
Andi menolehkan kepalanya separuh. "Lu ma dia jelas beda Ra, Lu punya kelebihan dia juga. Ini cuma masalah hati. Gue suka sama dia," jelas Andi setelah itu berlalu dari sana.
Andi tak melihat jika saat ini Clara tengah jatuh terduduk mendengar penolakannya. Clara sangat tahu jika Rima benar-benar sudah meluluhkan hati Andi.
Dia tak mengerti pesona apa yang di miliki Rima hingga bisa meluluhkan pemuda keras itu.
Di tangga, Andi berpapasan dengan Luke yang akan menyusul keduanya.
Andi menepuk bahu sahabatnya sebagai dukungan. Dia sangat tahu tak akan mudah bagi sahabatnya meluluhkan hati Clara yang sudah menyukainya sejak dulu.
"Semangat!" ucapnya lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
.
.
Luke menghela napas saat melihat Clara yang tengah terduduk sambil menangis.
"Apa sesakit itu?" tanyanya datar.
Clara segera mengusap air matanya kasar dan menengadah menatap Luke.
"Kenapa?" cecarnya.
Luke tahu apa maksud pertanyaan Clara. Hatinya merasa miris, harusnya Clara tau betul jawabannya.
"Sekarang Gue tanya bagaimana mencintai tanpa balasan?" tanya balik Luke.
"Aku yakin bisa menaklukkan Andi! Tapi sekarang semakin sulit karena kamu!" pekik Clara kesal.
"Mau sampai kapan Lu ngejar Andi? Lu kenal dia Ra, gimana dia jatuh hati sama gadis yang enggak kita sangka kan?"
"Dia lelaki yang belum pernah jatuh cinta. Lu pikir Andi akan nyerah gitu aja?" jelas Luke panjang lebar.
Sayangnya semua penjelasan pemuda itu tak di tanggapi oleh Clara. Dia sangat yakin kalau Andi hanya sekedar terpesona pada Rima.
Dia justru menyalahkan Luke yang menyukainya dan berpikir jika karena pemuda itu Andi jadi tak mau merespons segala perhatiannya.
Tanpa menjawab Clara memilih meninggalkan Luke. Jika bicara masalah Fisik, Luke sama tampannya dengan Andi, pemuda itu justru terlihat lebih Cool karena sikapnya yang terkesan lebih misterius.
.
.
Hari ini adalah hari ulang tahun Andi, hubungan Andi dan Rima masih berjalan di tempat karena terlihat sekali Rima seperti memperjelas kenyataan kalau dirinya tak bisa memiliki hubungan saat masih sekolah.
Andi tak menyerah, beberapa bulan menghabiskan waktu bersama gadis itu membuatnya semakin jatuh hati pada kepribadian Rima yang riang dan baik hati.
Oleh sebab itu dirinya sudah yakin mengajak Rima ke acara yang setiap tahun akan di adakan oleh keluarganya untuk merayakan ulang tahunnya.
Dia biasa mengundang teman-teman sekelas dan teman-teman dekatnya. Esoknya baru dia akan merayakan di markas K'nights untuk menyenangkan para pendukungnya.
__ADS_1
"Apa ini Ka?" tanya Rima sambil membolak-balikkan kartu berwarna silver dengan tali berwarna emas yang menghiasinya.
"Bacalah! Lu kagak bisa baca emang?" gerutu Andi yang kesal karena malu.
Rima mencebik tapi tangannya tetap sibuk membuka tali pengikat kartu itu.
Dia lalu membaca jika kartu itu ternyata undangan ulang tahun dan tertera nama Andi di sana.
"Kakak mau ulang tahun?" ucap Rima sambil menahan tawa.
Sungguh dia merasa geli. Ingat, Rima dari keluarga biasa yang merasa aneh jika ada anak seusianya masih merayakan ulang tahun dan menyebar undangan.
Di lingkungannya hal-hal seperti itu hanya di lakukan oleh anak-anak batita saja.
Kebanyakan jika seusia Rima dan Andi ya hanya mengadakan syukuran tanpa menyebar undangan.
"Ngapa Lu?" tanya Andi heran, karena merasa tak ada yang aneh dari undangannya.
"Enggak Ka, aku heran aja, kok kaya anak tetangga aku yang umur lima tahun ya ngerayain ulang tahunnya sambil nyebar undangan," kelakarnya.
Wajah Andi merah padam karena malu dan kesal di samakkan dengan anak batita oleh Rima.
"Dih! Norak banget sih! Emang biasanya kaya gini kali, Lu aja yang kagak tau!" balasnya membela diri.
"Iya kah? Oh soalnya hampir enam bulan aku sekolah, engga ada tuh temen aku yang kasih undangan ulang tahun. Paling cuma ngajak makan aja," elak Rima.
"Jangan samain temen Lu sama Gue lah! Gue ini anak orang kaya!" jawab Andi pongah.
"Jangan lupa dandan yang cantik!" pinta Andi lalu meninggalkannya.
Rima hanya mengangguk bingung. Setelahnya dia kembali ke kelas dengan membawa undangan ulang tahun Andi di tangannya.
"Apa?! Sumpah demi apa, elu dapet undangan eksklusif dari Ka Andi Rim? Omegat, pasti lu istimewa banget ya," pekik Ayu saat melihat kertas dalam genggaman tangan Rima.
Seantero sekolah sudah paham kartu apa yang di pegang oleh Rima, karena memang hanya orang-orang beruntung yang bisa memegang kartu itu.
"Apaan sih Yu, biasa aja kali!" keluh Rima yang merasa Ayu terlalu berlebihan menanggapi kartu undangan miliknya.
"Ishh, banyak siswa yang berharap kaya kamu tau Rim! Ini mah Fixs lu pasti orang penting menurut Ka Andi," jawab Ayu yakin.
Rima tak tahu akan hal itu, pantas saja beberapa siswa menatap penuh heran saat dia melewati mereka tadi.
"Tau ah," elaknya.
.
.
Rima sedang mematut diri di depan kaca. Gaun berwarna Navi dengan hijab yang sama dia pilih untuk menghadiri undangan Andi.
"Cantik sekali anak ibu? Kenapa kamu malah pakai gaun ini?" tanya Nina heran.
__ADS_1
Gaun yang di kenakan oleh Rima adalah gaun sarimbit keluarganya saat menerima lamaran dari keluarga Ahmadi. Rencananya bulan depan pernikahan kedua Nina baru akan di selenggarakan.
Oleh sebab itu, akhir-akhir ini Nina sedang sibuk-sibuknya menyiapkan acara pernikahannya.
"Emang kenapa Bu? Jelek ya?" cecar Nina.
"Siapa bilang? Mana pernah anak Ibu terlihat jelek sih! Bukan gitu, kalau kamu mau beli juga ngga papa sayang, kasihan kamu pakai baju yang ada aja, padahal ada undangan spesial buat kamu," goda Nina.
"Apaan sih Bu! Cuma acara ulang tahun, spesial apa!" elak Rima yang merasa malu dengan godaan sang ibu.
Nina tertawa saat melihat putrinya salah tingkah. Dia tak menyangka jika sang putri sudah terlihat semakin dewasa, rasanya Rima merasa tak siap jika harus kehilangan Rima meski masih lama waktunya.
"Ya udah. Ibu cuma berharap kamu tetap berteman sama siapa aja dulu saat ini, karena kamu masih seorang pelajar ya," ucap Nina mengingatkan.
"Ya Allah iya Bu, Rima ngga ke pikiran sampai ke sana, mikirin tugas sekolah aja udah pusing apa lagi mikirin kaya gitu," keluh Rima.
Gadis itu sadar akan kekhawatiran sang ibu sebab remaja seusianya bahkan banyak yang sudah berpacaran.
Namun Rima tetap akan memegang janjinya yang akan lebih memperhatikan pelajarannya. Jadi saat Nina selalu mengingatkannya membuat dia sedikit kesal karena merasa Nina tak mempercayainya.
.
.
Rima sudah sampai di kediaman Andi. Rumah besar dengan pagar tinggi itu membuat Rima sedikit menahan napasnya.
Jantungnya berdebar sangat kencang, bukan karena merasa deg-degan akan bertemu dengan Andi.
Gadis itu justru merasa khawatir karena dia yakin tak akan mengenal satu pun tamu yang di undang oleh Andi.
Rima di antar oleh sopir suruhan Nina yang memang bertugas mengantar jemput gadis itu.
"Neng Rima mamang pulang dulu ya, nanti tinggal kabarin kalau udah selesai acaranya," pamit sang sopir.
Rima hanya mengangguk lalu berbalik menatap samping rumah Andi yang terlihat ramai.
Dirinya yakin jika acara ulang tahun Andi di adakan di sana.
Saat akan melangkahkan kaki ke sana, tiba-tiba ada suara seseorang menyapanya.
Suara seorang yang sudah lama sekali tidak Rima dengar itu berasal dari pintu utama.
"Rima?!" panggilnya dengan suara tercekat.
.
.
.
Tbc
__ADS_1