Derita anakku

Derita anakku
Pertemuan


__ADS_3

Sesuai janji, pagi ini Andi akan membawa Febriana datang ke kediaman Rima untuk menunaikan janjinya.


Febriana yang mendapat kunjungan Andi di pagi itu jelas merasa senang. Wanita itu berpikir jika Andi pasti merasa bersalah telah mengacuhkan dia dan anaknya tadi malam.


Demi menutupi rasa bahagianya, Febriana berpura-pura ketus demi menjaga gengsinya.


"Mau apa kamu ke sini? Mau minta maaf? Sadar seberapa besar kamu udah nyakitin kami?" cerocosnya.


"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Bersiaplah, kita harus berangkat sesegera mungkin," jawab Andi datar.


Mendadak Febriana merasa panik, dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan mertuanya.


Tanpa bertanya tujuan mereka pada Andi, janda Denish itu bergegas kembali ke kamar untuk mengambil tasnya.


"Apa kita perlu bawa Julian?"


"Di mana dia?" tanya Andi yang merasa heran karena tak melihat keberadaan keponakannya sejak tadi.


"Dia sedang berada di taman, apa kamu enggak lewat belakang kompleks?"


Andi hanya menggeleng pelan lalu bangkit berdiri. Keduanya menuju mobil Andi.


"Semoga mamah baik-baik aja ya Ndi. Aku ngerasa bersalah banget, udah seminggu ini belum jenguk mamah," ujar Febriana.


Andi menaikkan sebelah alisnya. Ternyata mantan kakak iparnya itu salah paham dengan maksud kedatangannya pagi ini.


Namun Andi diam saja, tak ingin menjelaskan apa pun saat ini, sebab dia rasa akan ada drama panjang lebar jika dia berbicara yang sebenarnya.


Mungkin semesta juga tengah berbaik hati padanya, sebab sejak semalam dia bingung bagaimana cara mengajak kakak iparnya agar mau menurutinya menemui keluarga mertuanya.


Dia juga bingung bencana apa lagi yang akan terjadi kala Febriana sudah berhadapan dengan Rima dan keluarga mertuanya nanti.


Andi berharap semoga apa pun yang akan terjadi nanti tak berimbas pada pernikahannya. Sungguh dia kalut memikirkan nasib pernikahannya yang baru seumur jagung itu.


Andi sudah mengabari Ahmadi dan juga sang istri bahwa dia akan datang hari ini.


Karena memang masih hari libur, Andi yakin istri dan keluarganya tak akan keberatan dengan kedatangannya.


Lebih cepat selesai lebih baik, aku juga tak sabar ingin segera berkumpul dengan istriku. Menjalani rumah tangga yang seutuhnya.


"Loh Ndi, kita mau ke mana? Ini emang jalan lain ke rumah sakit?" tanya Febriana heran.


Sudah sejak dua tahun lalu sang ibu mertua di rawat di negara ini. Dulu dia dan mendiang suaminya yang mengurus sang mertua.


Andi sendiri harus berada di negara asing demi bisnis yang di jalani keluarganya. Sedangkan Denish di percaya menjaga perusahaan mereka yang ada di negeri ini.

__ADS_1


Namun setelah kepergian sang suami, mau tak mau Andi harus kembali menjalankan perusahaan utama peninggalan kakeknya.


Dia juga harus tetap menghidupi Febriana dan juga Julian.


Mengapa Andi bisa dekat dengan Febriana, karena sebulan sebelum kepergian Denish, sang kakak di rawat di rumah sakit di negara tempat Andi tinggal.


Oleh sebab itu Julian merasa dekat dengan Andi meski dulunya mereka sama sekali tak pernah berhubungan.


Pertemuan itu juga yang membuat benih-benih cinta di hati Febriana muncul karena ketampanan adik iparnya.


Suaminya juga tampan, tapi mungkin masih kalah dengan pesona Andi. Kehilangan sang suami tak begitu saja membuatnya sedih.


Alih-alih berduka, Febriana justru senang kala suaminya berpesan pada adik iparnya untuk menjaga dirinya serta anak mereka.


Namun sepertinya Febriana salah paham dan berpikiran terlalu jauh.


Menjaga bukan berarti harus terikat hubungan, begitu pikir Andi.


Dia memiliki tambatan hati yang memang tak pernah ia ceritakan pada Febriana dan tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan janda kakaknya itu.


"Kita akan menemui seseorang," jawab Andi datar.


Febriana terkesiap mendengar jawaban lelaki pujaannya itu.


"Nanti juga kamu tau." Saat menjawab pertanyaan Febriana, mereka sudah sampai di kawasan perumahan Ahmadi.


Febriana semakin bingung saat mereka berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah di kawasan itu.


"Rumah siapa ini Ndi?"


"Ayo turun, nanti kamu juga tau Feb!" ajaknya menahan gemas dengan tingkat polah mantan kakak iparnya.


Mau tak mau Febriana menuruti perintah Andi. Mereka sudah di sambut oleh Ahmadi di teras rumah.


"Yah," sapa Andi sambil mencium tangan sang ayah mertua.


Febriana sendiri memicing saat mendengar panggilan Andi pada lelaki paruh baya di depannya ini.


"Apa ini kakak iparmu?" tanya Ahmadi yang tak mendapatkan uluran tangan Febriana.


Wanita yang datang bersama menantunya, menatap bingung pada mereka.


"Ya sudah ayo masuk!" ajak Ahmadi yang menggeleng melihat sikap Febriana padanya.


Andi hanya menghela napas melihat keterkejutan Ahmadi. Dia tahu apa yang di pikirkan ayah mertuanya.

__ADS_1


Namun ia bisa apa? Tak mungkin dia meminta Febriana menyalami sang ayah mertua. Harus wanita itu memang sadar sendiri tanpa dirinya meminta. Hidup dan besar di negara ini jelas Febriana harusnya tau adat dan kebisaan di sini.


"Ini rumah siapa Ndi?" bisik Febriana yang masih bisa di dengar oleh Ahmadi yang berjalan di depan mereka.


"Duduklah Nak Andi dan mbak ..."


"Saya Febriana," jawab Febriana datar.


"Baik mbak Febri silakan duduk. Saya akan panggil semua keluarga dulu ya," ucap Ahmadi lalu undur diri.


Febriana segera mendekati paman dari putranya itu, apa lagi kalau bukan menuntut penjelasan.


"Ada apa ini Ndi! Siapa mereka?" cecarnya.


"Lelaki tadi ayah mertuaku. Sebentar lagi kamu akan melihat istriku," jawab Andi dingin.


"Hah! Gila kamu, jadi kamu serius udah menikah kemarin? Kenapa kamu tega banget sih Ndi! Kamu tau kalau aku dan Julian berharap banyak sama kamu!" ucap Febriana kesal.


Dia berpikir jika kejadian kemarin hanya alibi Andi untuk menghindarinya.


Febriana sudah berpikir jika mungkin Andi butuh waktu sendiri. Dia memang sadar jika terlalu gencar mendekati mantan adik iparnya itu.


Mungkin itulah yang membuat Andi merasa sedikit kesal padanya. Sejak semalam dia berpikir akan bersikap jinak-jinak merpati agar Andi tak bosan dengannya.


Namun bagaimana bisa jika ucapan Andi malam tadi bukanlah sebuah bualan semata. Lelaki impiannya itu ternyata memang telah menikah tanpa sepengetahuannya.


Tak lama beberapa orang muncul dari dalam. Yang pertama jelas Ahmadi dan Nina. Lalu yang kedua ada Galih dan di belakang mereka ada Rima yang berjalan sambil menunduk.


Hati Andi menjadi sakit melihat istrinya itu. Dia yakin sang istri pasti tengah merasakan sedih saat ini. Ingin sekali dia merengkuh tubuh Rima dalam pelukannya.


Namun dia sadar harus bersabar saat ini. Bahkan malam tadi Rima menolak mengangkat panggilannya, mungkin masih kecewa padanya.


"Nak Febri, kenalkan ini anggota keluarga kami. Saya Ahmadi, ini istri saya Nina, Galih adik kami dan di sana ada Rima yang merupakan istri dari Andi," penjelasan Ahmadi jelas membuat mata Febriana membelalak sempurna.


Dia lalu menatap tajam pada sosok perempuan bergamis cokelat yang duduk berhadapan dengan Andi.


Febriana jelas tak terima dirinya di singkirkan begitu saja oleh wanita seperti Rima yang dia nilai tak ada apa-apanya dibanding dengan dirinya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2