
Tyas tak dapat lagi mengeluh, karena ancaman Lyra tak main-main padanya.
Dari pada pulang tak mendapat apa-apa, lebih baik dia mengalah untuk menang, begitu pikirnya.
"Ck! Nyebelin banget sih istri tuanya si Baron! Ngga jadi deh kita tinggal di rumah mewah itu!" gerutu Dita.
"Ya ampun Mbak Dita, ngga usah ngekunjaklah, untung aja Bu Lyra mau terima Ziva jadi madunya. Kalau enggak, mau tinggal di mana kalian!" ejek Darmi kesal.
"Untunglah ngga sia-sia ke sini, bisa dapet sepuluh juta," ucap Tyas senang.
Dia akan membeli pakaian serta makanan enak yang sudah lama dia idam-idamkan.
"Mumpung dapat duit, traktir kita makanlah Bu Tyas? Jangan lupa juga bayar kontrakan!" ucap Darmi.
"Ishh, ibu ini ngga sabaran banget sih! Iya aku akan ajak kalian makan, sebagai ucapan terima kasih. Bayar kontrakan tenang aja, nanti aku bayar, ngga usah khawatir, sekarang kan kami kaya lagi," jawabnya pongah.
"Kaya dari mana Bu? Yang kaya itu istri tua sama calon suaminya si Ziva. Bukan Zivanya, apa ibu ngga takut kalau ada apa-apa sama anak ibu? Secara mereka terima begitu aja Ziva loh," sela Bu Rt.
Hanya Titik yang merasa khawatir dengan ucapan Bu Rt. Apa lagi keluarga Baron tidak mau menerima mereka dan hanya Ziva saja.
"Apa ngga sebaiknya Ziva tinggal sama kita aja Yas? Minta aja suaminya menafkahi dia tiap bulannya," saran Titik.
"Apaan sih Bu! Ziva tuh lagi hamil, biar dia hidup nyaman, masa istri orang kaya harus tinggal di kontrakan kecil terus kumuh kaya gitu sih!" tolak Tyas.
"Apa kamu bilang Bu Tyas? Kamu mengejek kontrakanku?" sela Darmi tak terima.
"Lah emang kenyataannya seperti itu kan Bu? Kenapa ibu marah?" jawab Tyas tak peduli.
"Oh baiklah, kalian boleh pergi dari kontrakan saya kalau begitu. Ngga sudi juga aku menerima kalian yang mulutnya kaya comberan!" maki Darmi.
"Loh kok ibu main ngusir-ngusir aja sih, saya mau bayar loh, tiga bulan sekalian deh," rayu Tyas.
Darmi yang pada dasarnya mata duitan akhirnya mengalah, ingat akan janji Tyas, tentu saat ini dia bisa mengantongi uang tiga juta rupiah.
Terlebih lagi Tyas selalu telat membayar kontrakan dan saat ini wanita hamil itu sedang memiliki uang, makanya Darmi tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Ya udah sini!" pintanya.
Terpaksa Tyas memberikan uang yang sudah dia janjikan, dia terpaksa melakukannya karena malas berdebat dengan Darmi dan takut juga di usir. Hanya kontrakan Darmi yang lumayan murah.
Dia tak mau membuang-buang uang saat ini. Dia harus memastikan kalau rencananya menjadikan Ziva alat untuk menguras harta Baron harus terlaksana.
.
.
Tak terasa waktu pernikahan telah tiba. Tyas terpaksa mengabari Yanto tentang masalah ini, sebenarnya dia takut jika Yanto akan ikut memperalat Ziva seperti dirinya.
Untung saja saat ini Yanto sedang berada di kampung Ratih untuk mengadakan acara tujuh bulanan istri mudanya itu.
Tyas sangat senang sekaligus kesal, karena Yanto hanya memperhatikan Ratih dan melupakan anak dalam kandungannya.
__ADS_1
Tyas bersumpah di kemudian hari ia akan membalas sikap semena-mena Yanto. Jadilah Yanto hanya mengucapkan penyerahan walinya kepada wali hakim agar bisa menikahkan Ziva.
Dia tidak tau siapa lelaki yang akan menikahi putrinya itu, bahkan bertanya pun tidak. Yanto benar-benar lepas tangan.
Ziva sudah di dandani dengan cantik, menggunakan kebaya putih gadis remaja itu kini duduk bersanding dengan Baron di depan penghulu.
Hanya ada beberapa orang saja yang hadir di sana, sebab pernikahan ini memang hanya pernikahan siri.
Namun tetap saja, Ziva memiliki surat menikah yang akan di keluarkan oleh ketua Rt dari desa Wales dan di tanda tangani oleh ketua Rt di perumahan Baron yang juga di undang sebagai saksi.
Setelah sah menikah dengan mas kawin hanya berupa cincin dengan berat dua gram dan uang tunai sebesar satu juta rupiah, kini Ziva resmi menyandang sebagai nyonya Baron ke dua.
Sempat terjadi percekcokan antara Tyas dan Lyra mengenai mas kawin yang akan di terima Ziva.
