
Nina tengah menghabiskan malam pertamanya bersama sang suami di salah satu kamar hotel tempatnya mengadakan resepsi.
Keduanya telah melakukan apa yang umumnya di lakukan sepasang pengantin baru. Namun karena belum merasa lelah keduanya memilih menghabiskan waktu dengan berbincang.
Di dalam dekapan sang suami Nina menyandarkan kepalanya di dada bidang Ahmadi.
"Mas, apa dulu hubungan kamu dan juga Mbak Lyra sangat dekat? Dia kelihatan sangat kacau tadi," ucap Nina tiba-tiba.
Ahmadi menarik napas panjang, baginya menceritakan masa lalunya dengan Lyra adalah membuka ingatan akan hinaan-hinaan yang dulu sering di terima dirinya dan keluarganya dari mulut ayah Lyra.
"Dari dulu kami berteman. Lyra memang menyukai Mas, tap Mas sadar diri kalau kami sangatlah berbeda."
"Dia dari kalangan orang berada sedangkan Mas hanya anak beasiswa yang mungkin beruntung bisa sekolah di sana," jelasnya.
"Yang pasti enggak pernah ada hubungan spesial antara kami. Tapi kalau dekat ia, sebab Mas memang merasa kasihan sama dia. Sebenarnya Lyra orang yang baik, dia begitu mungkin karena kesepian," sambung Ahmadi.
Mendengar ucapan suaminya yang mengatakan jika Lyra adalah seorang wanita yang baik, membuat dadanya bergemuruh.
Ibunda Rima itu tiba-tiba merasa cemburu. Merasa istrinya tiba-tiba menjauh, membuat senyum Ahmadi terkembang.
Tentu saja dia paham akan sikap istrinya yang saat ini merasa kesal.
Dia tak akan melepaskan sang istri. Baginya menjelaskan kesalah pahaman adalah hal utama sebelum masalah itu semakin membesar.
"Kalau tau bakal cemburu lebih baik ngga usah tau kan?" ledek Ahmadi sambil memeluk sang istri yang memunggunginya.
"Kenapa? Mas ngga suka sama pertanyaanku?" balas Rima bersungut-sungut.
Ahmadi justru terkekeh mendengar keluhan sang istri. Bukannya marah, dia justru semakin gemas dengan istrinya.
"Udah-udah, ngga usah cemburu, ngga ada yang spesial di antara kami. Bahkan ngga pernah ada hubungan apa pun. Kalau pun Lyra menyukaiku itu adalah urusannya."
"Fokus kita kini hanya rumah tangga kita dan bagaimana secepatnya kita memberikan adik untuk anak-anak kita yang cantik," celetuk Ahmadi yang justru membuat wajah Lyra merona.
Beruntung saat ini dia tengah memunggungi sang suami jadi dia tak terlalu malu dengan ucapan suaminya.
"Ih, kamu ngga sadar udah tua? Masa iya aku hamil lagi?" gerutunya yang justru membuat Ahmadi semakin gemas.
.
.
Jika di hotel tempat Ahmadi dan Nina menginap sedang bertabur bunga karena kebahagiaan dua insan yang sudah resmi menyandang status suami istri.
Berbeda lagi di kediaman Andi. Pemuda itu menyugar rambutnya frustrasi menghadapi tingkah kelakuan sang ibu.
__ADS_1
"Mamah benar-benar memalukan!" desis Andi.
"Ada apa ini Ndi?" sela Denish yang muncul dari dalam kamarnya.
"Mamah mengacau pernikahan ibunya temen Gue!" jelasnya.
Denish memicing mendengar penuturan sang adik. Sepertinya sangat jauh dari kesan sang ibu yang biasanya terlihat elegan.
"Kamu belain pelakor itu? Denger ya Ndi, mamah ngga akan sudi kalau kamu dekat sama Rima lagi. Dia dan ibunya udah menghancurkan kebahagiaan mamah!" pekik Lyra frustrasi.
Andi menatap sengit sang ibu, dia merasa bingung di mana sebenarnya otak sang ibu.
Menyebut Nina sebagai pelakor memang siapa yang wanita itu rebut, pikir Andi.
"Pelakor?" sinisnya sambil menatap sang ibu kesal.
"Memang siapa yang tante Nina rebut? Om Ahmadi? Sadar mah, memangnya siapa Om Ahmadi di sisi mamah? Pacar? Suami? Bukan kan? Kalau ngomong pakai dong otaknya mah!" balas Andi sengit.
"Andi!" sela Denish yang merasa jika ucapan sang adik terlalu kasar.
"Coba Lu nasehatin mamah, pusing gue ngadepin orang tua yang pada enggak waras kaya gini!" keluhnya lalu meninggalkan keduanya menuju kamar.
Di tempat lain ada seorang perempuan muda yang keberadaannya tak pernah di anggap mendengar pertengkaran dalam rumah itu.
"Jadi Bude Nina udah nikah lagi? Terus Andi suka sama Rima?" monolognya.
Meskipun dia sendiri tak pernah mendapatkan kebahagiaan di dalam keluarga suaminya. Namun dalam hati dia sangat menginginkan anak suaminya, yaitu Andi yang dia rasa lebih pantas dengannya.
"Hei! Jangan menguping, bisa kena masalah kamu nanti," tegur salah satu pekerja di rumah Lyra.
Ziva memang tak ubahnya seperti pembantu rumah tangga di sana. Meski dia tak mengerjakan pekerjaan rumah tapi dia hanya bisa bergaul dengan para pekerja di rumah Lyra.
"Rima ... Aku ngga bisa biarin kamu masuk ke keluarga ini sebagai menantu. Kamu sudah banyak merasakan kebahagiaan, enggak seperti aku," ucap Ziva sebelum menutup matanya.
.
.
Pasangan pengantin baru itu bergabung di restoran tempat mereka menginap. Di sana sudah menunggu dua keluarga besar mereka.
Rima dan Aneke duduk bersebelahan menunggu orang tua mereka.
Dibyo bahkan ikut merasa bahagia atas pernikahan sang putri. Dia sudah menyesali segala perbuatannya dulu.
Namun untuk melupakan Titik rasanya masih terasa sulit. Lelaki paruh baya itu bahkan sempat mencari keberadaan mantan istrinya hanya untuk sekedar bertemu.
__ADS_1
Dia tak berharap kembali, hanya ingin melihat wajah wanita yang sempat singgah di kehidupannya beberapa tahun ke belakang.
"Jadi rencananya kalian akan tinggal di mana?" tanya ibunda Ahmadi.
Ahmadi dan Nina saling melempar pandangan, Nina lantas menyentuh punggung tangan suaminya.
"Nina dan Rima akan ikut denganku Mi. Rumah milik Nina akan di tinggali Galih supaya enggak kosong," jelas Ahmadi.
"Syukurlah kalau kalian sudah sepakat. Yang penting kalian harus selalu saling menjaga. Umi dan Abi cuma ingin melihat rumah tangga kalian ini harmonis sampai akhir hayat."
"Bicarakan baik-baik jika ada masalah. Nina, kalau kamu merasa ada yang enggak beres dengan Ahmadi, langsung cerita ke Umi dan Abi. Sebisa mungkin kami akan mendengarkan dan membantumu," ucap wanita paruh baya yang telah melahirkan Ahmadi.
"Ck Umi, emangnya Umi berharap akan terjadi prahara apa dalam rumah tangga Ahmadi?" keluh suami Nina pura-pura kesal.
Ibunda Ahmadi hanya memukul bahu putranya pelan saat mendengar gerutuannya.
Suasana yang sempat serius kembali ceria karena guyonan yang di ciptakan Galih.
Rima dan Aneke yang sengaja di pesankan kamar yang sama agar dapat mengakrabkan diri nyatanya bisa langsung saling menerima.
Mereka bahkan sudah membahas apa saja yang akan mereka lakukan jika kelak mereka sudah tinggal bersama.
Saat ini Aneke masih menempuh pendidikan sekolah menengah pertamanya di pondok pesantren. Jadi sementara waktu keduanya tak bisa menghabiskan waktu bersama.
"Aku pasti akan kangen sama kamu," lirih Rima tiba-tiba.
Nina yang berada di sebelahnya mengusap punggung sang putri.
Kedua remaja itu sejak tadi mengobrol sendiri, membuat perasaan Nina dan Ahmadi melega karena keduanya bisa segera akrab.
"Kok aku sih! Biasain panggil Kakak dong, Ka Rima kan sekarang udah punya adik," tegur Ahmadi membuat anak sambungnya tersenyum bahagia.
"Iya Ka, sekarang kan Ka Rima kakak aku. Kakak sering-seringlah jenguk ke pondok bareng ayah dan ibu nanti ya?" pinta gadis cantik adik sambung Rima.
Tentu saja Rima mengangguk mantap. Dia merasa senang karena kini telah memiliki saudara baru. Dia yang dulu seorang diri kini bisa merasakan jadi seorang kakak.
Andaikan dulu Tyas dan Ziva bisa bersikap baik pada Nina dan Rima. Sudah di pastikan Rima akan memperlakukan Ziva sebagai saudara yang baik.
Kini harapan Rima telah tercapai, dia akhirnya bisa memiliki saudara baru, bahkan lebih baik dari pada Ziva.
.
.
.
__ADS_1
Tbc