
Istri Baron yang bernama Lyra itu memilih mengalah karena ia ingin memberi pelajaran pada suaminya.
Ke sekian kalinya kesetiaannya kembali di uji oleh para wanita-wanita di luaran sana yang mengira jika suaminya adalah lelaki kaya, pada kenyataannya semua kekayaan itu adalah miliknya.
Mutlak milik Lyra karena semua milik keluarganya.
"Lalu apa maumu?" tantang Lyra tenang.
Lyra tau apa yang Tyas pikirkan, pastilah tak jauh-jauh dari uang, maka sekarang dia memilih mendengarkan permintaan wanita hamil ini.
"Nah gitu dong! Udah tau salah jangan banyak ngomong!" sungut Tyas pongah.
Wanita hamil itu lantas duduk kembali di kursinya. Meneguk teh untuk melegakan tenggorokannya.
"Saya minta suami kamu tanggung jawab," pinta Tyas.
"Gila! Ngga bisa! Saya ngga mau nikahin dia mah!" elak Baron, meski Tyas belum mengatakan permintaannya.
Lyra menatap suaminya tajam, merasa sedikit kesal dengan ucapan suaminya.
"Enak aja! Kamu mau aku jebloskan ke penjara!" ancam Tyas balik.
"Lalu apa maumu, bicara yang jelas," ucap Lyra tegas.
"Nikahin anak saya! Jangan sampai anaknya lahir ngga ada bapaknya!" pinta Tyas.
"Kamu mau anak kamu menikah sama lelaki yang mungkin lebih pantas ia panggil kakek!" gelak Lyra menertawakan Tyas.
Tawanya pecah sampai air matanya keluar di sudut mata.
"Kenapa ketawa? Kamu takut kalah saing sama anak saya!" bentak Tyas tak terima.
"Tenang Bu Tyas, tolong bicaralah yang tenang, kalau begini ngga akan ada selesainya!" pinta ketua Rt.
"Begini Bu ..." sela ketua Rt.
"Lyra," jawab istri Baron mengenalkan dirinya.
"Iya Bu Lyra, desa kami tidak mau menampung warga yang kedapatan hamil di luar nikah. Namun karena Bu Tyas berjanji akan menikahkan putrinya, maka kami perlu kejelasan dari lelaki yang menghamili nak Ziva. Oleh sebab itu kami ke sini meminta pertanggung jawaban pak Baron selaku orang yang menghamili Ziva," jelas ketua Rt.
"Bapak tau kan kalau Baron itu punya istri dan anak? Lagi pula suami saya sudah menyangkal dan dia selalu membayar jasa servis anak ingusan itu, jadi harusnya kami tak peduli. Dan ..."
Tyas hendak menyela ucapan Lyra, tapi segera di hentikan oleh istri sah Baron.
"Posisinya dia adalah wanita penghibur. Saya ngga yakin kalau itu anak suami saya!" jawab Lyra.
"Bener Mah, bukan hanya Papah yang memakai dirinya tapi juga lelaki lain," bela Baron yang tak tau malu.
"Kamu bisa diem Pah? Semua ini memang ulah kamu!" sungut Lyra.
__ADS_1
Baron langsung terdiam mendengar ucapan istrinya.
"Tapi cuma Pak Baron yang enggak pernah pake pengaman, jadi aku yakin ini anak Pak Baron," lirih Ziva akhirnya membuka suara.
Semua menatap remaja yang sepertinya sudah hafal seluk beluk dunia kontrasepsi.
"Astaga Ziva, mending kamu diem aja, kaya gini malah kelihatan banget murahannya kamu," desis Bu Darmi.
"Eh Bu Darmi, apa maksud ibu berkata begitu? Tolong diam aja ya jangan banyak komentar, ini urusan saya sama calon suami anak saya," tegur Tyas tak terima.
"Duh gusti, bingung aku lihat kalian, calon menantumu lebih tua darimu Tyas, apa kamu ngga sadar?” cibir Darmi tak mau kalah.
"Lalu aku harus gimana? Tadi ibu yang ngotot supaya aku menikahkan Ziva. Sekarang malah memojokkanku!" balas Tyas kesal.
"Iya sih. Apa kamu ngga kasihan gitu sama Ziva?" keduanya justru berdebat sendiri melupakan tujuan mereka datang ke sana.
"Kalian berdua diam. Bu Darmi, kita datang hanya sebagai saksi, semuanya terserah dengan keputusan Bu Tyas dan Pak Baron," sergah ketua Rt.
"Pokoknya aku mau Baron bertanggung jawab sama Ziva dengan menikahinya, titik!" balas Tyas kesal.
Sedangkan Titik hanya bisa mendengarkan saja perdebatan mereka. Sejujurnya dalam hati dia sangat menolak sang cucu menjadi istri dari lelaki yang lebih pantas di panggil kakek itu.
Namun posisinya mereka saat ini terdesak, oleh sebab itu jalan satu-satunya adalah menikahkan Ziva dan Baron agar hidupnya kembali tenang dan nyaman seperti dulu.
