Derita anakku

Derita anakku
Siapa yang iblis sebenarnya.


__ADS_3

Sebelum kejadian penembakan.


Lyra tengah menenangkan diri di apartemen miliknya. Segelas Wine di pilih untuk menemani kesepiannya.


Dia tak pernah berani meminum minuman keras itu jika di rumah. Karena tak ingin di anggap buruk oleh putra-putranya.


Asap mengepul lewat mulutnya, menandakan bagaimana frustrasinya dia.


Patah hati dan kecewa. Dia sendiri juga bingung mengapa harus terluka seperti itu pada pernikahan dan kebahagiaan Ahmadi, padahal sudah jelas dia memiliki suami dan anak yang sangat tampan.


Perhatian Baron dan kesabaran lelaki itu nyatanya tak pernah bisa membuat hatinya melupakan Ahmadi, cinta pertamanya.


Meski dia tahu sang suami sudah melakukan berbagai cara agar dirinya mencintainya, tapi tetap tak bisa membuka hatinya.


Hingga batas kesabaran Baron habis, dia jadi melakukan hal sesuka hatinya. Seperti bermain dengan wanita malam dan juga berakhir dengan memiliki istri lagi, hanya agar Lyra merasa cemburu.


Namun semua itu tak terlalu di pedulikan oleh istrinya.


Lyra tentu tahu semua hanya pelampiasan suaminya saja atas sikapnya yang selalu mengabaikannya.


Hebatnya, Baron lebih memilih di benci anak-anaknya dari pada menceritakan masalah mereka pada anaknya.


Semua berawal darinya, bukan sekedar kesalahan Baron semata. Bahkan dia sangat tahu bagaimana Baron menyelamatkan perusahaannya dengan melobi para pemegang saham dengan memilih menyerahkan tubuh Ziva dari pada dirinya.


Suaminya itu bahkan rela melakukan hal hitam demi agar usaha mereka tak tumbang. Semua di lakukan oleh sang suami yang sebenarnya bersifat baik. Berbeda dengan dirinya yang di ketahui khalayak luar menjadi istri tersakiti, padahal jahatnya melebihi iblis.


Baron rela melakukan segalanya demi Lyra karena cinta yang begitu besar pada sang istri.


Tak tahu diri, mungkin hal itu yang pantas di sematkan pada Lyra. Namun mau bagaimana lagi. Sudah hampir dua puluh lima tahun dia mencoba mencintai Baron tapi tak bisa dia lakukan.


Jangan tanya mengapa Denish dan Andi bisa lahir, terkadang nafsu bisa membuat keduanya melakukan hal itu tanpa perlu menggunakan perasaan.


Suara bel apartemen membuat Lyra menoleh. Ibunda Andi itu mendengus kesal, karena seseorang telah mengganggunya.


Dia tak menggubrisnya, tetap sibuk menghisap dengan keras batang rokok di tangannya.


Namun suara bel itu semakin nyaring dan tak mau berhenti. Membuat Lyra mau tak mau harus bangkit untuk membukanya.


Saat melihat pada lubang intip pintu, tubuhnya bergetar hebat. Dia tak mengerti mengapa para polisi bisa menemukannya di sana.


Dengan perasaan kacau, Lyra memilih kembali ke dalam kamar.


Di sana dia mencoba menghubungi Baron. Beruntung Baron selalu sigap menerima panggilannya.


"Halo Pah, ada polisi di apartemen!" serunya.


Tanpa menjawab Baron bergegas mendatangi sang istri di apartemennya.


Lyra yang mempunyai ruang tersembunyi memilih segera menyembunyikan dirinya sendiri.


Dia segera merapikan segala kekacauan yang dia perbuat tadi. Jangan sampai polisi curiga jika dirinya pernah di sana.


Lyra merasa aman, sebab dia yakin saat polisi nanti menggeledah, mereka tak akan menemukan dirinya. Kecuali polisi membawa anjing pelacak.

__ADS_1


Suara pintu depan terbuka membuat tubuh Lyra bergetar ketakutan. Dia berusaha menahan rasa gugupnya. Bahkan Lyra sampai harus menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara.


"Saudari Lyra? Tolong keluar! Jangan sampai kami membawa paksa Anda!" pekik salah satu petugas.


Lyra ketakutan, sepertinya para petugas itu masuk di bantu oleh pengelola apartemen, sebab tak ada suara suaminya.


"Saudari Lyra! Tolong kooperatif, jika Anda bersembunyi seperti ini maka kami jamin hukuman Anda semakin lama!"


Dua petugas yang hendak menangkap Lyra menggeledah ke segala penjuru apartemen demi mencari keberadaan ibunda Andi itu.


Suara para polisi mendekat ke arahnya, membuat keringat dingin mengucur deras dari dahinya.


Lyra berdoa semoga para polisi tak menemukannya.


Tak lama terdengar suara Baron mendekati para petugas itu.


"Maaf ini ada apa Pak?" tanya Baron dengan napas terengah-engah.


Tubuh gempalnya membuat langkah lelaki paruh baya itu lambat. Namun tak ia hiraukan kelelahan dan rasa sakit di dadanya demi menyelamatkan istrinya.


"Kami punya surat penangkapan saudari Lyra. Siapa Anda?" tanya petugas tajam.


"Saya suami Lyra. Baron Atmaja," jawab Baron sambil mengulurkan tangan untuk menjabat para petugas kepolisian.


"Memang istri saya terlibat kasus apa ya Pak?" tanya Baron bingung.


