunkan mertuanya,


" Bu, kontraksi Shafa semakin kuat. Kayaknya dia belum tidur dari tadi "


Ibu Shafa segera menemui Shafa di kamarnya.


" Shaf, ingat nafasnya " lalu ia menghitung waktu kontraksi Shafa.


" Daffa, kita ke RS sekarang, sudah per-15 menit. Kamu siapin tas yang harus dibawa, ibu bantuin Shafa ganti baju, ayo segera!! "


" Baik Bu "


Daffa mengambil tas perlengkapan pasca melahirkan Shafa yang telah disiapkan sepekan sebelumnya.


" Shafa, sambil istighfar ya Sayang " ucap ibunya sambil membantunya mengganti pakaiannya.


Tak lama kemudian, mereka segera menuju RS tempat Shafa memeriksakan kandungannya.


Daffa menghentikan mobilnya di depan UGD, petugas UGD yang berjaga di depan pintu masuk, dengan cekatan segera mengambil kursi roda.


Setelah memarkirkan mobilnya, Daffa menyusul Shafa dan mertuanya di UGD.


Dilihatnya Shafa tengah berbaring di kasur dan telah dipasangkan gelang identitas pasien.


Perawat UGD pun menghampiri,


" Dokternya sedang dalam perjalanan, kita sekarang ke ruang bersalin "


Perawat mendorong kursi roda menuju ruang bersalin di lantai 2 rumah sakit tersebut. Ibu Shafa mengikuti dari belakang, sedangkan Daffa mengurus administrasi terlebih dahulu, sebelum ia ikut naik ke lantai dua.


Sebelum masuk ke dalam ruang bersalin, bidan yang berjaga memeriksa Shafa dan membantunya mengganti pakaian.


Shafa memejamkan matanya menahan sakit, istighfar tak henti dari mulutnya. Tak lama, Daffa yang telah memakai mantel rumah sakit lengkap pun menghampiri di ruang bersalin dan menggenggam erat tangan Shafa.


" Masih pembukaan 5, biasanya kalau anak pertama prosesnya lebih lama " ucap Bidan yang menangani Shafa.


" Dokternya belum datang?? " tanya Daffa.


" Belum, mungkin masih dalam perjalanan "


Melihat Shafa yang kesakitan, membuat Daffa tak tega menyaksikannya. Rasa hatinya ingin memindahkan rasa sakit yang Shafa rasakan kepada dirinya.


" Anda bisa naik ke bed, lalu biarkan istri Anda bersandar pada badan Anda " ucap bidan yang merasakan kekhawatiran Daffa.


Bidan membantu Shafa untuk duduk, lalu Daffa pun naik ke atas bed dan badannya menjadi sandaran bagi punggung Shafa.


Bidan lalu memberikan Shafa minuman teh hangat.


Daffa membimbing Shafa untuk mengatur nafasnya. Ketika kontraksi datang kembali, Shafa pun meremas tangan Daffa dengan kencang. Air mata menetes dari mata Daffa, sambil terus bibirnya mengeluarkan istighfar.


Pukul 3.30, dokter Fatimah, merupakan obgyn keturunan Arab yang menangani Shafa akhirnya datang.


" Bagaimana Mrs. Shafa?? saya periksa bukaannya dulu yaa "


" Ok, sudah bukaan 6 yaa. Sudah minum?? "


" Sudah Dok, tadi diberikan teh hangat " jawab Daffa.

__ADS_1


" Baik, kita tunggu yaaa, atur nafas yaa. Tarik, tahan dan hembuskan. Jika kontraksi kembali, lakukan sebisanya saja yaa. Rileks yaaa, badannya jangan kaku "


Seorang perawat masuk ke ruangan, membawa sandwich dan susu.


" Pak, Bu, silahkan sarapan dulu "


" Ayo sarapan, biar ada tenaga untuk mengejan " ucap dr. Fatimah.


" Syukron, Dok " jawab Daffa.


" Yang minum susunya dulu atau mau sandwich?? "


" Susunya dulu aja Bang "


Daffa membantu memegang gelas, hingga Shafa menghabiskan susunya.


Tak lama berselang, kontraksi datang kembali. Kontraksi yang cukup hebat hingga Shafa nyaris berteriak.


Dr. Fatimah pun memeriksa kembali,


" Sudah mulai maju, sudah bukaan ke-7. Sedikit-sedikit dicoba makan sandwichnya, yaa "


Shafa mengangguk, lalu Daffa menyuapi Shafa. Perjuangan diantara sakit dan harus mengumpulkan tenaga membuat Shafa memaksakan dirinya menghabiskan 1 potong sandwichnya.


" 1 dulu Bang, aku ga kuaaaatt.... aaaaahhh!! " kontraksi pun datang kembali.


Daffa kembali menjadi sandaran punggung Shafa. Ia menghapus keringat dari pelipis Shafa. Di ruangan yang dingin ini, dikarenakan sakit yang hebat, Shafa banyak mengeluarkan keringat, hingga punggungnya pun basah.


