
Keesokan harinya setelah sarapan,
" Tadi Bapak sudah WA Lik Luthfi, kalau kamu mau ke Hutan Pinus. Katanya pakai saja mobilnya selama kamu disini dari pada harus rental. Jadi kamu pakai saja mobilnya "
" Bapak, ibu, ikut ke Hutan Pinus ga??" tanya Shafa.
" Ga lah, bapak, ibu mau santai di hotel aja. Yaaa kalau bosan bisa jalan-jalan di sekitar sini, gampang lah. Kamu nikmati liburan singkat ini, sebelum kembali ke London. Biar badannya refresh kembali "
Shafa pun memeluk kedua orang tuanya, sebagai tanda syukurnya.
" Maturnuwun sanget nggih Pak, Bu "
" Yowes, berangkatlah, nanti kesiangan "
" Inggih Pak, Bu. Assalamu'alaikum "
Mereka bertiga pun memulai perjalanan mereka ke Hutan Pinus, yang terletak di daerah Bantul.
" Google map please " pinta Daffa.
" Sebentar Bang, aku lagi nyari. Hmmm ternyata hutan pinus itu ada 3 lho. Semuanya di Bantul "
" Yang paling bagus viewnya yang mana?? " tanya Daffa.
" Abang lihat sendiri aja " jawab Shafa sambil memberikan HPnya.
Daffa pun melihat beberapa pilihan lokasi hutan pinus.
" Kita ke hutan pinus Mangunan aja, 27 km dari sini. Reviewnya yang paling banyak "
" Ok Bang!! tancaap!! "
" Let's go!! "
Daffa dengan berbekal google map melajukan kendaraannya menuju Bantul.
" Beda ya Yang, view yang kemarin sama yang sekarang?? "
" Maksudnya?? "
" Kemarin jalanannya hanya cukup untuk 2 mobil dan ga rata dan sekitarnya masih ramai, yaa tetap nuansa pinggiran kota, tapi masih ramai kendaraan "
" Sekarang jalanannya bagus, lebar tapi sepi, seperti arah keluar kota "
" Iya, sepi ga banyak kendaraan " jawab Shafa.
Setelah hampir 1 jam berkendara, sampailah mereka di Hutan Pinus Mangunan.
Dikarenakan libur akhir tahun, lokasi wisata di Jogja ramai diserbu oleh wisatawan lokal maupun asing.
Bis-bis pariwisata telah berjejer rapi di parkiran, kendaraan pribadi pun tak kalah jumlahnya.
" Review banyak, artinya ramai nih Bang "
" Mau ganti lokasi?? "
__ADS_1
" Kemana?? paling semua sama ramainya. Sudahlah, kan sudah sampai disini, kita turun aja "
" Yowes, Abang cari parkiran dulu "
Setelah memarkirkan kendaraannya, mereka segera membeli tiket masuk Hutan Pinus yang hanya sebesar Rp. 3000,- / kendaraan roda 4.
Dengan menggendong Danesh di punggungnya menggunakan gendongan seperti ransel, Daffa dan Shafa berjalan menyusuri pepohonan di Hutan Pinus.
" Pohonnya tinggi banget!! " ucap Daffa.
" Eh Bang, sebentar "
Shafa mengeluarkan kameranya dan mulai beraksi. Ia mengambil foto pepohonan dari bawah.
" Yuk, lanjut Bang "
Mereka kembali berjalan menyusuri pepohonan, sinar matahari yang menyinari dari sela-sela batang pohon membuat Shafa kembali beraksi dengan kameranya.
" Wah, sepertinya oleh-oleh dari Jogja, bisa menghasilkan nih!! " ucap Daffa setelah melihat hasil
" Sok lah kalau mau dikirim lagi, aku terima transferannya aja "
" Bang, aku foto siluet Abang yaa, keren nih sambil gendong Danesh "
" Siap!! "
Shafa mengambil foto siluet Daffa yang mengarah ke matahari. Lalu ke arah pepohonan dari samping Daffa.
" MasyaAllah, it's just like a pro!! "
" Belajar di youtube juga Bang, di FB juga banyak tuh fotografer-fotografer yang membagikan teknik memotret yang ga biasa "
" Walaupun banyak, tetapi kalau ga punya talent alami seperti ini, ga mudah untuk belajar hanya dari melihat video " ucap Daffa.
" Sudah biasa sih, dari jaman SMA kan Bang "
" Yaa itu, Sayang punya photography natural talent "
" Yoweslah, kita lanjut yuk. Ke pinggir situ Bang!! " tunjuk Shafa ke salah satu tebing yang juga menjadi spot andalan berfoto.
" Hati-hati Yang "
" MasyaAllah, look at the river below " tunjuk Shafa ke bawah.
Daffa memegang tangan Shafa,
" Yang, jangan terlalu di pinggir "
Shafa kemudian melangkahkan kakinya ke belakang.
" Bang, aku mau ambil foto sungainya yaa, ga di pinggir kok. Di sana tuh, yang ada pagar pengamannya "
Daffa mengangguk dan mengikuti Shafa dari belakang.
__ADS_1
" Dad, I'm thirsty " ucap Danesh.
" Sebentar " jawab Daffa.
" Yang, tolong sebentar "
" Kenapa Bang "
" Danesh haus "
" Oo sebentar "
Shafa lalu mengambil botol air mineral dari dalam ranselnya lalu memberikan ke Danesh.
" Bismillah " ucap Shafa.
" Danesh lapar ga?? mau roti?? " tanya Shafa.
Danesh menjawab dengan menganggukan kepalanya.
" Bang, turunin Danesh aja. Sekalian Abang istirahat, berat lho "
Daffa pun melepaskan gendongannya dan menurunkan Danesh, lalu ia duduk di atas rerumputan sambil memandangi sungai dan pepohonan di bawah bukit.
" Bang, minum dulu "
Shafa memberikan botol minum dan roti kepada Daffa.
" Syukron "
" Afwan "
Shafa menghapus keringat yang menetes di pelipis Daffa dengan sapu tangan handuknya.
" Muka Abang merah banget, seperti kepiting rebus!! "
" Sayang juga, tuh pipinya merah " jawab Daffa sambil meletakkan tangannya di pipi Shafa.
" Pipinya anget " tambah Daffa.
" Jadi ingat sewaktu SMP dulu, waktu kita lari di taman jogging "
" Kenapa Bang?? "
" Waktu itu, pipi Sayang meraaaah banget. Hidung Sayang juga basah karena keringat. Gemes pingin Abang lap "
" Trus waktu kita upacara bendera, olahraga, kegiatan lapangan PMR, pipi Sayang pasti merah karena panas, trus hidungnya selalu berkeringat "
" Ish Abang!! dah detail ngeliatin aku dari dulu ??!! "
Daffa pun tertawa.
" Iya, kan Abang pernah bilang, kalau Abang sudah penasaran dari SD trus mulai suka sewaktu kita sekelas di SMP "
" Waaaa Abaaang diriku memang tidak tergantikan yaa?? " canda Shafa sambil tertawa.
__ADS_1
" Yup, there is nothing compares to you "