Derita anakku

Derita anakku
Pernikahan Dadakan


__ADS_3

Rima pulang dengan perasaan campur aduk. Antara kesal dan juga patah hati.


"Kenapa neng, kok cemberut gitu?" goda Ajeng istri dari Galih.


Rima memicing melihat istri dari pamannya tersebut. Dalam hati dia bertanya-tanya mengidam seperti apa lagi yang bibinya itu rasakan hingga wanita itu mendatangi rumahnya.


"Mbak mau apa lagi sekarang?" tuduh Rima melupakan rasa patah hatinya.


"Ya ampun kamu tau aja sih," jawab Ajeng tanpa rasa bersalah.


"Yuk mandi, calon pengantin masa lecek begini," ujar Ajeng kesal.


Rima mengernyit heran, bertanya tentang maksud ucapan dari bibi mudanya itu.


"Maksudnya apa ini Mbak?" cecar Rima tak terima.


"Loh kamu belum tau ya? Besok kan kamu udah mau nikah Rim," jelas Ajeng yang ikut bingung.


"Hah! Yang bener aja sih mbak, mana ada aku mau nikah, punya pacar aja enggak! Ngaco!" elak Rima jengkel.


"Ishh, tante Ajeng mah, kan udah di bilangin ini rahasia," ela Aneke yang ikut bergabung dengan mereka berdua.


"Ini apa-apa sih An? Enggak lucu deh bercandanya," jawab Rima panik.


Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh keluarganya dan dia benci itu.


"Loh ada apa ini, kok muka kalian tegang gitu?" tanya Nina yang baru keluar dari kamar putra bungsunya.


"Bu, ini ada apa sih? Kok bisa mbak Ajeng sama Aneke bilang aku mau nikah? Enggak lucu banget deh bercandanya! Ini bukan ulang tahun Rima. Bukan April mop juga," keluh Rima kesal.


Nina menatap tajam pada dua wanita yang sudah membocorkan rahasianya. Namun Ajeng dan Aneke tampak tak merasa bersalah. Keduanya bahkan masih menahan senyum melihat kegusaran dan kegalauan Rima.


"Duduk dulu Rim. Ayah sama ibu mau bicara," pinta Nina pada putri pertamanya.


"An panggil ayah. Dia tadi di belakang main sama Arjuna," pinta Nina pada anak sambungnya.


"Siap Bun," jawab Aneke sambil memberi hormat layaknya seorang perwira.


"Ada apa sih Bun?" cecar Rima tak sabar.

__ADS_1


Nina menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Dia menggenggam tangan sang putri sebelum bicara.


"Usia kamu udah sangat matang untuk menikah. Tapi selama ini kamu enggak pernah memperkenalkan sama kami seorang lelaki pun. Saat ibun sama ayah tanya apa kamu punya seseorang yang kamu sukai, kamu bilang enggak ada, jadi ..." ucap Nina menggantung.


Dada Rima berdebar sangat kencang, hal yang paling di takutkan dalam hidupnya mungkin terjadi saat ini, apalagi kalau bukan di jodohkan.


"Ayah dan Ibun memutuskan menerima pinangan seseorang. Kami jamin dia orang yang baik dan pantas untuk kamu," sambung Nina.


"Tapi Bun, Rima enggak siap. Rima bahkan enggak kenal sama orang itu, kenapa ayah dan ibu enggak tanya dulu sama Rima? Kalian kenapa tega banget sih sama Rima!" keluh Rima.


"Mau seperti apa lelaki tipemu Rim? Kamu selalu mengelak setiap kali ada lelaki yang datang ingin melamar. Ibu sampai malu, apa kamu ingin melajang seumur hidup?" cecar Nina.


Rima menunduk, dia tahu kegelisahan orang tuanya. Namun dia merasa kesal saat orang tuanya mengambil keputusan tanpa bertanya dulu padanya. Itu sama saja mereka mengabaikan perasaannya.


"Ayah sama ibun juga enggak mungkin sembarangan memilihkan kamu jodoh. Apa kamu enggak percaya dengan pilihan kami?" sambar Ahmadi setelah berhasil duduk di depan anak dan istrinya.


"Tapi yah, bu, Rima belum mengenal lelaki itu. Lagi pula kenapa harus langsung menikah? Rima bahkan belum mempersiapkan apa-apa," jelas Rima lemah.


"Kakak tenang aja kita semua udah mempersiapkannya," sela Aneke semangat.


Rima menatap seluruh keluarganya, sepertinya mereka semua kompak menutupi rencana pernikahannya.


Dia merasa tak di hargai. Namun dia bisa apa? Jika menolak dan mengatakan kalau dia sudah memiliki tambatan hati, dirinya yakin Nina akan meminta laki-laki itu segera datang untuk menghadapnya.


Namun dia berpikir Nina akan mengerti dirinya, tapi nyatanya sang ibu menyerah juga dan memaksanya menikah entah dengan lelaki seperti apa.


"Kalian kompak banget kalau mau nyengsarain aku!" keluh Rima pada bibi dan adik sambungnya.


"Udah jangan cengeng, lagian nih ya, calon suami kamu bukan orang sembarangan. Dia kaya, ganteng lagi! Pokoknya, beuh idaman perempuan. Kalau mbak masih—"


"Masih apa?" potong Galih sambil menjewer telinga sang istri gemas.


"Ih mas apaan sih. Kan aku belum selesai ngomong. Emang kenyataannya begitu. Kalau Rima khawatir di jodohkan sama lelaki gendut atau jelek kan aku kasih tau dia, kalau calon suaminya bukan kaya gitu," gerutu Ajeng.


Mereka semua tertawa melihat perdebatan suami istri yang akan menyambut anak kedua mereka.


"Iya Rim, kamu tenang aja. Kamu pasti enggak bakal nyesel nikah sama dia," sambung Galih.


Semua keluarganya sangat yakin kalau dirinya akan bahagia dengan lelaki pilihan orang tuanya.

__ADS_1


Namun apa bisa begitu? Saat hatinya justru masih ter taut pada cinta pertamanya.


Bagaimana reaksi orang tuanya saat tahu dia menyukai suami orang?


Rima menggigit bibirnya. Ingin marah tapi pada siapa? Toh sampai kapan pun dia tak mungkin bisa bersama dengan Andi, pikirnya.


Pilihan apa lagi yang dia punya, kalau bukan menyetujui pilihan orang tua dan keluarganya.


"Memang siapa calon Rima?" tanya Rima pada akhirnya.


"Besok kamu juga tau," jawab Nina sambil tersenyum.


Dia yakin sang putri akan menuruti keinginannya. Lagi pula dia tidak sembarangan menerima pinangan lelaki yang akan mempersunting putrinya.


"Terus nikahnya siri doang? Rima belum bikin undangan atau apa pun!" keluh Rima lagi.


"Terus juga kenapa dadakan gini. Rima takut enggak bisa izin cuti besok."


"Kamu tenang aja. Masalah izin, ayah udah minta izin ke atasan kamu dan di izinkan. Terus masalah undangan, kamu jangan khawatir, besok acara akad aja, sah secara hukum dan negara kok," jawab Ahmadi.


"Besok hanya keluarga inti sama tetangga kita aja yang datang menghadiri pernikahan kamu, tapi nanti pas acara resepsi baru akan di adakan besar-besaran. Sebab calon suamimu di kejar waktu," jelas Ahmadi.


"Kenapa?" tanya Rima heran.


"Ibunya sakit, Dokter memvonis umurnya tak akan bertahan sampai akhir bulan ini, meski semua kehendak Tuhan, tapi apa salahnya kalau dia ingin mengabulkan permintaan orang tuanya untuk yang terakhir kalinya?" jawab Ahmadi sendu.


Rima merasa pernikahannya terlalu terburu-buru. Namun melihat raut wajah sendu orang tuanya dia tak tega.


Mungkin memang calon suaminya ingin segera mengabulkan permintaan terakhir orang tuanya.


"Kamu mau kan Rim?" tanya Ahmadi penuh harap.


Rima hanya bisa pasrah tanpa mau lagi menolak. Toh cintanya sudah kandas, dia tak tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak.


Hanya satu tujuannya saat ini, yaitu membahagiakan orang-orang yang di cintainya.


Rima hanya bisa mengangguk menjawab permintaan ayah tirinya.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2