Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 77 Hutan Pinus


__ADS_3

Keesokan harinya setelah sarapan,


" Tadi Bapak sudah WA Lik Luthfi, kalau kamu mau ke Hutan Pinus. Katanya pakai saja mobilnya selama kamu disini dari pada harus rental. Jadi kamu pakai saja mobilnya "


" Bapak, ibu, ikut ke Hutan Pinus ga??" tanya Shafa.


" Ga lah, bapak, ibu mau santai di hotel aja. Yaaa kalau bosan bisa jalan-jalan di sekitar sini, gampang lah. Kamu nikmati liburan singkat ini, sebelum kembali ke London. Biar badannya refresh kembali "


Shafa pun memeluk kedua orang tuanya, sebagai tanda syukurnya.


" Maturnuwun sanget nggih Pak, Bu "


" Yowes, berangkatlah, nanti kesiangan "


" Inggih Pak, Bu. Assalamu'alaikum "


Mereka bertiga pun memulai perjalanan mereka ke Hutan Pinus, yang terletak di daerah Bantul.


" Google map please " pinta Daffa.


" Sebentar Bang, aku lagi nyari. Hmmm ternyata hutan pinus itu ada 3 lho. Semuanya di Bantul "


" Yang paling bagus viewnya yang mana?? " tanya Daffa.


" Abang lihat sendiri aja " jawab Shafa sambil memberikan HPnya.


Daffa pun melihat beberapa pilihan lokasi hutan pinus.


" Kita ke hutan pinus Mangunan aja, 27 km dari sini. Reviewnya yang paling banyak "


" Ok Bang!! tancaap!! "


" Let's go!! "


Daffa dengan berbekal google map melajukan kendaraannya menuju Bantul.


" Beda ya Yang, view yang kemarin sama yang sekarang?? "


" Maksudnya?? "


" Kemarin jalanannya hanya cukup untuk 2 mobil dan ga rata dan sekitarnya masih ramai, yaa tetap nuansa pinggiran kota, tapi masih ramai kendaraan "


" Sekarang jalanannya bagus, lebar tapi sepi, seperti arah keluar kota "


" Iya, sepi ga banyak kendaraan " jawab Shafa.


Setelah hampir 1 jam berkendara, sampailah mereka di Hutan Pinus Mangunan.


Dikarenakan libur akhir tahun, lokasi wisata di Jogja ramai diserbu oleh wisatawan lokal maupun asing.


Bis-bis pariwisata telah berjejer rapi di parkiran, kendaraan pribadi pun tak kalah jumlahnya.


" Review banyak, artinya ramai nih Bang "


" Mau ganti lokasi?? "

__ADS_1


" Kemana?? paling semua sama ramainya. Sudahlah, kan sudah sampai disini, kita turun aja "


" Yowes, Abang cari parkiran dulu "


Setelah memarkirkan kendaraannya, mereka segera membeli tiket masuk Hutan Pinus yang hanya sebesar Rp. 3000,- / kendaraan roda 4.


Dengan menggendong Danesh di punggungnya menggunakan gendongan seperti ransel, Daffa dan Shafa berjalan menyusuri pepohonan di Hutan Pinus.


" Pohonnya tinggi banget!! " ucap Daffa.


" Eh Bang, sebentar "


Shafa mengeluarkan kameranya dan mulai beraksi. Ia mengambil foto pepohonan dari bawah.



" Yuk, lanjut Bang "


Mereka kembali berjalan menyusuri pepohonan, sinar matahari yang menyinari dari sela-sela batang pohon membuat Shafa kembali beraksi dengan kameranya.


" Wah, sepertinya oleh-oleh dari Jogja, bisa menghasilkan nih!! " ucap Daffa setelah melihat hasil


" Sok lah kalau mau dikirim lagi, aku terima transferannya aja "


" Bang, aku foto siluet Abang yaa, keren nih sambil gendong Danesh "


" Siap!! "


Shafa mengambil foto siluet Daffa yang mengarah ke matahari. Lalu ke arah pepohonan dari samping Daffa.


" MasyaAllah, it's just like a pro!! "


" Belajar di youtube juga Bang, di FB juga banyak tuh fotografer-fotografer yang membagikan teknik memotret yang ga biasa "


" Walaupun banyak, tetapi kalau ga punya talent alami seperti ini, ga mudah untuk belajar hanya dari melihat video " ucap Daffa.


" Sudah biasa sih, dari jaman SMA kan Bang "


" Yaa itu, Sayang punya photography natural talent "


" Yoweslah, kita lanjut yuk. Ke pinggir situ Bang!! " tunjuk Shafa ke salah satu tebing yang juga menjadi spot andalan berfoto.


" Hati-hati Yang "


" MasyaAllah, look at the river below " tunjuk Shafa ke bawah.


Daffa memegang tangan Shafa,


" Yang, jangan terlalu di pinggir "


Shafa kemudian melangkahkan kakinya ke belakang.


" Bang, aku mau ambil foto sungainya yaa, ga di pinggir kok. Di sana tuh, yang ada pagar pengamannya "


Daffa mengangguk dan mengikuti Shafa dari belakang.

__ADS_1


" Dad, I'm thirsty " ucap Danesh.


" Sebentar " jawab Daffa.


" Yang, tolong sebentar "


" Kenapa Bang "


" Danesh haus "


" Oo sebentar "


Shafa lalu mengambil botol air mineral dari dalam ranselnya lalu memberikan ke Danesh.


" Bismillah " ucap Shafa.


" Danesh lapar ga?? mau roti?? " tanya Shafa.


Danesh menjawab dengan menganggukan kepalanya.


" Bang, turunin Danesh aja. Sekalian Abang istirahat, berat lho "


Daffa pun melepaskan gendongannya dan menurunkan Danesh, lalu ia duduk di atas rerumputan sambil memandangi sungai dan pepohonan di bawah bukit.


" Bang, minum dulu "


Shafa memberikan botol minum dan roti kepada Daffa.


" Syukron "


" Afwan "


Shafa menghapus keringat yang menetes di pelipis Daffa dengan sapu tangan handuknya.


" Muka Abang merah banget, seperti kepiting rebus!! "


" Sayang juga, tuh pipinya merah " jawab Daffa sambil meletakkan tangannya di pipi Shafa.


" Pipinya anget " tambah Daffa.


" Jadi ingat sewaktu SMP dulu, waktu kita lari di taman jogging "


" Kenapa Bang?? "


" Waktu itu, pipi Sayang meraaaah banget. Hidung Sayang juga basah karena keringat. Gemes pingin Abang lap "


" Trus waktu kita upacara bendera, olahraga, kegiatan lapangan PMR, pipi Sayang pasti merah karena panas, trus hidungnya selalu berkeringat "


" Ish Abang!! dah detail ngeliatin aku dari dulu ??!! "


Daffa pun tertawa.


" Iya, kan Abang pernah bilang, kalau Abang sudah penasaran dari SD trus mulai suka sewaktu kita sekelas di SMP "


" Waaaa Abaaang diriku memang tidak tergantikan yaa?? " canda Shafa sambil tertawa.

__ADS_1


" Yup, there is nothing compares to you "


__ADS_2