
Kota London diguyur hujan semenjak Subuh, membuat udara semakin dingin di penghujung musim gugur.
Grandma duduk termenung di depan jendela kamarnya, memandangi hujan yang turun ke bumi.
Uncle David sibuk mengkoordinasikan pemakaman grandpa dengan sanak saudaranya.
Pukul 06.00 pagi, katering untuk sarapan telah tiba, Aunt Sarah dan Shafa pun mengaturnya di meja makan.
Pagi itu, mereka sarapan dalam keheningan. Daffa masih terdiam. Wajahnya tidak segar, karena hampir semalaman ia terjaga.
Setelah sarapan, Daffa menuju laci meja kamarnya. Ia teringat, ada sebuah surat dari grandpa yang diberikan kepadanya, beberapa pekan sebelumnya.
Pada amplopnya tertulis, ' bukalah ketika aku tiada '. Dengan tangan bergetar, Daffa membuka surat dari grandpa dan membacanya perlahan.
My dear Daffa Fariz, my second grandson.
Akhirnya kamu buka juga surat dari grandpa, yang berarti grandpa sudah tiada. Ini bukan firasat atau apapun, ini hanyalah persiapan grandpa saja.
Daf, grandpa menyayangimu, sangat menyayangimu, grandpa ingin melihat mu terus bahagia bersama Shafa, cucu menantu grandpa yang juga sangat grandpa sayangi.
Kamu telah banyak berubah, sekarang kamu telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang bertanggungjawab. Grandpa dapat melihatnya dari laporan kinerja mu di kantor, dari bagaimana kamu memimpin keluarga mu, grandpa bangga memilikimu sebagai cucu grandpa.
Ada satu keinginan grandpa yang sangat ingin grandpa wujudkan setelah grandpa tiada, yaitu menjaga hubungan baik dengan seluruh karyawan di kantor, terutama para office boy, cleaning servis dan keamanan. Mereka lah yang sering kita abaikan keberadaannya, tetapi mereka telah banyak membantu dan mempermudah pekerjaan kita.
Tolong, sesekali datanglah ke Ahmad's Kitchen. Grandpa tahu kamu beberapa kali memesan makanan disana dan terkadang juga makan di tempat. Tapi kali ini, datanglah sebagai teman dan saudara untuk mereka, dengarkan cerita mereka, berbagilah dengan mereka. Kamu akan menemukan banyak cerita dari sisi dunia yang lain, yang berbeda dari dunia mu sehingga kamu akan mendapatkan pelajaran darinya.
Ingat peternakan yang dulu kita kunjungi sewaktu kamu kecil??
Cobalah ajak keluargamu ke sana. Beberapa tahun yang lalu mereka membuka penginapan, bagi orang-orang yang ingin menikmati kehidupan di peternakan sebagai liburan. Ajaklah Danesh bermain dengan binatang di sana. Kalian juga bisa belajar berkuda, grandpa tinggalkan nomor kontaknya di bawah ini.
Luangkan waktumu untuk terus berbagi dan belajar. Jangan tinggalkan kajian rutin di Masjid, karena kajian itu adalah makanan untuk hatimu.
Daffa, cucu kesayangan kakek, kamu dan Daniel adalah generasi ketiga dari perusahaan McDermott. Kalian jaga dan kembangkan untuk kepentingan umat.
Jaga Granny yaa, katakan padanya kalau Granny selalu menjadi cinta pertama dan terakhir grandpa.
Daffa, always remember that I love you so much.
Semoga kita berkumpul kembali di jannah Nya.
Love, Grandpa
Ia melipat kertas surat itu dengan tangis tersedu-sedu. Air mata terus mengalir membasahi pipi dan menetes membasahi pakaiannya.
" Love you, grandpa, love you so much!! I've already missed you.
Tak lama Shafa masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Daffa sedang menangis tersedu. Tanpa suara, Shafa memeluk Daffa. Pelukan Shafa membuat tangis Daffa menjadi, badannya pun berguncang karena tangisnya.
Shafa hanya diam tak bersuara, ia tidak menyangka akan kedekatan Daffa dengan grandpa yang begitu kuat, sehingga membuatnya begitu terpukul dengan kematian grandpa.
Pukul 07.00 kerabat dan teman mulai berdatangan disusul dengan mobil jenazah yang akan membawa grandpa ke peristirahatan terakhirnya.
Shalat jenazah pun dimulai, dengan uncle David sebagai imamnya. Daffa pun berdiri di belakang uncle David.
Setelah selesai, uncle David berlutut dan membisikkan kata-kata perpisahan di telinga grandpa dan mencium pipinya.
" Yah, kita berangkat sekarang yaa. I love you "
Daffa terpaku, tak berkata-kata, tetapi air matanya mengalir membasahi pipinya.
" Let's go " ucap uncle David memberikan aba-aba untuk membawa grandpa ke dalam mobil jenazah.
Uncle David dibantu Daffa, mengangkat jenazah grandpa masuk ke dalam keranda.
__ADS_1
Uncle David, Daffa dan 2 kerabat lainnya membantu mengangkat keranda untuk dimasukkan ke dalam mobil jenazah.
Setelah semua siap, dimulailah iring-iringan menuju ke pemakaman khusus muslim, Eternal Garden yang terletak di utara London.
Rombongan kendaraan di mulai dengan motor polisi yang mengawal, dilanjutkan dengan mobil jenazah lalu kendaraan uncle David dan keluarga, sahabat yang lain.
Mobil Daffa berada di belakang mobil uncle David, ia menyetir dalam diam. Masih tidak ada satu kata pun terucap darinya.
Shafa pun ikut terdiam, ia tidak berani membuka suara. Ia memilih untuk membiarkan Daffa seperti itu.
Iring-iringan kendaraannya sangat tenang, hanya terdengar suara sirene mobil jenazah. Shafa pun melihat perbedaan yang sangat signifikan dengan iring-iringan jenazah di Indonesia, yang biasa dibuka oleh sekumpulan motor dengan membawa bendera putih. Mereka mengencangkan suara gas motornya atau klakson tanpa henti agar terdengar oleh kendaraan di depannya, agar cepat menyingkir dari tengah jalan.
Sedangkan di London, semua kendaraan otomatis meminggirkan kendaraannya untuk memberi jalan bagi rombongan mobil jenazah. Semuanya tertib dan teratur. Tidak ada suara klakson, tidak ada suara dengungan motor.
Setelah 1 jam berkendara dengan kecepatan sedang, sampailah mereka di pemakaman muslim, Eternal Garden.
Mobil jenazah pun berhenti tak jauh dari lokasi liang lahat.
Seperti saat di rumah, uncle David, Daffa beserta kerabat mengangkat keranda menuju liang lahat yang kemudian diletakkan di sampingnya.
Uncle David dan Daffa juga 2 kerabat lainnya turun terlebih dahulu, untuk menerima jenazah grandpa.
Setelah memposisikan jenazah sesuai syariah, mereka pun segera naik ke atas.
Prosesi pemakaman disertai doa pun berlangsung dengan khidmat. Papan-papan telah terpasang di atas jenazah, tanah pun mulai menutupi liang lahat.
" Good bye grandpa, I love you, see you "
" Ayah, selamat jalan, hope we'll meet again in jannah. I love you "
Kalimat-kalimat yang diucapkan lirih oleh Daffa dan uncle David mengakhiri acara pemakaman pagi itu.
Satu persatu kerabat dan teman mulai meninggalkan area pemakaman.
Granny masih menatap tanah yang masih basah di depannya.
" Dave, let's go home " ucap Granny setelahnya.
Uncle David lalu menggandeng tangan ibunya menuju kendaraan.
Daffa menengadahkan kepalanya menatap langit yang cerah.
Lalu ia berbalik dan
" Uncle Dave, aku mau jalan-jalan dulu, nanti agak siangan baru pulang, titip Danish di rumah yaa "
" Ok, hati-hati "
Setelah mobil uncle David meninggalkan pemakaman, Daffa memeluk Shafa dan berbisik,
" Maafin Abang, semalaman sudah seperti zombie "
Shafa pun membalas pelukan Daffa.
" Ga papa, aku paham kok Bang "
" Thank you for your understanding "
Lalu Daffa menggandeng tangan Shafa menuju mobilnya.
Ia pun membuka pintu mobil untuk Shafa dan menutupnya kembali sebelum ia menaikinya.
" Kita jalan-jalan sebentar yaa " ucap Daffa sambil menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
" Kemana Bang?? "
" Nanti Sayang juga akan tahu "
Daffa mulai melajukan mobilnya ke pusat kota.
