
Sekembalinya dari Milan, Daffa dan Shafa tampak lebih segar dan bersemangat.
Perjalanan dinas yang dibungkus dengan liburan singkat ini membawa hawa segar bagi keduanya.
Daffa pun melaporkan hasil pencocokan data ke Uncle David.
" Gimana hasilnya?? " tanya Uncle David.
" Alhamdulillah, saya tidak menemukan adanya kejanggalan dalam laporan keuangannya, semuanya sama seperti yang kita terima disini. Semuanya normal. Apa ada yang harus diwaspadai kembali ?? "
" Alhamdulillah, tidak ada sih. Just precaution "
" Lalu bagaimana Shafa?? "
" Kita ke pameran di Jum'at siang sampai menjelang tutup. Sebenarnya ada talkshow dan seminar di hari Sabtu, tapi ternyata menggunakan bahasa Italia, jadi kami berdua tidak menghadirinya "
" I knew it you wouldn't. Jadi main kemana atau shopping apa?? "
Daffa dan Shafa pun tertawa malu, karena seperti biasa, uncle David dapat menebaknya.
" Lupa nama Mallnya, susah nyebutin namanya, belibet!! " jawab Daffa.
" Habis berapa ribu euro?? "
" Hmmm ribu??? kita belanja makanan sama baju aja. Oiya beli souvenir di San Siro "
" Kalian nonton?? "
" Ya ga lah. Jadwalnya bentrok sama jadwal ke bandara. Jadi cukup foto di depan stadionnya aja. Padahal kepingin banget " jawab Shafa.
" Jadi masih utuh dong uangnya?? "
" Kepakai setengah aja, hanya untuk hotel dan makan, sisanya tadi sudah dikembalikan ke bagian keuangan "
" Ok, liburan tipis-tipis ini semoga bermanfaat untuk kamu, biar recharge tenaga baru "
" Indeed, segar rasanya "
" Oiya, saya baru ingat "
" Shaf, saya minta kamu untuk mendesain souvenir McDermott Finance Global. Jadi souvenir ini untuk dibagikan pada saat pameran atau pun untuk klien dan rekanan bisnis kita. Berapa macam, bentuknya apa saja, saya serahkan ke kamu sepenuhnya "
" Kapan datelinenya?? " tanya Shafa.
" Saya beri kamu waktu sepekan, Senin depan kamu presentasi "
" Baik "
" Uncle, kami pamit lanjutin kerjaan yaa "
" Ok "
__ADS_1
Daffa dan Shafa pun kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Di ruangan Shafa,
" Hmm oiya ini ada beberapa brosur dan ini ada flash disk berisikan desain-desain terbaru yang kemarin di pamerkan "
" Dapat flash disknya?? "
" Beli lah, sepaket dengan tiket masuknya " jawab Shafa.
" Kemarin aku sudah buka sebagian, kereeen deh pokoknya. Oiya, kalian simpan yaa, buat duplikatnya juga "
" And yang kalian tunggu tidak lain dan tidak bukan adalah..... oleh-oleh iya kaaaan. Nih coklat dan aneka biskuit Parmalat "
" Thank you Shaf!! I love chocolate "
" Anyways, tadi kita dapat tugas baru. Tapi ini lebih ke desain grafis, but kalian pasti bisa "
Shafa kemudian menjelaskan tugas barunya kepada 2 asistennya itu dan juga mendiskusikan desain apa yang akan mereka siapkan.
" Mug, pen, daily journal, calender?? "
" Ok itu bisa, tapi apalagi yaa, yang ga biasa but catchy?? " tanya Shafa.
" Topi?? jaket, payung "
" Dompet, clutch?? " usul Adriana.
" Yaa why not?? "
" Ok deh, 8 items yaa. Sekarang, lets make sketches !! "
Shafa dan kedua asistennya pun mulai sibuk membuat sketsa souvenir di buku sketsanya.
Lalu dengan cepat, Shafa telah berpindah ke komputernya.
Adriana dan Ariella, walaupun mereka berdua sedikit lebih tua dari Shafa, tetapi mereka berdua mengagumi kemampuan Shafa dalam mendesain, karena selain idenya yang tidak biasa, kecepatan dan kerapihannya tidak diragukan lagi.
Maka, pada hari itu, Shafa telah menyelesaikan desain 4 jenis souvenir, lengkap dengan gambar 3 dimensinya.
" 4 down and another 4 to go " ucap Shafa mengakhiri pekerjaannya di sore hari.
" Driana, ini 4 desain souvenirnya, tolong besok kamu pesankan untuk dummynya. 4 lagi masih on progres "
" Shaf, ini semua mau dibuat dummynya?? "
" Iya, biar presentasinya lebih jelas. Oiya, saya tadi sudah beri note di bawahnya, untuk alternatif bahan dan warna. Minta mereka buatkan yang desain utama, untuk yang alternatif minta contoh bahannya saja "
" Okey "
" Well, aku pulang yaa. Sudah jam 4, kalian juga langsung pulang aja "
__ADS_1
" Iya, nanti setelah merapikan meja ini "
" See you tomorrow "
Shafa menghampiri ruangan Daffa yang pintunya masih tertutup, ia pun mengetuknya.
" Tok tok tok "
" Come in " jawab Daffa dari dalam.
Shafa pun membuka pintunya dan masuk ke dalam.
Dilihatnya Daffa masih berkutat di depan laptopnya.
" Belum selesai Bang?? "
" Sebentar lagi, Sayang duduk aja dulu atau mau nunggu di tempat Danesh?? "
" Aku ke tempat Danesh trus langsung ke bawah yaa. Mau jajan pastry "
" Titip deh kalau gitu, yang chicken mushroom mozzarella yaa, 2 "
" Wiiidiiii, langsung 2, laper Bang?? "
" Iya nih, laper. Oiya sekalian tehnya yang camomile english tea, panas yaa "
" Siap Bos!! aku tunggu di cafe kalau gitu "
" Ok "
Setelah menjemput Danesh, Shafa segera menuju cafe dan bakery di lantai dasar gedung kantornya.
Suasana di lantai dasar cukup ramai oleh pekerja yang hendak pulang.
Shafa mendorong strollernya dengan Danesh yang tertidur di atasnya.
" Hmm capek yaa, main apa sih seharian ini?? " ucap Shafa sambil mengelus rambut Danesh.
Shafa lalu membeli beberapa roti dan pastry, untuk di makan saat itu dan dibawa pulang nanti.
Sambil menunggu Daffa, ia menikmati lemon tea hangat dan pastrynya.
Diusianya yang masih 25 tahun, seorang ibu muda dan desainer yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional, memang menjadi dambaan banyak orang.
Pada awalnya, banyak yang memandang Shafa sebelah mata, karena statusnya sebagai keponakan pemimpin perusahaan yang membuatnya dapat bekerja tanpa tes di McDermott Finance. Tetapi dengan berjalannya waktu, mereka dapat melihat hasil kerja Shafa dan akhirnya mengakui kemampuannya.
Shafa yang mempunyai karakter cuek, selalu santai menyikapinya. Ia selalu beranggapan bahwa semuanya telah diatur oleh Allah, sebagai manusia ia hanya perlu berdo'a dan berusaha sebaik mungkin.
Untuk itu, bekerja tanpa beban adalah yang selalu dirasakannya.
Hal tersebut yang membuat Daffa tidak merasa keberatan dengan pekerjaan Shafa.
__ADS_1