Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 25


__ADS_3

Resepsi pernikahan Daffa dan Shafa akhirnya berakhir, tepat pada pukul 22.00 WIB, semua teman-teman mereka berdua telah berpamitan pulang. Menyisakan beberapa tamu dari Daniel dan Syifa.


Daffa sedang asyik memandangi Shafa yang sedang menghabiskan makan malamnya.


" Bang, daripada ngeliatin aku makan, bantuin habisin yuk, aku dah mulai kenyang nih! "


" Sepiring dan sesendok berdua nih?? " tanya Daffa.


" Ho oh, nih !! " Shafa memberikan sendoknya kepada Daffa.


Shafa pun berbagi piring dengan Daffa.


" Yang, Aaaaa " Daffa menyuapi Shafa.


" Dikit aja Bang "


Setelah tinggal satu sendok,


" Nih terakhir " Daffa memberikan suapan terakhir untuk Shafa.


" Alhamdulillah.... " ucap Daffa dan Shafa.


" Aku ngantuk... capek nih kaki pegeeeelll!! " Shafa memegangi betisnya.


" Hmm kita pulang duluan yuk!! "


" Emang bisa?? "


" Bisa lah. Ntar Abang bilang dulu ke ayah "


Daffa kemudian berjalan menuju meja ayahnya.


" Yah, aku balik sekarang ya, Shafa dah kecapean, katanya kakinya pegel "


" Eh iya, dah kamu pulang duluan aja " jawab Pak Dylan.


" Daf, kamu pulang sama Pak Agung, nanti minta Pak Agung langsung kembali kesini lagi ya" ucap ayah Shafa.


" Baik Pak, makasih. Kalau gitu Daffa pulang sekarang ya "


Daffa menghampiri Shafa,


" Yang, ayok pulang sekarang "


Syafiq telah menitipkan kotak kado Shafa ke Pak Agung.


" Shaf, kadonya aku kasih ke Pak Agung, ada di mobil bapak ya " pesan Syafiq.


" Ooo maturnuwun Mas, aku pulang dulu ya "


" Iya, aku bali nunggu Bapak sik "


" Yowes Mas, Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam "


Daffa dan Shafa lalu mereka berpamitan ke keluarga mereka yang masih berada di area makan.


Setelah itu mereka menuju teras KKG dan supir ayah Shafa telah menunggu di depan.


" Pak Agung, pulang sekarang ya " pinta Daffa sambil membuka pintu mobil.


" Baik Mas "


Pak Agung kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah Shafa.


Kurang dari 10 menit, mereka telah sampai di rumah Shafa. Daffa segera keluar dari mobil dan,


" Pak Agung, langsung ke KKG lagi yaa, tunggu Ayah di depan "


" Baik Mas "


" Makasih Pak "


Pintu gerbang pun dibuka dari dalam.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, baru aja mau aku pencet belnya "


" Wa'alaikumsalam, saya kan nungguin di garasi, mbak. Begitu dengar ada suara mobil yaa langsung saya buka pintunya "


" Ada siapa aja yang di dalam?? " tanya Shafa sambil berjalan masuk.


" Eyang sama bulek Susi di kamar, sudah istirahat kayaknya "


" Makasih Bi, aku langsung ke kamar yaa. Oiya,minta tolong bawain minum ke atas ya Bi"


" Sudah saya taruh minuman buat mbak sama mas di kamar, ada cemilan juga "


" Eh makasih Bi"


" Yuk Bang "


Shafa mengajak Daffa ke lantai atas tempat kamarnya berada.


Sampai di kamarnya, Shafa segera menyalakan AC dan meluruskan kakinya di tempat tidur.


Daffa membuka koper yang berisikan pakaiannya, yang telah diantarkan oleh supir keluarganya setelah akad nikah.


" Yang, ga mandi dulu?? biar enak bisa langsung istirahat, mandi duluan aja "


" Mending Abang duluan, aku harus lepasin jilbabnya satu-satu, trus bersihin muka juga "jawab Shafa sambil berjalan ke arah meja rias dan mulai melepaskan kain jilbabnya.


Daffa membeku melihat Shafa yang mulai melepaskan kain penutup kepalanya, jantungnya berdegup kencang.


" Napa Bang, dah mandi duluan gih!! " lanjut Shafa lagi.


