
Ziva menatap sekolah Rima dengan pandangan sendu. Andaikan dulu dia tidak terjerumus ke pergaulan bebas, harusnya dia masih merasakan masa-masa sekolah seperti Rima dan anak-anak di depannya.
Ziva menarik napasnya dalam, melupakan sejenak kegundahannya. Memusatkan kembali tujuannya ke sini adalah untuk menemui Rima.
Dia berjalan mendekati pos keamanan dan bertanya tentang Rima.
Keamanan yang tidak mengenal satu persatu murid hanya meminta Ziva masuk dan mencari ke ruang guru.
Biasanya guru akan memanggil melalui pengeras suara.
Ziva berterima kasih dan segera masuk ke dalam. Dia berharap semoga tidak bertemu dengan anak tirinya di sana. Bisa kacau segalanya, batin Ziva.
Belum sampai ke ruang guru, Ziva sudah melihat keberadaan Rima yang sedang berjalan bersama teman-temannya.
Senyum Ziva merekah, dia lantas memanggil Rima dengan kencang, agar Rima mendengar panggilannya.
Benar saja, Rima menatapnya. Awalnya heran tapi lambat laun Rima juga mengembangkan senyumnya.
"Ziva?" ucapnya tak percaya.
"Siapa Rim?" tanya Ayu.
"Saudara aku. Sebentar ya aku ke sana dulu." Rima bergegas mendatangi Ziva dan mengajaknya ke sebuah kantin.
"Ada perlu apa Va ke sini?" heran Rima.
"Mau ketemu kamu aja, kan aku ngga punya nomor hapemu, makanya aku samperin kamu ke sini," jelasnya.
Ziva memang datang di waktu yang tepat. Dia sudah tau jam berapa sekolah Rima istirahat dan pulang.
Rima juga menelisik penampilan Ziva yang berubah.
Dalam hati gadis itu, mungkin Andi dan keluarganya telah memperlakukan Ziva dengan baik seperti sarannya dulu.
"Aku denger Bude Nina udah nikah lagi ya Rim? Sampai in selamat ya buat bude," ucapnya.
Rima yang lupa tidak mengundang Ziva, merasa tidak enak hati. "Maafin aku ya Va, aku lupa enggak undang kamu. Beneran deh."
Ziva berdecih mendengar penjelasan Rima. Gadis itu mampu mengundang Andi tapi melupakan dirinya. Ziva yakin kalau Rima dan Nina memang sengaja tak ingin mengundangnya.
"Ngga papa, lagian aku bukan bagian keluarga kalian lagi. Jadi ngga penting juga," jawabnya.
Ucapan Ziva seperti menohok Rima. Tentu saja remaja itu merasa malu akan keteledorannya. Namun dia bisa apa? Semua sudah berlalu.
"Eh, ngomong-ngomong ada apa kamu ke sini Va? Mau masuk ke sini nantinya?"
"Aku udah enggak mikirin sekolah Rim. Ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu. Apa kamu pacaran sama Andi?"
"HAH?!" beonya.
__ADS_1
Rima tak mengerti kenapa banyak orang yang selalu menganggap kedekatannya dengan Andi adalah sebuah bentuk hubungan pacaran.
Padahal tidak pernah ada hubungan apa pun antara dirinya dan juga kakak kelasnya itu.
Ziva menatap tajam Rima, "kenapa?"
"Mana ada aku pacaran sama Ka Andi Va! Kamu ada-ada aja," jawabnya.
Ziva masih tak percaya, sebab dia melihat waktu acara ulang tahun Andi, anak tirinya itu memperlakukan Rima dengan sangat berbeda.
Dari sana saja jelas terlihat jika Andi sangat menyukai Rima.
"Beneran?"
"Beneran Va. Aku ini baru kelas satu, lagian udah janji sama ibu kalau aku ngga bakalan pacaran-pacaran dulu. Emangnya kenapa sih?" tanya Rima penasaran.
Ziva tersenyum lega, syukurlah kalau Rima sudah membawa nama Nina, dia yakin apa yang di ucapkan gadis di depannya ini adalah benar.
"Syukurlah, aku cuma mau ingetin kamu Rim, jangan sampai masuk ke keluarga Andi. Keluarga mereka enggak sebaik apa yang kita lihat. Kalau bisa kamu mulai jauh-jauh dari Andi."
"Sebagai saudara, aku cuma bisa bantu kamu ini, semoga kamu bisa ngerti," jelasnya.
