
Setelah kepulangan Budi dari rumah Nina kemarin, dia semakin gencar mencari keberadaan orang yang membantu Nina.
Dia pulang dengan keadaan yang semakin kacau. Budi ingat Nina datang dengan wajah tenang dan tak berbicara sepatah kata pun bahkan pada orang lain.
Keadaan itu mengingatkannya pada Mulya, saat dirinya hendak mencelakai istrinya dan gagal.
Budi semakin curiga kalau yang menyelamatkan Nina kala itu adalah istrinya.
Ia ingat samar-samar sebelum akhirnya dia pingsan, dia melihat siluet wanita yang berjalan melewatinya.
Mangkinkah itu Mulya? Pikirnya.
"Sial!" makinya.
Jannah kembali menghampiri kembali putranya, dia tau saat ini Budi pasti sedang kalut.
"Ada apa Bud? Masih belum ketemu si Nina?" sambarnya.
"Justru Nina sudah kembali Bu! Tapi dia mengingatkan aku akan—"
"Akan apa Bud?" potong Jannah.
"Dia seperti Mulya dulu yang bersikap tenang kala tau niat busuk kita Bu. Apa mungkin Nina di bantu oleh Mulya? Sebab aku tiba-tiba ke pikiran dia," jelas Budi.
"Hah! Mulya! Gawat ini Bud, kenapa semuanya semakin kacau begini Bud? Aduh gimana kalau Nina sama Mulya bersatu untuk menjatuhkan kita?" ujar Jannah panik.
"Ibu jangan bikin aku tambah panik. Ini aku lagi berusaha cari keberadaan dia. Bisa jadi ini kesempatan emas kalau kita berhasil menemukan Mulya!"
Seringaian keji muncul di wajah Budi, dia sudah mencari perempuan itu sejak lama, tapi sekarang takdir seolah ingin mempertemukan mereka kembali.
"Maksudnya?" Jannah tak paham dengan pikiran putranya.
"Kita bisa menghabisi Mulya sekaligus Nina Bu. Dan PAKK!"
Budi membuat tepukan yang membuat Jannah terkejut hingga mengusap dadanya.
"Apa sih kamu Bud! Bikin ibu kaget aja!" ketusnya.
"Budi bisa menguasai harta mereka berdua," setelah itu dia tertawa mengerikan.
Barulah Jannah paham dengan pikiran sang putra. Hanya saja dia masih bingung bagaimana bisa mereka menguasai harta Mulya dan Nina.
"Terus kamu punya ide apa?"
Budi menghela napas, "aku menambah orang untuk mencari keberadaan Mulya. Kita tunggu saja kabar dari mereka."
Budi lalu mengambil tas milik Nina yang berhasil di amankan oleh anak buahnya.
Dia melihat bahwa uang di dompet Nina sangat banyak, karena Nina belum sempat menyetorkan uang penghasilannya ke Bank.
Di sana juga ada beberapa kartu ATM milik Nina, tapi ia tak tahu berapa pin-nya.
"Banyak sekali uangmu Bud?" tanya Jannah saat melihat tumpukan uang di sebelah Budi.
Budi lantas memegang uang yang berjumlah kurang lebih sekitar lima puluh juta di tangannya.
"Ini duit si Nina," ucapnya memberi tahu.
__ADS_1
Jannah terperangah dengan uang Nina yang sangat banyak, dia jadi berpikir jika penghasilan di toko Nina pasti sangat besar.
"Ini pasti duit dari tokonya ya Bud?" tanya Jannah dengan mata berbinar. Dia jadi tak sabar ingin segera menguasai toko Nina jika melihat penghasilan Nina saat ini.
"Kayaknya."
Melihat tatapan sang ibu pada tumpukan uang Nina, Budi pun bergegas memindahkannya pada tas tangan miliknya.
Dia tau sang ibu pasti akan merengek uang ini, sedangkan Budi hendak menggunakan uang ini untuk membayar anak buahnya, jadi dia tak perlu mengeluarkan uang simpanannya.
"Loh Bud, kenapa kamu simpan semua? Bagilah untuk ibu sedikit, ibu ingin membeli perhiasan."
Benar dugaan Budi jika sang ibu pasti akan merengek.
"Ini buat bayar anak buahku Bu! Nanti saja kalau kita berhasil menguasai harta Nina dan Mulya. Lagi pula, bukankah ibu ngga mau terlibat lagi? kemarin ibu seakan lepas tangan, tapi melihat aku punya uang banyak, mata ibu langsung berbinar!" sindir Budi kesal.
Jannah tersenyum kikuk, "kamu tau sendiri ibu kan ngga bisa bantu kamu Bud, jangan lah marah sama ibu. Maafkan ibu ya," bujuk Jannah.
"Sudahlah Bu," sergah Budi jengah.
Baru saja dia menghentikan obrolannya dengan sang ibu, ponselnya kembali berdering, ternyata anak buahnya mengabarkan jika mereka berhasil meringkus Mulya dan anaknya.
Senyum Budi makin terkembang, dengan langkah tergesa dia meninggalkan sang ibu tanpa penjelasan apa pun.
Dia lalu mendatangi tempat di mana anak buahnya menyekap Mulya dan Cantika.
"Bagus ... Kerja bagus, aku puas dengan kerja kalian," ucapnya setelah datang ke sebuah bangunan terbengkalai yang berada di ujung kota.
Di depan sana ada Mulya dan Cantika yang di ikat di kursi.
Dulu Budi sempat berpikir jika Mulya menghilang jauh darinya. Nyatanya dia tertipu, Mulya tak pernah meninggalkan kota mereka. Dia hanya lihai bersembunyi.
"Akhirnya aku menemukanmu sayang," seringai mengerikan muncul dari bibir Budi.
Dia mengapit kedua pipi Mulya agar bisa menatapnya. Mulut Mulya yang tersumpal membuatnya tak bisa berteriak.
Inilah yang dia takutkan jika berurusan dengan Budi, suaminya itu pasti akan mencium keberadaannya.
Namun ia bisa apa, tak mungkin dia tega meninggalkan Nina yang akan di lecehkan oleh suaminya.
"Seharusnya kamu terus bersembunyi, ngga perlu ikut campur urusanku. Tapi karena kamu udah di temukan, aku bisa meminta hal yang dulu belum kamu berikan sayang," ujarnya.
Budi pun melepaskan sumpalan di mulut Mulya. Setelah itu Mulya memaki Budi dan meminta agar dia melepaskan Cantika.
Budi tertawa mendengar permintaan istrinya. Wajah Mulya tak memancarkan ketakutan, justru terlihat wanita itu sangat membencinya.
"Kamu harus menandatangani surat kuasa atas pemindahan warisan orang tuamu. Ini sebagai balasan karena ikut campur urusanku!"
"Aku ngga mau!" tolak Mulya.
Budi berbalik mendekati anak tirinya yang masih tak sadarkan diri.
"Baiklah kalau kamu menolak, jangan salahkan aku kalau menghabisi anak cacatmu di depan matamu," ancamnya.
Mulya memberontak, dia berteriak frustrasi. Berharap agar Budi tak menyakiti anaknya.
Lelaki kejam itu tertawa melihat ketakutan Mulya, dia tau apa yang bisa membuat Mulya goyah, apa lagi kalau bukan anaknya.
__ADS_1
Namun dia ingat, jika dia bisa memanfaatkan Mulya dan Cantika untuk kembali menjebak Nina.
Dia sangat senang dengan ide jahatnya. Budi sangat tau seperti apa Nina.
Wanita itu pasti akan melakukan apa pun untuk membalas budinya. Dulu saja mereka dekat karena Nina merasa banyak berhutang budi padanya.
Kini dia bisa kembali menekan Nina menggunakan Mulya dan Cantika yang telah menyelamatkannya.
Budi lalu meninggalkan Mulya lagi untuk melancarkan aksinya kepada Nina.
Kini dia ingin keluarganya terlibat. Dia sungguh kesal pada ibu dan adiknya atas sikap mereka kemarin.
Jadi saat ini dia akan meminta mereka membantunya untuk mengancam Nina.
Dengan iming-iming uang, dia yakin ibu dan adiknya akan menurutinya.
Dia pun kembali ke rumah dan mengutarakan idenya pada Jannah dan Rahma.
Rahma sempat menolak ide gila kakaknya, firasatnya tidak enak kali ini.
Namun saat Budi mengatakan segalanya, hati Rahma goyah, ia merasa kelakuan mereka akan aman-aman saja seperti biasa.
Jadilah ketiganya pergi ke rumah Nina, sedangkan Nurdin yang sedang kurang sehat di minta untuk tetap di rumah.
Saat menemui Nina, tugas Jannahlah untuk mengancam wanita itu.
"Ikutlah dengan kami, kalau kamu mau menyelamatkan Mulya dan Cantika," bisik Jannah.
Setelah itu dia kembali berpura-pura terisak demi mengelabui dua laki-laki yang bersama dengan Nina.
Nina menegang, dia bingung apa yang harus di lakukan. Jika menolak, dia akan merasa sangat bersalah, sebab karena dirinya persembunyian Mulya sampai ketahuan oleh Budi.
Namun jika dia mengikuti mereka, Nina tau mungkin mereka tak akan selamat.
"Kenapa Mbak?" tanya Galih curiga.
"Ah enggak Lih," ucap Nina menenangkan sepupunya.
"Apa harus sekarang?" tanya Nina lirih pada Budi dan yang keluarganya.
"Iya Nin," jawab Jannah lembut.
"Ada apa Nin, kamu mau ke mana?" sela Sugi.
"Aku ada perlu paman, tolong jaga Rima ya paman," pinta Nina dengan nada bergetar.
Galih merasa ada yang tidak beres dengan tamu kakak sepupunya, tapi dia tak tau ada apa.
Terlebih lagi Nina seperti bersedia mengikuti mereka padahal kondisinya sendiri belum pulih.
"Tapi Nin, kamu belum sehat, jelaskan dulu sama paman, kalau enggak paman ikut sama kamu!" cegah Sugi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc