
Mengikuti saran sang paman, esoknya Nina mendatangi kediaman Tyas.
Sempat terkendala karena Nina sama sekali tidak tau di mana mereka tinggal setelah di usir olehnya waktu itu.
Untung saja, mantan tetangga Tyas tau di mana mereka berada.
Di antar oleh Galih, Nina akhirnya sampai di kediaman Tyas.
Terlihat Dita yang sedang menyapu teras kontrakan kecil mereka.
"Assalamualaikum," sapa Nina.
Motor yang di kendarai Galih tak bisa masuk ke dalam jalan kontrakan Tyas, jadilah terpaksa Nina turun dan mendekati mereka dengan berjalan kaki.
"Waalaikumsalam, mbak Nina!" pekik Dita terkejut. Antara senang dan ragu-ragu.
Senang karena dia berharap Nina berubah pikiran dengan mengajaknya kembali tinggal di sana, ragu-ragu karena merasa Nina masih seperti dulu.
"Eh Mbak masuk dulu," ajak Dita lembut.
"Di sini aja Ta, Mbakmu ada?" tanya Nina langsung.
"Ada apa Mbak Nina nyari Mbak Tyas?" tanya Dita yang masih menatap Nina heran.
"Bisa panggilin aja? Mbak ada perlu sama mbakmu!" tolak Nina menjelaskan.
Dita menghela napas lalu mengangguk, "bentar ya Mbak!" gadis itu lalu masuk ke dalam untuk memanggil sang kakak.
"Ada apa sih! Ngapain dia dateng kesini!" suara keributan terdengar di telinga Nina.
Dia menarik napas dalam untuk memberinya perasaan tenang. Untungnya tak lama Galih datang bersamaan dengan datangnya Dita dan juga Tyas.
"Mau a-pa ..." mereka terpesona dengan sosok pemuda tampan yang duduk di sebelah Nina.
Jiwa wanita mereka meronta, tak lama pipi keduanya pun merona, sikap keduanya begitu canggung saat menatap Galih.
Nina hanya mendengus, mengejek keduanya, yang terlihat sekali sedang mencari perhatian sepupunya.
Tyas dan Dita sepertinya lupa dengan Galih karena dulu pemuda itu hanya sekali datang di acara pernikahan Titik dan Dibyo waktu itu dia masih remaja.
"Ini siapa Nin? Jangan bilang calon suamimu. Sadar Nin, kamu sudah berumur, masa iya sama lelaki muda, nanti banyak yang ngomongin di belakang," cibir Tyas.
Padahal sejak tadi justru dia yang bersikap genit pada Galih.
__ADS_1
"Dia Galih anaknya Paman Sugi kalau kamu lupa!" jawab Nina datar.
Dita menutup mulutnya malu, tak menyangka jika pemuda yang dulunya bertubuh gempal sekarang berubah menjadi lelaki tampan dengan tubuh atletik.
Refleks Dita tertawa lebar memperlihatkan kedua gigi palsunya yang berubah sedikit hitam di sela-selanya.
Membuat Galih bergidik ngeri melihatnya. Lupa akan gigi palsunya yang sudah tak sedap di pandang, Dita menutup bibirnya ke dalam.
"Masih jomblo Mas Galih?" tanya Dita semangat, berharap dia bisa menjadi kekasih Galih meski usia pemuda itu lebih muda darinya.
"Ngga usah tanya-tanya. Aku ada perlu sama kamu Tyas," ucap Nina memotong ke ingin tahuan Dita pada Galih.
Dia harus segera berbicara karena harus segera membuka toko.
"Aku mau kamu jemput Ziva pulang dari rumahku. Maaf aku ngga bisa nampung dia," jelas Nina.
"Hah! Dia minggat ke sana rupanya? Ya sudahlah Nin, kamu terima aja, lagi pula kamu hanya berdua dengan Rima, biar Rima ada temannya. Aku titip dia ya," jawab Tyas ringan.
Biar pun anaknya membuat masalah, sebenarnya Tyas cukup khawatir Ziva akan pergi ke sembarang tempat dan membuat dia semakin malu.
Namun saat tau kalau ternyata anaknya berada di rumah Nina dia merasa senang. Tak peduli Nina tau kondisi Ziva atau tidak.
Dia bahkan memiliki ide agar Galih bisa menikahi anaknya kalau memang mereka tinggal bersama, biar saja dia memfitnah Galih, agar mau bertanggung jawab akan bayi Ziva.
Ia yakin kalau keluarga Galih merupakan keluarga terpandang seperti keluarga Nina, hingga dia merasa tenang jika Ziva bisa menikah dengan pemuda tampan di depannya ini.
"Kamu tega banget sih Nin! Dia itu kan keponakan kamu juga! Apa kamu ngga kasihan sama dia!" elak Tyas.
"Terserah kalian, aku udah bilang baik-baik ya," Nina lalu bangkit berdiri, karena sudah cukup urusannya dengan Tyas.
"Tunggu Mbak Nina! Kami kan belum kasih suguhan, kok udah mau pergi aja sih!" sela Dita yang masih ingin berbincang dengan Galih. Dia tak peduli akan nasib keponakannya, tujuannya hanya satu, menggaet sepupu Nina.
Nina mendengus, dalam hati dia berkata jika ingin memberi suguhan harusnya sejak tadi mereka memberinya, tapi setelah urusannya selesai mereka baru menawarinya.
"Ngga perlu terima kasih, Assalamualaikum."
Mereka kemudian melanjutkan langkah meninggalkan rumah kontrakan Tyas.
"Gimana Lih, Mbak yakin Tyas ngga bakal jemput Ziva ke rumah Mbak," ucap Nina lemah.
"kayaknya sih gitu Mbak, kalau mbak usir, aku yakin juga Ziva ngga bakalan pulang ke rumahnya sendiri," sambung Galih.
"Gimana kalau Galih ajak aja dia pulang mbak? Pasti dia mau, ya meskipun harus bohong sama dia," saran Galih.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Nanti saat mereka pulang sekolah, biar Galih jemput, sekalian pulangnya ke sini aja!" jelas Galih.
Untungnya tadi mereka sekolah menggunakan kendaraan Online, jadi Galih bisa melakukan idenya agar Ziva tak menyusahkan kakak sepupunya.
"Bolehlah, kalau dia berontak terus bikin rusuh gimana?"
"Tenanglah Mbak, kalau dia balik lagi ya tinggal tolak aja. Dari pada kaburnya dari rumah Mbak Nina nanti malah kita yang kena masalah," sambung Galih.
Nina pun mengikuti saja saran dari sepupunya, mereka lalu datang ke toko. Karyawan Nina yang perempuan tersenyum senang saat pemuda yang mereka temui di rumah Nina kini bahkan akan bekerja di toko bersama atasan mereka.
"Wah bisa makin betah ada Mas Galih Nih!" sambar Lastri dan karyawan wanita lainnya.
"Matamu Las .. Las, kalau liat cowok ganteng langsung ijo!" ejek karyawan lelaki Nina yang lain.
"Alah Mas, Mbak, jangan sungkan sama saya, saya juga kerja sama Mbak Nina, sama seperti kalian!" balas Galih ramah.
Suasana toko kembali ceria saat bergabungnya Galih. Toko yang di tempati oleh Budi dulu kini sudah berubah pemiliknya.
Nina tak tau lagi bagaimana kabar mereka. Dia memutuskan untuk tak peduli lagi, karena usai persidangan kasusnya Nina tak pernah bertemu lagi dengan mereka.
.
.
Di sekolah Rima dan Ziva, sedang gempar dengan video yang mengatakan jika Ziva tengah hamil.
Nurma dan Bagas panik bukan main karena ada mereka di sana.
Postingan itu di ambil di salah satu aplikasi Online bersimbol F entah milik akun siapa.
Meski video itu sudah di hapus oleh pemilik akun, tapi berita tentang kehamilan Ziva sudah menyebar di seluruh siswa dan kalangan guru.
Bahkan kepala sekolah yang murka pun memanggil kedua guru dan juga Ziva yang ada dalam Video tersebut.
Entah siapa yang menggugah video itu. Padahal Bagas dan Nurma yakin jika mereka sudah memastikan tak ada murid lain saat dia tengah berbincang dengan orang tua Ziva.
Namun ternyata mereka salah, sebab ada yang tau tentang masalah itu dan menyebarkannya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc