Derita anakku

Derita anakku
Kabar duka di tengah kabar bahagia


__ADS_3

Dunia mungkin terasa baik-baik saja, padahal takdir sedang mempermainkan nasib dua insan yang masih remaja itu.


Rima tak memungkiri jika getaran rasa yang dia rasakan kala berdekatan dengan Andi adalah perasaan suka layaknya seorang wanita kepada laki-laki.


Namun janji pada sang ibu untuk tak memiliki hubungan lebih selama masih menjadi pelajar tetap di pegang teguh oleh remaja cantik itu.


Seperti saat ini, dia merasa kebahagiaan yang teramat sangat kala menghias ruang tamu besar milik ayah sambungnya.


Aneke, adik tirinya juga bisa turut hadir dalam syukuran empat bulanan anak Rima dan Ahmadi.


"Alhamdulillah selesai juga ya Ka," ucap Aneke sambil menyeka dahinya yang sedikit berkeringat.


"Kamu pengen punya adik apa An?" tanya Rima sambil memberikan sebotol minuman kaleng pada Aneke.


"Emmm ... Apa ya? Cewek lagi kayaknya seru ya Ka Rima," keduanya lantas terkekeh mendengar harapan Aneke yang memang asal menjawab saja.


"Cowok dong, kan Ayah udah punya dua Princes, masa ayah mau ganteng sendirian aja!" seru Ahmadi yang baru tiba bersama Rima.


"Ayah, Ibu!" sapa dua remaja itu.


Rima langsung sigap membantu sang ayah tiri yang membawa barang di kedua tangannya, begitu pula dengan Aneke yang ikut melakukan hal yang sama.


"Hemm harum banget, kue Bu Wingsih emang enggak pernah gagal!" ucap Rima.


"Emang Bu Wingsih enggak di undang Bu?" heran Rima karena mantan tetangganya yang baik itu tak membawakan kue buatannya sendiri.


"Om Prapto sakit, makanya tadi ibu jenguk ke sana sekalian ambil kue ini sendiri," jawab Rima sambil mengusap bahu putrinya.


"Ya ... Padahal Rima kangen sama Bu Wingsih loh," keluhnya.


"Datenglah ke sana sambil jenguk Om Prapto. Kamu tau, sekarang toko Bu Wingsih tambah besar, kuenya juga beragam loh. Kata Bu Wingsih sebagian kue yang dia buat itu kesukaan kamu dulu."


"Beneran Bu?" jawab Rima antusias. Nina hanya mengangguk membenarkan ucapannya.


"Kalau begitu An, sebelum kembali ke pondok nanti, mampir ke toko kue langganan kakak yuk!" ajak Rima pada adik sambungnya.


Aneke pun mengangguk setuju.


Tak terasa acara yang di tunggu pun di mulai. Tak ada wajah Citra dan Andi di sana.


Hubungan Galih dan Citra berakhir setelah Galih menceritakan kejadian waktu di kafe kepada Rima dan Ahmadi.

__ADS_1


Pikirannya terbuka jika cinta dan perasaan memang tak bisa di paksakan. Dia tak ingin menyesal di kemudian hari jika mereka sudah menikah.


Sedangkan Andi, bukannya tak di undang Rima dan Nina. Hanya saja dia lebih ingin mengawasi sang ibu karena takut berbuat onar di acara Nina lagi.


Usai acara lantunan doa demi keselamatan jabang bayi Nina selesai, tiba-tiba salah satu tetangga di pasar mendatangi kediaman Nina dengan terburu-buru.


"Bu, di depan ada Pak Iskandar, katanya ada yang penting," ucap Ira asisten rumah tangga Nina.


"Pak Iskandar?" heran Nina. Dia lalu menatap sang suami dan Ahmadi mengangguk menandakan mereka harus segera menemui tamunya.


"Pak Is," sapa Nina lantas mendekati lelaki paruh baya itu bersama sang suami.


