
Para penyidik dari kepolisian lantas menggeser laptop milik Nina agar mereka bisa melihat apa yang terjadi di sana.
"Aji ..." lirih Nina tak percaya. Pemuda yang sudah lama bekerja dengannya melakukan hal curang ini padanya.
Ada apa dengan pemuda itu? Apa dirinya pernah menyakitinya hingga pemuda bernama Aji itu tega melakukan hal buruk padanya? Batin Nina bertanya.
"Aji kan itu Mbak? Kurang ajar! Aku enggak nyangka dia selicik ini! Apa sih mau dia!" sungut Galih murka.
Dia lantas bangkit berdiri dan hendak meluapkan kekesalannya pada Aji yang telah membuat sang kakak sepupu mengalami kerugian yang cukup besar.
"Sabar Lih!" cegah Ahmadi yang tahu akan apa yang di pikirkan adik iparnya.
"Ini enggak bisa di biarkan mas. Entah apa tujuan Aji, kenapa dia tega melakukan hal kejam ini sama mbak Nina!" ujarnya murka.
"Mas Galih tenang saja. Biar semua menjadi urusan kami. Kalau Mas Galih yang bertindak justru akan menjadi ancaman untuk mas Galih sendiri," sergah salah satu petugas penyidik.
"Benar Mas. Ini semua tugas kami. Setelah ini kami akan membuat surat pemanggilan untuk saudara Aji," jawab petugas lainnya.
Ahmadi lantas mengangguk setuju, Nina hanya bisa diam merasa linglung. Dia tidak menyangka kalau salah satu pegawainya yang paling pendiam di antara yang lainnya bisa berbuat keji seperti ini padanya.
.
.
Keesokan harinya, Nina sebagai pemilik toko di minta datang ke kantor polisi untuk di mintai keterangan mengenai karyawannya yang bernama Aji.
Galih tak bisa turut serta karena memang jatah cutinya sudah habis.
Dia berkata kalau mereka masih berada di kantor polisi saat jam istirahat, maka Galih akan mendatangi keduanya di sana.
Di sana sudah ada Aji dan juga ayahnya. Ayah Aji yang melihat Nina segera mendatangi bos anaknya.
"Maafkan anak saya Bu Nina, maafkan Aji, ini semua karena kami makanya Aji nekat berbuat seperti ini, tolong Bu Nina," ucap Ayah Aji sambil berderai air mata.
Dia tak kuasa melihat sang putra menjadi seorang pesakitan karena menjadi tersangka atas kebakaran yang menghebohkan kota mereka.
"Tenang Pak, jangan seperti ini, kami juga butuh penjelasan dari Aji mengapa dia melakukan hal seperti ini," sela Ahmadi yang sedikit merasa iba melihat ayah Aji.
Ayah Aji mengusap air matanya. Tubuh kurus lelaki paruh baya itu seakan membuat Nina bingung dan bertanya-tanya apa tujuan Aji melakukan hal nekat itu padanya.
Apa untungnya bagi pemuda itu? Batin Nina bertanya-tanya.
"Mari bapak dan ibu silakan duduk, kita dengar penjelasan dari saudara Aji," sela petugas penyidik yang kemarin datang ke rumah Ahmadi dan Nina.
__ADS_1
Nina duduk berhadapan dengan Aji dan ayahnya. Di sudut lain ada dua petugas yang kemarin datang ke rumahnya.
"Baik saudara Aji, tolong jawab pertanyaan kami dengan jujur, karena kalau Anda terus mengelak dengan segala bukti yang akan kami tunjukkan maka kami pastikan hukuman Anda akan jauh lebih berat," ancam petugas tersebut.
Aji hanya menunduk, dia menyeka sudut matanya yang terasa basah.
Ada rasa bersalah yang luar biasa dia rasakan kala melakukan hal kejam pada atasannya, Nina.
Wanita baik hati dan lembut itu sangat perhatian dan memperlakukan dirinya dan para karyawan dengan baik.
Kini dia yakin kalau dirinya akan di benci oleh wanita lembut itu juga rekan-rekan kerjanya yang harus kehilangan pekerjaan mereka.
