Derita anakku

Derita anakku
Kekalutan Budi


__ADS_3

Sejak kemarin Rima menangis ketakutan karena menunggu sang ibu yang tak kunjung pulang.


Hatinya gelisah, hingga akhirnya dia meminta bantuan Wingsih dan juga Prapto.


Mereka menunggu hingga malam pun tiba. Namun Nina tak kunjung pulang.


Akhirnya Prapto bersama beberapa warga mencari keberadaan Nina.


Upaya melapor polisi juga di anggap percuma oleh salah satu warga. Mereka berkata polisi tidak akan menindak jika belum dua puluh empat jam menghilangnya, jadi terpaksa mereka mencari seorang diri.


Mereka berpencar dari pasar hingga ke tempat yang mungkin di kunjungi oleh Nina.


Sempat terjadi ketegangan antara Prapto dan Agus. Berhubung lelaki itu masih menjabat sebagai ketua Rt, Prapto pun meminta bantuannya.


Sayangnya Agus menolak, dia berkata jika karena Nina dirinya harus di copot jabatannya oleh kepala desa.


Enggan berdebat lebih lama dengan Agus, Prapto dan yang lainnya memilih segera mencari keberadaan Nina sendiri.


Bahkan Prapto mendatangi karyawan Nina satu persatu, hanya dari Lastri dia tau jika Nina berencana bertemu dengan seorang pengacara.


Sayangnya tak ada yang tau siapa yang hendak di temui oleh Nina.


Hingga pada akhirnya mereka menyerah dan lebih memilih menunggu hingga bisa melaporkan kejadian hilangnya Nina pada pihak berwajib.


"Ibu gimana Bu Win?" tangis Rima pecah, dia benar-benar khawatir terjadi hal yang buruk dengan ibunya.


Rima tak mau kehilangan ibunya. Hanya Nina yang ia miliki saat ini.


"Coba kamu telepon mbah Sugi, siapa tau Ibumu pulang ke sana," pinta Wingsih meski di rasa mustahil.


Tak mungkin Nina pergi tanpa memberitahu anaknya. Namun Wingsih mencoba mencari tahu ke mana pun tempat yang mungkin Nina tuju.


Sugi sempat terkejut dengan kabar menghilangnya Nina. Dia lalu pamit pada kakak dan istri untuk ke kota mencari Nina.


Dia juga turut mengajak sang putra agar bisa membantu di sana.


Sebelum berangkat, Sugi sempat mengatakan masalah yang menimpa Nina pada Dibyo selaku bapaknya.


Namun Sugi tak menyangka dengan respons sang kakak yang justru merasa puas dengan masalah yang menimpa anak kandungnya sendiri.


"Biar dia rasakan karmanya! Dia sudah menjadi anak yang durhaka, jadi sudah sewajarnya di di hukum oleh Tuhan," ujar Dibyo dingin.


Asih menggeleng tak percaya dengan apa yang di ucapkan kakak iparnya itu terhadap putri semata wayangnya sendiri.

__ADS_1


"Aku ngga menyangka mas akan berkata begitu kejam pada anak yang selama ini sudah membantu mas. Kekesalan mas pada Nina sungguh tak masuk akal, aku harap mas ngga akan menyesal di kemudian hari," jawab Sugi lalu meninggalkan sang kakak dengan istrinya.


.


.


Di kediaman Budi, lelaki itu tengah gusar, sejak kesadarannya pagi tadi dia mencari Nina di segala tempat dengan grasak-grusuk.


Dia bahkan menyisir di area wilayah bangunan yang mungkin menjadi tempat Nina bersembunyi, sayangnya semuanya nihil, dia dan anak buahnya tak dapat menemukan Nina dan pelaku yang telah menyelamatkan wanita itu.


"Sial! Breng*sek!" makinya.


Jannah kemudian masuk ke dalam kamar putranya yang sudah berantakan akibat kemurkaan Budi.


"Ada apa Bud, kenapa kamu acak-acak kamar sampai begini!" pekik Jannah.


Budi duduk di ranjang dan meremas kepalanya dengan kedua tangan.


Tampak sekali raut frustrasi di wajah sang putra yang membuat Jannah semakin bingung.


Jannah sendiri tidak tau apa yang di lakukan Budi malam tadi.


"Gagal Bu, kita bisa terancam!" jelas Budi dengan suara tercekat.


"Ada apa? Apa yang terancam?" tanya Jannah panik, dia merasa ada hal buruk yang akan terjadi dengan keluarganya.


Ambisinya menjadi orang kaya membuat wanita paruh baya itu gelap mata dan rela melakukan apa saja demi keinginannya.


"Aku ... Melakukan hal bodoh pada Nina Bu," ucap Budi lemah.


Jannah tak mengerti dengan ucapan putra sulungnya. "Maksudnya apa? Yang jelas kalau ngomong Bud!" pekiknya frustrasi.


Budi lantas menceritakan semua yang dia lakukan malam tadi terhadap Nina. Juga tentang kegagalannya karena ada seseorang yang menolong Nina.


"Bodoh! Kamu benar-benar bodoh! Gimana kalau Nina dan orang itu melapor pada polisi? Kamu harus menemukan Nina secepatnya! Ibu ngga mau tau!" titah Jannah kesal.


Rahma menghampiri keduanya kala melihat kamar sang kakak terbuka.


Ada ibu dan kakaknya yang sejak tadi berbicara serius dan cukup kencang.


"Ada apa sih? Kok ribut-ribut?" tanya Rahma setelah menutup pintu kamar Budi.


Dia tak ingin suaminya mendengar pembicaraan keluarganya.

__ADS_1


Deni memang tak pernah di libatkan oleh keluarga Budi tentang urusan mereka. Deni seperti kerbau yang di cucuk hidungnya oleh Rahma.


Apa pun yang Rahma katakan maka akan Deni lakukan, karena Deni pun berada di dalam pengaruh gaib Rahma.


Bahkan Rahma menjauhkan Deni dari keluarganya. Dulu Jannah bahkan meminta Rahma untuk menyingkirkan mertuanya agar bisa menguasai harta Deni.


Namun sayang, entah bagaimana keluarga Deni bisa mencium niat busuk keluarga Jannah dan kini mereka sama sekali tak tau kabar keluarga besar Deni.


Rahma memang sangat mencintai Deni, dia rela melakukan apa pun agar Deni bisa menjadi miliknya, meski dengan cara gaib sekali pun.


"Ini kakakmu melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan kita!" jelas Jannah kesal.


Jannah lantas menceritakan apa yang Budi ceritakan padanya kepada Rahma.


Sama seperti Jannah, Rahma pun ketakutan, karena mereka bisa celaka jika sampai Budi berurusan dengan pihak yang berwajib.


Mereka takut semua kejahatan mereka akan terbongkar, meski tak ada hubungannya dengan Nina.


"Mas harus cari Nina sampai ketemu, lalu habisi dia! Aku ngga mau tau! Aku ngga mau terlibat jika hal buruk menimpa mas!" ancamnya.


Budi menatap nyalang adik satu-satunya. Dulu dia selalu menuruti apa pun kemauan Rahma meski harus menyakiti Mulya dulu.


Dan kini dengan teganya Rahma seperti lepas tangan dan menumpahkan segalanya pada Budi.


"Ibu juga ngga mau di seret-seret Bud, maafkan kami, bukan egois, tapi ibu takut masuk penjara," lanjut Jannah yang mengikuti rencana Rahma.


"Sial!" makinya lagi.


"Kalian mau meninggalkan aku? Setelah semua yang aku lakukan untuk kalian? Bahkan aku rela melumuri tanganku dengan kejahatan agar kalian bisa hidup enak, begini kah balasan kalian?" makinya.


Rahma dan Jannah tersentak kaget mendengar pekikan Budi yang meluapkan rasa kecewanya pada mereka.


Namun bayangan jeruji besi membuat mereka hilang akal, mereka tak mau ikut terseret atas semua kejahatan yang telah Budi lakukan.


"I-itu kan memang udah kewajiban kamu Bud. Ibu mohon jangan bawa-bawa kami. Bapak dan ibu udah tua, sedangkan Rahma anak-anaknya masih kecil," mohon Jannah takut-takut.


Budi diam lalu memilih pergi dari hadapan ibu dan adiknya. Dia harus menemukan Nina dan melenyapkannya agar wanita itu tak buka suara tentang kejahatannya.


Ada rasa kecewa karena ternyata keluarganya bahkan tak ada yang mau peduli padanya. Mereka hanya ada saat Budi sukses, lalu menjauh saat dirinya tertimpa masalah seperti ini.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2