Sebab sepengetahuannya, Lyra tak pernah mau terjun ke dalam dunia hitam dan kejahatan. Semua perbuatan itu selalu dia yang lakukan. Istrinya selalu duduk tenang berpangku tangan.


Makanya dia heran kejahatan apa yang di lakukan Lyra yang tak di ketahui olehnya.


"Saudari Lyra di dakwa menjadi dalang dari pembakaran pasar 'sejahtera' di jalan kali batu Pak," jelas petugas kepolisian.


Baron terkesiap, dia memang mendengar akan kejadian itu, tapi tak menduga jika istrinya adalah dalang di balik semuanya.


"Apa ada bukti kalau istri saya sebagai dalangnya pak?" cecar Baron berusaha menyelamatkan istrinya.


"Kami mempunya bukti dari para tersangka yang sudah tertangkap. Jadi tolong kerja samanya bapak agar istri bapak— ibu Lyra memenuhi panggilan kami," tekan pihak berwajib.


"Baik Pak, saya akan mencari keberadaan istri ya pak," janji Baron yang tak akan mungkin dia tepati.


Polisi mengangguk setuju, setelah di rasa aman, Baron bergegas ke tempat persembunyian istrinya.


Dia memeluk Lyra yang gemetar ketakutan. "Ini ada apa Mah? Sebenarnya apa yang kamu lakukan?" cecar Baron penuh penekanan. Dia sungguh lelah dengan sikap istrinya.


"Aku tidak bersalah!" elaknya.


"Kenapa kamu membakar pasar? Apa karena istri Ahmadi? Kamu masih cemburu padanya?" bentak Baron murka.


"Iya! Kenapa memang? Kamu tahu aku tak ingin Ahmadi bahagia, dia hanya milikku," balas Lyra.


Baron yang cemburu dengan ucapan istrinya lantas menampar sang istri hingga Lyra jatuh terjerembap.


Bibir Lyra pecah, tapi dia tak marah atau sakit hati, dia bahkan selalu berharap Baron akan melepaskannya, meski itu tak mungkin terjadi.

__ADS_1


Entah cinta atau obsesi, Lyra merasa Baron tak akan pernah menceraikannya apa pun yang terjadi dengan rumah tangga mereka.


"Sekarang kamu mau bagaimana? Masih mau menyombongkan diri? Lawanmu Ahmadi, aku sangat tahu dia banyak memiliki kenalan seorang pengacara Handal. Bukan hal sulit baginya untuk membuatmu membusuk dalam penjara," jelas Baron kesal.


Lyra bangkit berdiri, menyisir rambutnya dengan jari.


"Bukankah itu tugasmu? Kamu kan akan selalu menyelamatkan aku bukan suamiku?" ucap Lyra sinis.


Baron mendengus kesal, lawannya tidak main-main. Meski Ahmadi hanya seorang pengusaha kecil, tapi dia sangat yakin keluarganya tidak akan tinggal diam jika dia gegabah dalam bertindak.


Dia juga tahu tak mungkin bisa menyakiti Ahmadi karena dirinya yakin sang istri tak akan menerimanya.


Jika bisa, sudah sejak lama dia menyingkirkan Ahmadi dari kehidupan mereka.


"Sekarang aku tak peduli lagi kalau kamu mau menyingkirkan Ahmadi," ucap Lyra tiba-tiba.


Baron tersenyum sinis, "setelah semua yang telah kita lalui baru sekarang kamu membolehkan aku melenyapkannya?"


"Sudahlah, sebaiknya kamu pergi dulu dari negara ini, sisanya biar aku yang bereskan," lagi-lagi Baron akan menyelamatkan Lyra dari kekacauan yang di perbuat oleh istrinya.


Mereka keluar dari apartemen dengan sembunyi-sembunyi, sebab khawatir jika ada polisi yang menyamar.


Lyra bernapas lega karena merasa tak ada orang yang mengetahui keberadaannya.


"Aku enggak mungkin naik pesawat, lalu aku harus naik apa?" cecar Lyra.


"Kamu naik kapal dulu ke pulau seberang, ada temanku yang akan membantumu di Batam. Jadi kamu tunggu saja di sana," jelas Baron datar.


Sayangnya para polisi tak akan semudah itu mereka bodohi. Keduanya diam-diam sudah di incar dan di buntuti sejak dari apartemen.


Bahkan para polisi sudah meletakan alat pelacak pada mobil Baron.


Saat para petugas hendak menyergap keduanya. Baron berusaha menyelamatkan Lyra dengan berlari dan menembaki para petugas, Baron akhirnya tumbang karena petugas berhasil melumpuhkannya saat petugas hendak menembak Lyra.


"PAPAH!" jerit Lyra. Saat melihat sang suami tergeletak bersimbah darah.


Baru saat itulah dia menyadari perasaannya. Dia mencintai Baron hanya tak mau mengakuinya.


Tangis Lyra pecah, dia meletakan kepala Baron di pahanya.


"Pah, maafkan Mamah Pah, papah harus kuat Pah, jangan tinggalin Mamah pah!" seru Lyra yang menatap sang suami.


Baron yang tertembak di dada tersenyum, akhirnya dia bisa melihat cinta di mata istrinya meski di penghujung hidupnya.


"Jaga dirimu baik-baik Mah. Maafkan aku, aku selalu mencintaimu. Jaga anak-anak kita, selamat tinggal."


Napas Baron tersengal setelah itu kepalanya terkulai. Baron meninggal saat itu juga dalam usahanya menyelamatkan sang istri.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2