Derita anakku

Derita anakku
Galih Vs Gyan


__ADS_3

Rima dan ke empat sahabat Andi menunggu di depan ruang operasi.


Keadaan Andi kritis saat mereka datang tadi dan Dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi.


Luke sudah memberitahu Lyra tentang kondisi Andi dan memintanya untuk menyetujui operasi itu tanpa menunggunya.


Nina dan Galih juga sudah sampai di rumah sakit yang Rima katakan lewat ponsel Gyan.


"Ya ampun Ma, ada apa ini Nak?" Nina memeluk tubuh Rima yang bajunya penuh dengan noda darah.


"Ibu ..." lirih Rima.


Tangis gadis remaja itu pecah setelah kedatangan ibunya. Dia merasa aman saat memeluk tubuh ibunya.


"Ada apa Rim?" ulang Nina sambil membingkai wajah putrinya.


Rima pun menjelaskan kronologi kejadiannya hingga berakhir seperti ini.


Galih hanya menatap satu persatu remaja yang tingginya sama dengannya.


Tak di ungkiri Galih, jika dia merasa anak-anak itu bukanlah dari kalangan orang biasa sepertinya.


"Kok bisa mereka tau keberadaanmu?" ucap Galih yang merasa aneh.


Dalam pikirannya justru dia curiga ini hanya akal-akalan para remaja itu dalam mencari perhatian sepupunya.


Luke yang mendengar ucapan Galih mengernyit heran. Dalam benak pemuda berwajah datar itu merasa tak terima dengan tuduhan Galih.


"Apa maksud kamu?" suara Gyan yang terlebih dahulu menginterupsi ucapan Galih.


Galih tersenyum sinis, "kenapa? Santai aja dong kalau emang ngga bener kan?" cibirnya.


"Lu kira orang yang di dalam itu main-main Bung? Punya otak tolong di pakai! Untung kami bisa menyelamatkan adikmu ini, kalau enggak, besok udah ada foto dia di media berita!" balas Gyan sengit.


Galih mengepalkan tangannya kesal dengan para pemuda kota yang menurutnya sangat minim hormat.


Dirinya selalu berpikiran kalau anak-anak remaja biasanya agak segan berbicara dengan orang dewasa. Namun mereka berbeda, bahkan terlihat pemuda di depannya itu sangat berani menjawabnya.


Pertikaian mereka terhenti kala Lyra datang bersama dengan Baron dengan tergesa-gesa.


"Gyan? Sebenarnya ini ada apa?" ucap Lyra dengan panik.

__ADS_1


"Sabar Tante, Andi udah di tangani oleh Dokter kok. Tante tenang ya," ucap Gyan pada ibunda Andi itu.


Tatapan Lyra lantas tertuju pada seorang gadis di tengah para sahabat putranya.


"Dia siapa?" tanyanya lagi.


"Ini Rima, tante," jawab Gyan yang mulai khawatir.


"Jangan bilang gara-gara gadis ini Andi celaka?!" pekiknya.


Rima yang merasa kemarahan ibunda Andi hanya mampu menunduk takut.


Nina menenangkan putrinya. Dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana, tapi dia tetap harus membela Rima.


"Maafkan anak saya Bu, tapi bukan gara-gara anak saya. Nak Andi berniat membantu putri saya yang di goda oleh segerombolan para berandalan. Untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih," sela Nina yang berusaha membuat Lyra mengerti.


"Iya tante, kami memang berusaha menyelamatkan Rima. Kita ngga tau kalau salah satu dari mereka menggunakan senjata tajam," jawab Luke yang tak bisa membiarkan ibunda Andi salah paham.


"Sok-sokan sih, tinggal lapor polisi aja, beres semuanya," gerutu Galih.


Sungguh Rima tak mengerti dengan pikiran kakak sepupunya itu,dia merasa jika Galih tak menyukai Andi dan teman-temannya.


