Derita anakku

Derita anakku
Pulang


__ADS_3

Nina mengingat ucapan Rima kala dulu mereka bertandang ke rumah Budi.


Di sana sang putri menyenggolnya agar tak meminum minuman yang di suguhkan oleh Jannah.


Dulu ia tak begitu percaya dengan ucapan Rima yang berkata kalau Rima mendengar percakapan Jannah yang ingin meluluhkan dirinya.


Sekarang dia tau maksud Jannah meluluhkannya dengan cara ilmu hitam. Nina merasa bersalah pada Rima karena sempat tak menggubris ucapan putrinya.


Semuanya adalah pertolongan dari Allah untuknya, tapi dia tak menyadarinya.


Nina ingin segera pulang demi bisa memeluk Rima yang pasti sekarang tengah bersedih.


"Aku harus pulang Mbak, anakku pasti akan mencariku," pinta Nina penuh harap.


Tas yang berisi ponsel dan uangnya bahkan tidak ada, jika ada dia pasti bisa memberitahu keberadaannya pada Rima agar putrinya tak perlu cemas.


"Kamu hubungi dulu keluarga kamu, agar mereka tenang. Untuk kembali apa kamu udah siap dengan resikonya?" ucap Mulya sambil menyodorkan ponselnya.


"Aku akan melaporkan kejadian ini pada polisi!" jawab Nina yakin.


Nina menolak ponsel yang Mulya sodorkan sebab dia tak hafal dengan nomor ponsel anaknya.


Dia akan membuat Budi menerima ganjaran yang berat karena telah berani berniat menyakitinya.


"Apa kamu punya bukti? Kalau kamu mengandalkan aku, maaf aku ngga bisa. Sungguh aku sendiri masih ketakutan hingga sekarang," sergah Mulya lirih.


Raut wajah Nina kecewa, tentu saja harapannya menjerat Budi hanya dari kesaksian Mulya. Namun jika wanita yang masih sah menjadi istri Budi itu menolak, maka dia tak bisa melaporkan Budi.


"Kenapa Mbak? Tolong saya, ayo kita sama-sama menjebloskan Budi ke penjara. Mbak bisa menceritakan kejahatan Budi pada polisi!" pinta Nina penuh harap.


"Ini ngga mudah Nina, terlebih lagi menghadapi orang selicik Budi. Kalau kita salah langkah, yang ada justru kita yang akan balik di serang olehnya," jelas Mulya.


Dia menjelaskan, kalau dia sendiri belum memiliki cukup bukti untuk memenjarakan Budi. Lalu kalau sekarang dia terlibat dengan Nina yang ada dirinya yang akan di seret kembali oleh Budi dan pasti akan di lenyapkannya.


Nina mendesah pasrah, dia tau apa yang di ucapkan oleh Mulya ada benarnya, mereka tak memiliki bukti untuk menjerat Budi, bisa jadi Budi yang justru balik menyerang mereka.


"Lalu aku harus bagaimana mbak?" lirihnya.


Tentu saja Nina takut bukan main. Dia taj menyangka nasibnya akan seperti ini berurusan dengan Budi dan keluarganya.


"Kamu pulanglah, jangan ceritakan sama siapa pun, sebisa mungkin kamu menghindari Budi. Kalau bisa kamu minta seseorang untuk selalu menjagamu agar tak ada celah pada Budi untuk kembali menyakiti kamu atau anakmu," saran Mulya.


Meski tak puas karena tak bisa memenjarakan Budi. Namun ia hanya bisa pasrah untuk saat ini dan mengikuti saran Mulya.

__ADS_1


Dia benar-benar akan menjauh dari Budi mulai sekarang.


Nina juga tak bisa memaksa Mulya, sebab dia tau Mulya pasti punya rencana sendiri untuk hidupnya.


"Sebaiknya kamu beli pakaian yang baru, jangan sampai keluarga kamu curiga. Aku yakin nanti Budi berada di sana berpura-pura ikut kehilangan dirimu," jelas Mulya.


Dia tentu sudah paham bagaimana kelakuan busuk suaminya dan bagaimana cara Budi menyelamatkan dirinya.


Oleh sebab itu Mulya memberitahu semua yang akan di lakukan Budi pada Nina.


Polanya akan sama seperti saat Budi hendak mencelakai dirinya. Dia yang tak berdaya hanya bisa pasrah dengan ancaman Budi yang tak segan-segan akan menyakiti Cantika.


Setelah Budi dan keluarga tau kalau Mulya sudah tak ada di dalam pengaruh gaib mereka. Budi dengan kejam hendak melenyapkan dirinya agar bisa menguasai semua harta orang tua Mulya.