Namun lagi-lagi Tyas harus menurunkan egonya agar bisa mendapatkan apa yang dia mau di kemudian hari.
Usai acara akad dan makan-makan, rombongan Tyas dan para saksi pamit undur diri dari rumah mewah itu.
"Saya titip Ziva ya Pak Baron Bu Lyra, jaga dia, jangan perlakukan dia semena-mena!" ancam Tyas.
Ziva sendiri bingung antara ingin ikut keluarganya atau tinggal di rumah megah ini.
Dia bimbang, tak bisa membohongi diri jika dia berharap bisa tinggal nyaman di rumah ini, tapi dia takut akan di perlakukan buruk oleh Lyra.
Dari pihak Baron tak ada siapa pun selain istrinya. Anak-anak mereka memilih pergi dari pada melihat ayah mereka menyakiti ibunya dengan menikahi gadis di bawah umur itu.
Jangan sangka Lyra menerima begitu saja pernikahan kedua suaminya. Hatinya hancur, tapi dia berusaha tetap tenang, karena dia ingin melihat sampai sejauh mana dua penghianat itu bisa bertahan dengan tekannya nanti.
"Baiklah kalau begitu. Oya, sebagai mertuamu Baron, jangan lupa kirim kan uang untukku juga ya!" pintanya.
.
.
Seorang pelayan menghampiri mereka setelah semua orang membubarkan diri.
"Iya Nyah?" tanya pelayan yang bernama Inah.
"Antarkan dia ke kamarnya Nah," titah Lyra pada pembantunya.
Inah lalu mengajak Ziva untuk mengikutinya. Keduanya berjalan beriringan. Dalam benak Inah ia tak percaya jika istri muda majikannya adalah seorang bocah ingusan.
"Ini kamar kamu, silakan rapikan pakaianmu," ucap Inah lalu meninggalkan Ziva seorang diri.
Ternyata semuanya tak sesuai ekspektasi Ziva, dia di tempatkan pada kamar yang ukurannya tidak terlalu besar.
Ziva mengira dia akan tinggal di kamar tamu, setidaknya Ziva yakin kamar-kamar utama di rumah ini pasti luas-luas, lalu kenapa kamarnya kecil? Dia berpikir jika ini adalah kamar pembantu.
Sebab di sana hanya terdapat satu ranjang, lemari, meja rias serta kipas saja tanpa pendingin ruangan.
"Tunggu Bi!" cegah Ziva pada Inah.
__ADS_1
"Ada apa?" jawab Inah ketus.
Dia tak di wajibkan menghormati Ziva seperti ucapan majikannya. Bukan sengaja, kelakuan Ziva yang menjadi duri dalam daging di pernikahan majikannya membuat dia membenci sosok remaja itu.
Bagaimana pun Inah teringat akan kisah rumah tangganya sendiri yang hancur karena orang ketiga.
Dia yang lelah bekerja di luar negeri, harus menelan pil pahit saat mengetahui sang suami telah menikah lagi dan menguasai semua hartanya.
Ziva merasa kesal dengan sikap Inah, setidaknya dia juga majikan di rumah itu dan Inah juga harus menghormatinya.
"Ini ngga salah Bi? Ini kamarku?" tanya Ziva tak terima.
"Memang benar ini kamar kamu, kenapa? Berharap tinggal di kamar yang mewah di rumah ini? Jangan mimpi!" ejek Inah.
"Heh babu!" maki Ziva tak terima.
"Aku juga majikanmu, harusnya kamu sopan padaku juga," cibir Ziva.
Inah tertawa mendengar ucapan anak ingusan di depannya ini.
"Majikan saya bukan Anda nona. Kedudukan kita sama di rumah ini, hanya pelayan," ejek Inah.
Ziva mengepalkan tangannya, dia tak terima di sama kan dengan Inah sebagai pelayan di rumah ini.
"Kenapa ini Inah?" sambar Lyra mendekati keduanya.
"Ini loh Mbak Lyra, Inah kurang aja sama aku!" adu Ziva.
Lyra menaikkan sebelah alisnya, "Mbak? Kamu panggil aku Mbak?" ucap Lyra menatap tajam Ziva.
Ziva yang di tatap seperti itu mengerut takut, dia bingung dengan panggilannya pada istri tua suaminya.
Apa aku salah panggil namanya? Dia kan kakak maduku, kata mamah aku harus panggil dia Mbak, bukan ibu.
Lyra mendekat ke arah Ziva dan memegang dagu Ziva agar menatapnya.
"Panggil saya Nyonya seperti Inah! Ingat, kamu sudah di jual keluargamu pada saya, jadi suka-suka saya memperlakukanmu," tandas Lyra.
Ziva melotot tak percaya, jadi benar ia hanya dianggap sebagai pelayan di rumah ini? Tidak, dia menolak ide gila madunya.
"Engga! Enak aja, aku ini juga istri Mas Baron. Pokoknya aku mau hak yang sama," tolak Ziva lantang.
"Baiklah, terserah kamu kalau mau melawan. Lagi pun tak akan ada yang akan menolongmu, jadi jaga sikapmu kalau masih ingin hidup," ancam Lyra.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1