
Malam harinya, mereka berdua memilih beristirahat di rumah.
Di saat makan malam bersama, seperti biasanya selalu diselingi dengan percakapan.
" Pak, Bu, besok pagi kami berdua mau jalan pagi ke Ancol, pulangnya langsung ke rumah Ayah " izin Daffa kepada orang tua Shafa.
" Nginap di sana ?? " tanya ibu Shafa.
" Ga, Bu. Hanya sampai makan siang aja " jawab Shafa.
" Oiya, persiapan untuk ke London, sudah beres?? " tanya ayah Shafa.
" Oiya Pak, kemarin sewaktu ke Bandung, saya ngobrol sama Bang Daniel, intinya dia menyarankan agar saya sekalian saja tinggal di sana, sampai lulus S2. Jadi ga bolak-balik, karena pas peak season harga tiket naik cukup tinggi. Selama menunggu jadwal pendaftaran sampai diterima dan masuk, nanti saya magang di kantor uncle David, adiknya ayah. Kemarin saya sudah WA uncle David, dia bilang ga masalah. Untuk tempat tinggal nanti, saya sudah minta Aliyah, anaknya uncle David yang juga kuliah di kampus yang sama, untuk bantu mencarikan apartemen. Aliyah kuliah di jurusan fashion design, jadi nanti Shafa bisa berteman sama Aliyah dulu "
" Hmmm berarti berangkat nanti harus siap untuk 2 tahun yaa. Bapak, ibu disini cuma bisa mendo'akan agar dimudahkan dan dilancarkan semua urusannya. Kamu sebagai suami dan kepala keluarga, semua keputusan ada di tanganmu "
" Shafa, selama di sana nantinya, kamu akan beradaptasi dengan banyak hal, cuaca, bahasa, kebudayaan dan makanan. Selain itu, sebagai istri juga mempunyai tanggung jawab, yang utama adalah menaati suami. Berpendapat boleh, tetapi keputusan tetap di tangan suami. Hidup di negeri orang tidak mudah, tetapi sudah sedikit dimudahkan dengan adanya keluarga Daffa di sana. Jadi semuanya harus saling membantu, memahami dan mendengarkan, jangan maunya hanya didengarkan, dipahami dan dibantu"
" Inggih Pak " jawab Daffa dan Shafa.
Keesokan paginya, sesuai dengan rencana Daffa, ia dan Shafa berangkat ke Ancol. Sebelum berangkat Shafa telah menyiapkan sandwich untuknya dan Daffa.
Di dalam mobil,
" Bang, mau sandwichnya sekarang atau nanti?? "
" Sekarang aja deh, biar disuapin " jawab Daffa sambil mengedipkan satu matanya ke arah Shafa.
" Ketika diri ini baru menyadari, betapa suami ku ini ternyata sangat centil!! "
Seperti biasa, Daffa tertawa geli dengan respon Shafa.
" Yang, kenapa dulu kuliahnya milih desain interior?? "
" Hmmm jangan diketawain yaa... "
" Emangnya....??? "
" Jadi aku tuh milih desain interior bukan karena cita-cita atau ingin berkarir disitu, sama sekali bukan itu alasannya. Malah dulu, waktu SD, aku pingin jadi arsitek. Karena keren aja ngeliatnya, jago gambar trus bisa bikin rumah bagus dan disitulah jurusan yang ada semuanya yang aku suka, terutama menggambar. Inget ga waktu SMP aku selalu dapat tugas bikin mading kelas, yaa karena aku suka menggambar. Nah, pas SMU aku milih jurusan IPS, karena ternyata fisika, biologi dan kimia itu musuhan sama otakku. Jadilah aku milih IPS, Ikatan Pelajar Santai!!! "
__ADS_1
Daffa hanya tertawa mendengarkan Shafa.
" Nah, lulus SMU bingung deh mau kuliah apa, pingin psikologi, tapi di UI, artinya harus ngekos, aku ga bakat ngekos. Psikologi universitas swasta lain sih ada, tapi ntah kenapa aku ga tertarik. Tetap tes UI jurusan psikologi sama komunikasi, jangan ketawa!! iya, aku milihnya di 2 jurusan tersulit untuk IPS, seperti yang sudah diduga, ga diterima dong. Ga sedih tapinya, karena dari awal juga sudah ga niat, hanya penasaran mau nyoba. Karena untuk masuk arsitektur harus dari IPA, yang bikin cita-cita ini pupus sewaktu SMU, makanya ku cari yang mendekati, yaa adeknya arsitektur deh. Desain interiorlah pilihannya. Waktu Trisakti buka pendaftaran gelombang pertama, aku langsung daftar desain interior sama ekonomi manajemen, bulan Februari aku tes. Maret pengumuman, Alhamdulillah aku diterima di interior. Dan benar sesuai ekspektasi, kuliahnya full ngegambar, tetap ada matematika sama fisika dasar, tapi itu mah gampil. Alhamdulillah ini benar-benar jurusan yang aku banget, jadi bisa dapat IPK diatas 3, walaupun ga sampai cum loude"
" Hmmm trus kenapa ga mau S2?? "
" Untuk S2 aku harus kerja dulu, ga bisa langsung. Harus punya pengalaman kerja, punya portofolio hasil desainnya, jadi tahu titik permasalahan yang sering di temui di lapangan. Intinya untuk S2 interior, aku ga minat. Aku membutuhkan kehidupan yang santai setelah 4 tahun dikejar-kejar deadline tugas "
" Walaupun happy ending, tapi perjalanannya penuh onak dan duri!! " tutup Shafa.