Lyra diam sejenak mendengar permintaan Tyas yang tak bisa di ganggu gugat.
Dia tentu paham apa yang di pikirkan otak picik Tyas. Wanita hamil itu pasti berharap suaminya akan memberikan kehidupan yang nyaman untuk anaknya meski hanya di jadikan istri kedua.
"Baiklah, tapi semua saya yang mengatur," putus Lyra pada akhirnya.
"MAMAH!" bentak Baron tak terima.
"Mau apa kamu Pah? Mengelak? Mau di penjara? Semua ini ulahmu kan? Tentu kamu harus tanggung jawab," balas Lyra sengit.
Jangan anggap wanita itu kuat dan akhirnya menyerah, tidak, dia ingin memberi pelajaran pada wanita yang sudah menggoda suaminya dengan lebih kejam lagi.
Meski dia yakin jika gadis polos itu pasti di jebak oleh suaminya sendiri dengan alasan ekonomi. Terlihat dari kondisi mereka saat ini.
Lyra sudah sangat muak dengan kelakuan suaminya. Jika dulu dia bisa menyingkirkan wanita-wanita di sekeliling Baron dengan mudah.
Namun tidak kali ini, dia ingin melihat Baron kesusahan dengan istri kecilnya itu.
"Tinggal kasih mereka uang aja sih Mah! Ngapain nikah segala," gerutu Baron.
"Enak aja, aku ngga butuh uang kalian, aku butuh pengakuan untuk anakku!" sela Tyas.
Padahal dalam hati dia tak akan mau hanya sedikit uang jika dia bisa menguasai semua harta Baron.
Pikiran picik Tyas akan menjadikan anaknya alat agar bisa memuluskan niatnya. Dia sungguh-sungguh tak sabar dengan kehidupan mewah yang sebentar lagi akan dia nikmati.
__ADS_1
Dita menyikut Tyas yang di pikirnya bodoh dengan berkata tak mau uang mereka.
"Apa sih Dit!" bisik Tyas kesal.
"Kamu bodoh apa gimana Mbak! Masa nolak duit!" gerutu Dita yang juga sama berbisiknya.
"Udah kamu diem aja," tutup Tyas.
Lyra memperhatikan sedari tadi ulah keduanya dan tau apa yang mereka rencanakan.
"Baiklah, minggu depan kita akan ada kan pernikahan," ucap Lyra datar.
Tyas dan keluarganya bernapas lega dengan keputusan Lyra.
"Berhubung anak saya masih lajang, jadi bisa kan di adakan acara yang mewah?" pinta Tyas lupa diri.
Lyra tersenyum sinis, "mewah? kamu gila apa gimana? Tau kan berapa usia anak kamu? Tidak ada pesta mewah, hanya nikah bawah tangan sampai usianya bisa di katakan cukup tercatat negara!" jelas Lyra tenang.
"Loh ngga bisa gitu dong, rugi kami menikahkan Ziva kalau hanya nikah di bawah tangan," elak Tyas.
"Bu Tyas, memang begitu, Ziva ini masih di bawah umur, tentu saja tidak bisa menikah tercatat secara negara, jika di paksakan bahkan ibu bisa di penjara," jelas ketua Rt.
"Lah kok malah di penjara sih pak Rt! Aneh banget," gerutu Tyas.
"Memang seperti itu peraturannya. Yang penting bikin surat perjanjian aja Bu Tyas, jadi situ bisa tenang," saran Pak Rt.
Tyas menimang saran dari pak Rt. Tentu saja dia tak akan gegabah mengambil keputusan, pokoknya dia akan mengeruk uang Baron sebanyak mungkin.
"Ok deh, saya ngalah, tapi saya minta mas kawin sebesar satu miliar beserta rumah ya," pinta Tyas.
"Kamu gila? Kamu pikir uang satu miliar itu sedikit? Saya menolak! Silakan penjarakan saja suami saya. Toh saya enggak rugi. Kalian lah yang rugi. Anak ngga di nikahkan, lalu di usir dari desa, mau ke mana memangnya kalian?"
"Pindah ke tempat lain juga pasti di usir lagi karena kehamilan anak itu tak ada suaminya!" gertak Lyra.
Dia tak mau begitu saja di manfaatkan oleh keluarga parasit di depannya. Belum apa-apa saja wanita itu sudah membongkar maksud dan tujuannya.
Meski kenyataannya dia juga takut dengan ancaman Tyas, bukan takut di tinggalkan Baron, tapi ia takut kasus sang suami akan merugikan perusahaannya, tentu Lyra tak mau itu terjadi.
"Loh-loh, kok jadi gini sih! Terus maunya gimana? Harusnya kami yang nuntut jadi terserah kami dong," jawab Tyas.
"Saya akan berikan kalian uang sepuluh juta, urusan mas kawin urusan kami. Yang pasti anakmu akan di nikahkan oleh suami saya."
"Untuk tempat tinggal, setelah menikah, dia akan tinggal di sini bersama saya ... Tanpa kalian," jelas Lyra tegas.
.
.
.
__ADS_1
Tbc