Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 68 Berlibur di Jakarta


__ADS_3

Menjelang akhir tahun, musim dingin mulai menampakkan saljunya. Musim liburan pun tiba.


Pusat perbelanjaan saling bersaing dengan strategi potongan harga.


Musim yang banyak dinantikan oleh banyak orang, tetapi tidak dengan Shafa.


Sebagai tipe yang menyukai ketenangan, musim liburan akhir tahun, malah sering membuat Shafa terganggu.


Untuk itu beberapa kali musim dingin, Daffa mengajak Shafa pulang ke Jakarta.


Begitu juga dengan kali ini, setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam, akhirnya mereka tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 10.15 WIB.


" Alhamdulillah, touch down in Jakarta!! " sorak Shafa begitu ia menapakkan kakinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


" It's Tangerang Hon, not Jakarta "


Shafa pun memandang tajam ke arah suaminya.


" Iseng!! "


" Lho kan memang ini bukan Jakarta. Halim tuh di Jakarta, tapi kalau Soetta yaa di Tangerang, Banten, Jawa Barat "


" Dan diriku mendapatkan pelajaran geografi dari bule London ini!! " ucap Shafa ketus yang ditanggapi santai oleh Daffa.


Dengan membawa troli kopernya, mereka berjalan menuju terminal kedatangan, matahari yang bersinar terang membuat Shafa bahagia.


" MasyaAllah... sun!!! oo mr. sun, sun mr. golden sun, please shine down on me, ooo mr. sun, sun, mr. golden sun, hiding behind a tree... "


" Hmm Barney mode on!! " ucap Daffa.


" Eee ga papa yaa. Danesh juga tahu mr. sun kan "


Danesh hanya menggoyangkan badannya mendengar ibunya menyanyikan lagu dari acara Barney.


Beberapa saat kemudian,


" Tuh mobilnya!! " tunjuk Daffa pada sebuah mobil keluaran Eropa, BMW X1 berwarna hitam metalik yang dikendarai oleh Daniel.


Daniel menghentikan mobilnya tepat di depan Daffa.


" Assalamu'alaikum " sapa Daniel.


" Wa'alaikumsalam " jawab Daffa dan Shafa.


" Welcome back!! MasyaAllah ini keponakan ganteng Pakde " ucap Daniel ketika melihat Danesh duduk diatas troli.


" Terakhir ketemu baru belajar jalan yaa, sekarang sudah lari-lari nih " sahut Daffa.


" Yuk masukin kopernya dulu!! " ucap Daniel sambil membuka pintu belakang mobilnya.


Shafa mengangkat Danesh untuk masuk ke dalam mobil, lalu membantu Daffa dan Daniel untuk memasukkan koper dan tasnya.


" Dah yaa, tidak ada yang tertinggal?? " tanya Daniel.


" Sudah Bang, yuk langsung pulang!! " jawab Daffa yang segera menaiki mobil.


" How's flights?? " tanya Daniel sambil melajukan kendaraannya.


" Alhamdulillah lancar, ga macet " jawab Shafa.


" Jawabannya masih sama yaa "


" Eh Danesh ngerti bahasa Indonesia ga?? "


" Ngerti, aku selalu ngomong pakai bahasa Indonesia kalau di rumah " jawab Shafa.


" Kalau pakai bahasa Inggris selalu sama Bang Daffa " lanjut Shafa.


Dengan kecepatan sedang, Daniel melajukan kendaraannya menuju rumah orang tua Shafa.


Shafa duduk di bangku tengah sambil memangku Danesh yang kembali tertidur.

__ADS_1


" Ibu sudah siapin pempek, bakso sama siomay, besok giliran sate. Kata ibu, kalau Shafa dan Daffa pulang, tiap hari kita makan besar " ucap Daniel.


" Alhamdulillah, aku kangen makanan lokal " jawab Daffa.


" Eh, Danesh berapa tahun yaa?? " tanya Daniel.


" 2,5 tahun "


" Ngomongnya sudah banyak?? "


" Bawel!! sama seperti ayahnya, berisik!! " jawab Shafa yang membuat Daniel dan Daffa tertawa.


" Shaf, masih galak aja, kirain sudah jinak?? "


" Ya Allah Bang, punya bayi gede sama asli bayi, sungguh menguji emosiku!! "


" Main muluk ya Shaf?? "


" Iyaaaa, hari-hari maiiiin doang!! pakai acara diajarin main robot-robotan, mobil-mobilan!!! itu mobil-mobilan sudah bisa buka showroom sendiri!! "


Daniel dan Daffa pun tertawa geli mendengar jawaban Shafa.


