Daffa Dan Shafa

Daffa Dan Shafa
Episode 83 Kepergian Grandpa


__ADS_3

Dua bulan berlalu, proyek restauran dan cafe 'Olive' telah mencapai tahap akhir.


Kemampuan fotografi Shafa, membuat Mr. Smith memberikan Shafa pekerjaan tambahan.


" Shaf, cafe sudah masuk tahap finishing, sembari menunggu, apakah kamu bisa membantu saya untuk menjadi fotografer dalam buku menu dan promosi di medsos?? "


" Oiya, ada fee tersendiri untuk itu. Nanti saya langsung transfer kalau kamu bersedia "


" Saya sebagai fotografer untuk Olive?? kan Anda belum pernah melihat portofolio fotografi saya?? " tanya Shafa dengan rasa tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


" Saya sudah melihatnya di Instagram kamu and its enough for me to choose you as the photographer "


" Hasil fotomu sangat estetik, I like it. Jika setuju, Sabtu pekan depan kita mulai foto masakan di rumah saya, nanti saya WA alamatnya " lanjut Mr. Smith.


" Baik " jawab Shafa dengan sedikit rasa ragu.


Setelah selesai, Daffa kembali mengendarai mobilnya menuju rumah Granny,


" Bang, menurut Abang gimana?? " tanya Shafa.


" Foto produk?? ambil saja, kan selingan, but as long as you want it to and the most important thing is do what make happy, don't take it as a pressure. Kalau merasa ini menjadi sebuah beban tersendiri, don't take it. Everything is up to you. Abang antar jemput, nemenin kemana saja, itu bentuk persetujuan dan tanggung jawab Abang "


" Hmmm Abang ga masalah kalau aku jadi lebih sibuk?? "


" Kan ga setiap weekend, lagi pula kita masih punya waktu berdua, seperti sekarang "


" Abang percaya, Sayang bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga " lanjut Daffa.


Shafa hanya diam, ia memikirkan untuk menerima tawaran dari Mr. Smith atau tidak.


" Bang, aku ambil job foto produknya, tapi setelah itu udahan yaa. Aku mau menikmati hidup, ga yang kerja melulu "


" Ok, as you please " jawab Daffa sambil satu tangannya menggenggam tangan Shafatanya sedangkan satunya lagi tetap dalam kemudi.


" Yang penting Sayang happy, lagipula untuk foto produk kan tidak serumit dan selama desain " lanjut Daffa.


" Iya sih, aku cuma motret aja, tinggal nanti konsepnya bagaimana "


" As long as you happy, I'm okay with it "


" Yang, mau mampir ke taman?? kita naik perahu lagi?? sambil jajan yuk "


Shafa mengangguk tanda setuju.


Daffa pun mengarahkan kendaraannya menuju St. James Park.


Mereka berjalan mengelilingi taman sambil bergandengan tangan, menikmati udara yang mulai dingin kembali di penghujung musim panas.


" Yang, kita duduk di situ yuk " tunjuk Daffa di pinggiran Danau.

__ADS_1


Shafa kembali menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Daffa merasakan mood Shafa yang kembali drop karena Shafa tidak banyak berbicara, untuk itu Daffa pun memeluk tubuh Shafa dan membelai lembut punggung istrinya itu, karena Shafa tidak pernah menyukai kepalanya disentuh.


Shafa pun membalas pelukan Daffa, bahkan ia memeluk lebih erat badan Daffa.


Setelah beberapa saat,


" Bang, aku laper, jajan yuk "


Daffa pun tertawa dan melepaskan pelukannya.


" Ayuk, mau jajan apa?? " tanya Daffa.


" Yang berlemak, banyak kejunya "


" Hmmm pizza?? kebab?? "


" Pizza, trus langsung pulang yaa, ga usah naik perahu "


" Ok, yuk "


Keduanya pun segera menuju booth pizza. Setelah menikmati pizzanya, mereka berdua kembali pulang ke rumah Granny.


Seperti yang diminta Granny, setiap akhir pekan Daffa dan Shafa akan menginap disana untuk beristirahat.


Kesehatan Grandpa belakangan ini juga mulai menurun, sehingga dengan kedatangan mereka bertiga setiap akhir pekan, membuat grandpa tampak bahagia.


" Daf, tolong dorong Grandpa ke halaman belakang " pinta Grandpa yang belakangan ini menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya.


" Aye aye Sir!! " jawab Daffa sambil mulai mendorong kursi roda Grandpa ke halaman belakang.


Danesh sedang asyik berlarian mengejar kelinci peliharaan mereka.


" Berhenti disini saja " pinta Grandpa.


Daffa pun menghentikan kursi rodanya di tengah taman.


" Daf, grandpa mau melihat wajahmu "


" Kenapa?? pingin lihat wajah ganteng grandpa sewaktu muda dulu yaa " canda Daffa sambil berpindah tempat menghadap ke arah grandpa.


" Hahaha, kamu tahu saja " balas canda grandpa.


" Daff, listen, gunakan waktu kamu yang tersisa di London sebaik mungkin sebelum kamu kembali ke Jakarta, walaupun sebenarnya grandpa lebih senang jika kamu menetap disini. Jangan salah paham dengan kata-kata grandpa yaa, grandpa tidak meminta kamu untuk terus menetap di London "


" Ga papa kok kalau Grandpa minta aku tetap di London, aku ga mau membuat Grandpa merasa kehilangan "


" Ga Daff, you stay wherever make you happy "

__ADS_1


" I will "


Danesh berlari menghampiri Daffa sambil membawa bola.


" Yah, main bola yuk!! "


" Okay "


" Grandpa, aku main bola dulu yaa "


" Iya, hati-hati "


" Love you Gramps!! " ucap Daffa sambil mencium pipi kakeknya itu.


" Love you too my big boy!! "


" I'll be right back!! stay here Gramps!! "


" Just go, play with your son, hurry!! "


Daffa pun mulai bermain bola bersama Danesh.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba Daffa menghentikan permainannya, karena ia merasakan sesuatu terjadi pada kakeknya.


" Sebentar ya Nesh "


Daffa berlari menghampiri grandpa yang duduk terkulai di kursi rodanya.


" Gramp!! grandpa?? " panggil Daffa sambil mengusap-usap lengan kakeknya, tetapi tidak ada reaksi sama sekali dari kakeknya.


" Nana!!! " teriak Daffa memanggil sang nenek dengan panik.


Teriakan Daffa membuat uncle David berlari kearahnya.


" Kenapa?? "


Air mata telah membasahi wajah Daffa.


Uncle David berlutut lalu memeriksa denyut nadi ayahnya dan...


" Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uuuun " ucap uncle David sambil menundukkan kepalanya, air mata pun mengalir membasahi pipinya.


Grandma berdiri mematung di teras belakang, menyaksikan peristiwa yang ia sudah persiapkan sebelumnya.


Peristiwa yang cepat atau lambat akan terjadi. Tetapi walaupun grandma telah mempersiapkannya, tetap saja hati grandma serasa hancur melihat pria yang dicintainya telah tiada.


Aunt Sarah dan kedua anaknya menghampiri grandma lalu memeluknya.


Shafa pun memeluk Danesh yang kebingungan.

__ADS_1


Sore itu, menjadi sore kelabu di kediaman McDermott.


__ADS_2