"Kamu mau nunggu adekmu di perkaos dulu baru tuh polisi pada dateng? Hei bung, dari tadi yang keluar dari mulut Lu kagak ada yang enak di denger ya, punya masalah apa sih kita sama Lu?" sambar Theo yang mulai geram dengan sikap Galih.


"Ini pelajaran buat kamu Rim, Mas kan udah bilang ngga usah keluyuran, lebih baik kamu belajar aja yang bener, kaya gini kan akibatnya!" ketus Galih pada Rima.


"Maaf Bu, saya akan bertanggung jawab atas pengobatan Nak Andi," ucap Nina pada Lyra yang masih menatap mereka tajam.


"Memang sudah seharusnya kan?" jawab Lyra.


"Udahlah Mah, jangan terlalu di anggap serius! Bukan kali ini aja kan Andi celaka?" sambar Baron yang berusaha menarik simpati Nina.


Dalam benak lelaki bertubuh gempal itu wajah Nina yang ayu membuat dia ingin mendekatinya.


Namun sayang, Nina tak terlalu menggubris tatapan nakal Baron padanya.


Nina justru heran, mengapa wanita secantik Lyra mau bersuam kan Baron yang menurut pandangan Nina sangat menyeramkan.


"Keluarga Andi?" tanya salah seorang Dokter di depan ruang operasi.


"Kami orang tuanya Dok," sahut Lyra.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anak kami Dok?" sambung Lyra cemas.


"Operasinya berjalan lancar Bu. Untung lukanya tak mengenai organ penting. Setelah lewat masa observasi pasien bisa di pindahkan. Silakan ibu urus administrasinya ya," jelas sang Dokter.


"Baik Dok," tanpa banyak tanya, Lyra bergegas menuju ke ruang Administrasi. Nina yang ingin bertanggung jawab akan keadaan Andi bergegas mengikuti Lyra.


Saat melihat Lyra tengah berbicara dengan pihak administrasi rumah sakit, Nina segera menyelanya.


"Biar saya aja Bu," pinta Nina saat melihat Lyra hendak mengeluarkan kartu kreditnya.


"Biayanya ngga sedikit, lagi pula saya ingin Andi di rawat di ruang VVIP," elak Lyra.


"Tapi saya ingin berterima kasih pada Andi karena telah menyelamatkan putri saya," kekeh Nina.


Lyra menghela napas, "ya sudah begini aja, Anda bayar biaya operasinya aja. Lainnya biar tanggungan saya," putus Lyra.


Nina pun menyetujui keputusan itu, meski dalam hati dia merasa tak enak, tapi ia tak bisa memaksa.


Lyra juga tak ingin merepotkan wanita di depannya, dia bicara seperti tadi karena merasa kesal.


Namun setelah mendengar penjelasan teman-teman dekat putranya, dia sadar jika bukan sepenuhnya kesalahan teman wanita putranya.


Nina meminta undur diri dan berjanji besok akan menjenguk Andi lagi, Karena waktu yang juga sudah malam, Lyra mempersilakan Nina dan Rima untuk pulang.


.


.


Dalam perjalanan, Galih masih saja terus menggerutu dan justru terus menyalahkan Andi dan teman-temannya yang terlalu gegabah.


"Mas kenapa sih! Kenapa terus-terusan nyalahin Ka Andi, mereka itu baik Mas udah nyelametin aku," keluh Rima.


Nina sendiri bingung harus menjawab apa, sebab merasa apa yang Galih ucapkan ada benarnya. Pikirannya, semua ini memang tak harus terjadi kalau Andi dan teman-temannya meminta bantuan polisi.


Namun yang pasti, semua telah terjadi, dia hanya bisa bersyukur setidaknya Rima baik-baik saja.


Tak bisa di bayangkan olehnya, bagaimana takutnya Rima tadi. Nina pun sempat bergidik ngeri kala membayangkan sepuluh orang lelaki hendak melecehkan anaknya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2