"Maaf Bu Nina, saya ganggu acara keluarga ibu. Dari tadi saya sudah berusaha menghubungi telepon ibu tapi tak ada jawaban," jelas Iskandar.


"Oh maaf, karena lagi ada acara pengajian, ponsel saya di kamar Pak. Ini ada apa Pak?" tanya Nina waswas.


"Pasar kebakaran Bu Nina," ungkap pas Iskandar.


Tubuh Nina langsung limbung, pikirannya melayang pada usaha toko sembako miliknya.


"Lalu gimana keadaan toko istri saya?" tanya Ahmadi panik.


"Ya Allah," tak kuat mendengar penjelasan Iskandar tubuh Nina langsung ambruk tak sadarkan diri.


Ahmadi yang panik segera membopong tubuh Nina dan meletakannya di kamar.


Di sana Rima dan Aneke ikut menangis melihat keadaan Nina yang tak berdaya.


"Kalian jangan menangis, berikan minyak kayu putih ke tubuh ibu ya. Ibu hanya syok. Tolong jaga ibu, ayah mau ke pasar lihat kondisi pasar dan toko ibu," pinta Ahmadi pada kedua putrinya.


Rima dan Aneke mengangguk tanpa mau bertanya, sebab mereka sudah mendengar pembicaraan mereka tadi.


Kini dua bersaudara itu hanya berusaha membuat Nina sadar kembali.


"Mas mau ke pasar?" sela Galih begitu melihat sang kakak ipar keluar dari kamarnya.


"Iya, Mas mau pastikan keadaan di sana," jawab Ahmadi.


"Biar aku aja Mas. Lebih baik Mas jaga mbak Nina aja di sini, nanti langsung aku kabari," tawar Galih.


Dia tak tega melihat kebahagiaan kakak sepupunya tiba-tiba berubah jadi duka karena musibah ini.

__ADS_1


Lagi pula Galih yakin Nina pasti membutuhkan sandaran saat sadar nanti.


"Kamu yakin? Mas enggak tenang, ingin memastikan sendiri saat ini," elak Ahmadi.


"Mas percaya sama aku, pasti aku langsung ngabarin begitu sampai!"


Tak ingin berdebat lagi, Galih bergegas menuju ke mobilnya dan memacunya meninggalkan kediaman Ahmadi.


Begitu sampai, kobaran api masih melahap, ada sekitar lima mobil pemadam kebakaran di kerahkan.


Bahkan bangunan-bangunan ruko di depan tak tampak sama sekali tertutup api yang masih membesar.


"Ini udah berapa lama Pak?" tanya Galih pada salah satu petugas pemadam.


"Udah satu jam Mas, tadi sempat berhenti, tapi ternyata di dalam ada agen tabung gas, jadi meledak lagi semakin besar," jelas petugas dengan berteriak karena riuhnya suasana pasar.


Galih menyugar rambutnya. Tak mungkin toko Nina bisa di selamatkan isinya.


Dia segera menepi dari keramaian untuk menghubungi Ahmadi sesuai janjinya.


Galih memilih menggunakan panggilan Video agar sang kakak ipar bisa melihat sendiri kondisi di sana.


"Assalamualaikum Mas, parah ternyata, enggak mungkin ada yang bisa di selamatkan," ucap Galih sambil mengarahkan kameranya pada toko Nina.


"In nalilah," ucap Ahmadi dan kedua putrinya.


Rima menangis melihat toko milik ibunya yang selama ini menopang kehidupannya terlalap api hingga tak tampak lagi rupanya.


Dia juga merasa syok. Rima lantas menatap sang ibu dengan sedih.


Baru juga merasakan kebahagiaan atas kehamilannya, kini sang ibu harus merasakan pahitnya kehilangan usaha yang susah payah sang ibu besarkan.


"Kamu tau penyebab kebakarannya Lih?" tanya Ahmadi berusaha tenang.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2