" Bang, aku ga tahu kalau Abang ternyata dekat banget sama grandpa "
" Hmmm kalau dibilang dekat banget sih enggak, tapi lumayan dekat. Dulu sewaktu masih sekolah, disaat liburan panjang, grandpa selalu ngajak Abang sama Bang Daniel ke tempat-tempat yang ga biasa, bukan ke taman bermain atau tempat perbelanjaan. Tapi ke desa-desa yang kehidupannya jauh lebih sederhana daripada di tengah kota. Kita ke peternakan sapi dan domba yang dikelola oleh muslim setempat. Nanti pulangnya, grandpa akan membeli dagingnya dan susu, yang nantinya akan diberikan ke masjid untuk disalurkan. Terkadang grandpa mengajak ke tempat yang beberapa tahun yang sebelumnya pernah kita kunjungi untuk melihat perubahannya, apakah mengalami kemajuan, tetap atau bahkan kemunduran. Ada sebuah desa, Abang sudah lupa namanya, tapi desa itu dulunya cukup maju, tetapi entah kenapa, beberapa tahun yang lalu, sudah menjadi desa mati, tidak ada kehidupan sama sekali. Ditinggalkan begitu saja oleh penduduknya. Disitu grandpa memberikan pelajaran, bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Apakah akan selalu kaya atau sebaliknya. Apakah akan selalu sehat atau tiba-tiba sakit, tidak ada yang tahu. Itu semua rahasia Allah. Untuk itu kita harus memiliki tabungan akhirat sebanyak-banyaknya, tabungan yang tidak terlihat, tidak kita rasakan pada saat di dunia, tetapi akan menyelamatkan kita di akhirat kelak "
" Dengan kekayaan grandpa yang ntah berapa juta pounds, bisa saja grandpa membeli pesawat pribadi, mobil super mewah keluaran terbaru, atau membeli apa saja yang ia inginkan. Tetapi tidak, grandpa tidak mau menghamburkan uang yang ia miliki untuk sesuatu yang menurut grandpa tidak ada manfaatnya. Ia lebih menyukai menggunakan untuk kepentingan umat. Tabungan akhirat kata grandpa "
" Jadi ingat waktu SMP, abang biasa naik sepeda atau angkot ke sekolah, padahal bisa pakai supir untuk antar jemput kan?? " tanya Shafa.
" Yaa itulah, ajaran grandpa ke ayah dan kemudian diturunkan ke cucunya. Jangan manjakan anak dengan fasilitas. Jadi yaa bersekolah di sekolah negeri, naik angkot atau sepeda itu sudah pasti " jawab Daffa sambil tersenyum mengingat masa SD dan SMPnya di Jakarta.
Daffa mengarahkan kendaraannya ke daerah perkantoran.
" Kita mau ke kantor? ? " tanya Shafa.
Daffa hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Shafa.
Daffa menghentikan kendaraannya di depan restoran yang menjual masakan khas Timur Tengah dan Asia yang terletak di depan gedung kantor McDermott Finance.
" Yuk "
" Kan belum buka Bang " ucap Shafa setelah melihat tanda 'closed' di pintunya.
Daffa hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
Daffa kemudian mengetuk pintu restoran tersebut.
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam " jawab salah seorang pegawai restoran yang sedang mengepel lantai dan segera membukakan pintu
" Maaf, kami belum buka "
" Saya tahu, tetapi saya tidak mau makan disini, saya.. . . "
" Sebentar, Anda cucunya Tuan Daryush ?? "
" Iya, saya Daffa McDermott "
Pria tersebut lalu memeluk Daffa sambil menangis.
" He's a very good man " ucapnya berulang-ulang.
" Mari silahkan masuk "
Beberapa pegawai restoran yang berada di dapur pun keluar, untuk mencari tahu ada apa gerangan yang terjadi.
" He's Mr. Daryush McDermott grandson " pria tadi memperkenalkan Daffa ke rekan kerjanya.
Satu persatu, mereka bergantian menjabat tangan Daffa dan kemudian memeluknya.
Mereka lalu mempersilahkan Daffa dan Shafa untuk duduk.
" Tadi, setelah menghadiri pemakaman kakek Anda, kami segera kembali ke restoran, untuk mempersiapkan makan siang Anda sekeluarga"
" Terima kasih, tapi saya ke sini bukan untuk itu. Saya ingin memberikan ucapan terimakasih kepada kalian selama ini " ucap Daffa sambil membungkukkan badannya.
" Grandpa meninggalkan cek ini untuk kalian semua, gunakanlah sebaik mungkin " ucap Daffa sambil menyerahkan cek sebesar 10 ribu pounds.
__ADS_1
Ahmad, manajer sekaligus pemilik restoran dengan mata berkaca-kaca dan tangan yang bergetar, menerima cek dari grandpa.
" Selama ini bantuan Mr. McDermott sudah lebih dari cukup, disaat beliau tiada pun masih tetap membantu kami. Rumah makan ini, telah banyak menerima bantuan dari beliau. Jazakumullah khairan katsiro "