Derita anakku

Derita anakku
Mencekam


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari Nina. Rima dan Ayu menuju sebuah Mall untuk membeli keperluan mereka.


Selain membeli buku, mereka juga menghabiskan waktu untuk menonton bioskop.


"Gila, serem banget sumpah! Duh bisa ngga ya ntar malem aku tidur sendirian," keluh Ayu usai mereka menonton sebuah film horor.


"Lagian kamu pake acara ngajak nonton horor segala!" cibir Rima.


"Ye ngga papa emang seru tau, dari pada nonton romansa yang ada ngenes, kita kan jomlo! Eh Rim, laper nih makan yuk!" ajak Ayu sambil menggandeng Rima menuju ke restoran cepat saji.


Setelah bersenang-senang keduanya harus berpisah sebab rumah keduanya memang berbeda arah.


"Yah lowbet lagi!" keluh Rima saat melihat ponselnya.


Dia yang sejak tadi bersenang-senang dengan Ayu tak pernah sekali pun membuka ponselnya, hingga tak sadar jika ponselnya sudah mati.


"Lupa lagi bawa power bank! Naik ojek pangkalan aja kali ya," monolognya.


"Aduh di mana ya ada ojek apa taksi di sini?" lanjutnya sambil menyisir jalanan di depan.


"Kenapa Neng?" sapa keamanan Mall pada Rima.


"Eh iya Pak, ojek apa Taxi ngga ada pak?" tanyanya.


"Oalah mau nyari ojek. Mereka adanya di belakang Mbak. Ngga ada yang mangkal di depan sini," jawab sang keamanan.


"Oh makasih ya Pak."


"Ishh. Tau gitu tadi nebeng Ayu aja, sial banget sih!" gerutunya saat kembali masuk ke dalam Mall menuju pintu parkir belakang.


Sayangnya saat dia udah sampai di belakang, di sana tak ada satu pun tukang ojek yang mangkal.


Rima lantas bertanya kepada orang-orang yang ada di sana.


Mereka memberi tahu Rima jika dia harus berjalan lagi menuju pangkalan para tukang ojek yang letaknya agak jauh dari sana.


Rima sedikit bergidik karena semakin ke sana semakin sepi, karena tempatnya menuju sebuah kompleks perumahan.


Tiba-tiba, dia di ganggu segerombolan pemuda, membuat wajah Rima pias seketika.


Dalam hati dia selalu berdoa dan meminta pertolongan pada Tuhan agar menjauhkannya dari para pemuda berandalan yang semakin dekat dengannya.


Refleks Rima berlari untuk menghindari mereka, sayangnya, karena panik, Rima berlari tak tentu arah hingga dia terjebak di gang buntu.


Para berandalan itu bersorak senang karena target mereka terkepung.


"Cakep Men, mimpi apa Gue semalem," ucap salah satu berandalan.


"Tolong, kalian mau apa?" Rima menangis sambil memeluk tas belanjaannya di dada.


"Tenang aja sayang, kita bakal senang-senang kok!" sambung yang lainnya.


Rima tersudut hingga dia duduk memeluk lututnya. Tubuhnya sudah gemetaran.

__ADS_1


Tawa terbahak-bahak mereka membuat suasana makin mencekam.


Salah satu berandalan berhasil mendekati Rima dan duduk di depannya.


"Ayo sayang ikut abang," bujuknya.


Rima menggeleng kuat, "tolong lepaskan saya Bang, Abang mau apa? Saya punya sedikit uang," tawarnya.


Rima lebih baik kehilangan harta bendanya dari pada harus mengikuti para berandalan itu.


Namun, sang berandalan justru tertawa dan menarik paksa tangan Rima agar mau mengikutinya.


Rima menjerit histeris bahkan meminta tolong, tapi suasana di sana benar-benar sepi.


Hingga tiba-tiba, suara sepeda motor yang mengerem mendadak membuat mereka semua berhenti.


"Lepasin dia," seru sebuah suara yang sangat Rima kenal. Entah kenapa mendengar suara Andi membuat Rima sedikit tenang.


"Ka Andi?" panggilnya pada lelaki yang masih mengenakan pelindung kepala.


"Eh bocah minggir Lu kalau ngga mau kita habisi!" ancam lelaki yang masih memegang tangan Rima.


Di balik pelindung itu Andi tersenyum sinis, tak mungkin dia meninggalkan Rima pada mereka.


Tanpa banyak kata pemuda lain yang berjumlah sembilan orang segera mengepung Andi.


Sedangkan lelaki yang memegang tangan Rima, berusaha menyeret gadis itu agar pergi dari sana.


Fokus Andi terpecah karena melihat Rima yang di tarik menjauh darinya, hingga membuat salah satu berandal tadi memukul punggung Andi dengan kayu balok.


Andi terjatuh dengan bertopang pada lututnya. Para berandalan itu menghajar Andi habis-habisan, menendang dan memukulnya.


Rima menangis tertahan saat melihat mereka menyiksa Andi. Hingga tak lama kemudian beberapa motor berhenti di depan mereka.


"Whoa ... Whoa ... Segitu aja KO lu Ndi?" ejek Gyan sambil menekuk buku-buku jarinya.


"Mayan ini olah raga malam," sambung Theo menekuk lehernya seperti tengah melemaskan otot-ototnya.


Luke hanya menatap mereka datar. Dia tak suka berbasa-basi hingga berjalan mendekati mereka dan mengarahkan tinjunya pada salah satu berandalan.


"Lu tolong si Rima, mereka biar kita yang beresin," ucap Luke.


Gyan, Theo dan Noval sudah mulai bergelut menghajar mereka.


Andi segera bangkit dan mendekati Rima melawan satu orang berandalan yang kini menodongkan pisau di depan wajah Rima.


"Mundur atau Gue siksa dia!" ancamnya.


Andi membuka pelindung kepalanya dan meludah ke samping. Karena gelap tak ada yang tahu jika pemuda itu baru saja mengeluarkan darah.


Rima yang tahu posisi mereka terjepit refleks menginjak kaki si berandalan hingga fokusnya teralih kan.


Kesempatan itu tak di sia-siakan Andi untuk melumpuhkan si berandalan.

__ADS_1


Satu lawan satu membuat keadaan mereka seimbang. Rima segera berlari ke belakang Andi untuk menyelamatkan diri.


Sebenarnya Rima sangat ketakutan, dia justru ingin segera pergi dari sana tapi tidak mungkin, dia justru takut kalau-kalau berandalan itu memiliki kawanan lain di luar sana.


Saat keduanya saling menyerang dengan brutal, sang berandal dapat mengambil kembali pisau yang sempat terjatuh tadi.


Rima yang melihat hal itu seketika panik, dia bingung, ingin menyelamatkan Andi tapi takut celaka sendiri.


Namun karena merasa terpojok, tiba-tiba Rima melangkah menerjang si berandalan dengan modal batu di tangannya.


Sreet


Brugh


"Ahh ..." jerit keduanya. Andi tak terelakkan terkena sabetan pisau, dan si berandalan terkena batu di kepala oleh Rima.


Keduanya sama-sama ambruk membuat Rima menjerit histeris.


Kawan-kawan Andi yang berhasil menaklukkan kawanan para berandalan, akhirnya mendekati Rima yang tengah memangku kepala Andi.


"Ka Andi bangun Ka," tangisnya pecah, sebelah tangannya dia pegang pada luka Andi yang mengeluarkan darah.


"Astaga, kita harus bawa Andi ke rumah sakit sekarang!" pekik Gyan panik.


"Rima, tenang, kita harus gotong Andi keluar dari sini, karena mobil jemputan ngga bakal bisa masuk ke sini," jelas Theo sambil mengusap bahu Rima.


Rima hanya mengangguk linglung, hatinya takut kalau hal buruk terjadi pada Andi.


Luke yang sigap untung lekas meminta anak buah ayahnya untuk menjemput mereka di sana.


Tak lama mobil datang. Andi dan Rima naik ke mobil dan Luke sendiri yang mengemudikan mobilnya.


Rima duduk di belakang dengan memangku kepala Andi, sebab Luke meminta Rima mengajak Andi bicara agar tak hilang kesadarannya.


Andi tersenyum saat dirinya bisa sedekat itu dengan Rima.


"Jangan nangis, kamu jelek kalau nangis," guraunya membuat Rima memberengut kesal.


"Kamu lagi sakit Ka! Bisa ngga serius!" gerutunya.


Andi menahan tawa sebab rasanya sangat sakit di bagian perutnya.


"Ka, kenapa? Jangan tidur Ka, aku mohon, ngga papa kakak ngegombal tapi jangan merem ya," pinta Rima saat Andi memejamkan matanya.


Kesadaran Andi hampir hilang, Rima tentu saja merasa sangat kalut karena Andi seperti tak meresponsnya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2