Rima hanya tersenyum kaku. Selama mengenal Andi dia yakin pemuda itu adalah sosok yang baik. Namun saat mengingat ibu dari pemuda itu, mendadak Rima setuju dengan ucapan Ziva.
Ibunda Andi itu memang terlihat sangat tidak menyukainya dan ibunya. Entah salahnya apa, tapi yang jelas ucapan-ucapan kasar wanita itu masih terngiang jelas di benak Rima.
"Makasih ya Va, udah mau ngingetin."
Keduanya hanya saling tertawa, Rima tentu saja tidak terlalu memikirkan masalah lelaki saat ini sebab dia merasa memiliki janji dengan sang ibu untuk mengutamakan pendidikannya.
Kalau boleh jujur hanya dengan Andi lah dia bisa berteman dengan nyaman. Meski kadang pemuda itu sedikit ketus dan Arogan, Rima yakin kalau Andi adalah sosok yang baik.
.
.
Di basecame, Clara masih berusaha mendekati Andi. Dia masih tak terima dengan penolakan pemuda itu tempo hari.
Rencana yang telah dia susun bersama dengan Lyra harus hancur karena penolakan Andi.
Bukan hanya malu, dia juga merasakan sakit hati yang teramat sangat kala Andi lebih memilih gadis yang belum lama di kenalnya.
"Kamu kenapa sih Ndi? Kamu sengaja ngehindarin aku. Salah aku apa? Kamu bahkan ngga mau jelasin apa-apa sama aku? Kenapa Ndi?" rengek Clara.
Sahabat-sahabat Andi yang lain hanya menatap jengah pada Clara. Gadis itu dulu tak menyebalkan seperti sekarang.
Cinta memang bisa merubah segalanya!
"Udah sih Ra, dari pada pusing mikirin Andi. Udah jelas-jelas ada Luke yang dari dulu suka sama Lu. Aneh banget sih Lu!" keluh Gyan yang mulai kesal mendengar rengekan Clara.
__ADS_1
Clara tak memedulikan keluhan teman-temannya. Bahkan Luke memilih pergi dari sana demi menyelamatkan hatinya yang akan terluka lagi.
Melihat kepergian sahabat baiknya, Andi kini menatap tajam Clara.
Clara yang di tatap seperti itu nyalinya sedikit menciut.
"Puas Lu? Apa sih mau Lu? Udah gue bilang, kagak bakal pernah ada hubungan antara gue ma Lu. Lu tuh temen gue, selamanya bakalan begitu, ngerti Lu!" ucapnya dingin.
"Tapi Ndi —"
"Mending Lu keluar dari sini. Lama-lama gue muak liat lu. Gue kira lu beda sama cewek-cewek di luaran sana yang ngejar-ngejar gue. Nyatanya sama aja!"
Setelah mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu Andi bangkit berdiri meninggalkan Clara yang diam mematung.
"Ini yang paling gue benci kalau ada perempuan di tengah-tengah kita! Ngerusak persahabatan!" gerutu Noval yang di setujui oleh yang lainnya.
.
.
Sedangkan di kantor Galih, sepupu Nina itu tengah merasa gelisah dengan perubahan sikap kekasihnya.
Galih tau sejak dulu siapa Andi bagi Citra. Makanya dia sangat tak menyukai pemuda itu.
Kerja kerasnya untuk meluluhkan hati Citra seakan sirna kala kekasihnya itu bertemu lagi dengan Andi.
"Kamu kenapa sih Yang? Kok jadi gini?" keluh Galih.
"Kamu belum tepatin janji kamu buat temuin aku sama Andi Lih, kenapa?" jawab Citra datar.
Usai acara pernikahan Nina, saat Citra hendak menyusul Andi, Galih memang mencegahnya.
Saat itu suasana memang sedang tidak kondusif, Galih mengatakan hal itu agar Citra tak mengejar Andi yang tengah sibuk menenangkan ibunya.
"Sekarang aku tanya sama kamu. Kamu nemuin Andi buat apa? Aku yakin tanpa bantuanku juga sebenarnya kamu bisa menemuinya, kenapa?" cecar Galih.
Hatinya sakit melihat sikap sang kekasih yang sepertinya tak bisa menghargainya.
Citra menunduk, sudah berbagai cara dia lakukan agar bisa berbicara dengan Andi. Namun tak pernah bisa, sebab Andi selalu menolak berbicara dengannya.
Itulah mengapa dia membutuhkan Galih sebagai perantara agar dia bisa bicara dengan Andi.
Sayangnya, Galih terlihat sekali enggan membantunya, oleh sebab itu dia memiliki cara lain, yaitu dengan bantuan Rima, pastinya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.