
Setelah para hama pergi dari kediamannya. Nina kemudian menyusul Rima di kediaman Wingsih.
Nina juga tegas menolak Ziva, karena dia benar-benar tak mau berhubungan lagi dengan keluarga Titik.
Meskipun hati kecilnya ada rasa tak tega pada remaja itu, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Dirinya tak tau masalah apa yang akan di timbulkan oleh Tyas jika dia menampung Ziva.
Tatapan Ziva yang memohon kala itu sempat membuat Nina hampir berubah pikiran. Biarlah dia di cap tak punya perasaan dari pada harus terus menumpuk dosa di kemudian hari
"Makasih ya Bu Wingsih, udah bawa Rima pulang. Jadi dia ngga perlu menyaksikan drama ngga penting tadi," ujar Nina.
Wingsih tersenyum, sungguh dia tak pernah keberatan membantu Nina dan Rima.
"Emang kenapa tiba-tiba Bu Titik di usir dari rumahnya Nin? Kamu tau?" tanya Wingsih penasaran.
Nina lalu mengedikkan bahu, seolah masalah mereka bukanlah urusannya.
"Ngga tau bu, bodoamatan aku mah, rumah yang di ambil dari hasil merampas hak-ku nyatanya ngga berkah kan? Di ambil lagi deh sama Allah," jawab Nina tak peduli.
Wingsih menganggukkan kepala tanda setuju. Tak lama Prapto datang bergabung, setelah membantu para warga memindahkan barang-barang Titik dari rumah Nina.
"Gimana pak? Mau mereka tinggal di pos?"
Titik dan keluarganya memang di minta oleh petugas desa untuk tinggal sementara di pos yang biasa di gunakan untuk kegiatan posyandu.
Meski hanya ruangan besar, tapi di sana ada toilet yang bisa di gunakan.
Namun itu bukan untuk selamanya, Titik hanya boleh tinggal satu hari ini saja dan besok mereka harus sudah mengosongkan pos lagi.
"Si Tyas nangis kejer, ngga mau mereka tinggal di sana. Pusing banget ngurusin keluarga mereka. Bahkan warga udah kesal banget, karena Tyas menolak dengan berteriak histeris," jelas Prapto.
"Minum dulu pak, kusut banget muka bapak," celetuk Wingsih sambil menyodorkan segelas air putih untuk suaminya.
"Sumpah Bu, bapak-bapak sama pegawai desa ngga tahan banget sama mereka. Si Tyas malah minta kepala desa yang kebetulan lewat untuk membantunya mencari tempat tinggal," lanjut Prapto.
Nina menggelengkan kepala mendengar cerita Prapto, tak menyangka jika keluarga ibu tirinya bahkan berlaku sangat memalukan.
"Lalu? Apa kepala desa membantu mereka pak?" sergah Wingsih.
"Ya itu kepala desa bertanya sama warga apa ada yang rumahnya mau di sewakan kepada Bu Titik? Sayangnya semua bungkam, makin kejerlah si Tyas, kaya bocah banget tuh orang pokoknya. Bukannya iba malah kelihatan tambah ngeselin," ujar Prapto sambil mengingat kelakuan Tyas.
"Kasihan mbah sama Ziva ya Bu," sela Rima penuh rasa iba.
Hati remaja itu memang begitu lembut, meski dulu sering di sakiti oleh Titik dan keluarganya. Namun melihat keadaan Titik yang seperti sekarang tak ayal membuatnya iba.
__ADS_1
Nina tak marah, justru dia terharu dengan sifat putrinya yang memiliki hati yang lembut.
"Kamu memang anak yang baik Rim, ibu bangga sama kamu," ucap Nina sambil mengusap rambut sang putri.
"Terus akhirnya gimana pak?" tanya Wingsih yang masih saja penasaran.
"Bu Titik menolak dan memilih pergi. Pak Kades, akhirnya memberinya uang untuk sekedar membantu warganya," tutup cerita Prapto.
Wingsih dan Nina bernapas lega, lebih baik seperti itulah menurut mereka. Karena jika Bu Titik dan keluarganya masih ada di lingkungan mereka, tak menutup kemungkinan mereka akan mengganggu kehidupan Nina lagi.
"Oh iya Bu, pak Agus juga akan di berhentikan jadi ketua Rt. Pak Kades juga menawari bapak tadi, gimana menurut ibu?" tanya Prapto serius.
Sebuah kabat menggembirakan seharusnya, tapi Wingsih seperti tak terlalu senang.
"Kenapa Bu?" tanya Prapto saat melihat wajah sang istri kurang semangat.
"Entahlah pak, bapak tau sendiri pak Agus sama keluarganya kaya gimana, nanti malah kita lagi yang di tuduh macam-macam sama keluarga itu," tukas Wingsih.
Padahal Nina merasa senang jika Prapto menjadi ketua Rt di wilayahnya, sebab dia tau bagaimana sifat lelaki itu dari pada Agus, yang mata Duitan yang apa-apa serba uang.
Namun, dia tak mau ikut campur untuk urusan keluarga Wingsih dan Prapto.
Merasa keduanya butuh waktu untuk berbicara, Nina pun pamit undur diri bersama Rima.
.
.
Di kediaman Budi pun lelaki itu tengah uring-uringan. Sebab setelah lamarannya di tolak mentah-mentah oleh Nina, dia tak bisa menemukan wanita pujaannya.
Bahkan tokonya tutup tanpa Budi tau ada apa. Saat dia datang mencari tahu ke kediaman Nina pun para tetangga tak mau memberitahu di mana Nina dan keluarganya berada.
Bukannya apa, mereka memang enggan memberitahu Budi sebab tak mengenal lelaki itu dan mereka tak mau menyebabkan masalah pada Nina.
"Gimana Bud, Nina belum pulang juga?" tanya Jannah.
Mereka tetap berencana menaklukkan Nina bagaimana pun caranya. Meski dengan cara yang licik sekali pun.
"Belum Bu, ngga tau dia pergi ke mana!" dengus Budi.
Hari ini juga kebetulan toko mebelnya tutup, sebab dia harus mengantar sang ibu ke orang pintar langganan mereka.
Tujuannya apa lagi, kalau bukan ingin menaklukkan Nina dengan cara ilmu hitam.
__ADS_1
Saat suasana tengah hening karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, terdengar suara salam dari wanita yang sudah lama mereka kenal.
"Mas," panggilnya lalu masuk dan duduk di sebelah Budi sebelum di persilakan oleh tuan rumah.
"Ya ampun Nov! Ngapain kamu ke sini!" sergah Budi jengah.
Sungguh Budi hanya ingin bermain-main dengan Novi dan tak ada niatan serius dengan wanita itu.
Meski hubungan mereka seperti sepasang suami istri dahulu, tapi dalam hati Budi tak pernah mencintai Novi. Dia hanya membutuhkan tubuh Novi untuk menuntaskan hasratnya.
Dengan Nina pun dia tak serius mencintainya, baginya wanita hanya dia butuh kan untuk dua hal, kalau bukan tubuh ya hartanya.
Oleh sebab itu dia membutuhkan Nina dari pada Novi. Sudahlah kaya Nina pun cantik, komplit lah seperti seleranya.
Budi sudah membayangkan hal indah jika bisa menikahi wanita itu.
"Mas kamu kenapa jadi begini sih! Kenapa kamu berubah? Kamu janji kan mau nikahin aku! Pokoknya aku ngga mau tau kamu harus nikahin aku secepatnya!
Tanpa malu Novi merengek di depan Jannah dan juga Rahma. Jannah menatap sengit pada wanita manja di samping anaknya.
"Apaan sih Nov! Jangan ngada-ngada ya, aku ngga pernah janjiin bakal nikahin kamu!" bentak Budi.
"Iya Nov, Budi udah punya calon istri, lebih baik kamu menjauh dari pada terus mengganggu Budi," sela Jannah kesal.
Novi menatap nyalang pada wanita yang dulu selalu bersikap manis padanya.
Namun kini sikap Jannah berubah dan dia tau kalau mereka sedang merencanakan sesuatu.
Yang pasti Novi tidak akan tinggal diam, dia tidak mau di buang begitu saja oleh Budi dan keluarganya, setelah semua yang mereka lalui bersama.
"Mas, jangan sampai aku membongkar kebusukanmu ya! Ingat, aku tau rahasiamu!" bisik Novi di telinga Budi.
Setelah itu dia pamit undur diri, membiarkan kekasihnya itu syok dengan ancamannya.
"Rasakan kau mas, enak aja mau membuangku! Ngga akan bisa!" monolognya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1