
Nina sudah bertekad ingin memberi hukuman bagi sang ayah.
Beberapa hari dia mendiamkan Dibyo, meski Dibyo berusaha mencari simpati Nina.
Untuk urusan makan Nina bahkan mempercayakan pada Wingsih, yang menyiapkan pada jam makan saja.
Dia juga meminta seseorang untuk menjaga rumahnya.Nina tak ingin kembali kecolongan karena Titik bisa saja nekat kembali ke rumahnya.
Dibyo merasa kesal karena di perlakukan seperti tahanan. Lelaki paruh baya itu tak pernah merasa bersalah atas tindakannya tempo hari.
"Nin, sampai kapan kamu akan mendiamkan bapak? Bukankah bapak sudah minta maaf sama kamu? Apa bapak harus bersujud sama kamu baru kamu mau memaafkan bapak?" ujar Dibyo sesaat setelah Nina pulang ke rumah.
Nina menatap Dibyo datar. Dia tak ingin ribut dengan sang bapak, tapi ternyata Dibyo yang lebih dulu memancing keributan.
"Lalu yang bapak inginkan seperti apa? Beruntung aku ngga pindahin bapak ke panti jompo!" jelas Nina.
Sebenarnya Dibyo takut sekali dengan ucapan Nina yang selalu mengancamnya seperti ini. Namun karena dia selalu di teror oleh Budi karena Nina enggan bertemu dengan lelaki itu, membuat Dibyo terpaksa harus berbicara dengan Nina.
"Bapak ingin kita seperti dulu, berbincang akrab dan keluar makan bersama," ujar Dibyo lembut.
Nina menghela napas, dia tau apa yang di minta sang bapak selanjutnya.
Orang suruhan Nina sering melapor jika akhir-akhir ini ada seorang lelaki yang sering menemui Dibyo dan dia tau siapa lelaki itu.
"Rima lagi banyak tugas pak, jadi kita ngga bisa sering keluar malam," jawab Nina malas.
"Sudahkan? Nina mau mandi, udah mau magrib,” lanjutnya.
Saat Nina hendak berlalu, Dibyo lantas mencegahnya dengan bertanya sesuatu yang membuat Nina kesal.
"Bagaimana hubunganmu dengan Budi, Nin? Sebaiknya kalian segera saja menikah, bapak lihat dia lelaki yang baik," ucap Dibyo dengan senyum terpaksa untuk menutupi kegugupannya.
Budi selalu menerornya, membuat Dibyo tak tahan dengan ancaman lelaki itu. Dia juga tak ingin Nina semakin membencinya jika tau apa yang sudah dia lakukan di belakangnya bersama Budi.
"Nina ngga akan menikahi mas Budi atau lelaki mana pun pak, Nina akan fokus membesarkan Rima saja," jawab Nina tegas.
Dibyo terkejut karena Nina tiba-tiba menolak lelaki yang sudah dia manfaatkan. Dibyo semakin takut kalau Nina benar-benar memegang ucapannya.
"Nin, hidup sendiri itu ngga enak, apa lagi kamu masih muda. Kamu pikirkan masa depanmu, Rima ngga selamanya sama kamu. Kalau suatu saat dia menikah dan bapak udah ngga ada kamu mau sama siapa?" ujar Dibyo panjang lebar.
Nina menghela napas, tentu saja dia tau semua itu. Dia juga tak akan memaksa Rima untuk terus bersamanya jika suatu saat Rima sudah menikah.
Namun untuk memulai rumah tangga saat ini, rasanya Nina belum ke pikiran. Terlebih lagi dengan Budi, lelaki yang telah membuatnya kecewa.
__ADS_1
"Bapak tenang aja, ada Allah yang mengatur," jawab Nina lalu meninggalkan Dibyo seorang diri.
.
.
Malam harinya, Nina di kejutkan dengan kedatangan Budi beserta keluarganya dengan membawa banyak barang seperti hendak lamaran.
Nina yang biasa mengenakan baju tidur ketika di rumah, terkejut dengan kedatangan lelaki yang sudah lama dia abaikan.
Dibyo yang sedang bersantai dengan menonton televisi pun tak kalah terkejutnya dengan kedatangan Budi.
Budi datang dengan mengenakan atasan batik yang sama dengan Nurdin dan juga Deni. Sedangkan Jannah dan Rahma datang mengenakan kebaya.
Sungguh mereka niat sekali datang untuk melamar Nina malam ini.
Setelah membalas salam mereka, Nina tak lupa menyalami mereka semua dan mempersilakan mereka untuk duduk.
Tanpa basa basi Nina langsung menanyakan maksud kedatangan mereka semua.
"Mas Budi, ini ada apa?"
Budi tersenyum lalu mengeluarkan kotak beludru yang dulu pernah di tolak Nina saat melamar di rumah makan.
Nina tentu saja terkejut bukan main mendengar ucapan Budi.
Apa, laki-laki ini psikopat? Sudah jelas aku menolaknya dulu, kini dia datang seolah aku setuju dengan lamarannya.
