
Akhirnya kepala sekolah memanggil guru bernama Kia, untuk menjadi saksi di pihak Rima.
"Bapak panggil saya?" tanya seorang guru berkaca mata itu.
"Silakan duduk Bu Kia," ucap Bagas yang memilih memberikan tempat duduknya untuk Kia.
Bagas sendiri memilih berdiri di antara kursi yang di duduki Rima dan Kia.
"Kemarin ibu mengajar di kelas 9 A?" tanya kepala sekolah.
"Benar Pak, jam pelajaran pagi," jelasnya.
"Lalu apa ibu bisa memastikan kalau Rima berada di kelas pada jam pelajaran ibu?"
Kia lalu mencoba mengingat kejadian kemarin, seingatnya Rima memang ada di kelas sampai jam pelajarannya berakhir.
"Sepertinya memang iya Pak, tapi tunggu ... Rima izin sebentar untuk ke toilet kan ya?" Guru bernama Kia itu lantas menoleh ke arah Rima.
Rima terkejut, dia memang sempat ke toilet, tapi dia benar-benar tak melakukan seperti yang di tuduhkan ibunya Ziva padanya.
"Tuh kan bener Pak! Saya yakin semua ini karena ulah Rima! Pokoknya saya ngga terima, kalau Ziva di keluarkan maka Rima pun harus di keluarkan!" pinta Tyas merasa di atas angin.
"Tunggu Pak, ini ada apa ya?" sela Kia bingung karena tiba-tiba seorang wali murid meminta muridnya yang berprestasi untuk di keluarkan dari sekolah.
Kepala sekolah pun menjelaskan tentang masalah yang sedang di sidangkan hari ini, guru bernama Kia itu mendengarkan dengan saksama.
"Kalau begitu, boleh saya menjelaskan Pak kepala sekolah?" pinta Kia.
"Silakan Bu Kia," jawab kepala sekolah.
"Rima pergi tak lebih dari lima menit, dari jarak dan waktu video yang beredar butuh waktu sekitar setengah jam bolak balik, jadi saya yakin bukan Rima pelakunya," jelas Kia tenang.
"Alah emang ibu yakin ngitung waktunya tepat? Pokoknya saya yakin ini semua ulah Rima," tolak Tyas menerima penjelasan Kia.
Kepala sekolah sebenarnya setuju dengan penjelasan Guru Kia, tapi melihat kengototan Tyas yang ingin agar Rima juga turut di keluarkan membuatnya pusing.
"Begini saja Pak, kalau memang Bapak keberatan mengeluarkan Rima. Bagaimana kalau sebagai kompensasinya Rima dan keluarganya harus mau merawat Ziva dan bayinya," tawar Tyas.
Nurma menggeleng tak percaya mendengar permintaan Tyas yang sangat aneh, terlihat sekali dia mencari perlindungan bagi masa depan putrinya sendiri.
Yanto tersenyum bangga dengan ide Tyas, dia tak menyangka jika otak licik Tyas masih cukup jeli melihat kesempatan yang ada.
"Lagi pula kami masih bersaudara Pak," sambung Tyas.
"Saya tidak bisa memutuskan Bu Tyas, sebaiknya kita panggil ibu dari Rima untuk hadir, karena kita tidak bisa serta merta memberikan keputusan seperti ini," jawab kepala sekolah.
Rima di minta menghubungi ibunya untuk datang ke sekolah. Meski kepala sekolah dan guru yang lainnya merasa gamang dengan ucapan Tyas, tapi mereka tak punya pilihan selain membawa serta Nina untuk turut mendengarkan sidang ini.
__ADS_1
Nina yang di telepon anaknya dan di minta hadir di sekolah tentu merasa cemas, hatinya ke pikiran dengan apa yang sedang terjadi di sana.
Rima tak bisa menjelaskan secara gamblang di telepon sebab semua pasang mata sedang menatap ke arahnya.
"Ibu datang aja, nanti ibu akan tau di sini ada apa," ucap Rima lirih.
Dia menyesal karena harus ke toilet kemarin, jika waktu bisa di putar dia tak mungkin akan melakukan hal itu jika akan berakhir seperti ini.
Rima juga menyesal dengan menerima Ziva di rumahnya, padahal sang ibu terlihat sekali keberatan dengan permintaannya, tapi karena kasihan pada Ziva, dia tetap memaksa pada sang ibu.
Setengah jam kemudian Nina datang seorang diri, dia mempercayakan toko kepada Galih. Sebenarnya Galih ingin ikut, tapi Nina melarang karena tak mungkin dia meninggalkan toko hanya kepada para karyawannya saja.
Masalah Ziva ini jadi menjalar ke mana-mana, membuat kepala sekolah dan guru harus membuktikan tuduhan-tuduhan yang di layangkan oleh Tyas.
"Selamat siang Pak, saya Nina ibunya Rima," meski dulu pernah bertemu, tapi Nina tetap mengenalkan diri, sebab dia takut kepala sekolah lupa dengannya.
"Silakan masuk Bu Nina," pinta kepala sekolah.
Kini giliran Rima yang bangkit dan membiarkan sang ibu duduk di kursinya.
Nina menatap heran pada sebuah keluarga yang sejak dulu di hindarinya.
Dalam hati Nina bertanya-tanya, masalah apa yang membuat anaknya harus berurusan dengan keluarga Tyas.