Sayangnya tak semudah itu, sampai sekarang pengacara keluarga Mulya belum mau menyerahkan hak waris orang tua Mulya pada Budi, karena merasa jika Mulya masih hidup.


Mengikuti saran Mulya, Nina berganti pakaian sederhana milik Mulya. Dia minta maaf tak bisa mengantar Nina sampai ke rumahnya sebab dirinya takut akan bertemu dengan Budi.


Mulya mengatakan agar Nina bersikap biasa saja nanti dan pura-pura tak terjadi apa pun antara dirinya dengan Budi.


Nina mengangguk pasrah, entah bagaimana nanti dia bertemu Budi, apa bisa ia melakukan apa yang di sarankan oleh Mulya.


Saat keluar kamar, Nina terkejut karena melihat wanita paruh baya tadi sedang bersama seorang gadis kecil dengan separuh wajahnya yang cacat, seperti bekas luka bakar yang cukup serius.


"Itu ..." ucap Nina tercekat.


"Ya, seperti pikiranmu, Cantika terkena luka bakar akibat ulah Budi yang berusaha melenyapkan kami. Kamu mengertikan mengapa aku agak trauma?" jelas Mulya.


Nina lalu mendekati Cantika dan tersenyum padanya. Dia berterima kasih karena Mulya bercerita kalau berkat anaknya dia berhasil menyelamatkan Nina.


"Maka sih yang cantik. Kalau ngga ada Cantika, tante ngga tau apa yang akan terjadi sama tante," ujar Nina haru.


Cantika mengangguk dan mengusap air mata di pipi Nina. Mulut yang separuh kena luka bakar membuatnya kesulitan berbicara.


Nina lantas memeluk Cantika penuh haru. Dia bertekad akan menolong Mulya dan Cantika menemukan keadilan.


Mereka harus terbebas dari ketakutan dengan cara memenjarakan Budi.


"Bagaimana pun, kita harus memenjarakan Mas Budi mbak, aku ngga akan biarkan dia bebas begitu aja!" ucap Nina yakin.


"Aku ngga tau apa bisa membantumu Nin, masalahnya aku sendiri ngga punya bukti apa pun," jawab Mulya lirih.


Dia pun ingin hidup bebas bersama Cantika. Dia ingin mengajak Cantika menjalani operasi untuk memperbaiki wajahnya.

__ADS_1


Sayangnya geraknya terbatas, dia takut Budi dapat menemukannya lagi.


.


.


Nina pulang ke rumahnya menggunakan ojek. Dadanya bergemuruh hebat kala melihat mobil Budi ada di rumahnya.


Tebakan Mulya ternyata tak meleset, Budi akan berpura-pura kalau tak terjadi sesuatu antara mereka malam tadi.


"IBU!" pekik Rima lalu menghambur memeluk Nina.


Di sana sudah ada Sugi dan juga Galih yang baru saja tiba.


"Nina syukurlah kamu baik-baik aja. Mas sangat khawatir," ucap Budi seakan lega.


Tubuh Nina sedikit bergetar saat Budi mendekatinya. Berusaha tenang seperti saran Mulya ternyata tak mudah. Nyatanya dia justru ketakutan melihat Budi hingga tanpa sadar memeluk Rima sangat erat.


"Nina kamu ngga papa?" sela Sugi yang melihat sorot ketakutan Nina pada lelaki yang tadi mengenalkan dirinya sebagai teman sang keponakan.


"Ya ampun Mbak Nina, ayo masuk. Alhamdulillah mbak Nina baik-baik aja," ujar Wingsih menyambutnya.


Nina akhirnya di giring masuk meninggalkan Budi. Mereka sengaja mengajak Nina masuk ke dalam kamar karena melihat Nina tampak syok.


Sugi berbicara pada para warga yang sejak semalam membantu mencari Nina dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Dia ingin agar sang keponakan merasa nyaman dulu baru nanti dia akan menanyakan masalah yang menimpanya.


Sugi yakin ada yang terjadi dengan Nina, terlihat dari wajah Nina yang penuh dengan luka lecet dan lebam.


Warga sedikit kecewa karena ingin segera tau apa yang terjadi sebenarnya terjadi dengan Nina.


Sugi dan juga Prapto meminta pengertian para warga karena dia merasa saat ini Nina masih terguncang.


Hanya Budi yang masih bergeming di sana, dia harus memastikan jika Nina tak buka suara dan mengancam kebebasannya.


Bisik-bisik para warga hanya mengatakan jika Nina terkena begal, karena dia kembali tanpa kendaraan dan barang pribadinya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2