Bisa memberikan handuk hangat untuk membasuh wajah Shafa, agar lebih segar.


Di ruang tunggu keluarga, uncle David datang bersama Aliyah menemui ibu Shafa yang duduk sendiri.


" Assalamu'alaikum " sapa Aliyah.


" Wa'alikumsalam "


" Oo, maaf saya tidak mengenali kalian. Saya ibunya Shafa "


" Tidak masalah. Bagaimana Shafa?? " tanya uncle David.


" Tadi perawat mengatakan sudah bukaan keenam. Ini anak pertama, biasanya lama prosesnya "


" Aku jadi deg-degan nunggu Shafa melahirkan " ucap Aliyah.


" Kita bantu doa saja dari sini, semoga Shafa dan bayinya nanti sehat semua " ucap uncle David.


" Aaamiinnn "


Tak lama seorang wanita dari bagian gizi datang membawakan sandwich dan teh panas untuk mereka bertiga.


" Silahkan "


" Terima kasih "


Aliyah mengambilnya dan menawarkannya ke ibu Shafa.


" Nanti saja, terima kasih. Saya ga bisa makan kalau lagi situasi seperti ini. Silahkan kalian saja duluan "


" Sama seperti ibunya Aliyah. Sepertinya rata-rata wanita itu sama yaa, mereka tidak dapat menikmati sesuatu jika anak atau anggota keluarganya ada yang sakit atau terkenal musibah "


" Yaa begitulah kami "


Jam menunjukkan pukul 5.30, Shafa sudah mulai refleks mengejan.


" Ok, bukaan sudah lengkap, Mrs. Shafa, ikuti aba-aba dari saya yaa, jangan mengejan dulu. Saya tahu itu refleks, tetapi tolong Anda tahan dulu "

__ADS_1


Shafa meremas tangan Daffa lebih kuat, ia pun mengerang kesakitan, dr. Fatimah pun melakukan prosedur episiotomi pada Shafa.


Lalu,


" Ikuti aba-aba saya yaa. Tarik nafas, push!! "


Shafa sekuat tenaga mengejan.


" Ok, stop. Tarik nafas kembali.... push!!! "


" Ok, kepalanya sudah mulai terlihat. Saya minta satu kali dorongan kuat yaa, sekali lagi in syaa Allah bayinya keluar "


" Come on, honey, we can do it!! you can do it!! " Daffa menyemangati Shafa.


" Bismillah!!! " ucap Shafa sambil mengejan dengan kuat.


" Yeah, great... push more!! don't stop the baby's head is coming out now!!


Akhirnya dengan kekuatan yang tersisa, Shafa mengejan untuk terakhir kalinya dan


" Alhamdulillah, barakallah fiikum, it's a boy "


Dr. Fatimah meletakkan bayinya di dada Shafa sebelum dibersihkan.


Daffa dan Shafa tersenyum bahagia, air mata mengalir dari keduanya.


Daffa pun mengucapkan do'a yang diajarkan Rasulullah untuk menyambut kelahiran putra pertamanya itu.


Setelah prosesnya selesai semua, Shafa dipindahkan ke ruang observasi, sebelum nantinya dipindahkan ke ruang rawat.


" Yang, Abang keluar sebentar, ngabarin ibu, kayaknya uncle David sama Aliyah juga sudah datang "


" Iya Bang "


Daffa berjalan menuju ruang tunggu keluarga.


Ibu Shafa, uncle David dan Aliyah segera berdiri melihat Daffa keluar dari ruang bersalin.


" Gimana?? "


" Alhamdulillah, it's a boy " jawab Daffa sambil memperlihatkan fotonya yang sempat ia ambil ketika si bayi di letakkan di atas dada Shafa.


" Barakallah fiikum " ucap mereka.


Dengan mata berkaca-kaca,


" Shafa gimana?? " ibu Shafa bertanya.


" Alhamdulillah, dia hebat, kuat, Bu!! sekarang lagi diobservasi sebelum pindah ke ruang perawatan. Bayinya juga masih diobservasi "


" Alhamdulillah "


Tak lama, box bayi didorong keluar oleh perawat ruang bersalin menuju ruang perawatan bayi.


" Miss, maaf saya lihat sebentar bayi saya, boleh?? "


" Silahkan Pak "


Daffa pun kembali mengambil foto putra pertamanya itu. Ibu Shafa, uncle David dan Aliyah juga ikut berbahagia. Aliyah pun ikut mengambil foto putra Daffa.


" He's soo cute!! "


" Eh, siapa namanya?? " tanya Aliyah.


" Hmm masih belum fix, karena kita nyiapin beberapa nama laki-laki dan perempuan, nanti rapat dulu sama Nyonyah " jawab Daffa.

__ADS_1


" Yaaa jadi masih nunggu launching nama resminya dong?? "


" Sabar Li!! "


__ADS_2