" Nanti Shaf, kalau punya anak perempuan, adem, tenang bawaannya "


" Oiya, Shahnaz sudah TK ya?? "


" Belum, kan baru 4 tahun, masih di rumah aja. In syaa Allah tahun depan mulai masuk TK "


" Mau TK dimana Bang?? "


" Antara Al Azhar dan Tugasku, masih survey "


" Hmm Danesh bisa main bareng Shahnaz ga yaa?? " tanya Daniel.


" Jangan Bang, Danesh rada ganas, aku takut ntar Shahnaz bisa diserang " jawab Shafa.


" Ga lah, main di baby day carenya kan aman, ga pernah ada komplen dari orang tua yang lain. Dia ganas kalau main sama aku " sanggah Daffa.


Dengan tertawa, Daffa menjawab pertanyaan kakaknya itu.


" Kalau main sama aku, dia suka main dorong, trus ada barang apa yang dekat dia, bisa dijadikan senjata "


" Main mobil-mobilan, mobilnya sampai bisa melayang, pernah nyaris masuk ke panci di atas kompor yang ada isinya. Roda sepedanya yang belakang tiba-tiba menceng dan ada sedikit penyok, ga tahu diapain "


" Belum kalau makan, suka tiba-tiba iseng, dilemparin tuh lauknya!! "


" Masalahnya, Bang Daffa ketawa kalau lihat itu, jadi Danesh ngira it's okay, it's funny, it's entertaining, makanya malah semakin jadi " jelas Shafa.


" I know, aku salah, but its funny "


" Nothing is funny kalau salah, ga mendidik namanya " ucap Daniel.


" Kamu harus bisa mendisiplinkan anak sedari kecil, agar besarnya sudah terbentuk polanya "


Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di rumah orang tua Shafa.


Kedua orang tua Shafa telah menunggu kedatangan putri bungsu mereka di teras rumahnya, segera menyambut kedatangan Shafa dan Daffa.


" Assalamu'alaikum " salam Daffa dan Shafa.


" Wa'alaikumsalam..... eeh Danesh tidur yaa?? " jawab ibu Shafa.


" Iya Bu, ga lama jalan langsung tidur. Ibu sehat ?? " tanya Shafa.


" Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Masuk dulu.. ayo Daffa "


" Sini biar Bapak gendong Danesh "


Shafa pun menyerahkan Danesh ke ayahnya.


" Ya Allah abot banget iki bocah?? pirang kilo abote?? "

__ADS_1


" Sekitar 15 kilo, tinggi 90 cm " jawab Shafa.


" Genetiknya McDermott ya ini "


" Iya Pak, banget "


Ayah Shafa menggendong Danesh hingga ruang keluarga, kemudian membaringkannya di sofa.


" Kalian sarapan dulu, Ibu sudah siapin makanan kesukaan kalian. Tinggal pilih aja "


" Matur nuwun Bu "


" Kok sepi?? Mbak Syifa ga di sini?? " tanya Shafa.


" Ada di atas, paling lagi nemenin Shahnaz, sebentar lagi juga turun kalau dengar kamu sudah datang " jawab ibunya.


Dan benar saja, Syifa menuruni tangga dengan setengah berlari.


" Assalamu'alaikum, adeeeek "


" Wa'alaikumsalam, embaaaakk!!! "


Seperti biasa, keduanya pun berpelukan erat.


" Piye Shaf?? "


" Apik Mbak "


" Eeee Mbaaak!! perut??!! berapa bulan?? " tanya Shafa yang terkejut melihat perut buncit kakaknya itu.


" Alhamdulillah masuk 5 bulan "


" Kok ga cerita-cerita ?? "


"'Kan mau kasih kejutan aja, biar seru "


" Waaa, Shahnaz sudah mau punya adik "


" Danesh kapan mau dikasih adik?? "


" Haadeee nanti deh Mbak, lihat dong badanku sekarang "


" Hmmm langsing yang agak menuju ke kurus yaa, kok bisa Shaf?? sebagai seorang yang mempunyai keahlian makan, sungguh terlalu jika kamu kurus!! "


" Coba ngurus Danesh sepekan deh!! ntar juga, tahu kenapa aku kurusan "


" Aktif banget yaa?? "


" Banget Mbak "


" Eh makan dulu, aku temenin yuk " ajak Syifa.


Shafa dan Syifa pun menuju meja makan,


" Bang, mau apa nih?? "


" Abang ambil sendiri aja " jawab Daffa sambil mengambil siomay dan bakso untuk sarapan paginya.


" 2 porsi nii yee " goda Shafa.


" Iya dong, kalau ada sajian seperti ini, ga mungkin 1 yang diambil. Kan prasmanan, ala kondangan dong " jawab Daffa.


" Mumpung di rumah selama 2 pekan, puas-puasin makan, ayo gemukin badannya lagi!! "


" Tenang Mbak, lihat aja nanti "


Sambil menikmati baksonya,


" Mas Syafiq dimana?? "


" Lagi belanja , paling menjelang makan siang baru pulang "

__ADS_1


__ADS_2