"Nina kenapa diam? Kamu terharu ya? Mas tau kamu pasti berharap mas lakukan ini sejak lama kan?" ucap Budi penuh percaya diri.
Nina menggeleng tak percaya, dia tak tau ternyata Budi bisa semenyebalkan ini.
"Mas—" ucapan Nina di potong begitu saja oleh Budi.
"Kamu hanya salah paham Nina. Novi itu mantan kekasihku, sepertinya dia masih ngga terima mas putusin, makanya mas waktu itu minta kamu agar mau medengarkan penjelasan mas, tapi kamunya malah pergi aja," sindir Budi.
"Kamu jadi orang jangan terlalu egois, tak mau mendengarkan penjelasan Budi, jadinya kalian salah paham kan?" sela Jannah.
Mereka semua menyudutkan Nina. Inilah yang tak Nina sukai dari Budi dan keluarganya, mereka selalu mau menang sendiri.
"Kamu juga belum minta maaf sama aku mbak tentang permasalahan kita tempo hari, tapi ngga apa, aku udah maafkan mbak Nina kok," lanjut Rahma.
"Apa kalian udah selesai bicaranya?" Nina lalu melirik jam yang berada di dinding ruang tamunya lalu menatap kembali tamunya.
__ADS_1
"Iya nih, kerongkongan kami terasa kering," sela Jannah, karena merasa Nina tak menyambut mereka. Bahkan tak menawarkan suguhan apa pun.
"Maaf mas Budi dan yang lainnya. Ini udah malam, aku juga lelah ingin istirahat, sebaiknya kalian pulang," usir Nina secara halus.
"Kamu apa-apaan Nina! Kami datang ke sini untuk melamar kamu agar bisa di nikahi dengan anak kebanggaan kami, tapi kamu malah bersikap arogan seperti ini!" bentak Nurdin tak terima.
Nina menghela napas sebelum akhirnya berbicara. Menghadapi keluarga Budi benar-benar menguras emosi janda satu anak ini.
"Saya ngga pernah menerima lamaran mas Budi, lalu meminta kalian datang ke sini. Jadi jangan salahkan saya. Oh satu lagi, sebaiknya kalian carikan saja wanita yang baik untuk anak kebanggaan kalian itu, karena saya enggak mau," tolak Nina.
Nurdin hendak maju dan menghajar Nina, karena telah menghinanya, tapi segera di cegah oleh Budi. Bisa kena perkara jika mereka melakukan kekerasan pada Nina, meski dia sendiri juga merasa kesal.
"Sayangnya kamu harus menerimaku Nina, sebab bapakmu telah menjualmu padaku," ucap Budi sinis.
Nina mengernyit lalu memandang Dibyo yang sejak tadi diam bergeming di sebelahnya.
"Apa maksudnya pak?" cecar Nina.
Dibyo gugup dan merasa takut, dia yakin setelah ini Nina benar-benar akan mengirimnya ke panti jompo.
"Bapak kamu udah minta uang sama aku lima juta waktu pertama kali kita ketemu dan menjanjikan akan menerimaku sebagai menantunya. Sudahlah Nina tak usah menolak, lagi pula aku sudah berbaik hati mau menikahimu," ucap Budi pongah.
Nina berdecih mendengar ucapan Budi yang seolah dirinya adalah wanita paling menyedihkan hingga harus bersyukur bisa di pinang oleh Budi.
"Aku bukan wanita yang hidup menderita hingga harus bersedia menikah denganmu Budi! Lagi pula, hanya lima juta kan? Baiklah," jawab Nina menantang.
Dia berlalu menuju kamarnya dan kembali dengan meletakan uang sebesar lima juta di atas mejanya lalu di geser mendekat pada Budi.
Meski merasa marah dengan kelakuan bapaknya, saat ini Nina harus sabar dan menyelesaikan masalahnya dengan Budi terlebih dahulu.
Budi tak percaya jika Nina benar-benar menolaknya.
"Ngga bisa! Aku ngga terima, pokoknya kita harus menikah!" pekik Budi murka.
"Kamu ini perempuan ngga usah banyak nolak Nina!" tambah Jannah.
"Apa hak Anda memaksa saya! Sebaiknya kalian pergi dari rumah saya, atau saya panggilkan warga agar bisa mengusir kalian?" tantang Nina.
"Pak Dibyo, bapak ingatkan perjanjian kita, Nina harus menikah dengan saya bagaimana pun caranya!" ucap Budi pada Dibyo.
"Ma-maf nak Budi, Nina ngga bersedia menikah dengan kamu, sebaiknya lupakan dia, toh Nina sudah memulangkan uangnya kan?" jawab Dibyo gugup.
"Jangan mengancam bapak saya mas Budi! Kalian ini aneh sekali, orang menolak kok marah! Sebaiknya cepat kalian pergi!" usir Nina sambil berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Ngga bisa, bapakmu harus memulangkan uang ini dua kali lipat. Juga ganti rugi yang udah kamu sebab kan pada kami," pinta Budi tanpa tau malu.