Derita anakku

Derita anakku
Apa lagi?


__ADS_3

Nina memeluk tubuh Rima sangat erat, terlihat sekali kekalutan wanita itu saat menumpahkan tangisannya di pelukan sang putri.


"Maafkan Ibu nak," ujar Nina.


"Bu, ibu ngga papa, ibu udah aman," ucap Rima menenangkan.


Sugi dan Galih mendekati wanita yang sejak semalam menghilang membuat mereka sangat cemas.


"Nin ceritakan apa yang terjadi?" tanya Sugi penasaran.


Nina bingung apa benar ia harus menceritakan masalahnya pada Sugi dan Galih, tapi ia mengingat saran dari Mulya kalau dia harus menyembunyikan semuanya dari keluarga.


Nina dilema, di lain sisi dia sangat takut menanggung masalahnya sendiri, terlebih lagi Budi seperti bisa memainkan perannya dengan baik, jadi tak ada yang curiga padanya.


Suara ketukan di pintu membuat semuanya menoleh. Galihlah yang berinisiatif membuka pintu.


Ternyata ada Bu Wingsih yang membawakan Nina minum.


"Mbak Nina, itu di depan temannya yang bernama mas Budi masih menunggu," jelas Wingsih.


Nina menegang, Galih memperhatikan ada yang tak beres dengan orang bernama Budi itu hingga bisa menimbulkan ketakutan dari tubuh Nina yang tampak gemetar.


"Biar aku aja yang menemui Pak, heran, tadi kan bapak udah minta mereka untuk bubar kok masih ngeyel," sergah Galih.


Galih pun kembali ke ruang tamu untuk menemui Budi yang masih menunggu di sana, entah untuk tujuan apa pemuda itu tak tahu.


"Maaf mas Budi, mbak Nina mau istirahat, sebaiknya Mas Budi pulang dulu," ucap Galih tanpa basa-basi.


"Maaf kalau saya mengganggu, saya hanya ngga tenang dengan keadaan Nina. Bolehkah saya ketemu barang sebentar?" pinta Budi paksa.


Galih sangat habis kesabaran menghadapi lelaki keras kepala ini. Dia justru curiga melihat gelagat Budi seperti memaksa ingin bertemu dengan kakak sepupunya.


"Maaf mas, saya mohon pengertiannya. Kalau memang mas teman mbak Nina seharusnya mas paham keadaan mbak Nina sekarang!" ucap Galih lantang.


Enggan menimbulkan kecurigaan, Budi pun terpaksa mengalah dan memilih pergi dari rumah Nina.


"Ya udah, saya titip Nina ya mas," ujarnya sok perhatian.


Galih hanya mengangguk tanpa mau menjawab, setelah Budi keluar, Galih bergegas menutup pintu rumah Nina


Dia pun segera ke kamar Nina untuk melihat keadaan kakak sepupunya.


"Gimana keadaan mbak Nina pak?" tanya Galih saat melihat Nina sudah tertidur dengan memeluk Rima.


"Biarkan Mbakmu istirahat dulu, mungkin dia masih syok. Sebaiknya kita buat dia tenang dulu, apa kita melapor ke kantor polisi? Sebab menurut pak Prapto Nina pulang ngga membawa kendaraannya," jelas Sugi.


"Nanti saja pak, sekalian hasil visum mbak Nina. Bapak ngga lihat wajah mbak Nina luka-luka?" jelas Galih.


Mereka pun meninggalkan kamar Nina. Hanya Rima yang di minta menemani ibunya karena Nina tak mau jauh dari putri semata wayangnya.


.

__ADS_1


.


Besoknya Nina masih belum mau menceritakan masalahnya.


Dia juga masih belum mau di tinggal oleh Rima. Membuat remaja itu terpaksa bolos sekolah demi menemani ibunya.


"Nin, ceritakan sama Paman, ayo sama-sama kita hadapi. Kamu tenang aja pasti kalian aman," pinta Sugi sungguh-sungguh.


Nina masih bergeming, di pikirannya justru takut akan membuat paman dan sepupunya ikut celaka.


Tak lama suara gaduh di depan rumah membuat Nina mengerut ketakutan, refleks dia kembali memeluk Rima kencang.


Rima merasa kasihan pada ibunya, dia seperti berkaca pada hidupnya saat masih di bawah asuhan Titik.


Rima yakin telah terjadi sesuatu pada sang ibu, hingga membuat Nina berubah seperti ini.


Yang Rima tau, ibunya pemberani, jadi dia tau ada hal yang sangat mengerikan telah terjadi pada ibunya.