Nina sendiri memang belum tahu tentang permasalahan Ziva yang hamil di luar nikah.
Nina terkejut bukan main mendengar kenyataan jika remaja seusia putrinya itu tengah berbadan dua.
"Apa? Hamil? Astaga Ziva ... Apa itu yang buat kamu di usir oleh ibumu?" tanya Nina pada putrinya Tyas.
Ziva hanya menunduk tak berani menjawab pertanyaan sang Bude.
Nina menghela napas, andai saja dia tau kejadiannya akan seperti ini dia pasti akan menolak Ziva dengan tegas kemarin.
Dia memang merasa jika berurusan dengan keluarga mantan ibu tirinya tak akan ada yang berakhir baik dan inilah yang dia takutkan.
"Iya dan Ziva di keluarkan dari sekolah karena ulah anak kamu!" sambar Tyas.
"Maksudnya?" Nina tak mengerti maksud ucapan Tyas.
Lalu kepala sekolah kembali mengulang pertanyaan pertama yang sepertinya di abaikan oleh Nina.
"Sekolah gempar karena beredar video Pak Bagas dan Bu Nurma yang sedang berbincang dengan Bu Tyas mengenai kehamilan Ziva Bu Nina. Tak ada yang tau siapa akun yang menyebarkan video itu. Namun Bu Tyas berkeyakinan kalau Rima lah pelakunya," jelas Kepala sekolah.
"Saya juga sebagai guru yang mengajar Rima kemarin sudah berusaha menjelaskan Bu, tapi sepertinya Bu Tyas tak mau mengerti dan tetap kekeh dengan pemikirannya," sambung Kia.
"Lalu, Bu Tyas menuntut kalau anaknya di keluarkan maka Rima pun harus di keluarkan," tambah kepala sekolah.
__ADS_1
Nina menatap tajam wanita yang berada di samping kirinya.
Bisa-bisanya wanita itu menyalahkan anaknya. "Apa benar begitu Rima?" tanya Nina pada putrinya. Dia tentu percaya dengan sang putri, tapi dia tetap harus menanyakan tuduhan mereka pada anaknya.
"Enggak Bu, Rima udah menjelaskan di tambah kesaksian Bu Kia, tapi tante Tyas tetap ngga percaya," jawab Rima takut.
Dia yang awalnya tenang, kini menjadi sedikit khawatir karena semuanya menjadi rumit.
"Lalu apa kamu punya bukti menuduh putriku Bu Tyas?" cecar Nina.
"Ya karena Rima ngga bisa membuktikan dia ngga bersalah kan?" jawabnya percaya diri.
Nina mengatur napasnya agar tenang, menghadapi orang seperti Tyas harus tenang dan tak mudah tersulut emosi, karena Nina tau orang seperti Tyas akan semakin menang jika dirinya bersikap anarkis.
"Tapi kamu tenang aja, aku ngga akan minta kepala sekolah mengeluarkan Rima, dengan catatan, kamu mau menghidupi Ziva dan anaknya seumur hidup," ucap Tyas merasa menang bisa memojokkan Nina.
Nina tersenyum sinis lalu berkata, "Di sini Rima lah yang jadi tertuduh, jadi kami tidak perlu repot-repot mengumpulkan bukti untuk menjelaskan jika Rima tidak bersalah. Yang ada, harusnya Anda yang menyiapkan bukti untuk menuduh Rima, karena—" potong Nina lalu menatap kepala sekolah.
"Tentu Bapak setuju jika menuduh orang tanpa bukti maka bisa di tuntut pencemaran nama baik kan?" sambungnya.
"Benar Bu Nina. Maka dari itu Bu Tyas dengan terpaksa kami mengeluarkan Ziva tanpa syarat apa pun dari kalian. Silakan pikirkan tawaran kami tentang kejar paket B untuk Ziva," jawab kepala sekolah yang seakan malu akan ke enceran otak Nina.
"Ngga bisa gitu dong pak! Dari tadi kan kita udah sepakat!" elak Tyas.
"Aku heran dengan Anda Bu Tyas, Anda repot-repot menuduh anak saya yang jelas-jelas tidak sekelas dengan Ziva. Kenapa kalian tidak menginterogasi murid kelasnya Ziva saja!" sela Nina kesal.
"Saya rasa pembicaraan ini selesai Pak, saya tidak mau di panggil untuk alasan tidak jelas seperti ini lagi ya Pak," tegur Nina.
"Maafkan kami ya Bu Nina. Masalah ini sudah selesai, Anda bisa kembali sekarang," jawab kepala sekolah sedikit malu.
"Untuk kamu Ziva. Bude akan melarang kamu tinggal di rumah Bude. Kalau kamu berani datang maka tak segan-segan Bude melaporkan kamu ke pihak yang berwajib!" ancam Nina.
"Ampun Bude, tolong jangan usir Ziva, ini semua idenya mamah jangan usir Ziva Bude," rengeknya.
"Ya ampun Nina kamu kenapa kejam sekali pada keponakan kamu sendiri?" cecar Yanto tak tau diri.
"Kejam? Apa ngga salah? Ziva itu anak kalian! Kenapa jadi aku yang harus merawat Ziva?" cibir Nina.
Kepala sekolah lantas meminta mereka semua bubar kecuali Ziva dan orang tuanya yang harus menunggu surat di keluarkannya Ziva secara resmi dari sekolah.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1