" Wuuiiiii ngerinya!!! "
" Emang !! capeknya itu lho, kayak ga hilang-hilang. Naaa, ada desainer di Pratama tempat aku KP dulu, namanya mbak Frisa, dia bilang gini, kalau mau kerja di interior mending setelah nikah, kalau belum nikah, apalagi belum punya calon, bakalan telat nikah. Soalnya ritme kerja interior itu dah kayak dokter, masih mending dokter kalau di RS dibagi shift. Laa kalau kita, 1 desainer bisa ngerjain 3 proyek sekaligus, 1 proyek otw, 1 proyek on desain, 1 proyek after desain. Masuk kerja jam 8.30, pulang kalau menurut jadwal jam 17.00, tapi seringnya pada pulang jam 7-8 malam. Weekend, kadang masih harus ke proyek. Ngeri "
" Hmmm baru kali ini, Abang dengar Sayang ngomong panjang lebar. Biasanya minimalis banget "
" Prestasi kan!! Kalau ngomongin hal yang bikin aku happy atau hal yang aku tahu banget, aku bisa mengeluarkan ratusan kata!! prestasi kan Bang!! "
" Banget!! eh dah mau sampai "
Setelah 20 menit, akhirnya mereka, sampai di pantai Marina Ancol.
Angin pantai berhembus cukup dingin di pagi itu, membuat keduanya memilih berjalan santai.
" Ga bakalan ramai lah, sekarang kan Senin, orang pada kerja, Bang "
" Oiya, sekarang Senin. Ke situ yuk " ajak Daffa menuju Le Bridge.
Jembatan yang menjorok ke arah laut dengan cafe di tengahnya, membuat banyak orang yang menjadikannya tempat untuk berfoto.
" Di Inggris ada kayak gini ga Bang?? "
" Ada, Inggris kan juga pulau. Tapi pantainya hanya panas kalau summer, sisanya anginnya dingin banget. Ke pantai yaa harus pakai jaket. Di Inggris itu anginnya kencang, kalau musim hujan, payung ga awet. Karena anginnya kencang, payungnya cepat rusak "
" Trus pakai apa dong?? "
" Coat atau jas hujan aja. Memang tetap basah, tapi dari pada pakai payung. Kemaren setahun aja, sudah korban 3 payung"
" Tapi kalau buat mayungin hati sayang, Abang mah siap sedia " Daffa pun segera berlari menghindari pukulan Shafa.
__ADS_1
" Maaf, Abang dah hafal!!! " teriak Daffa, sambil terus berlari menghindari kejaran Shafa.
Akhirnya Daffa berhenti berlari, setelah ia menengok ke belakang dan ia tidak mendapati Shafa di belakangnya.
Dengan nafas tersengal, ia berjalan mencari Shafa, kembali ke arah le bridge.
Shafa sengaja bersembunyi di belakang salah satu dinding le bridge, karena ia malas mengejar Daffa.
Shafa tertawa lirih melihat Daffa kebingungan mencarinya. Setelah Daffa terlihat di dekatnya, Shafa segera keluar dari persembunyiannya.
" Cari sapa Bang??!! " goda Shafa sambil tertawa.
" Astaghfirullah!!! Ya Allah.. Yang, Abang dah takut aja. Kirain hilang kemana?? atau ada yang nyulik!! "
" Siapa juga yang mau nyulik aku, modal ngasih makannya ntar!! " jawab Shafa santai sambil berjalan kembali.
" Hmm iya yaa, eh Abang dah capek nih, kita langsung cari makan aja ya "
" Gendong!! " pinta Shafa manja.
Daffa tersenyum, ia pun berjongkok.
"'Asyiiiiiik "
" Siap yaa??!! Let's goooooo!! "
Daffa menggendong Shafa di punggungnya, dengan berjalan santai, Shafa meletakkan kepalanya di bahu Daffa.
" Yang, mau langsung punya anak atau mau nunda?? "
" Ga pingin langsung tapi juga ga pingin nunda, yaa sedikasihnya sama Allah aja. Langsung yaa Alhamdulillah, ga langsung pun Alhamdulillah. Allah tahu yang terbaik"
" Yang penting usaha yaaa "
" Hmm aku tahu arahnya inih!!! "
Shafa pun mencubit lengan Daffa.
" Ih ga bisa dicubit!!! lengan kok keras gini!! "
__ADS_1
Daffa menurunkan Shafa di ujung dermaga karena mulai banyak pengunjung pantai.
Setelah itu mereka mencari sarapan, di salah satu restoran cepat saji asal Amerika.