"Ibu tenang ya ada Rima," ucap Rima menahan tangis, saat ini gadis remaja itu berusaha kuat untuk sang ibu.


"Biar paman lihat siapa yang datang ke rumah," ujar Sugi lali bangkit menuju pintu depan.


Ternyata yang datang adalah para karyawan Nina. Mereka semua turut cemas memikirkan nasib bos mereka.


Mereka bahkan ikut turun mencari Nina di daerah pasar, sayangnya tak membuahkan hasil.


Saat mendengar jika Nina berhasil pulang dengan selamat, tentu saja mereka ingin menjenguk Nina.


"Kalian siapa?" tanya Sugi heran.


Lastri pun meminta maaf mewakili teman-temannya.


"Maaf pak, kami karyawannya Bu Nina, apa kami boleh menjenguk beliau?" tanya Lastri.


Senyum Sugi merekah menyambut para tamu keponakannya.


Dia lantas membuka lebar pintu rumah Nina agar para karyawan Nina bisa masuk semua.


Namun karena ruang tamu Nina yang terbatas, sebagian karyawan pria duduk di teras beralaskan karpet yang di sediakan oleh Sugi.


"Kalian tunggu sebentar ya, saya panggilkan Nina, tapi saya minta tolong jangan tanya macam-macam dulu, Nina masih syok," jelas Sugi.


Raut wajah karyawan Nina terutama Lastri menjadi sendu, mereka membayangkan pasti hal buruk terjadi pada bos mereka.


Sugi meminta Wingsih menyiapkan suguhan untuk para tamunya, setelahnya dia menatap Nina yang masih ketakutan.


"Nin, di depan ada karyawan kamu. Kamu mau menemui mereka?" tanya Sugi hati-hati.


Nina menatap mata Sugi, air mata lolos begitu saja di sudut matanya. Ternyata banyak yang mengkhawatirkannya.


Dia harus bangkit, jangan seperti ini. Dia ingat saran Mulya agar jangan sampai membuat orang lain curiga. Itu justru akan membuat Budi semakin ingin melancarkan aksi keji lainnya.

__ADS_1


Nina akui itu sangat sulit, tekanan batin yang ia rasakan, tak bisa begitu saja dia hilangkan.


Dia menarik napas secara perlahan, lalu menghembuskannya.


Nina pun mengusap air matanya lalu bangkit. Sugi dan Galih pun mengikuti Nina dari belakang.


Hanya Rima yang masih berada di dapur membantu Wingsih.


"Kalian?" ucap Nina dengan senyum lebar.


"Ibu!!" pekik para karyawan Nina yang perempuan.


Mereka berhambur memeluk Nina. Melihat keadaan Nina, tak terasa air mata mereka jatuh. Sungguh rata-rata mereka berpikir telah terjadi pelecehan pada Nina.


Mereka menyadari kalau atasan mereka adalah wanita yang cantik, pasti banyak yang berniat jahat padanya.


Namun mereka tak mau mengatakannya, takut justru membuat Nina terguncang, jadi mereka tak bertanya apa yang terjadi dengan bos mereka ini.


"Syukurlah ibu selamat. Kami mencemaskan ibu," ujar mereka satu persatu.


"Maka sih ya kalian mencemaskan ibu," jawab Nina haru.


Setelah berbincang-bincang ringan tanpa menyinggung kejadian yang menimpanya, para karyawan Nina pamit undur diri.


Mereka hanya berharap Nina lekas sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasanya.


Bahkan karyawan Nina yang laki-laki berkelakar jika tubuh mereka akan sakit kalau kebanyakan libur.


Nina berjanji jika besok dia akan kembali membuka toko. Dia tak ingin membuat celah pada Budi untuk mengintimidasinya.


Tak lama, salah satu tetangga Nina mengetuk rumah Nina dengan gugup.


"Mbak ... Mbak Nina!" panggilnya.


Nina, Sugi dan Galih yang masih berada di ruang tamu lantas kembali bangkit menyambut orang tersebut.


"Ada apa pak?" tanya Sugi.


"Ini pak, tadi kami menemukan sepeda motor mbak Nina di dekat sawah, apa mau di angkut sekarang?" tanya lelaki paruh baya itu.


Belum juga menjawab pertanyaan lelaki di hadapannya. Seseorang yang membuat Nina trauma justru kembali datang, kali ini dia datang bersama dengan keluarganya.


Nina bergeming, bisakah dia berpura-pura saat ini?


Jannah menghambur memeluknya. Nina yang tak siap bahkan sempat terhuyung ke belakang dan sigap memeluk tubuh wanita paruh baya yang masih tampak segar itu.


Namun Nina tersentak kala Jannah justru membisikinya sesuatu.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2