" Ga pa-pa, ya udah Abang mandi duluan yaa"


" Oiya, nanti shalat Isya jama'ah ya, Abang tungguin "


" Ok!! "


Daffa segera masuk kamar mandi yang terletak di dalam kamar Shafa. Shafa pun melepaskan jilbabnya kemudian membersihkan wajahnya, setelah itu ia mencoba mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahnya, tetapi ternyata tidak mudah melepaskan resleting Jepang yang berada di belakang gaun pengantinnya, sehingga ia menunggu Daffa selesai mandi untuk membantunya. Walaupun sebenarnya Shafa malu untuk meminta bantuan Daffa.


Sambil menunggu Daffa, ia melepaskan ikatan rambutnya dan menyisirnya.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi dibuka, Daffa telah selesai mandi.


" Iya sebentar " jawab Daffa sambil menjemur handuknya.


Daffa menghampiri Shafa, dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka resleting gaun pengantin Shafa.


" Separuh aja ya, nanti Sayang lanjut sendiri di kamar mandi " ucap Daffa dengan tangan gemetar untuk menghilangkan kegugupannya.


" Ok, makasih Bang!! "


Shafa bergegas masuk ke kamar mandi, lalu ia berdiam sesaat untuk menenangkan denyut jantungnya yang juga berdegup kencang.


Sembari menunggu Shafa mandi, Daffa melihat-lihat kamar Shafa yang minimalis, semua bernuansa putih dan biru pastel. Perlengkapan gambar Shafa tersusun rapi di rak kaca yang terletak di samping meja gambar. Beberapa hasil desain selama kuliahnya diletakkan dalam figura yang tergantung di dinding kamar.


Di meja rias tak terlihat perlengkapan make-up, hanya terdapat perlengkapan perawatan wajah. Mata Daffa beralih ke sebuah lemari kaca, yang terdapat album-album foto dan buku- buku koleksi Shafa. Dari buku agama, komik, novel remaja hingga buku tentang desain interior ataupun fashion memenuhi rak buku yang bertingkat 3 itu.


Daffa ingin melihat album foto Shafa, tetapi ia akan meminta izin Shafa terlebih dahulu. Kemudian ia menuju lemari pakaian Shafa, Daffa cukup terkejut karena pakaian Shafa tak banyak, bahkan menurutnya cukup sedikit untuk ukuran seorang wanita dari keluarga yang bisa dikatakan cukup kaya. Tidak terlihat koleksi perhiasan ataupun jam tangan dan lainnya.


Lalu Daffa duduk di depan meja komputer yang terletak di samping meja belajar, kamar Shafa memang cukup besar sekitar 5x8m, termasuk kamar mandi dalam.


" Yang, Abang nyalain komputernya ya?? " tanya Daffa.


" Iya, nyalain aja " jawab Shafa dari dalam kamar mandi.


Daffa pun menyalakan komputer milik Shafa. Awalnya Daffa ingin melihat foto-foto yang Shafa simpan dalam komputernya, tetapi ketika ia melihat folder presentasi TA, akhirnya Daffa memutuskan untuk melihat hasil TA Shafa.


Video presentasi berupa gambar kerja, gambar perspektif dan 3D, dengan durasi 15 menit, membuat Daffa takjub dengan hasil kerja Shafa yang tak pernah ia bayangkan.


Ketika Shafa keluar dari kamar mandi, ia melihat Daffa sedang melihat video presentasinya sehingga tak menyadari jika Shafa menghampirinya.


" Hmmm lihat apa niiiii??? "


Daffa terkejut dan meraih tangan Shafa.


" Lihat hasil karya Sayang, bagus banget!! kok bisa sih bikin kayak gitu?? "

__ADS_1


" Yaa kan belajar... yaaa gitu deh "


" Yuk shalat Isya, dah malam nih " ajak Daffa.


Daffa dan Shafa shalat Isya berjamaah, setelah itu Daffa melanjutkan melihat hasil desain Shafa selama kuliah.


" Eh sini duduk bareng " ajak Daffa sambil menepuk-nepuk pahanya.


" Itu bukan duduk bareng, itu mah dipangku!! "


" Hihihi mesra dikit lah ... yuk sini!! jelasin ke Abang dong ini apa " pinta Daffa.


" Ntar yak "


Shafa menyisir rambutnya dan menyemprotkan wajahnya dengan toner penyegar wajah dari negara ginseng, setelah itu ia menghampiri Daffa.


Daffa pun meraih tangan Shafa dan mendudukkan Shafa di pangkuannya.


Shafa meraih mouse komputernya dan mulai membuka hasil-hasil gambar selama kuliah yang semuanya telah ia simpan dalam komputer.


Daffa meletakkan dagunya di bahu Shafa membuat ia harus sedikit membungkukkan badannya.


" Ini tugas merencana interior 1, semester 2. Ini gambarnya masih ancur... " jelas Shafa sambil tertawa.


" Tugasnya desain kamar studio di apartemen atau kamar untuk 1 orang. Ini denah tampak atas atau lay outnya. Yang ini tampak samping, trus ini prespektifnya "


" Gini kok ancur!! Abang ga bisa kalau disuruh gambar kayak gini "


" Yaaa kan aku kuliah belajarnya desain, isinya gambar muluk!! jadi ga bosen... " jawab Shafa sambil tersenyum.


" Lanjut yaa, ini tugas semester 3, desain rumah tinggal 1 lantai untuk keluarga dengan 2 anak. Yang ini tugas semester 4, desain toko, aku bikin butik. Kalau yang ini tugas semester 5, desain kantor. Aku pilih kantor penerbit buku anak-anak. Nah yang semester 6, ini cukup menantang. Desain interior kompleks, bisa rumah sakit, kantor, mall, aku pilihnya perpustakaan universitas. Nah semester 7 itu kerja praktek sebelum TA, yang waktu itu ketemu Abang di video call Ayah. Nah semester 8 , Tugas Akhir!! yaa ini deh jadinya aku desain RSIA, aku pilih tema itu soalnya di RSIA ini ada bagian yang jarang dimiliki "


" Apa tuh?? " tanya Daffa.


" Selain playground juga ruang baca di setiap lantai. Agar anak-anak tidak bosan menunggu diperiksa mereka bisa main atau membaca buku"


" Kok ada disetiap lantai?? " tanya Daffa.


" Di ruang rawat kan juga ada anak-anak yang diperbolehkan untuk bermain, terkadang malah disarankan untuk membantu mempercepat penyembuhan. Nah ini lantai dua, sebenarnya ini lantai khusus ruang operasi dan ICU. Tapi tetap ada playground dan ruang baca, untuk keluarga pasien yang nunggu operasi "


" MasyaAllah, kok Sayang bisa kepikiran sampai detil seperti itu?! "


" Namanya mendesain sesuatu itu kan untuk digunakan oleh orang banyak, jadi harus bisa menyelami para pengguna ruang itu nantinya, tingkah laku mereka berpengaruh terhadap desain itu nantinya. Waah banyak Bang!!"


" Ini Sayang yang buat gambar 3Dnya ?? " tanya Daffa sambil menunjukkan video tugas akhir Shafa.


" Ga lah!! hihihi aku ngerjain 3Dnya cuma sebagian, sisanya aku bayar orang untuk bantu. Nah aku bayarnya pakai uang beasiswa"


" Sayang dapat beasiswa?? "


" Alhamdulillah, selama kuliah IPK diatas 2,75 itu bisa mengajukan beasiswa. Aku sengaja ambilnya di semester akhir, untuk kebutuhan TA yang biayanya ga sedikit. Gambar kerja ini juga dibantu buatnya, ga semuanya aku "


" Siapa yang bantu?? "


" Drafter waktu aku KP, mereka buka jasa gambar di rumahnya, yaa aku sama temanku yang KP dulu minta tolong mereka. Lumayan tuh dari pagi berangkat jam 7 pulang jam 5 sore selama 3 akhir pekan, Sabtu - Ahad ke Depok, diantar Pak Ageng, supir di rumah. Iya nama supirnya mirip, Pak Agung dan Pak Ageng, bukan saudara apalagi kembar" jelas Shafa sebelum Daffa bertanya.


" Hahaha tahu aja Abang mau nanya "


Shafa beranjak dari pangkuan Daffa, untuk mengambil cemilan dan mengambil kursi untuk duduk disamping Daffa.


" Nih Bang mau?? " Shafa menawarkan cake coklat.


" Hmmm malam-malam makan cake coklat.... ga takut gemuk?? "


" Rugi kalau ga mau makan karena takut gemuk, mau ga?? "


Daffa pun membuka mulutnya. Shafa menyuapi Daffa dengan memberikan potongan cake yang cukup besar, hingga mulutnya belepotan yang membuat Shafa tertawa.


" Sengaja yaaa!! " Daffa pun mengarahkan wajahnya yang kotor ke pipi Shafa. Shafa pun berlari menghindar.


Tapi tangan Daffa yang panjang dan sigap berhasil menarik tangan Shafa dan mendekap badannya.


" Mau kabur kemana... tanggung jawab dulu!! "


Shafa hanya tertawa melihat Daffa.

__ADS_1


Akhirnya Daffa mendekatkan wajahnya ke Shafa dan mulai menciumnya.


Kegiatan itu akhirnya berlanjut di tempat tidur.


__ADS_2