Namun karena iming-iming uang untuk berobat sang ibu membuatnya nekat melakukan semuanya.
"Silakan lihat ini saudara Aji," salah satu petugas menunjukkan rekaman kamera pengawas milik Nina.
Mata Aji membulat, lalu dia menunduk, dia tidak tahu kalau di sana juga di pasangi kamera pengawas oleh Nina.
Aji berani menerima tawaran dari orang asing untuk merusak toko Nina karena dia berpikir Nina hanya memasang kamera pengawas pada bagian depan toko, karena layarnya ada di dekat meja kasir Nina.
Ternyata di bagian-bagian lain Nina pasang tapi di sembunyikan oleh bosnya itu.
"Apa benar jika itu adalah saudara?" tanya penyidik lagi.
"Apa motivasi Anda melakukan kejahatan ini saudara Aji?"
Aji menelan kasar salivanya, lalu menengadah menatap Nina. Nina membuang muka, jelas ada rasa sakit hati yang di rasakan olehnya, terlebih lagi Aji adalah karyawan yang selalu dia perhatikan karena memang pemuda itu yang paling rajin.
Nina merasa seperti di khianati dua kali, lebih baik di sakiti oleh orang yang memang tidak suka dengannya dari pada oleh orang dekatnya yang dia percaya.
"Saya terpaksa Pak," jawabnya lirih.
"Kenapa?" tanya petugas tegas.
"Saya butuh uang untuk biaya berobat ibu."
"Kenapa kamu enggak bilang sama ibu Ji! Ibu pasti bantu kamu!" sela Nina yang sudah tidak tahan dengan sakit hatinya.
"Tenang Bu Nina. Biarkan kami bekerja, ibu dan bapak diam dan mendengarkan saja apa yang akan di jelaskan oleh saudara Aji, mengerti?" pinta petugas penyidik pada Nina.
Ahmadi lantas mengusap lengan sang istri, agar Nina sedikit tenang.
"Berarti ada orang yang menyuruhmu melakukan kejahatan ini?" cecar petugas lagi.
__ADS_1
Aji mengangguk sebagai jawaban, meski dia merasa takut tapi dia tak punya pilihan.
Sebelum berangkat ke sana, dia sudah di cecar oleh sang ayah. Aji telah mengakui segalanya pada sang ayah.
Meski takut keluarganya di celakai oleh orang yang menyuruhnya, karena memang dia di ancam jika berani buka mulut, maka mereka akan menghabisi keluarga Aji.
Namun ayah Aji mengatakan jika mereka tak akan kenapa-napa. Ayah Aji berkata yakin jika ada Tuhan yang akan melindungi mereka.
Kalau pun mereka akhirnya di sakiti oleh orang yang menyuruh Aji, sang ayah berkata bahwa semua itu mungkin kehendak Tuhan.
Aji juga di minta untuk tak merasa takut dan bersalah jika terjadi sesuatu dengan mereka di kemudian hari.
Bagi Ayah Aji, putranya yang berani bertanggung jawab atas kesalahan yang di lakukannya sudah membuat mereka bangga.
"Siapa?" tanya petugas tajam.
Jantung Nina dan Ahmadi juga berdebar sangat kencang menunggu Aji mengatakan dalang di balik kejahatan itu.
"Namanya pak Kumar, pak," jawab Aji lirih.
"Kumar?" tanya petugas sekali lagi.
Lagi-lagi Aji mengangguk menjawab pertanyaan petugas.
"Anda kenal Pak Kumar Bu Nina?" sekarang petugas menghadap pada Nina.
Nina menggeleng, merasa asing dengan nama tersebut.
Siapa dia? Mengapa dia meminta Aji menghancurkan toko miliknya?
Apa dia sakit hati? Tapi seingat Nina dia tak pernah sekali pun bersinggungan dengan seseorang yang bernama Kumar.
"Seperti apa ciri-cirinya? Kamu punya fotonya?" tanya petugas lagi.
Kali ini Aji menggeleng, jelas dia tidak berani memfoto lelaki berwajah bengis tersebut.
Menatapnya saja sudah membuat Aji bergidik ketakutan apa lagi memotretnya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc