
Para pemilik toko merasa geram dengan jawaban Ahmadi. Mereka memang tahu kalau itu juga merupakan musibah bagi Nina.
Namun ini semua juga merupakan kelalaian dari Nina menurut mereka, jadi sudah sepatutnya mereka meminta sedikit ganti rugi dari Nina.
"Benar Pak, tapi kan ini juga akibat kelalaian Mbak Nina. Kami juga enggak minta ganti rugi secara full sama Mbak Nina, cuma minta pengertiannya aja, kalau mas dan mbak Nina bersikukuh menolak, maka kami akan meminta pengelola pasar untuk tak membiarkan mbak Nina kembali berjualan," ancam yang lainnya.
"Bapak mengancam kami?" tanya Ahmadi yang mulai tersulut emosi.
"Sabar Mas," sela Galih berusaha menenangkan iparnya.
"Bapak enggak bisa seperti ini, sama aja kalian memeras kami," jawab Galih.
"Ini enggak memeras, menang sudah ada kesepakatannya kok di surat perjanjian pengelola pasar, coba cek aja sama mbak Nina," jawab yang lainnya.
"Kalau semua harus di maklumi karena musibah, maka kita semua bisa semena-mena dalam menjaga keamanan pasar," sambung yang lainnya.
Ahmadi dan Galih hanya bisa menghela napas, kalau memang mereka mengatakan hal demikian, maka benar apa yang mereka tuntut pada istrinya bukanlah semata karena pemerasan.
"Maafkan saya yang terpancing emosi pak. Tapi saya harap bapak-bapak sekalian mau bersabar dan menunggu pihak penyidik menyelidiki secara penuh dan menetapkan kejadian perkaranya seperti apa ya," jawab Ahmadi yang sudah mulai sedikit tenang.
Kini bapak-bapak pemilik toko mengangguk, toh mereka hanya menuntut hak yang memang sudah pernah di sepakati bersama.
Ahmadi juga tidak bisa mengelak lagi. Mau tak mau Nina tetap harus memberikan ganti rugi pada para pedagang meski tidak sesuai dengan kerugian mereka.
Setelah para pemilik ruko pergi, Ahmadi segera menyusul istrinya di dalam kamar.
"Mas, aku ke kantor polisi dulu ya, mau tanya perkembangan kasus ini," pamit Galih.
"Loh kamu enggak kerja Lih?" tanya Ahmadi heran, pasalnya dia sendiri yang akan ke kantor polisi setelah bertemu dengan istrinya.
Dia tak ingin merepotkan Galih karena pemuda itu juga punya tanggung jawab pekerjaannya sendiri.
"Aku ngabisin cuti mas, sayang," jawab Galih santai, lalu pergi dari hadapan Ahmadi.
"Syukurlah," ucap Ahmadi pelan.
Saat tiba di kamar, Nina sedang duduk di ranjang sambil menatap kosong ke arah jendela, pikiran ibu hamil itu sangat cemas karena dia yakin harus mengganti kerugian para pedagang pasar.
"Sayang," panggil Ahmadi sambil duduk di sebelah sang istri.
"Mas, bagaimana? Mereka tetap nuntut pertanggung jawaban aku kan?" tanya Nina sedih.
"Apa kamu punya surat perjanjian dagang sama pengelola pasar?" tanya Ahmadi.
Nina menunduk, dia teringat akan surat perjanjian itu, sudah jelas dia harus bertanggung jawab pada mereka.
Yang dia pikirkan adalah, bagaimana dengan nasibnya sendiri? Tokonya hancur, barang dagangannya pun habis tak tersisa.
Nina lalu mengangguk menjawab pertanyaan Ahmadi.
__ADS_1
"Berapa kisaran biaya yang harus kamu tanggung?"
"Sekitar tiga puluh persen Mas," jawab Nina lemah.
"Gimana cara menghitungnya? Semau mereka sendiri atau bagaimana?"
"Nanti di tengahi oleh pengelola pasar sama pengacara Mas, hitung-hitungannya juga harus jelas dan mereka mau enggak mau harus terbuka sama kami, kalau mau ganti rugi," jelas Nina.
"Jadi enggak sembarangan kan?"
Nina lagi-lagi mengangguk, meski tidak sembarangan tapi Nina jelas tahu berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk mengganti kerugian mereka semua.
Mereka juga pasti bingung karena Nina yakin memulai usaha kembali memerlukan modal yang cukup besar.
Setelah apa yang terjadi, Nina juga akan merasa minder jika harus kembali berdagang bersama mereka.
Batin ibunda Rima itu berkecamuk, di satu sisi dia masih ingin berdagang, di sisi lain dia harus merelakan uang tabungannya habis, untuk biaya ganti rugi serta modalnya.
"Kenapa kamu sedih? Mikirin biaya ganti rugi itu?" tanya Ahmadi seolah menjawab kekhawatiran sang istri.
Lagi-lagi Nina mengangguk. Ahmadi lantas memeluk sang istri dan mengusap kepala Nina yang bersandar di dadanya.
Dia menarik napas panjang, suami Nina itu paham sekali kegundahan sang istri, terlebih lagi pernikahan mereka masih baru dan harus tertimpa masalah seperti ini.
"Sabar, semuanya ujian, insya Allah mas akan bantu menyelesaikan masalah ganti rugi ini," ucap Ahmadi.
Tidak! Nina jelas menolak usulan sang sumi dengan tegas.
"Enggak Mas, jangan, aku masih punya tabungan untuk mengganti kerugian mereka. Jangan pakai uang Mas, aku enggak enak," tolak Nina.
Ahmadi terkekeh mendengar ucapan sang istri, "kamu itu istri mas Nina, sudah sepatutnya mas bantu kesulitan kamu," jawab Ahmadi lembut.
Nina tetap menolak, dia berpikir lebih baik masalahnya di urus oleh Galih dari pada Ahmadi, karena dia yakin sang suami akan menolak uang dari dirinya.
.
.
Di dalam kantor polisi, Galih masih menunggu hasil penyidikan para petugas.
"Siang Pak, bagaimana kasus dari kebakaran pasar kemarin? Sudah sampai mana penyidikannya?" cecar Galih begitu seorang petugas kepolisian duduk di hadapannya.
"Dari yang kami per oleh memang dari korsleting listrik. Sepertinya ada yang sengaja merusaknya, karena yang rusak di dekat bagian genset. Kami juga menemukan adanya kamera pengawas di sana," jelas Petugas kepolisian itu.
Galih tersenyum tipis, dia ingat kalau di toko sang kakak sepupu memang ada beberapa kamera pengawas yang di pasang oleh Nina.
"Maka dari itu kami akan ke rumah Ibu Nina untuk mencari data dari kamera pengawas itu," sambung petugas kepolisian.
Galih kembali mengangguk, "baiklah pak, apa mau sekalian sama saya?" tawar Galih.
__ADS_1
"Boleh Mas, ayo!"
Tanpa membuang waktu mereka kemudian bergegas mendatangi kediaman Ahmadi dan Nina.
Asih lalu memanggil sang majikan kala Galih datang bersama para petugas kepolisian.
"Bu, Pak, ada tamu yang ingin bertemu," panggil Asih dari balik pintu.
Ahmadi dan Nina yang sedang bersantai di dalam kamar, segera menemui asisten rumah tangga mereka.
"Ada apa Bi?" jawab Ahmadi.
"Itu pak, Mas Galih datang sama polisi, katanya ada perlu sama ibu," jawab Asih.
"Oh baiklah Bi, makasih ya. Tolong buatkan suguhan ya Bi," pinta Ahmadi.
Asih mengangguk lalu undur diri dari kamar sang majikan.
"Aduh, ada apa ya Mas?" tanya Nina khawatir.
"Jangan khawatir, kamu kan enggak salah, dari beberapa saksi dan pemilik ruko, kan cuma kamu yang belum mereka mintai keterangan. Bukan mau nagkap kamu Bu, mungkin ada perlu yang lain," jelas Ahmadi sambil terkekeh.
Keduanya lantas menemui Galih dan dua orang petugas polisi.
"Selamat siang Bu Nina dan Pak—" ucap salah satu petugas menggantung.
"Saya Ahmadi Pak, suami Ibu Nina," jawab Ahmadi sambil menyalami keduanya.
"Baik Pak Ahmadi. Maaf mengganggu istirahat siangnya. Kami ada keperluan terkait penemuan kami di ruko milik Bu Nina," ucap petugas satunya.
"Apa itu Pak?" tanya Ahmadi penasaran.
"Kami ingin tau apa kamera pengawas di ruko ibu terhubung di ponsel atau komputer di rumah ini?" sambung petugas polisi pada Nina.
Nina lalu mengangguk, dia bisa mengaksesnya lewat komputer miliknya.
"Sebentar ya pak, saya ambil dulu," ucap Nina lantas undur diri hendak mengambil apa yang di minta oleh penyidik.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, kedua penyidik lantas mengecek komputer Nina dengan serius.
Tak lama keduanya lalu saling berpandangan sambil menganggukkan kepala, membuat Nina, Ahmadi dan Galih penasaran ada apa sebenarnya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1